Tolong!
Tolong!
Tolong!
Siapa pun, tolong gue!
Cewek itu berlari dengan sisa kekuatan yang masih berada dalam tubuhnya. Sesekali, dia akan menengok ke belakang hanya untuk memastikan bahwa orang mengerikan itu tidak mengikutinya.
Ketika dia menyadari bahwa di jalan yang terbilang sepi, meskipun jarum jam masih menunjuk ke angka sembilan itu dia hanyalah seorang diri, sedangkan orang mengerikan yang mengejarnya tadi tidak terlihat, cewek itu berhenti berlari kemudian menghela napas lega.
Dia membungkukkan sedikit tubuhnya untuk mengatur napas, kemudian mengelap keringat yang membasahi kening dan wajahnya.
“Sudah lelah bermainnya, Sayang?”
Satu suara bernada dingin dan datar itu membuat cewek tadi segera menegakkan tubuh. Dia menelan ludah susah payah, kemudian memutar tubuh dengan gerakan pelan. Saat itulah, dia menyadari akhir kehidupannya sudah di depan mata.
Cewek itu bertatap mata dengan seseorang yang mengenakkan topeng. Tatapan mata yang begitu tajam. Dari balik topeng itu, si cewek bisa merasakan seringaian licik dan tak berbelas kasihan sedang tertuju padanya.
“Tolong! Jangan bunuh gue, jangan... apa salah gue?” tanya cewek tersebut dengan suara bergetar dan air mata yang mulai membasahi wajah cantiknya. Dia menggelengkan kepala seraya melangkah mundur.
Orang mengerikan yang kali ini menggunakan topeng menyerupai pembunuh dalam film Scream itu hanya tertawa datar dan keras. Tawa yang dipaksakan.
“Elo nggak salah apa-apa, Sayang... elo hanya sedang bernasib sial! Gue hanya ingin memainkan peran Malaikat Maut. Merasakan bagaimana rasanya mencabut nyawa seseorang. Dan juga...,” si manusia bertopeng itu mendekatkan wajahnya dengan wajah cewek di hadapannya, lantas mengusap pipi dingin cewek tersebut. “Gue ingin menuntut balas!”
“Menuntut balas? Apa kaitannya sama gue? Gue sama sekali nggak mengingat pernah membuat orang lain sakit hati, apalagi memiliki seorang musuh! Tolong, tolong jangan bunuh gue, tolong....”
Permohonan yang disertai tangisan ketakutan itu nyatanya sia-sia saja. Hanya seperti angin yang berhembus.
“It doesn’t matter, sugar...,” balas orang bertopeng itu sambil tertawa lagi.
Dia langsung menyergap si cewek dan mengurungnya dengan sebelah tangan yang bebas, sementara sebelah tangannya yang lain mengacungkan benda menyeramkan berbentuk sabit ke udara.
“Maaf karena lo harus terseret dalam permainan maut ini. Ah, tenang aja, Sayang... gue nggak akan membuat lo mati mengenaskan, kok. Gue akan tetap membiarkan lo hidup. Itu pun dengan catatan, lo bisa bertahan hidup. Sebagai reward karena lo udah bersedia menjadi bahan balas dendam gue, gue akan membuka topeng ini.”
Sebelum benar-benar menyerang cewek tersebut, orang bertopeng itu kini membuka penyamarannya. Dia tersenyum, begitu bengis dan dingin. Cewek di hadapannya hanya bisa terbelalak dan kembali menggeleng sambil memohon ampun.
“Ssst... jangan berisik, Sayang... nanti lo akan membangunkan semua orang,” kata si manusia bertopeng yang kini memperlihatkan wajah aslinya.
Sial untuk orang pertama yang dia bunuh kemarin, dia tidak sempat memperlihatkan wajah aslinya. Toh, cewek pertama yang dia bunuh pun terlanjur meninggal, sehingga menggagalkan semua rencananya untuk menuntut balas.
“Nah, lo udah liat wajah gue, kan? Kalau lo berhasil bertahan hidup, laporkan gue ke polisi.” Orang itu tertawa keras dan kembali mengangkat benda menyerupai bulan sabit itu ke udara. “Bilang kepada polisi bahwa orang yang udah membunuh lo adalah....”
Malam itu, diiringi suara teriakan dari cewek tersebut, orang bertopeng itu tertawa puas. Kali ini, dia memastikan bahwa korban keduanya tidak akan mati, sehingga bisa melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.
Dan tak lupa, dia meninggalkan sesuatu di tempat kejadian. Sesuatu yang akan membawa pihak kepolisian kepada orang lain, menangkapnya dan membuat hidup orang tersebut menderita.
“Perlahan, semua dendam gue akan terbalaskan...,” bisiknya di kegelapan malam.
###
Keisha menghembuskan napas keras dan menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
Setelah insiden kecil di dapur tadi, rasanya kepalanya sudah mau pecah. Apa yang dipikirkan oleh Kenzano dan Renzano, coba? Untuk apa mereka bertengkar hanya karena dirinya? Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya cewek biasa dengan masa lalu yang bisa di bilang cukup menyedihkan.
Dengan latar belakang keluarganya yang hancur, lebih baik bagi Keisha untuk pergi meninggalkan dunia kejam ini selama-lamanya. Tapi, si kembar yang baru bertemu setelah dua puluh tahun terpisah itu justru melindunginya dan menjaganya. Seolah-olah, dia adalah orang paling penting di dunia ini. Padahal, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Dia bukan anak kecil. Dia sudah besar, sudah dewasa, for God’s sake!
Dia hanya tidak ingin Kenzano dan Renzano bertengkar karena dirinya. Dia tidak ingin hubungan darah dan persaudaraan itu hancur. Dia hanya ingin Kenzano dan Renzano bersikap sebagaimana saudara semestinya.
Mereka kembar. Dan Keisha berharap hubungan keduanya bisa menjadi dekat.
“Apa yang lagi lo pikirin?”
DEG!
Satu suara bernada datar itu membuat kepala Keisha berputar dan bertemu mata dengan... mmm... dengan...
“Apa sebegitu miripnya, sehingga menyulitkan lo untuk mengenali gue?”
Keisha mendengus dan memutar bola matanya.
Cowok di depannya dan sekarang duduk di sampingnya ini adalah Kenzano Altar Bagaskara. Si malaikat maut di kampusnya. Harusnya, Keisha bisa membedakan Kenzano dan Renzano. Kenzano selalu memasang wajah datar dan menakutkan, sementara Renzano lebih sering tersenyum dan tatapan matanya sangat ramah.
“Gue tau itu elo, Ken. Lo tentu berbeda dengan Ren karena air muka kalian selalu bertolak belakang. Ren lebih sering tersenyum, sementara lo lebih sering cemberut!” sembur Keisha langsung.
Heran, si Kenzano ini kenapa selalu membuatnya kesal, ya? Padahal, Keisha tadi sedang lapar bukan main, sehingga cewek itu memutuskan untuk mengambil makanan ringan dari dalam kulkas.
Namun, saat bertemu dengan Renzano di dapur, Keisha jadi melupakan makanan ringannya. Dan sekarang, ketika Kenzano berada di dekatnya dan mencari masalah dengannya lagi, rasa lapar Keisha lenyap entah ke mana.
“Begitu?” tanya Kenzano dengan nada yang sulit untuk diartikan oleh Keisha.
Cewek itu mengerutkan kening dan menoleh. Ketika dia menatap wajah Kenzano, kemudian bertatap mata dengan Kenzano, Keisha tertegun. Dia mendapati diri tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Kenzano. Jantungnya berdetak sangat kencang dan cepat, hingga Keisha takut Kenzano bisa mendengarnya dan cewek itu juga takut dia akan terkena penyakit jantung setelah ini.
Demi Tuhan!
Kenzano... cowok itu... ya Tuhan...
Kenzano tersenyum ke arahnya! Senyum yang sangat manis dan memukau. Senyum yang menenangkan. Senyuman yang sanggup membuat Keisha nyaman, aman dan terlindungi.
Dan... jantungnya semakin meliar.
“K—Ken?”
“Bukannya itu yang elo mau, Kei? Melihat gue tersenyum? Hmm?” tanya Kenzano dengan nada lembut. Nada yang belum pernah didengar oleh Keisha selama ini. Nada yang membuat Keisha melayang. Benar-benar melayang dan enggan berpijak lagi di bumi.
“Dengar, Kei...,” kata Kenzano lagi. Senyum itu menghilang dan Keisha seolah kehilangan tumpuannya. Sandarannya.
Kini tatapan Keisha beralih pada cara Kenzano mencekal pergelangan tangannya. Begitu erat namun tidak terasa menyakitkan. Keisha justru merasa terlindungi, entah bagaimana caranya. Cara Kenzano memegang pergelangan tangannya juga sangat mencolok, membuat Keisha harus mati-matian meredam perasaan aneh yang mendadak hadir di hatinya.
“Gue bukan orang baik, elo tau itu. Elo tau gimana sikap gue yang sangat b******k itu. Tapi, gue bisa menjamin keselamatan elo. Akan gue pastiin, elo tetap hidup dan terbebas dari masalah apa pun yang mendera elo. Gue akan melindungi elo dari si pembunuh yang masih berkeliaran itu karena dia bisa aja mengejar elo dan menjadikan elo targetnya, setelah lo melihat perbuatannya. Dan... gue juga akan menjaga elo dari... Renzano.”
“Ken! Dia kembaran lo! Dia nggak mungkin ngejahatin gue!” Keisha mengenyahkan tangan Kenzano dari pergelangan tangannya dan bangkit berdiri.
Dia kesal sekarang. Bisa-bisanya Kenzano berpikir bahwa Renzano—kembaran cowok itu sendiri—merupakan orang jahat yang harus dijauhi?! Ya Tuhan! Apa yang sedang dipikirkan oleh Kenzano, sih? Kenapa dia bisa berpikir sejahat itu tentang Renzano?!
Satu tarikan kuat pada lengannya membuat Keisha yang tadinya sudah bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Kenzano, kembali terduduk. Cewek itu kemudian menjerit tertahan ketika mendadak tubuhnya sudah terpojok di lengan sofa dengan Kenzano berada tepat di hadapannya seraya mengurungnya dengan kedua rentangan tangan laki-laki itu.
Dalam posisi sedekat ini, Keisha bisa melihat dengan jelas raut wajah tampan milik Kenzano. Dan juga... kedua mata yang menyiratkan kekecewaan, kesendirian dan kesedihan.
Sorot mata yang sama dengan miliknya sendiri.
“Ken....”
“Gue terpisah dari Renzano dua puluh tahun lamanya, Kei... gue nggak mengenal dia seperti apa. Dia mungkin selalu tersenyum di depan semua orang, tapi lo harus ingat satu hal.”
Kenzano kembali tersenyum dan hal itu membuat degup jantung Keisha kembali meliar tanpa sebab. Rasanya seluruh wajah Keisha sudah memanas sekarang. Dia takut jika rona merah itu mulai menjalar pada wajahnya dan Kenzano bisa melihatnya.
“K—Ken....”
“We’re twins, Keisha... We’re same. Kalau gue b******k, maka dia juga bisa menjadi b******k. Kalau dia selalu tersenyum, maka gue juga bisa tersenyum. Sesederhana itu, Keisha....” Kenzano menyentuh pipi Keisha, mengusapnya perlahan. Membuat Keisha harus menahan napas agar tidak terlihat gugup di depan Kenzano. “Terkadang, sebuah senyuman pun bisa menjadi sebuah jebakan. Jebakan yang akan membawa lo ke dalam bahaya.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kenzano menjauhkan tubuhnya dari Keisha dan bangkit berdiri. Dia berjalan menjauh dari sofa dan naik ke lantai dua. Tanpa menoleh ke belakang untuk melihat akibat perbuatannya barusan pada diri Keisha. Keisha yang kini mematung dan terperangah di tempatnya. Keisha yang terus menatap punggung Kenzano yang menjauh dan menghilang dari pandangan.
“Ken....” Tanpa sadar, Keisha menggumamkan nama Kenzano. Cewek itu kemudian menarik napas panjang dan menundukkan kepala sambil memegang dadanya. Dadanya yang masih bergemuruh hebat. Menyisakan debaran aneh pada jantungnya yang malang.
Ada apa dengannya?
Apa tanpa sadar, berdekatan dengan malaikat maut itu membuatnya merasakan sesuatu yang lain?
Sesuatu yang dinamakan dengan...
Keisha menggeleng tegas dan menutup wajah dengan kedua tangan. Dia benar-benar bingung sekarang dengan dirinya sendiri. Dia tidak boleh dan tidak mungkin jatuh cinta pada Kenzano.
Di sisi lain, Keisha tidak menyadari kehadiran Renzano yang menatapnya dari balik pintu penghubung yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur.
Renzano bersedekap seraya menatap Keisha dengan tatapan datar. Tatapan yang sulit untuk diartikan. Tatapan yang menyiratkan sebuah arti, tetapi hanya Renzano sendiri yang mengetahui artinya.
“Lo benar-benar cewek pemberani yang selalu mencari masalah, Keisha.” Renzano menarik napas panjang dan tersenyum samar. Dia menunduk kemudian menggelengkan kepala. Sekali lagi, Renzano menatap Keisha dan meneliti wajah muram Keisha yang sudah terangkat kembali. “Two choices, Kei... kill or be killed.”
“Apa maksud lo?”
Pertanyaan itu membuat Renzano mengangkat kepalanya dan bertemu mata dengan Kenzano. Cowok itu sepertinya turun tanpa diketahui oleh Keisha karena Renzano bisa melihat Keisha masih melamun di tempatnya dengan wajah muram yang sama. Atau... mungkin Renzano bisa mengganti persepsinya dengan Keisha yang memang terlalu asyik melamun.
“Nggak ada maksud apa-apa, Ken.” Renzano mengedikkan bahu dan menepuk pundak Kenzano beberapa kali, sebelum kemudian Kenzano menepis tangan Renzano dengan kasar dan menatap kembarannya dengan tatapan tajam.
“Dua kali lo bicara seolah-olah lo akan melukai Keisha, Ren... dan asal lo tau, gue nggak akan pernah membiarkan lo menyentuh Keisha dan menyakiti cewek itu!”
Ketika Kenzano hendak pergi, suara Renzano terdengar dan membuat langkah kaki kembarannya itu berhenti. Sekujur tubuh Kenzano bahkan menegang, ketika suara Renzano terdengar seperti kaset rusak yang terus-menerus berputar.
“Keisha akan berada dalam bahaya besar kalau lo melepaskan pandangan dan pengawasan lo sedetik aja dari dia, Ken....”
###
Suara tabuhan drum dari lantai dua membuat Keisha yang sedang duduk di teras depan tersentak.
Cewek itu mengelus d**a sambil menggerutu, kemudian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul sepuluh malam dan Kenzano nabokin drum?! Keisha membatin sinis. Si malaikat maut itu sepertinya sudah kehilangan kewarasannya! Tindakannya ini akan mengganggu para tetangga yang sudah terlelap. Demi apa pun yang ada di dunia ini, apakah Kenzano tidak memiliki tata krama yang baik?!
Dengan gusar, Keisha masuk ke dalam rumah Kenzano dan bergegas menuju lantai dua. Dia mengikuti suara tabuhan drum yang menggema dan samar, Keisha bisa mendengar suara nyanyian cowok itu.
Harus Keisha akui, suara Kenzano lumayan bagus. Membuatnya nyaman tanpa sadar. Dan... ah, wajahnya kembali memanas ketika kilasan mengenai Kenzano mengurungnya di sofa ruang tamu menyeruak keluar. Cewek itu berhenti melangkah dan menepuk kedua pipinya.
“Gue kenapa, sih?!” seru Keisha tertahan sambil menggelengkan kepalanya.
Let’s talk about who you say...
Is the essence of your life...
But he’ll eat you up from inside slow...
And then he doesn’t wanna know...
I’m tellin’ you that he’ll eat you up from inside...
And then he doesn’t wanna know...
Mendengar suara Kenzano lagi, membuat Keisha tersadar dari lamunannya dan kembali berjalan menuju sebuah ruangan di ujung lorong lantai dua. Ketika pintu itu terbuka, dia bisa melihat Kenzano sedang bersemangat menabuh drumnya sambil bernyanyi dan menatap langsung ke arahnya.
Tatapan itu membuat Keisha mengerutkan kening. Aneh. Dia tidak merasakan debaran jantungnya yang meliar ketika bertatapan dengan Kenzano saat ini. Tidak seperti satu jam yang lalu di sofa ruang tamu, saat dia bersama dengan Kenzano, juga tidak seperti beberapa saat yang lalu, ketika dia mengingat kembali kejadian di ruang tamu tersebut.
Kali ini, Keisha hanya terdiam, saling bertatapan dengan Kenzano yang seperti biasa, tidak tersenyum.
Listen, i mean it...
There’s nothing that he’s worthy of...
He’s just another playa’
Playin’ in the name of love...
I’ve seen enough, now this must come to an end...
Get another boyfriend!
Keisha terlonjak ketika di akhir permainan drumnya, Kenzano memukul benda tersebut dengan sangat keras hingga kedua telinga cewek itu berdengung. Keisha mengerjap dan memasang sikap waspada, kala Kenzano berjalan ke arahnya.
Keringat yang membasahi wajah Kenzano, walau ruangan ini sudah diberi pendingin ruangan, membuat cowok itu nampak keren dan tampan.
Tapi, sekali lagi... jantung Keisha tidak meliar seperti dua kejadian sebelumnya.
Aneh.
Kenzano berdiri tepat di depan Keisha dan menatap kedua manik cokelat cewek itu. Tatapan yang begitu menantang menurutnya dan membentengi seluruh rasa sakit serta kesedihan yang dialami oleh cewek di hadapannya tersebut.
Tangan kanan Kenzano terulur untuk menyentuh pipi Keisha. Sialnya, Keisha seolah tersihir. Dia membeku di tempatnya. Terlebih saat Kenzano mengangkat dagu Keisha hingga tatapan keduanya kini sejajar.
“He’s just another playa’, playin’ in the name of love,” kata Kenzano, mengulang bait lagu yang dinyanyikannya barusan. “Keisha....”
Baru saja Keisha membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu, sebuah tarikan keras pada lengannya membuat Keisha menjerit. Cewek itu limbung ke belakang dan langsung ditangkap oleh dua tangan kokoh entah milik siapa. Ketika Keisha menoleh ke belakang, dia bisa melihat wajah... Kenzano?
Dia berada dalam pelukan... Kenzano?
Tapi, bukankah Kenzano ada di... depannya?
“Udah gue bilang, Keisha... gue dan dia itu satu. Kembar. Kalau gue b******k, maka dia juga bisa menjadi b******k, sama seperti gue. Kalau dia bisa tersenyum, maka gue pun bisa tersenyum seperti dia....”
Keisha mengerjap dan menatap cowok yang kini memeluknya tanpa kentara itu.
“Ken?”
“Halo, Keisha... maaf, udah membuat lo pusing dengan kelakuan gue barusan yang mengikuti mimik wajah milik Ken.”
Keisha menoleh dan menatap Kenzano yang satunya lagi, yang berada di hadapannya, yang baru saja selesai bernyanyi sambil bermain drum, tepat di manik mata.
“Elo... Ren?” tanya cewek itu kaget.
Renzano tertawa dan mengulurkan tangan kanannya untuk mengacak rambut Keisha. Tindakannya itu membuat Keisha membeku karena teringat lagi akan sang ayah. Membuat Kenzano mengerutkan kening dengan perubahan gestur tubuh Keisha, sementara Renzano hanya menatap datar cewek itu.
Tanpa senyuman yang barusan dia perlihatkan untuk Keisha, ketika dia mengakui bahwa dirinya hanya memainkan peran sebagai Kenzano beberapa saat yang lalu.
“Maaf sekali lagi, Keisha....” Renzano kembali bersuara dan berjalan keluar dari dalam ruangan. Ketika dia berdiri di samping Kenzano, dia menatap sang kembaran dengan tatapan serius, sebelum akhirnya tersenyum dan pergi dari hadapan Kenzano.
“Kei? Elo nggak apa-apa, kan?” tanya Kenzano khawatir. Namun yang dilakukan oleh Keisha hanya diam. Membeku. Seolah tak bernyawa.
Dua kali. Dua kali Renzano membuatnya mengingat kenangan menyakitkan itu lagi. Dan tanpa sadar, kali ini air mata itu mengalir di wajahnya. Di depan Kenzano. Membuat Kenzano terpaku. Lalu, dia membiarkan Keisha menjatuhkan wajahnya di d**a bidangnya. Menangis terisak di sana. Melihat cewek itu memukul-mukul dadanya.
Dan... akhirnya Kenzano memeluk cewek itu. Mengusap punggungnya. Mengelus rambutnya. Memejamkan kedua matanya. Seolah bisa merasakan kesakitan Keisha saat ini.
Semuanya disaksikan oleh Renzano yang ternyata tidak benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu. Seperti biasa, tatapannya datar ketika menatap Keisha yang kini dipeluk dengan erat oleh Kenzano, sang kembaran. Dia mendengus dan berbalik. Tidak pernah tahan dengan tangis perempuan.
“Lo akan kehilangan dia, Ken... hati-hati. Jangan pernah lengah dan terus awasi Keisha. Atau lo akan menyesal seumur hidup.”