Chapter 4

2354 Words
“Ayah!”             Keisha berlari kencang menuju ayahnya dengan wajah penuh binar bahagia, kemudian merentangkan kedua tangannya dan langsung menabrak keras d**a pria panutannya tersebut. Keisha mendongak dan tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya. Namun, senyum di bibirnya perlahan memudar ketika dia melihat raut wajah ayahnya yang tidak biasa. Perlahan juga, Keisha menguraikan pelukannya dan melangkah mundur. Dia menoleh ketika mendengar suara dehaman pelan dan menemukan sosok kakaknya, Keilvan, sedang menyandarkan sebelah bahunya ke dinding. Sementara itu, Keisha tidak menemukan sosok bundanya di mana pun. Tapi, ketika dia menatap ke arah ruang tamu, seorang wanita cantik sedang duduk di sofa sambil menatap ramah ke arahnya.             “Kak? Ini ada apa?” tanya Keisha dengan nada bingung. Dia berjalan menuju Keilvan dan menatap cowok itu dengan tatapan bertanya. Rasanya, atmosfer yang tercipta sangat tidak enak. Keisha kemudian menoleh dan bertemu pandang dengan wanita yang duduk dengan anggunnya di sofa tersebut. “Siapa dia, Kak?”             “Keisha,” panggil ayahnya dengan nada yang sulit untuk diartikan oleh Keisha. Cewek yang masih duduk di bangku SMA itu menatap ayahnya dan bisa melihat wajah ayahnya yang datar dan kaku.             Bukan!             Dia bukanlah ayahnya!             Ayahnya tidak pernah memiliki raut wajah seperti itu!             “Wanita itu bernama Helen, Kei. Dia calon bunda kedua kamu.”             Apa?             Apa kata ayahnya tadi?             Calon... bunda?             “Ayah? Maksud Ayah apa, sih? Calon Bunda apa? Keisha nggak ngerti sama sekali. Ini semua nggak lucu, Yah!” Suara Keisha mulai meninggi. Dadanya sesak, memikirkan satu gagasan yang sempat melintas di otaknya. Dia kemudian kembali menatap wanita yang bernama Helen itu dan wanita tersebut menundukkan kepalanya. Seolah merasa bersalah. Seolah menyesal dengan apa pun yang sudah terjadi.             “Keisha....” Kali ini, Keilvan turun tangan. Dia memegang kedua bahu adiknya dengan tegas, setegas tatapan matanya saat ini. Namun, ketegasan itu berbaur dengan keteduhan. Senyuman Keilvan sangat lembut, membuat Keisha merasa aman dan terlindungi. “Dia... sahabat Ayah. Dia sedang... mengandung anak Ayah, Kei. Jadi, Ayah harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia dan Tante Helen harus menikah.”             Menikah?             Menikah seperti ayah dan bundanya? Begitu maksudnya?             “BOHONG!” teriak Keisha. Dia mengenyahkan kedua tangan Keilvan yang tadi bertengger manis di bahunya. Keisha kemudian berjalan menuju ayahnya dan menatap pria itu dengan tatapan sakit. Tatapan tidak percaya. Sosok yang selama ini selalu dikaguminya ternyata ada main dengan wanita lain di belakang bundanya.             Ini pasti hanya mimpi.             Ini pasti hanya mimpi buruknya!             “Ayah... tolong bilang sama Kei kalau apa yang diucapin sama Kak Keil tadi sama sekali nggak benar,” ucap Keisha dengan nada memohon. Sayangnya, raut wajah ayahnya yang masih datar dan hanya menatap ke arahnya dengan tatapan meminta maaf namun berbaur dengan tatapan ketegasan itu membuat Keisha menggelengkan kepalanya dan tahu-tahu saja, buliran kristal itu sudah jatuh membasahi wajahnya.             “Ayah!”             “Suka tidak suka, kamu harus menerimanya, Kei... dia akan menjadi Bunda kamu juga. Bunda kedua kamu. Kamu harus bersikap sopan dan nurut sama dia.”             Keisha mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Cewek itu menatap tajam sang ayah. Membiarkan ayahnya menatap kedua matanya yang memerah karena emosi dan air mata. Membiarkan ayahnya tahu bahwa saat ini, Keisha teramat jijik dengan pria itu. Bahwa Keisha akan membenci pria itu sepanjang sisa umurnya.             “Keisha benci sama Ayah....”             “Keisha!” Keilvan mencoba mencegah apa pun yang akan keluar dari bibir mungil adiknya itu. Dia mendekati Keisha, memegang kedua pundak adiknya dari belakang, namun langsung ditepis oleh cewek itu.             “KEISHA BENCI SAMA AYAH! KEISHA NGGAK AKAN PERNAH MAAFIN AYAH!” ### Kedua mata Keisha terbuka dan dia mengerjap pelan. Cewek itu menatap langit-langit berwarna putih yang berada tepat di atasnya. Kepalanya terasa pusing dan dia mencoba bangkit dari posisi berbaringnya. Keisha kemudian mendapati diri berada di sebuah kamar yang luas dan mewah. Luas kamar ini mungkin seukuran dengan ruang tamu di rumah kontrakannya sekarang. Kemudian, ketika sibuk mengagumi kamar ini, dia jadi teringat akan satu hal.             Tadi dia berada di jembatan, basah kuyup, dihadang oleh enam pria menyeramkan dan...             Ya Tuhan! Ken!             Bukankah tadi dia bersama dengan Kenzano?!             “Gue baru tau kalau orang yang lagi pingsan ternyata bisa menangis juga dalam pingsannya.”             Satu suara bernada tegas itu membuat kepala Keisha menoleh cepat dan cewek itu tersentak kaget saat bertemu mata dengan Ken yang sedang duduk di salah satu sofa, di dekat jendela yang menghubungkan kamar ini ke balkon di luar sana. Keisha menaikkan satu alisnya dan detik berikutnya, dia menyadari keganjilan yang tercipta. Cewek itu menunduk, menatap kaus lengan panjang kedodoran yang melekat di tubuhnya, lantas langsung menjerit dan menarik selimut tebal di hadapannya sampai sebatas leher.             “Kaus gue.... maksud gue....” Keisha menarik napas panjang, berusaha menormalkan emosi yang mulai tercipta dan debar jantung yang berada di atas normal. “Siapa yang gantiin kaus gue?!”             “Menurut lo?” tanya Ken. Cowok itu bangkit dari posisi duduknya, berjalan ke arah kasur dan menghempaskan tubuhnya di sana. Keisha menyipitkan mata dan semakin menutupi tubuhnya dengan selimut tebal tersebut. Cewek itu berusaha menciptakan jarak agar tidak perlu berdekatan dengan Kenzano yang sudah menggunakan lengannya sebagai alas kepala. Cowok itu tidur di sisi kanan tempat tidur, sementara Keisha duduk di sisi kiri tempat tidur. Keduanya saling tatap dan Keisha bersumpah, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari kedua mata tegas milik Kenzano. Mata itu seolah menguncinya dan kuncinya entah dibuang ke mana oleh Kenzano.             “Gue nggak ngeliat apa pun yang ada dibalik kaus itu. Pembantu gue yang gantiin kaus lo, waktu lo lagi pingsan.” Kenzano menarik napas panjang dan bangkit dari posisi berbaringnya. Dia menatap Keisha, meneliti keseluruhan wajah cewek itu, memegang dagunya dan mulai memeriksa apakah ada bekas luka atau semacamnya. “Otak lo sedangkal apa, sih?”             Hah?             Hah?             HAH?!             Si kunyuk Kenzano barusan bilang apa?!             Keisha menepis tangan Kenzano yang bertengger di dagunya dengan kasar. Cewek itu mendesis jengkel dan menatap cowok di depannya dengan tatapan dingin. Sialan si Kenzano! Seenaknya saja dia mengucapkan pertanyaan tadi untuknya.             “Maksud lo apa ngomong begitu?!” tanya Keisha dengan nada tinggi. “Lo barusan bilang kalau gue itu t***l, gitu?!”             “Terus, apa dong namanya kalau bukan t***l? Lo lompat begitu aja di depan gue, menghadang si preman sialan itu yang mau mukulin gue pakai kayu yang entah dia dapat darimana, menaruh diri lo sendiri dalam daftar kematian Malaikat Maut. Gue nggak butuh pahlawan kesiangan, Kei... terlebih, pahlawan kesiangan gue itu seorang cewek. Gue bisa mengatasi segala macam bahaya yang menghadang, Kei... i’m not afraid of death.”             Keisha terdiam. Dia berusaha mencerna ucapan Kenzano tadi dan berhasil mengingat detail kejadian yang sebenarnya. Saat keadaan semakin kacau balau di jembatan itu, seorang preman dari enam orang tersebut hendak memukul Kenzano yang sedang lengah dengan menggunakan sebuah kayu. Entah keberanian darimana atau mungkin karena desakan kuat dalam dirinya untuk segera enyah dari muka bumi ini, Keisha tahu-tahu saja melompat ke arah Kenzano untuk menjadikan dirinya sebagai perisai bagi cowok itu. Hal yang dia ingat sesudahnya adalah, tubuhnya ditarik paksa dan setelahnya dia tidak mengingat apa pun lagi. Kegelapan mulai menjemputnya secara perlahan.             “Dan lagi seingat gue, lo juga berniat untuk terjun dari jembatan itu, kan?” tanya Kenzano lagi, membuyarkan lamunan Keisha. Nada suara Kenzano sangat tegas dan dingin, membuat Keisha menggigil dan merinding dalam waktu bersamaan. “Apa karena lo gagal untuk bunuh diri, lo jadi mengambil keputusan untuk menggagalkan usaha si b******k itu buat mukul gue pakai kayu? Hmm?”             “Setau gue, itu semua bukan urusan lo!”             “Apa pun yang bersangkutan sama lo, itu menjadi urusan gue, Keisha....”             “Sejak kapan lo berhak atas hidup gue?! Hah?!” seru Keisha berapi-api.             “Sejak lo berhutang nyawa sama gue tiga kali waktu itu.”             DEG!             Keisha tidak bisa membalas ucapan Kenzano. Cewek itu hanya diam, menatap kedua mata tegas milik orang yang paling ditakuti di kampus itu. Keisha kemudian turun dari atas kasur, berjalan menuju pintu kamar dan membanting pintu tersebut. Meninggalkan Kenzano yang terdiam di tempatnya dan sama sekali tidak berniat untuk menoleh ke belakang. ### Pepatah mengatakan, janganlah kita terlalu mengikuti rasa penasaran yang bersarang di  dalam hati karena biasanya, rasa penasaran tersebut selalu memberikan bahaya yang tidak akan pernah kita duga sebelumnya. Keisha menghentikan langkah ketika dia mendengar suara dari arah bangunan tua bertingkat tiga di sampingnya itu. Tadi, setelah berdebat dengan Kenzano, Keisha pergi meninggalkan rumah cowok itu tanpa pamit. Dia bahkan masih mengenakan kaus lengan panjang milik Kenzano juga celana training cowok itu yang harus dia ikat bagian pinggangnya dengan menggunakan tali rafia atau tali apalah itu namanya, yang tidak diketahui oleh Keisha dan berwarna hitam. Cewek itu bahkan membentak salah seorang pelayan di rumah Kenzano, ketika pelayan tersebut mencoba untuk menahan Keisha untuk tidak pergi meninggalkan rumah majikannya itu.             Dan saat ini, ketika emosi masih menguasai dirinya akibat ucapan Kenzano yang sangat menyebalkan dan tidak tahu aturan itu, Keisha berhadapan dengan sebuah bangunan bertingkat yang unik dan sedikit... menyeramkan. Dia yakin, dia sempat mendengar suara teriakan yang sarat akan ketakutan. Keisha menimbang dalam hati. Apakah dia harus masuk ke sana untuk mencari sumber suara atau dia pulang saja dan beristirahat di rumah? Tapi... bagaimana jika ada seseorang yang sedang mengalami kesusahan di sana dan dia berniat untuk meminta pertolongan?             “Duh... gue harus gimana?” tanya cewek itu bimbang. Tak lama, Keisha mengambil satu keputusan. Dia memutuskan untuk masuk dan memeriksa keadaan di sana. Berharap dia bisa menemukan seseorang yang mungkin sedang meminta pertolongan tersebut dan bisa segera keluar dari dalam rumah itu secepatnya.             Suasana di dalam bangunan itu sangat gelap, membuat Keisha merinding. Dia berjalan dengan pelan dan sesekali menoleh ke belakang saat merasakan sesuatu sedang mengikutinya. Tapi, Keisha sama sekali tidak menemukan seseorang di belakangnya. Dia sendirian. Peluh dingin mulai membasahi wajah cantiknya. Kemudian, Keisha kembali melanjutkan langkah. Kembali menyusuri bangunan tersebut untuk mencari dan menemukan sumber suara yang tadi didengarnya dari luar bangunan ini.             “Halo? Ada orang?” tanya Keisha dengan suara tinggi. Cewek itu memegang tengkuknya yang sedikit meremang dan naik ke lantai dua dengan hati-hati. Sama seperti lantai pertama yang sudah ditelusurinya tadi, di lantai dua ini pun, Keisha tidak menemukan apa-apa. Akhirnya, cewek itu memutuskan untuk naik ke lantai tiga, lantai paling atas di bangunan ini.             Di lantai tiga, Keisha mulai mencium sesuatu yang anyir. Seperti bau darah. Cewek itu menelan ludah susah payah dan menyesali ketololannya untuk masuk ke dalam bangunan ini dan memeriksa seluruh penjuru ruangan hanya karena mendengar suara teriakan yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Saat hendak menuruni tangga untuk segera keluar dari tempat ini, Keisha menemukan sebuah ruangan, di mana pintunya terbuka setengah. Cewek itu berdiri dalam diam. Menatap pintu tersebut dengan ketakutan yang membuncah. Jantungnya berdebar keras. Darahnya seolah terserap keluar dari tubuhnya. Perlahan, Keisha mendekati ruangan itu. Semakin dia mendekat, bau anyir itu semakin tercium olehnya.             Ketika Keisha sampai di depan pintu ruangan itu, tangan kanannya terulur untuk mendorong pintu tersebut agar terbuka seluruhnya. Dengan degup jantung yang semakin meliar, Keisha memberanikan diri untuk masuk ke dalam dan tersentak hebat kala menemukan sosok seorang cewek yang terbujur kaku di atas lantai dengan baju bersimbah darah!             “ARRRGGGGGHHHHHH!!!” teriakan itu lolos dari mulut Keisha. Cewek itu jatuh terduduk dan menggelengkan kepala sambil mulai menangis. Kemudian, dia bisa mendengar suara berisik dari arah jendela yang tertutup tirai gorden. Keisha terbelalak saat bertemu mata dengan seseorang dibalik topeng yang berada tepat di depan jendela tersebut. Lagi, Keisha menjerit keras dan penuh dengan ketakutan, saat orang tersebut mengangkat sebelah tangannya yang memegang sebuah... pisau berlumuran darah!             Tanpa pikir panjang, Keisha segera bangkit dan mulai berlari. Dia sempat keseleo dan mengabaikan rasa sakit pada kakinya. Cewek itu terus berlari menuju tangga, tapi tidak pernah berpikir bahwa bangunan ini, walaupun memiliki bentuk yang unik, tetap saja sudah tua dan... bobrok.             Keisha tidak sadar jika dia menginjak sesuatu yang dikiranya adalah lantai marmer. Sesuatu itu merupakan sebuah tripleks yang tidak kuat dengan beban Keisha, meskipun tubuh cewek itu mungil. Begitu kedua kaki Keisha berpijak pada tripleks tersebut, Keisha menjerit. Dia pasrah ketika tubuhnya jatuh begitu saja, bagaikan sebuah daun yang terjatuh karena tertiup angin kencang. Cewek itu memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan bersiap menghantam apa pun yang sudah menunggunya di lantai satu, ketika sesuatu yang kuat mencengkram pergelangan tangannya. Dia terkejut dan mendongak.             Lalu bertemu mata dengan Kenzano.             “Mendingan lo selalu ada di dekat gue aja, Keisha... supaya gue bisa terus mengawasi lo, kalau-kalau lo terjebak dalam situasi berbahaya seperti ini lagi.”             Astaga!             Lagi-lagi, Kenzano menyelamatkan nyawanya!             Darimana Kenzano bisa tahu dia ada di tempat ini?!             Apa Kenzano... mengikutinya? ### Drama yang terjadi di jembatan itu, di mana sepasang kekasih sedang bersitegang dengan enam orang preman menyeramkan, membuatnya tersenyum licik.             Ayolah, kalian percaya dengan sebuah kebetulan? Tidak ada kebetulan yang tidak direncanakan di dunia ini. Begitu juga dengan kejadian menarik yang saat ini sedang terjadi tepat di hadapannya.             “Wow, heroic sekali, hmm?” gumam seseorang dari balik kemudi mobilnya yang sengaja diparkir lumayan jauh dari tempat kejadian. “Lo sangat melindungi Keisha, bukan?”             Senyuman licik orang tersebut semakin mengembang tatkala dia melihat bagaimana Keisha melompat begitu saja di hadapan Kenzano Altar Bagaskara untuk melindungi cowok tersebut dari bahaya. Lalu, senyuman licik itu berubah menjadi tawa keras.             “Keisha, Keisha,” ucapnya. Nada suaranya begitu jauh dari kata bersahabat. Dia bersedekap, memerhatikan bagaimana Kenzano dengan kalapnya menghajar keenam preman tersebut, saat cowok itu mengetahui Keisha jatuh tidak sadarkan diri. “Berani juga lo, ya? Mempertaruhkan nyawa lo sendiri demi cowok itu.”             Tak lama, dia melihat Kenzano keluar sebagai pemenang. Sudah tidak diragukan lagi memang, bahwa Kenzano tidak pernah kalah dalam pertarungan apa pun. Cowok kaya keturunan keluarga Bagaskara itu memang senang dengan tantangan yang memacu adrenalin, juga terkenal ditakuti di kalangan mahasiswa lainnya.             “Nggak susah mencari informasi mengenai orang-orang di sekitar lo, Keisha Sayang,” bisiknya dalam kegelapan. Gemuruh hujan dan petir yang sesekali mengeluarkan amarahnya membuat sosok itu terlihat menakutkan. “Satu per satu, orang-orang yang lo anggap penting akan gue lenyapkan. Orang-orang di sekitar lo, keluarga lo. Lo nggak akan pernah gue biarin bahagia, Keisha. Dan terakhir, gue akan mendengar jeritan ketakutan dan penderitaan lo, sebelum gue mengakhiri hidup lo!”             Menyadari Kenzano sudah membawa Keisha pergi dengan menggunakan jasa taksi yang untungnya melewati jembatan itu, orang tersebut memasang topengnya. Dia mengikuti taksi tersebut, memarkir mobilnya tak jauh dari rumah Kenzano.             Untuk membunuh waktu, orang tersebut menengok ke kursi penumpang di belakang. Dia tersenyum misterius ke arah seorang cewek yang sedang berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya, dan menangis sambil berusaha berbicara melalui mulutnya yang disumpal oleh kain.             “Halo, Sayang... udah bangun?” tanyanya dengan intonasi suara yang begitu menakutkan. “Kita akan bermain sebentar lagi. Bermain dengan kematian tentu saja. Kita hanya perlu menunggu Keisha keluar dari rumah sialan itu dalam keadaan sendirian, oke?”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD