Hatiku Pedih

899 Words
Jay terkekeh pelan, “Aku ingin membawamu ke suatu tempat, jika kamu tidak bersedia maka aku akan menculikmu,” Jay mengedipkan sebelah matanya. “Kita tidak seharusnya melakukan ini kak, ini sama saja dengan mengkhianati pasangan kita masing-masing, kita akan segera menikah,” “Kita belum menikah,  membawa seorang adik untuk pergi bermain bukan berkhianat namanya,” ujar Jay datar. Bagaimana mungkin disaat kedua orang yang saling mencintai bersama dikatakan sebagai sebuah pengkhianatan? Jay tidak suka dengan perkataan Jo, perkataan wanita itu membuat amarahnya memuncak, mengapa begitu sulit bagi wanita itu untuk menerimanya dan mengakui cintanya pada Jay. Jo merasakan dadanya begitu sesak mendengarkan perkataan Jay, hatinya sakit. Adik? Apa lelaki itu menganggapnya sebagai adik sekarang? “Bagaimana Jo?” Jay kembali bertanya di saat ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Jo. Jo menatap lelaki di hadapannya dengan sendu, ia tidak sanggup berada di dekat lelaki itu. Apakah lelaki itu tidak tahu betapa menderitanya Jo di saat bersama dengan lelaki itu, Jo selalu kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, ia tidak ingin lepas kendali dan melakukan hal yang akan menyakiti Ken, walau bagaimanapun ia hanya seorang manusia biasa. “Hanya sebentar?” tanya Jo dengan ragu Jay tersenyum lebar,  “Ya, hanya sebentar.” Jay mengulurkan tangannya kepada Jo, Jo menyambut uluran tangan Jay. Jay menggenggam tangan Jo dengan erat, seakan ia tidak ingin melepaskan genggaman tangan itu untuk selamanya. Jay berpamitan kepada kedua orang tua Jo yang tengah berada di ruang keluarga, kedua orang tua Jo saling menatap, mereka tidak bisa mencegah kedua insan yang tengah di mabuk cinta itu, tetapi mereka tidak ingin keduanya saling tersakiti. Dengan ragu, Jhon, ayah Jo membiarkan mereka berdua untuk pergi. Jhon mempercayai puterinya, ia juga percaya bahwa Jay akan membawa puterinya kembali kepadanya. *** Menit demi menit telah berlalu, jam demi jam pun telah berlalu, mereka tiba di sebuah danau yang tampak sunyi dan jauh dari pemukiman penduduk setempat, Jo memandang sekelilingnya dan mengerutkan keningnya. “Kita mau ngapain ke sini kak?” Jay tersenyum lebar, “Ngobrol,” jawabnya singkat. Jay membuka pintu di sampingnya, Jo mengikuti apa yang Jay lakukan. Jay mengarahkan pandangannya ke arah Jo, ia mengulurkan tangannya kepada Jo. Ia kembali membawa tangan Jo ke dalam genggamannya, rasa hangat menjalar ke hati Jo, ia menahan nafas dalam hitungan detik Jo tersenyum lebar, ia membuka kedua matanya dengan lebar dan tersenyum memandang sekelilingnya. Danau itu indah, sangat indah.  Kunang-kunang terbang di sekeliling mereka berdua, cahaya dari kunang-kunang yang berkelap-kelip bagaikan lampu-lampu kecil yang sangat indah membuat Jo terpukau. “Indah banget,” gumam Jo dengan pelan. Jay tersenyum lebar, ia duduk beralaskan rerumputan dan memperhatikan Jo yang tengah asyik bermain dengan kunang-kunang di sekitarnya. Seandainya waktu dapat berhenti saat ini juga, seandainya waktu  tidak akan pernah bergerak di saat mereka bersama seperti ini. Jo membentangkan kedua tangannya dan berputar, ini semua bagai mimpi, ia tidak pernah melihat kunang-kunang sebanyak dan seindah ini. Jay mengeluarkan botol kecil dari saku celananya, ia menangkap kunang-kunang dengan tangan kosongnya dan memasukkan dua ekor kunang-kunang yang di dapatnya ke dalam botol kecil itu. Jay berjalan ke arah Jo dan mengulurkan botol kecil itu kepada Jo. “Untukmu,” ujar Jay datar. Jo mengambil botol kecil yang diulurkan Jay kepadanya, ia tersenyum lebar menatap dua ekor kunang-kunang itu, ini semua bagaikan mimpi untuknya, melihat keindahan dengan seseorang yang begitu indah di dalam hatinya. “Makasih kak,” ujar Jo. Jay mengusap pipi Jo dengan lembut dan menatap ke dalam manik mata Jo, Jo yang ditatap dengan intens seperti itu hanya bisa menjadi salah tingkah. “Kak,” gumam Jo. “Stttt....” Jay menempatkan jari telunjuknya dihadapan bibir Jo.”Apa alasanmu menerima tantanganku Jo?” Jay kembali mengusap pipi Jo. “Aku mencintai Ken dan sudah saatnya bagiku untuk segera menikah,” bohong Jo. Jay tersenyum sinis, 'Masih saja berbohong,' gumam Jay di dalam hatinya. “Aku tanya sekali lagi, kenapa kamu bersikeras untuk menikah dengannya?” tanya Jay dingin. “Jawabanku masih sama kak.” “Jangan menguji kesabaranku Jo,” Jay mendengus kesal, “Kamu nggak perlu berbohong, tanpa kamu katakan pun, aku tahu bahwa kamu tidak mencintai lelaki itu,” Jay berkata dengan sarkastis. “Kenapa kamu terus memaksaku untuk mengatakan hal yang tidak kumengerti kak!” Jo berkata setengah teriak.  “Apa yang tidak kamu mengerti Jo, hal apa yang tidak kamu mengerti?” Jay mencengkram kedua lengan Jo.”Tidak bisakah kamu berkata jujur? katakan apa yang ada di dalam hatimu Jo,” Jay berkata dengan lirih. “Hentikan semua ini kak, mengapa aku harus mengakui perasaan yang tidak kurasakan?” Jay tersenyum sinis, 'Keras kepalamu nggak pernah berubah Jo,' gumam Jay di dalam hatinya. “Baik, jika kamu tidak mau mengatakan yang sejujurnya, apa aku harus mati agar kamu mau mengatakan yang sejujurnya?” Jay melepaskan cengkraman tangannya pada kedua lengan Jo, ia menatap Jo dengan tajam. Jay tersenyum tipis melihat kebisuan Jo, ia berjalan ke arah danau yang berada di dekat mereka berdiri. Jo terpaku di tempatnya berdiri dan menatap nanar lelaki yang berjalan mendekati danau di hadapannya. 'Apa yang mau kamu lakukan kak?' tanya Jo di dalam hatinya. “Kamu masih ingat kalau aku nggak bisa berenang kan Jo?” teriak Jay tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Jo. Jo terlihat panik. Tentu saja ia ingat semua hal tentang Jay. Lelaki itu mungkin tampak sempurna. Tampan, kaya, cerdas dan baik hati, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa Jay tidak bisa berenang, ia benci air. Menyadari saat ini Jay sudah sangat dekat dengan danau di hadapannya, Jo segera berlari sekencangnya dan memeluk lelaki itu dari belakang, jantungnya berdebar dengan kencang, ia takut kehilangan lelaki itu, ia memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. Jay tersenyum lebar saat merasakan pelukan Jo, ia menggenggam kedua tangan Jo yang berada di pinggangnya dengan erat. Jantung Jo hampir saja berhenti berdetak jika kakinya tidak segera mengejar Jay. Ia tidak suka sikap nekat Jay, lelaki itu selalu berhasil membuatnya lepas kendali atas dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD