Chapter 3

2082 Words
Suara dosen di depan sana tidak didengarkan oleh Keisha. Cewek  itu menelungkupkan kepalanya di antara lipatan kedua tangannya yang berada di atas meja dan menghela napas beberapa kali. Dimainkannya bolpoin dan terkadang, cewek itu mencoret-coret buku tulis di depannya. Pikirannya mendadak bercabang. Hal ini dikarenakan pertemuannya dengan Ken tempo hari, di mana Ken menyelamatkan dirinya dari lima orang cowok yang sepertinya berniat jahat kepadanya, juga saat Ken menyelamatkannya dari sebuah motor yang melintas dengan cepat dan hampir saja menabraknya. Bukan, bukan karena Ken yang ketampanannya menghebohkan semua mahasiswi di kampusnya itu. Tapi, karena ucapan Ken. Ucapan Ken yang sangat membuatnya bingung serta penasaran. Cowok itu bilang, Keisha berhutang nyawa padanya sebanyak tiga kali.             Tiga kali gundulnya Ken!             Keisha tidak pikun. Demi Tuhan, dia hanya dua kali ditolong oleh Ken dalam waktu bersamaan. Tidak ada sejarahnya lagi, tuh, si Ken pernah menolongnya sebelum dua kejadian waktu itu atau bahkan setelahnya.             Cewek itu juga heran dengan kenyataan bahwa Ken datang mengunjungi rumah kontrakannya. Keisha yakin, cowok itu menyuruh anak buahnya atau para pengawalnya, pelayannya, siapa pun itulah, mencari tahu alamat rumahnya.             Apa mungkin, perasaannya yang seolah merasa dikuntit oleh seseorang, memang benar? Dan orang itu adalah Kenzano?             Tapi, cowok itu bahkan terlihat tidak mengerti dengan ucapan Keisha mengenai kuntit-menguntit. Itu artinya, bukan Kenzano orang yang sudah mengikutinya beberapa hari terakhir belakangan ini.             Mendadak, suara dosen tidak lagi terdengar. Keisha yang memang tidak peduli dengan kegiatan dosen sejak awal kuliah tadi, tentu saja tidak ambil pusing. Sejujurnya, dia membutuhkan ketenangan seperti ini. Bukan hanya ucapan Ken saja yang membuatnya tidak karuan, tetapi juga masalah keluarga yang bisa membuat kepalanya pecah mendadak.             Lagi, Keisha menghela napas. Kepalanya mendadak pusing. Dia tidak mengharapkan kehidupan yang kacau seperti ini. Keluarganya tadinya adalah keluarga yang harmonis. Keluarga yang sangat bahagia, seperti kebanyakan keluarga-keluarga lainnya. Ayahnya adalah sosok yang hangat dan penuh wibawa, sementara bundanya adalah sosok yang lembut dan penuh perhatian. Dia memiliki seorang kakak cowok yang begitu dewasa dan selalu menjaganya.             Namun... semuanya berubah ketika prahara itu datang.             Siapa yang menyangka jika ayahnya yang hangat dan penuh wibawa itu ternyata memiliki wanita lain di dalam hidupnya? Wanita yang dulunya adalah sahabat ayahnya semasa kuliah. Bahkan, wanita itu sudah tidur dengan ayahnya beberapa kali. Ayahnya juga menjadikan wanita itu sebagai isterinya, sementara bundanya mengikhlaskan begitu saja. tapi Keisha yakin, bundanya sangat sedih dan menderita. Kini, di dalam rumahnya terdapat wanita penyihir yang sangat dibenci oleh Keisha, sehingga dia lebih memilih untuk keluar dari rumah neraka tersebut dan mengontrak sebuah rumah kecil.             Untuk biaya kuliah, ayahnya masih membiayai dan masih bertanggung jawab. Keisha sendiri tidak pernah meminta uang kuliahnya, melainkan sang ayah yang selalu membayarkannya setiap semester. Karena itu, Keisha bekerja paruh waktu untuk membiayai kehidupannya sendiri, membayar rumah kontrakan dan menabung untuk membayar semua uang yang sudah dikeluarkan ayahnya untuk biaya kuliahnya tersebut.             Entah kenapa, figur ayahnya berubah di mata Keisha. Dia sakit hati, dia sedih, dia marah dan kecewa. Dia tidak mau menerima begitu saja semua uang ayahnya yang sudah menghancurkan kepercayaan dan keluarga mereka. Oleh sebab itu, dia bertekad akan mengembalikan semuanya.             Karena pengkhianatan ayahnya pada bundanya itulah, Keisha perlahan berubah. Dia menjadi sosok yang tidak bisa didekati. Cewek itu tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain. Kalau ada orang lain yang bertanya padanya, baru dia akan menjawab. Namun, dia tidak akan pernah benar-benar dekat dengan teman-temannya. Yang dianggapnya sebagai teman dekat adalah Shanaz. Cewek berambut bob yang ditemuinya saat pekan OSPEK. Dia merasa nyaman berteman dengan Shanaz. Beberapa kali, dia pernah bermain ke rumah Shanaz dan perasaan iri itu menyusup dalam hatinya. Keluarga Shanaz adalah keluarga yang penuh dengan canda dan tawa. Kehangatan, kenyamanan dan kelembutan terpancar dari keluarga kecil itu. Shanaz adalah anak tunggal. Ketika Keisha bermain ke rumah Shanaz, beberapa kali dia pernah bertemu dengan sepupu Shanaz yang juga menimba ilmu di kampus yang sama dengan mereka.             Bukan hanya berubah menjadi sosok yang pendiam dan tidak mudah didekati, Keisha juga berubah menjadi sosok yang dingin, cuek dan sinis. Hubungannya dengan sang ayah tidak lagi seperti dulu. Dia tidak pernah berbicara lagi dengan ayahnya sejak kejadian itu terungkap. Kurang lebih, ketika dia masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Hanya dengan bunda, Keisha akan menurut. Terhadap Keilvan pun, yang notabene adalah kakak kandungnya sendiri, Keisha kerap membangkang sejak dia mengetahui perselingkuhan ayahnya dengan sahabat pria itu sendiri. Keilvan hanya bisa bersabar menghadapi adiknya itu. Dia sadar jika Keisha marah pada ayahnya. Marah yang menyebabkan Keisha enggan percaya dengan cowok mana pun, termasuk pada kakaknya sendiri.             “Melamun di dalam kelas itu bisa mendatangkan bencana!”             Suara bernada tegas dan dingin itu membuat Keisha tersentak dan tersadar dari lamunannya. Cewek itu mengerjap, mengangkat kepalanya dan menoleh. Di sampingnya, sosok yang di awal tadi memenuhi kepalanya karena ucapannya, juga kunjungan dadakannya tempo hari itu muncul.             Kenzano.             Kenzano melipat kedua tangannya di depan d**a. Cowok itu duduk di meja yang berada tepat di belakangnya, mengabaikan dosen yang menatap horor ke arahnya sambil berdeham keras untuk menyadarkan Ken bahwa tindakannya itu sangat tidak sopan. Sadar bahwa Ken tidak akan memperdulikannya, dosen itu akhirnya melangkah keluar keras sambil membanting pintu. Membuat teman-teman sekelas Keisha terlonjak dan mengelus d**a hampir bersamaan, sementara Ken hanya mendengus.             “Rusuh banget tuh dosen,” katanya sambil berdecak. Kini, Ken kembali memusatkan perhatiannya pada Keisha yang masih saja membeku di tempat duduknya. Cewek itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak oleh Ken. Ada sinar keterkejutan, kebingungan dan emosi yang membaur menjadi satu. Dan entah kenapa, hal itu justru membuat Ken merasa senang. Perlahan, sudut bibirnya mengangkat ke sudut kiri atas.             “Sejak kapan lo ada di kelas gue?”             “Wah... emang lo bayar berapa di kampus ini, sampai-sampai lo berhak mengklaim kelas ini sebagai kelas lo, Keisha?” tanya Ken sambil berdecak meremehkan dan menggelengkan kepalanya. Cowok itu duduk di kursi di sebelah Keisha, menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Di mata Keisha, keangkuhan Ken benar-benar memuakkan. Ken seperti Adolf Hitler versi kini!             “Maaf, gue lagi nggak mood berdebat sama lo.” Keisha membereskan diktat-diktat kuliahnya dan memasukkannya ke dalam ransel tanpa merapikannya. Cewek itu kemudian bangkit berdiri dan berniat meninggalkan kelas, ketika satu cekalan kuat mendarat pada lengannya dan memutar tubuhnya dengan paksa. Tak lama, Keisha merasakan sebuah lengan kokoh merangkul pinggangnya dengan erat, memaksa tubuhnya yang sudah berubah kaku untuk lebih mendekat ke arah Ken. Kedua mata yang menyorot tajam itu menghujam langsung ke manik mata Keisha. Senyuman dingin dan mengintimidasi itu masih setia bertengger pada bibirnya. Tubuh keduanya yang sudah sangat dekat itu membuat sentakan napas para teman cewek Keisha terdengar, sementara para teman Keisha yang cowok bersiul heboh dengan nada menggoda. Seketika, siulan mereka terhenti kala Ken memberikan tatapan mautnya pada mereka semua.             “Lepasin gue!” teriak Keisha seraya berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri dari pelukan Ken. Sia-sia saja karena tenaga Keisha jelas tidak sebanding dengan tenaga Ken. Alhasil, Keisha mengangkat tangan kanannya ke udara, melayangkannya dan hendak mendaratkannya pada pipi kiri Ken. Namun, reaksi Ken lebih cepat lagi. Dia menangkap tangan kanan Keisha dengan menggunakan tangan lainnya yang bebas dan menahan tangan cewek itu.             “b******k! Lepasin gue!” seru Keisha lagi. Dia menentang tatapan tajam yang dilayangkan oleh Ken saat ini. Persetan jika saat ini, dirinya sudah menjadi objek tontonan yang menarik bagi teman-temannya.             “Apa itu yang lo lakuin ke orang yang udah menolong lo tempo hari? Mengatainya b******k?” ejek Ken. Cowok itu tertawa keras dan hambar, kemudian melepaskan tubuh Keisha begitu saja, terkesan seperti menyentak tubuh mungil itu bahkan seakan mendorongnya.             Keseimbangan tubuhnya yang goyah membuat tubuh Keisha limbung ke belakang. Di sana, sebuah meja kokoh sudah siap menanti tubuhnya. Akan terjadi kesalahan yang fatal kalau bagian belakang tubuh Keisha menghantam meja itu dengan keras. Namun, lagi-lagi, Keisha merasakan lengannya ditangkap. Tiba-tiba saja, dia sudah mendarat pada pelukan Ken.             Ken membalikkan tubuh mereka berdua, menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai dan sasaran empuk bagi kerasnya meja di belakang tubuh Keisha beberapa saat yang lalu.             Keisha tersentak dan menatap Ken dengan tatapan kaget. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan ketika menatap wajah Ken yang meringis menahan sakit. Rasa sakitnya pasti begitu hebat karena Ken menutup kedua matanya sejenak, lantas menggeram pelan. Walau Ken tidak berteriak, tapi dari raut wajahnya saja, Keisha sudah bisa memastikan kalau Ken pasti kesakitan.             “Ken!” Tanpa sadar, Keisha menyebut nama Ken dengan seruan yang terdengar cemas. Ketika kedua mata Ken terbuka, cowok itu mendengus dan mendorong tubuh Keisha dengan tegas. Dipastikannya tubuh cewek itu tidak membentur meja di belakangnya atau dia akan kembali melompat tanpa sadar untuk melindungi tubuh Keisha. Sedikit heran dengan tindakannya sendiri beberapa saat yang lalu ketika dia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai pelindung bagi cewek itu. Padahal, Ken sendiri yang sudah mendorong tubuh Keisha.             “Lain kali,” ucap Ken dengan nada dingin. Cowok itu berjalan menjauh dan berhenti tepat di ambang pintu. Ditatapnya Keisha dengan tegas. “Jangan berada dalam radius pandang gue kalau lo lagi dalam bahaya karena gue nggak mau susah-susah buat nolongin lo atau semacamnya! Catat itu, Keisha!”             Sepeninggal Ken, Keisha mengerjap dan mendesis jengkel. Dia mendorong meja di depannya dengan gusar sambil melempar ranselnya ke lantai begitu saja. Napasnya terengah karena berusaha mengontrol emosi yang mendadak naik ke permukaan akibat ucapan Ken beberapa detik yang lalu.             “Dia yang dorong gue tadi dan gue yang disalahin?! Sialan emang tuh orang!” ### Ken menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.             Udara malam ini lebih dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Mungkin, sebentar lagi hujan akan turun. Beberapa kali, suara gemuruh petir terdengar membahana. Kilat menari-nari di udara. Langit di atas sana sangat hitam tanpa adanya cahaya bulan dan bintang. Angin malam menerpa wajah Ken, memainkan rambut cowok berkacamata tersebut. Ken memang tidak pernah mau mengenakan helm jika sedang mengendarai motor. Hal yang selalu ditentang habis-habisan oleh Geo dan membuat sahabatnya itu selalu mengomelinya.             Mendadak, hujan mulai menjalankan tugasnya. Ken tetap menjalankan motornya tanpa ada niat untuk berteduh. Dia membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Lalu, saat dia berbelok, di depannya terdapat sebuah jembatan panjang dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Bukan jembatan itu yang membuatnya terpana, melainkan sosok Keisha yang berdiri di depan pagar pembatas jembatan tersebut. Seketika itu juga, Ken menghentikan motornya dan menajamkan penglihatannya.             “Keisha?” gumam Ken pelan. Jalanan ini begitu sepi, gelap dan menakutkan. Sedang apa Keisha di tempat berbahaya seperti ini?             Dan... apa yang dilihat oleh Ken benar-benar sanggup membuat tubuhnya membeku.             Bak kesetanan, Ken langsung turun dari motornya dan membiarkan benda mahal tersebut jatuh begitu saja di jalan. Dia berlari sekuat yang dia bisa ke arah Keisha. Ditariknya lengan Keisha dengan kuat hingga cewek itu memekik kaget dan berputar ke arahnya. Bisa dia lihat wajah dan tatapan mata Keisha yang menyiratkan keterkejutan.             “Ken?” panggil cewek itu dengan nada terbata. Tanpa perlu diteliti lebih lanjut, walau tercampur dengan air hujan, Ken tahu jika Keisha sedang menangis.             “Cewek bego! Lo mau lompat ke bawah?! Iya?!” seru Ken berapi-api. Dia semakin mengencangkan cekalannya pada lengan Keisha, membuat cewek di hadapannya itu meringis dan berusaha melepaskan diri dari cekalan Ken.             “Sakit, Ken! Lo kasar banget sih sama cewek?! Lepasin gue!” teriak Keisha mengatasi gemuruh air hujan.             “Sakit lo bilang? Lo barusan mau bunuh diri, kan? Gue bakalan kasih lo gambaran sakitnya saat bunuh diri detik ini juga!” Ken menarik Keisha ke arah tepian jembatan dan mendorong tubuh cewek tersebut ke bawah. Namun, Ken tidak benar-benar melepaskan cekalan tangannya pada lengan Keisha. Cewek itu berteriak kencang. Ken seolah menulikan indra pendengarannya. Dia tidak takut jika ada orang yang memergokinya kemudian menghakiminya detik itu juga.             “Ken! Lo cowok sakit jiwa! Lepasin gue!” teriak Keisha.             Ketika yakin kalau Keisha sudah sadar dari pikirannya yang sangat tidak masuk akal itu, Ken menarik tubuh Keisha dari tepi jembatan dan tanpa basa-basi, cewek itu langsung mendorong tubuhnya. Cekalan Ken terlepas dan Ken mundur beberapa langkah akibat dorongan kuat dari Keisha itu. Dilihatnya bahu Keisha naik-turun dan kepalanya tertunduk. Begitu pula dengan Ken yang berusaha mengatasi emosinya akibat tindakan Keisha yang berniat mencabut nyawanya sendiri.             Tiba-tiba, Keisha melihat sepatu belakang Ken mendekat ke arahnya. Otomatis, kepala Keisha terangkat. Dia mengerutkan kening ketika punggung Ken mendekat ke arah wajahnya. Sebelah tangan cowok itu direntangkan tepat di depan tubuh Keisha dan cewek tersebut kemudian menatap sesuatu yang muncul di depan Ken.             “Ternyata tanpa perlu bersusah-susah mencari korban untuk dikuras hartanya, udah ada dua orang yang bersedia menyerahkan diri dengan sukarela!”             Enam orang pria bertampang menyeramkan menyeringai sambil menatap ke arah Ken dan Keisha.             “Setelah lolos dari tempat ini,” kata Ken tiba-tiba. Detik itu juga, Ken menarik Keisha ke dalam pelukannya, memutar tubuh cewek itu, kemudian menendang seorang pria yang ternyata mendekati Keisha dari arah samping. Dia kembali menatap Keisha, menyembunyikan tubuh cewek itu ke belakang tubuhnya dan meneruskan ucapannya yang sempat terpenggal tadi. “Lo harus ceritain ke gue kenapa lo nekat mau mencabut nyawa lo sendiri!”        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD