Chapter 6

2390 Words
“Kenapa gue ngerasa, seolah-olah gue udah ketangkap basah nyuri uang milyaran rupiah dari bank, ya?”             Pertanyaan yang diajukan dengan nada santai itu membuat Kenzano semakin menyipitkan matanya kala dia menatap seseorang dengan pantulan yang sama seperti dirinya sendiri. Orang di hadapannya itu benar-benar dirinya. Seperti pinang dibelah dua. Dia seperti bayangan Kenzano yang selama ini selalu tersembunyi dibalik langkah kakinya.             Suara jeritan yang berasal dari arah tangga yang berhadapan langsung dengan ruang tamu, di mana sosok Kenzano dan Renzano sedang duduk berhadapan di sofa, membuat keduanya beserta Keisha menoleh. Di undakan anak tangga terakhir, Eve berdiri sambil menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan dan mata membelalak. Dia kemudian menunjuk Kenzano dan Renzano dengan telunjuknya yang sedikit gemetar, tanda bahwa cewek itu masih dikuasai oleh rasa kagetnya sendiri.             “Ken?! Kenapa lo jadi ada dua?!” seru Eve. Cewek itu perlahan melangkah menuju Kenzano dan memposisikan dirinya sendiri di antara Kenzano juga Renzano. Eve menatap keduanya bergantian dengan takjub dan detik berikutnya, dia menggelengkan kepalanya sambil menepuk kedua pipinya sendiri dengan pelan. “Ini pasti mimpi! Gue pasti mimpi! Bangun, Eve... bangun....”             “Hai, Virginia Evelyn.” Renzano menyapa saudara sepupunya itu dengan nada lembut, membuat Eve membuka kedua matanya dan menoleh. Menoleh ternyata bisa sangat membingungkan seperti ini, Eve baru mengetahuinya. Karena, cewek itu sendiri tidak yakin, mana yang baru saja memanggil nama lengkapnya dengan nada yang begitu lembut dan memabukkan. Cewek di luar sana sudah pasti akan terlena dan Eve juga akan melakukan hal yang sama, jika saja dia tidak mengingat bahwa salah satu dari dua orang ini adalah saudara yang memiliki garis darah yang sama dengannya walau berbeda orang tua. Hei, mereka saudara sepupu, bukan? Eve dan Kenzano. Darah mereka pasti memiliki garis yang sama.             “Not me. I’m Ken.” Kenzano mendengus dan menunjuk Renzano yang berada di depannya, duduk santai dengan kedua tangan dilipat di depan d**a sambil memperlihatkan senyum memukaunya. Dia melirik Keisha sekilas dan kembali mendengus kala mengetahui bahwa cewek itu sedang menatap Renzano dengan tatapan yang bisa dibilang seperti memuja. Double s**t for that guy! “He’s the one who called you!”             Eve langsung menatap Renzano dan mengerjap. Renzano tersenyum semakin lebar dan melambaikan tangan kanannya, sebelum kemudian bangkit berdiri, memeluk Eve yang hanya bisa membeku di tempat dan mencium sebelah pipi cewek tersebut.             Dan... seumur hidupnya, Eve berani bersumpah, dia tidak pernah semenggebu ini kala bertemu dengan Kenzano!             Kalau memang benar, cowok yang baru saja memeluknya itu adalah Kenzano.             Ugh! Eve masih belum paham dengan situasi yang tercipta di sini.             “Gue Renzano. Renzano Alfar Bagaskara. Saudara kembar Ken. Salam kenal, sepupu gue yang cantik.” Renzano mengedipkan sebelah matanya. Ketika dia tidak sengaja bertatap muka dengan Keisha, Renzano tersenyum manis dan sebelah tangannya terulur begitu saja untuk mengacak rambut Keisha.             Dan... Keisha hanya bisa membeku, sama seperti reaksi Eve tadi. Dia mengepalkan kedua tangannya di atas kedua lutut dan kisah di masa lalunya, ketika sang ayah masih menjadi sosok yang hangat, yang selalu mengacak rambutnya seperti Renzano tadi, menyeruak keluar. Matanya terasa panas sekarang. Ingin sekali Keisha berteriak keras kemudian menangis. Menumpahkan semua caci maki atas kehidupannya yang tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat. Jatuh yang benar-benar jatuh. Mengenaskan. Hancur. Lebur. Berbaur dengan debu.             “Keisha?”             Suara Eve menginterupsi semua kenangan manisnya di masa lalu. Kenangan manis yang mendadak lenyap tergantikan dengan kepahitan tiada tara. Keisha mendongak dan mengerjap kala bertemu mata dengan Eve. Dia menoleh sekilas, bertatapan dengan Renzano yang menatapnya tidak mengerti, kemudian tatapan itu berakhir pada Kenzano. Kenzano yang mengunci kedua matanya dengan erat, tidak sudi melepaskan. Kenzano yang seolah bisa memasuki dunia gelapnya, di mana cahaya tidak pernah bisa menghapus kegelapan itu.             “Keisha?” kali ini, Renzano bersuara. Dia memang sudah berkenalan dengan Keisha tadi, saat cewek itu membukakan pintu dan mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam rumah, di saat Kenzano tidak mengatakan apa pun dan sibuk memberinya tatapan maut. Renzano perlahan mengulurkan tangan kanannya lagi, berniat untuk menyentuh kepala Keisha, namun cewek itu langsung berdiri. Kepalanya tertunduk, tidak berani untuk terangkat. Kedua tangannya kini memilin ujung kaus Kenzano yang kebesaran di tubuhnya dan Keisha membasahi bibirnya yang terasa kering.             Demi Tuhan!             Dia orang yang kuat. Dia bisa melewati semuanya sendiri sampai detik ini. Dan semuanya mendadak hancur berantakan, ketika orang yang mengaku bernama Renzano dan ternyata saudara kembar Kenzano itu datang?!             Hebat sekali, dia!             “Maaf... gue mau ke atas dulu.”             Tanpa memberikan kesempatan kepada ketiga orang di depannya untuk bersuara, Keisha langsung memutar tubuh dan berlari ke lantai dua. Diikuti oleh tatapan tidak mengerti dari Renzano dan tatapan tajam dari Kenzano, Keisha pergi dari ruangan itu. Pergi bersama rasa sesak yang mendadak hadir.             Renzano menatap punggung Keisha yang menjauh itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Cowok itu memasukkan kedua tangannya di saku celana jeans yang dipakainya dan tetap menatap Keisha sampai cewek manis itu menutup pintu kamar dengan bantingan. Dan Kenzano yang menatap sikap Renzano tersebut hanya bisa mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya, bertepatan dengan perasaan asing yang mendadak menyusup masuk ke dalam hatinya.             Perasaan asing yang dinamakan orang-orang dengan rasa cemburu, namun Kenzano sama sekali tidak menyadarinya.             Tapi, selihai apa pun Kenzano mencoba menekan rasa emosinya, Renzano dan Eve bisa melihatnya secara gamblang. Eve menahan senyum, dan Renzano justru secara terang-terangan memberinya seulas senyum yang terkesan meledek.             Jealous, huh? Batin Renzano. ### Kenzano menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas kasur. Sebelah lengannya digunakan untuk alas kepala. Cowok itu menarik napas panjang dan memejamkan kedua mata. Baru saja, Om dan Tantenya—orang tua Eve—pamit pulang, setelah menceritakan kronologis kejadian yang sebenarnya. Kenzano sendiri tidak mengerti kenapa kedua orang tua Eve mendadak datang dan langsung memeluk Renzano, seolah mereka bertiga sudah sering bertemu, sementara dirinya dan Eve berdiri layaknya orang t***l.             “Begini, Ken... ada yang harus Om dan Tante beri tahu sama kamu.” Bram, ayahnya Eve memulai percakapan. Kenzano hanya menatapnya datar dan tanpa ekspresi, sementara Renzano tersenyum kecil. Kadang Kenzano heran, apa Renzano itu tidak lelah terus-menerus tersenyum layaknya orang bodoh seperti itu?!             “Kenapa Ayah dan Bunda saya tidak menjawab panggilan telepon saya, Om?” tanya Kenzano. Dia melirik Renzano sekilas dan cowok yang memiliki wajah persis sepertinya itu hanya mengangguk ramah.             “Ayah dan Bunda kamu sedang ada urusan penting di Belanda. Mereka tidak berada di Inggris dan sudah pasti nomor yang mereka gunakan sudah berbeda. Ayahmu sempat menelepon Om, sebelum dia memutuskan untuk memulangkan Renzano ke sini.”             “Ayah udah tau kalau selama ini Ken punya saudara kembar?” tanya Eve dengan rasa penasarannya yang sangat tinggi. “Ayah udah kenal lama sama Ren?”             Bram menoleh ke arah anak tunggalnya dan mengangguk.             “Saat Bunda Ken melahirkan, Ayah dan Bunda ada di sana. Flora melahirkan seorang bayi yang lucu dan menggemaskan. Ketika para suster sibuk membersihkan Ken yang masih merah, Flora mendadak kembali menjerit. Dokter bergegas mencari tahu apa yang terjadi dan ternyata, Flora akan kembali melahirkan seorang anak.             “Tidak ada yang pernah menduga jika Flora akan melahirkan bayi kembar. Selama masa kehamilannya, Flora tidak pernah memeriksakan jenis kelamin si jabang bayi pada dokter kandungan. Setiap Flora pergi ke dokter kandungan bersama Mas Pram, Flora hanya akan menceritakan keadaan dirinya sehari-hari dan meminta obat atau vitamin. Dia bilang, dia ingin hal ini menjadi kejutan. Dia ingin dirinya dan Mas Pram kaget dengan bayi yang lahir nantinya. Apakah dia anak cowok atau anak cewek.             “Saat itu, Mas Pram dan Flora benar-benar bahagia. Mereka memiliki dua jagoan di dalam kehidupan mereka. Kenzano dan Renzano. Kenzano lebih dulu lahir lima menit dibandingkan Renzano. Namun, saat itu, Mas Pram dan Flora harus dihadapkan pada keadaan yang menyedihkan. Dokter mendiagnosa Renzano memiliki penyakit jantung bawaan. Dia memang bisa hidup, tapi tidak akan ada yang tahu kapan jantung itu akan berhenti berdetak. Dokter berkata bahwa Renzano tidak boleh terlalu capek jika sudah besar nanti dan penyakit itu bisa sembuh jika dilakukan transplantasi jantung. Karenanya, ayah dan bundamu memutuskan untuk pergi ke Inggris saat usiamu dan Renzano menginjak satu tahun. Kedua orang tuamu tidak ingin Renzano merasa sedih dan tertekan karena melihatmu bisa bermain dengan bebas bersama anak-anak lainnya, jika kalian berdua sudah beranjak besar. Selain itu, mereka berharap bisa menyembuhkan Renzano di Inggris sana.”             Kenzano diam. Rasanya semua ini seperti sinetron baginya. Dia diabaikan demi kebahagiaan saudara kembarnya. Bahkan selama ini, dia mengira jika kedua orang tuanya tidak menyayanginya.             “Kenapa mereka tidak pernah menelepon saya untuk menanyakan kabar saya?” tanya Kenzano dengan nada datar.             “Mereka sering menanyakan keadaanmu, Ken... melalui Om dan Tante. Mereka merasa, mereka tidak pantas berbicara denganmu, karena mereka merasa bersalah sudah meninggalkanmu bersama kami dan para pembantu di rumahmu ini.”             Omong kosong!             Semua itu bukanlah alasan!             “Untungnya, enam bulan yang lalu, Renzano berhasil mendapatkan donor jantung yang cocok. Dia berhasil di operasi dan dinyatakan sembuh. Kemudian, Renzano meminta pada ayah dan bunda kalian agar dia dipertemukan dengan saudara kembarnya alias kamu.”             “Dia tau kalau dia punya saudara kembar, sementara saya tidak mengetahui apa pun?”             Om dan Tantenya hanya diam, begitu pula dengan Eve dan Renzano. Kenzano bangkit berdiri kemudian tertawa dengan nada datar. Ditatapnya Renzano dengan tatapan tajam, sementara Renzano membalas tatapan itu dengan tatapan ramah.             “Bukankah itu bukti bahwa saya memang tidak diinginkan oleh kedua orang tua saya sendiri?”             Pintu kamarnya terbuka, membuat Kenzano membuka kedua matanya dan menoleh malas ke arah pintu. Di sana, Eve berdiri dengan raut wajahnya yang terlihat penuh simpati. Kenzano mendengus dan duduk.             “Nggak usah pasang tampang seolah-olah gue kena penyakit mematikan dan sebentar lagi bakal pergi ke akhirat, Eve.”             Eve balas mendengus, kemudian dia tersenyum juga. Dia melangkah ke arah Kenzano dan duduk di tepi ranjang, di samping Kenzano. Mendadak, Eve melingkarkan kedua tangannya di leher Kenzano, membuat tubuh cowok itu sedikit menegang, namun detik berikutnya dia membalas juga pelukan Eve. Selama ini, hanya Eve yang dekat dengannya. Tidak ada yang lain.             “Lo nggak usah sedih, Ken... gue selalu ada di samping elo, kok.”             “Cih,” cibir Ken seraya melepaskan pelukannya pada Eve. Dia menjitak pelan kepala cewek itu, membuat Eve mengerang dan meninju bahu Ken yang tertawa pelan. “Siapa juga yang sedih? Sok tau!”             Keduanya tidak sadar jika Renzano mendengarkan dari balik pintu kamar Kenzano. Dia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit dan berbalik untuk kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ketika melewati kamar yang ditempati oleh Keisha, Renzano sempat berhenti sejenak. Dia menatap daun pintu yang menutup itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Lima menit terlewat, Renzano kemudian masuk ke dalam kamarnya. ### Keisha sebenarnya ingin pulang ke rumah kontrakannya saja, namun Kenzano melarang. Entah apa yang merasuki cowok sialan versi Keisha itu, sehingga dia diharuskan untuk tinggal di rumah Kenzano sampai polisi berhasil menangkap si pembunuh yang dilihat oleh Keisha semalam.             “Kalau si pembunuh belum berhasil ditangkap, jangan harap lo bisa keluar dari rumah gue, Kei! Kalau perlu, lo bakalan gue sekap di dalam kamar gue sekalian. Atau, gue bisa manggil penghulu buat nikahin kita, sehingga lo akan terikat sehidup semati sama gue. Cinta bisa diatur lah. Bukannya cinta datang karena terbiasa? Dan pastinya, lo akan gampang mencintai gue karena gue tampan dan gue akan mencintai lo karena lo cantik. Beres, kan?”             Itulah ucapan Kenzano, ketika Keisha pamit untuk pulang. Dan yang bisa dilakukan oleh Keisha hanyalah melongo kemudian mendesis, menendang tulang kering Kenzano hingga cowok itu mengaduh dan menatap garang Keisha. Keisha kemudian menentang tatapan garang Kenzano dan mendengus, lantas masuk lagi ke dalam kamar dan tak lupa menutup pintu dengan bantingan.             Beres gundulnya si Ken! Apanya yang dikatakan beres? Mencintai Ken? Menikah dengan Ken? Ha-ha-ha! Itu alternatif terakhir dengan catatan semua spesies cowok di dunia ini sudah punah dan yang tersisa hanya Kenzano. Mungkin kalau itu terjadi, Keisha bisa memikirkannya ulang.             “Si Ken itu kayaknya rada terganggu syaraf otaknya, makanya jadi sinting!” gerutu Keisha sambil membuka kulkas. Masa bodoh dengan kelakuannya sekarang yang bisa dibilang tidak sopan dan seperti maling. Toh, Kenzano sendiri yang menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah ini. Jadi, tidak masalah dong, kalau dia mengambil sedikit makanan dan minuman segar dari—             “ARRRGGGHHH!!!”             Teriakan Keisha itu diiringi dengan jatuhnya dua bungkus makanan ringan dan sebuah minuman soda berkaleng dari tangannya. Ketika dia memutar tubuh, sosok Kenzano sudah berada tepat di depannya.             Eh, tapi tunggu dulu.             Kenzano tidak pernah tersenyum seperti ini.             Itu artinya...             “Re—Renzano?”             “Just call me, Ren. Keisha, right?”             Keisha mengangguk dan berusaha menormalkan debar jantungnya yang meliar akibat kemunculan Renzano itu. Dia berjongkok untuk mengambil makanan ringan dan minuman kaleng yang terjatuh tadi, ketika menyadari Renzano juga ikut berjongkok dan memiringkan kepala kala menatap Keisha.             “Jangan pernah ikut campur sama urusan orang lain, Kei....”             DEG!             Keisha mendongak dan bertemu mata dengan Renzano. Senyuman itu masih ada di sana, tapi kini lebih menyerupai seringaian. Entah kenapa, Keisha bisa merasakan hawa dingin perlahan membelai tengkuknya, sebelum kemudian membelai seluruh tubuhnya.             “A—apa maksud lo?” tanya Keisha gugup.             Renzano mengangkat bahu tak acuh dan bangkit berdiri. Ketika Keisha juga ikut berdiri dan berhadapan dengan Renzano, cewek itu menyadari tatapan Renzano mengarah padanya. Atau lebih tepatnya, pada sesuatu yang berada di belakangnya. Keisha mengerutkan kening dan menoleh. Di belakangnya, sudah berdiri Kenzano yang sedang bersedekap. Mata Kenzano menatap tajam Renzano, sementara yang ditatap hanya bersikap santai seolah tatapan mematikan dari Kenzano itu bukanlah apa-apa. Nothing.             “Apa maksud ucapan lo ke Keisha tadi?” tanya Kenzano dengan nada dingin. Renzano mengangkat bahunya sekali lagi dan ikut bersedekap layaknya Kenzano.             “Cuma ingin melindungi Keisha. Bukannya itu yang dilakukan oleh seorang cowok? Melindungi cewek? Terlebih, jika cewek itu berada dalam bahaya.”             Kali ini, Kenzano bisa merasakan hawa dingin yang sempat membelai Keisha beberapa saat yang lalu. Hawa dingin yang begitu kejam, bengis dan tanpa belas kasihan.             “Apa maksud lo?!”             “Nggak ada maksud apa-apa. Gue cabut dulu kalau begitu.”             Ketika Renzano melewati Kenzano, cowok itu mencekal lengannya. Keduanya saling tatap dalam diam dan Keisha bisa merasakan atmosfer menegangkan pada kedua cowok berwajah sama tersebut.             “Nggak akan gue biarin sesuatu terjadi sama Keisha, walaupun gue harus mempertaruhkan nyawa.”             Lama mereka terdiam, membiarkan kalimat Kenzano menggantung di udara. Sampai kemudian, Renzano melepaskan cekalan tangan Kenzano pada lengannya kemudian cowok itu tersenyum tipis.             “So do i, twins.” ### Renzano duduk di tepi ranjang.             Cowok itu menghela napas panjang dan berdecak. Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri dan memejamkan mata. Rasa hangat pada telapak tangannya setiap kali dia menyentuh Keisha, membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.             Sesuatu yang dingin, sesuatu yang mengerikan, yang haus akan pertumpahan darah.             Merasa terganggu dengan pikirannya sendiri, Renzano membuka kedua matanya. Dia berdiri, melangkah menuju jendela dan menatap hamparan langit hitam yang begitu luas. Bibirnya tersungging ke sudut kanan atas, memperlihatkan aura misterius di balik senyuman tersebut.             “So, it will begin soon, right? Just be careful, Keisha... Kenzano....”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD