Chapter 8

2842 Words
Puas menumpahkan semua rasa sesak dan sedih yang dia rasakan dalam bentuk tangisan memilukan, Keisha menjauhkan diri dari pelukan Kenzano. Namun, cowok itu masih terlalu khawatir akan keadaan Keisha, sehingga Kenzano memutuskan untuk tetap memegang kedua lengan atas Keisha guna memberikan perlindungan bagi cewek rapuh di depannya ini. Cewek yang baru saja menangis dengan hebatnya. Cewek yang biasanya menunjukkan raut wajah angkuh nan elegan, berani melawan dan menentangnya, kini terlihat sangat berbeda. Membuat Kenzano menahan sakit yang entah datang darimana. Kenzano menatap Keisha yang masih menunduk, sambil sesekali menghapus air mata sialan itu yang masih saja mengalir, walau sudah semaksimal mungkin dipaksa untuk berhenti. Cowok itu menarik napas panjang dan berusaha menyejajarkan wajahnya dengan wajah Keisha.             “Feeling better?” tanya Kenzano dengan suara lembutnya. Suara lembut yang membuat Keisha merasa nyaman dan terlindungi. Keisha kemudian mengangkat wajahnya dan bertemu mata dengan Kenzano. Sorot kekhawatiran itu terbaca jelas di sana, membuat Keisha tersenyum tipis tanpa sadar.             Dan sialnya... senyuman tipis dari Keisha itu sanggup membuat detak jantung Kenzano berhenti sesaat, sebelum kemudian meliar dengan begitu hebatnya.             Holy s**t!             “Gue nggak apa-apa. Udah baikan. Thanks for your... mmm....” Keisha tidak mampu meneruskan kalimatnya. Wajahnya memanas dengan cepat dan cewek itu hanya bisa berharap, semoga rona merah itu tidak menjalar pada pipinya.             Kenzano yang bisa menebak kalimat yang akan diucapkan oleh Keisha itu kontan semakin tersenyum dan mengangguk. Dia menepuk pipi Keisha pelan, membuat cewek itu tersentak dan mengerjap.             “Sama-sama. Maafin kelakuan Renzano yang mungkin tanpa dia sadari udah bikin lo nangis hebat kayak tadi.”             Keisha menggeleng dan menghembuskan napas. Lagi, memori mengenai keluarganya yang dulu sangat bahagia itu menyeruak keluar. Membuat dadanya bergemuruh. Membuat napasnya tercekat di tenggorokan. Membuat matanya kembali memanas dan buliran kristal itu mengancam untuk jatuh kembali. Dengan satu gerakan cepat, Keisha segera menghapus air mata pertama yang kembali meluncur dengan mulus di pipinya. Membuat Kenzano kembali menarik napas panjang dan memutuskan untuk memeluk tubuh cewek itu lagi.             Di dalam pelukan Kenzano, Keisha kembali menumpahkan tangisnya. Namun, seiring dengan pelukan Kenzano yang semakin menguat, rasa sesak itu perlahan menghilang. Tergantikan dengan rasa hangat yang entah datang darimana. Hangat, nyaman dan terlindungi. Kombinasi yang selalu dia rasakan jika berada di dekat Kenzano, meskipun sikap cowok itu sangat jauh dari ketiga kosakata yang dia sebutkan di atas.             “Kembaran lo nggak salah apa-apa,” lirih Keisha seraya memejamkan kedua matanya. Menikmati alunan detak jantung Kenzano. Alunan yang sangat memabukkan dan membuatnya terlena. “It’s just about me. I was... it was about that damn memories.”             Kenangan? Kenangan apa yang dimaksud oleh Keisha?             “Apa lo sedang berusaha untuk kabur dari... kenangan?” tanya Kenzano pelan dan hati-hati. Di dalam pelukannya, Keisha mengangguk, setelah sebelumnya cewek itu menarik napas panjang dan terisak lagi. Keisha tidak membalas pelukan Kenzano. Dia hanya diam, membiarkan Kenzano memeluk tubuhnya dengan sangat erat.             “Ya.” Suara Keisha kembali terdengar. Lirih yang begitu menyayat hati. “Ya... gue sedang kabur dari kenangan menyakitkan itu.”             “Kenapa?”             Diam.             Keisha tidak langsung menjawab. Dia menjauhkan diri dari pelukan Kenzano dan menatap langsung kedua mata cowok itu. Membuat Kenzano tertegun karena raut wajah menyakitkan yang diperlihatkan oleh Keisha. Terlebih sepasang kedua matanya kala menatap.             “Karena itu adalah memori paling indah yang gue punya.” Keisha mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Mencoba menahan magma yang siap menyembur keluar dari dalam hatinya. “Memori indah yang sudah berubah menjadi memori paling menyakitkan.”             “Kei, gue....”             “Renzano emang nggak salah apa-apa,” potong Keisha langsung. “Tapi, dia membangkitkan semua kenangan yang gue coba untuk kubur entah sejak kapan. Dan itu rasanya bagaikan gue menenggak minuman pahit yang nggak gue suka, atau menusuk jantung gue sendiri dengan ujung besi yang baru saja dipanaskan. It’s killing me inside, Ken....”             Mendadak, tubuh Keisha meluruh begitu saja. Jatuh dengan beralaskan kedua lututnya. Menundukkan kepala, menyembunyikan wajah dengan kedua tangan mungilnya dan menangis lagi di sana, diikuti oleh tatapan Kenzano yang menajam. Dia tidak suka melihat Keisha menangis seperti ini. Dia tidak sudi melihat Keisha merasa sakit seperti saat ini. Jikalau bisa, dia ingin menukar posisi cewek itu dengan dirinya. Supaya, dia saja yang merasakan sesak dan sakit itu, bukan cewek di depannya.             Perlahan, Kenzano ikut berlutut di depan Keisha. Menarik Keisha lagi ke dalam pelukannya. Memejamkan kedua matanya, berusaha merasakan sakit yang dialami oleh cewek itu. Kenzano mengusap punggung Keisha dengan lembut, membuat isak tangisnya sedikit mereda, sebelum kemudian lenyap tak bersisa.             “Gue nggak tau apa masalah lo, tapi....” Kenzano menarik napas panjang dan membulatkan tekad. “Gue akan selalu ada untuk lo... kapan pun lo butuhkan. Gue akan berusaha menghilangkan rasa sakit dan sesak yang lo rasain, supaya lo nggak perlu menangis seperti ini lagi.”             Keisha tersenyum tipis dalam dekapan hangat Kenzano. Cewek itu menarik napas panjang dan mengangguk. Debar jantungnya yang lain dari biasa, membuat Keisha menyadari satu hal. Satu hal yang takut dia rasakan, akibat perbuatan ayahnya bersama wanita lain di masa lalu dan mengakibatkan hancurnya keluarga mereka, frustasi sang bunda yang sangat sakit hati hingga menyebabkan beliau meninggal dunia.             Ken, batin cewek itu dan tanpa sadar meremas kaus yang dikenakan oleh Kenzano. What should i do if i... fall for you? ### Renzano menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan beralaskan lengannya sendiri. Cowok itu menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Seperti pikirannya yang saat ini entah sedang pergi ke dimensi mana. Masih terekam jelas dalam ingatannya, ketika dia melihat gestur tubuh Keisha yang perlahan berubah kaku, kemudian cewek itu menangis. Sungguh, dia paling tidak suka dan tidak tahan jika melihat cewek menangis. Tapi, sudah dua kali dia membuat Keisha seperti itu. Yang pertama memang Keisha tidak menangis, tapi kali ini, cewek itu kehilangan kontrol atas dirinya.             “b******k!” umpat Renzano keras seraya melempar bantalnya entah ke mana. Dadanya bergemuruh hebat. Sungguh, dia merasa benar-benar jadi orang b******k sekarang. Padahal, dia pernah berjanji pada bundanya bahwa dia tidak akan pernah membuat cewek mana pun menangis. Tapi, coba lihat sekarang? Dia membuat Keisha, orang yang mungkin sudah dianggap penting dan berarti bagi kembarannya itu, menangis.             Entah untuk yang keberapa kalinya, Renzano menarik napas panjang. Kedua mata cowok itu terpejam dan dia berusaha keras untuk tidak berlari ke ruangan tadi guna meminta maaf pada Keisha dan memeluk cewek itu. Renzano tidak mau dicap sebagai saudara kembar yang jahat. Saudara kembar yang tega merebut orang terpenting bagi kembarannya sendiri. Dia tidak menyukai Keisha tentu saja, dia hanya ingin menjaga dan melindungi cewek itu, seperti Kenzano yang juga ingin menjaga dan melindungi Keisha.             Hanya itu.             Tidak lebih.             Tapi... benarkah hanya itu?             Bagaimana jika tanpa dia sadari, ada sesuatu yang lain, yang menyusup masuk ke  dalam dirinya dan mengambil alih kontrol dirinya sendiri?             Seperti... menyukai Keisha misalnya?             “Nggak!” Renzano langsung bangkit dari posisi berbaringnya, ketika gagasan itu melintas di dalam benaknya. “Nggak! Gue nggak suka sama Keisha. Gue nggak suka dan nggak boleh suka sama dia! Gue cuma mau menjaga dan melindungi dia karena dia orang terpenting bagi Ken!”             Tapi, semakin Renzano menyangkal, semakin kuat gagasan itu berkecamuk dalam benaknya. Renzano jadi gemas sendiri. Dia menggeram dan kembali melempar bantal ke lantai, kemudian meremas rambutnya dengan kuat. Cowok itu berdecak dan turun dari ranjang. Dia keluar dari dalam kamar, lalu turun ke lantai dasar. Di ruang tamu, dia bisa melihat Keisha sedang duduk sambil memegang mug bergambar Doraemon dan menatap meja di depannya dengan tatapan kosong. Entah kenapa, hati Renzano seakan diremas dengan kuat ketika melihat pemandangan itu. Perlahan dan tanpa disadari oleh Keisha, Renzano mendekati cewek itu dan duduk di sampingnya. Sepertinya, Keisha terlalu dalam dan asyik akan lamunannya, sehingga tidak menyadari kehadiran Renzano.             “Maaf karena gue udah bikin lo nangis, Kei....”             DEG!             Satu suara bernada menyesal itu menembus kabut dunia Keisha, membuat cewek tersebut tersentak dan menoleh cepat. Keisha mengerutkan kening ketika melihat wajah yang sudah tak asing lagi baginya tersebut. Wajah yang sama, namun sedikit banyak Keisha sudah bisa mengenali perbedaannya.             Wajah di depannya adalah wajah milik... Renzano.             “Kenapa harus minta maaf?” tanya Keisha dengan nada yang dipaksakan terdengar riang. “Lo nggak salah apa-apa, Ren. Gue aja yang terlalu sensitif dan kebawa perasaan sama sikap lo barusan.”             “Karena lo teringat akan bokap lo, kan?”             DEG!             Darimana...             Darimana Renzano tahu soal ayahnya?!             Gestur tubuh Keisha yang berubah kaku membuat Renzano menghela napas panjang. Dia mengulurkan tangan, mengacak rambut Keisha, kemudian merapikannya kembali. Lalu, tangan besar itu masih bertahan di atas kepala Keisha. Tidak mau lepas. Menyentuh rambut Keisha dengan begitu mencolok. Siapa pun yang melihat, pasti akan mengira bahwa mereka mungkin sepasang kekasih.             Di tempatnya, Keisha terpaku. Kalah akan kenangan indah pada keluarganya dulu. Terutama ayahnya. Bagaimana ayahnya sering melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Renzano saat ini.             “Gi... mana....” Suara Keisha tercekat di tenggorokan, membuat Renzano lagi-lagi menghela napas panjang dan mengangkat tangannya dari kepala cewek itu. Dia bisa melihat tubuh Keisha gemetar hebat. Lalu perlahan, kepala Keisha menoleh lagi ke arahnya. “Gimana... elo... tau... soal... Ayah... gue...?”             Renzano tidak menjawab. Sampai kemudian, suara berisik itu terdengar. Suara mug yang tadi dipegang oleh Keisha dan kini meluncur dengan mulusnya ke lantai hingga pecahannya berserakkan ke mana-mana. Bahkan, melalui ekor matanya, Renzano bisa melihat kaki putih mulus milik Keisha berubah warna menjadi merah. Sepertinya, salah satu pecahan kaca itu menembus kulit mulusnya.             Detik berikutnya, Keisha menarik kaus Renzano dan mengguncang tubuh atletis cowok itu. Matanya menatap nyalang Renzano, diikuti buliran kristal yang jatuh dengan mulusnya di pipinya.             “DARIMANA LO TAU SOAL AYAH GUE?!” teriak Keisha kalap. Cewek itu kemudian menangis histeris. Memukul d**a Renzano dengan kuat. Tidak memperdulikan tangannya yang terasa sakit akibat perbuatannya.             Tak lama, suara langkah kaki mendekat. Renzano menoleh dan bertemu mata dengan tatapan tidak percaya yang dilayangkan oleh Kenzano untuk Keisha. Kemudian, tatapan mata itu berubah tajam kala menatap ke arahnya. Lalu, dengan satu gerakan cepat, Kenzano menarik Renzano hingga kembarannya itu berdiri dan diberinya satu pukulan keras di wajah!             “b******k! Gue udah bilang sama lo, kalau gue nggak akan biarin lo bikin Keisha kenapa-napa!” seru Kenzano seraya menarik Renzano lagi sampai kembarannya itu berdiri. Lalu, Kenzano kembali menghajar Renzano sampai sang kembaran tersungkur ke sofa, sementara Keisha masih menangis histeris sambil menekan kuat dadanya. Menahan sakit dan sesak yang berlomba-lomba datang menghampirinya.             Melihat itu, Kenzano langsung menghampiri Keisha dan memeluknya dengan sangat erat. Tatapannya masih melekat pada Renzano yang saat ini sedang mendesis menahan sakit dan menyeka darah yang keluar di sudut bibirnya.             “Gue hanya berusaha membuat Keisha berdamai dengan masa lalunya, Ken....”             “Apa maksud lo?!” tanya Kenzano dengan nada berapi-api. Sementara itu, di dalam pelukannya, Keisha mencengkram erat kaus Kenzano dan masih terisak hebat.             “Gue bisa melihat masa lalu dan masa depan, juga membaca pikiran seseorang, Ken....”             Apa?             Apa yang baru saja diucapkan oleh Renzano barusan?             Seakan mengerti dengan arti tatapan Kenzano, Renzano mengangguk dan berkata, “Gue bisa melihat masa lalu dan masa depan hanya dengan menyentuh seseorang. Ingat apa yang gue bilang soal Keisha di dapur? Apa yang akan terjadi kalau lo melepaskan pengawasan lo dari Keisha sedetik aja?”             Kenapa... kenapa rasanya Kenzano menggigil? Kenapa rasanya hawa dingin itu tidak mau melepaskan dirinya?             “I can see blood everywhere, Ken... i can see them everywhere... with her body. Lo boleh percaya sama gue atau nggak, tapi yang jelas... dia akan mengalami bahaya yang sangat besar dan mengancam keselamatan jiwanya, kalau lo nggak mengawasinya dengan benar, Ken.”             Selesai berkata demikian, Renzano pergi meninggalkan Kenzano dan Keisha. Tanpa keduanya sadari, Keisha sudah pingsan. Kelelahan menangis dan penyakit yang kumat akibat telat makan. Juga karena kilasan masa lalu yang kembali membayangi dirinya. ### Taman bermain?             Keisha menatap sekelilingnya dan mengerutkan kening. Seingatnya, tadi dia sedang berada di ruang tamu rumahnya Kenzano. Menangis yang begitu hebat karena Renzano tahu mengenai masa lalunya entah darimana. Tapi, kenapa sekarang dia berada di taman bermain? Lalu, kenapa tidak ada satu orang pun di taman bermain ini?             “Keisha....”             Keisha tersentak dan menoleh ke segala arah. Mencari sumber suara yang baru saja memanggil namanya. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Dia hanya sendiri.             “Siapa?” tanya Keisha dengan nada tinggi. Tubuhnya berputar ke sana-kemari hanya untuk mencari sumber suara tersebut. “Siapa?!”             “Keisha... Keisha... Keisha....”             Lagi, suara itu memanggil nama Keisha. Cewek itu sendiri mulai panik. Dia berlari ke semua penjuru taman bermain, namun tidak berhasil menemukan orang yang terus memanggil namanya itu. Sampai kemudian, Keisha tersandung sesuatu dan terjatuh. Cewek itu mengaduh dan mengerang pelan ketika menyadari lututnya terasa sangat perih.             Namun, semua itu tidak sebanding dengan apa yang dilihatnya saat ini.             Di depannya... persis di depannya... terdapat tubuh manusia yang terbujur kaku dan mengeluarkan banyak darah. Tubuh dari seseorang yang dia kenal baik. Tubuh dengan kedua mata menatap ke arahnya. Tangan dari seseorang tersebut mencekal pergelangan tangannya dengan sangat kuat, membuat Keisha berteriak histeris dan berusaha melepaskan diri, namun gagal.             “Lepas! Lepasin gue!”             “Keisha... Keisha... Keisha... ini semua gara-gara kamu! Ini semua karena kamu!”             “Nggak! Gue nggak salah apa pun! Nggak! NGGAAAAAAKKK!!!”             “KEISHA!”             Dengan satu gerakan cepat, Keisha bangkit dari posisi berbaringnya. Peluh membanjiri wajah cantiknya beserta air mata yang terus mengalir dari kedua matanya. Dia menoleh pelan dan bertemu mata dengan Kenzano yang menatapnya khawatir. Benar-benar khawatir. Kenzano bahkan terpaksa menampar pipi Keisha supaya cewek itu terbangun dari mimpi buruknya.             “Kei... lo nggak apa-apa?” tanya Kenzano dengan nada cemas yang terdengar sangat kental di kedua telinga Keisha. Di sisi lain, Renzano dan Eve berdiri di ambang pintu kamar cewek itu. Eve dengan tatapan cemas dan ibanya, sementara Renzano dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Perlahan, dia mendekati Keisha dan berdiri di samping cewek itu. Tubuhnya gemetar hebat. Kedua tangannya mencengkram lengan Kenzano sampai buku-buku tangannya memutih dan sampai lengan Kenzano berwarna kemerahan.             Keisha sendiri tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam. Menatap nyalang lengan Kenzano yang dicengkramnya, kemudian menjatuhkan kepalanya di d**a bidang cowok itu. Suara isaknya masih terdengar, membuat Kenzano menelan ludah susah payah. Bingung harus berbuat apa. Ini pertama kalinya dia dibuat sekhawatir ini oleh seorang cewek. Seorang cewek yang tanpa sadar sudah menjadi bagian yang penting bagi dirinya sendiri. Apa itu artinya... dia mulai jatuh cinta pada... Keisha?             “Keisha, i asked you... are you ok?” tanya Kenzano lagi. Dia akhirnya memeluk tubuh gemetar Keisha dan mengusap punggungnya pelan. Sampai kemudian, Kenzano melihat kembarannya menyentuh puncak kepala Keisha, membuat tubuh gemetar yang dipeluknya itu mendadak kaku.             “Ren!” seru Kenzano keras. “Mau apa lagi, lo?!”             “Ayah lo... meninggal? Lo mimpi Ayah lo meninggal, Kei?”             DEG!             Kenzano menatap Renzano dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Apa benar kembarannya itu bisa melihat masa lalu dan masa depan, juga membaca pikiran orang lain hanya dengan menyentuhnya saja? Jika memang benar, Kenzano merasa sangat kalah dari Renzano. Kembarannya itu bisa mengetahui apa pun yang dirasakan oleh Keisha, sedangkan dirinya? Dia tidak dapat berbuat apa pun!             What a loser!             “NGGAK! GUE NGGAK SALAH! GUE NGGAK SALAAAAH!!!” seru Keisha mendadak. Tangisnya semakin keras dan dia memeluk Kenzano dengan sangat erat. Seolah hidupnya bergantung pada cowok itu. “Gue... nggak... salah... Ken....”             Tiba-tiba saja, tubuh Keisha meluruh dalam pelukan Kenzano. Cowok itu dengan sigap tetap mempertahankan pelukannya pada tubuh Keisha, sebelum kemudian menidurkannya dengan sangat hati-hati di kasur.             “Harus lo bilang ke dia, apa yang udah dia mimpiin?” tanya Kenzano dingin.             “Ken, gue—“             “Dengar... gue nggak akan biarin siapa pun nyakitin dia, Ren... termasuk lo! Camkan itu baik-baik!”             Keduanya saling tatap dalam diam. Berusaha mengontrol diri untuk tidak saling menghajar. Terutama Kenzano. Karena desakan kuat dalam dirinya sangat menginginkan kesakitan Renzano akibat pukulannya.             “Keluar!”             Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Renzano selain menuruti kemauan kembarannya itu. Dia keluar diikuti oleh Eve. Sepeninggal keduanya, Kenzano menatap Keisha. Dia mengusap rambut Keisha dan membungkukkan tubuh untuk mencium kening cewek itu. Dalam dan lama.             “Apa pun akan gue lakuin, asalkan lo baik-baik aja, Kei...,” ucap Kenzano lembut dan tegas. ### Renzano hanya melirik dari balik bahunya, ketika Kenzano masuk ke dalam kamar sambil membuka pintu dengan bantingan.             Tidak perlu seorang dukun untuk mengetahui bahwa Kenzano benar-benar marah. Apa pun bisa dilakukan Kenzano saat ini, termasuk mungkin membunuh saudara kembarnya sendiri karena sudah membuat orang terpenting baginya menangis.             “Apa benar lo bisa melihat masa lalu, masa depan dan membaca pikiran orang lain?”             Renzano diam.             “Jawab gue, sialan!”             Merasa tidak ada gunanya terus bungkam, Renzano mengangguk. Cowok itu berdiri dari ranjang, mendekati Kenzano dan saling tatap dengan saudara kembarnya tersebut.             “Sejak kapan?”             “Gue juga nggak tau tepatnya kapan,” jawab Renzano dengan nada menerawang. “Yang gue tau, tiba-tiba gue bisa membaca pikiran orang lain sewaktu kecil, sehingga gue dijauhi orang lain. Lama-lama, gue bisa melihat masa lalu saat menyentuh seseorang. Terkadang, yang gue liat adalah masa depan.”             Rahang Kenzano mengeras dan kedua tangannya mengepal kuat.             “Terus kenapa lo harus bilang semuanya ke Keisha?! Kenapa lo harus beberin apa mimpi dia, masa lalu dia, di saat dia sendiri berusaha keras untuk melupakannya?!”             Renzano menarik napas panjang.             “Ken, nggak baik terus-terusan hidup dalam kelamnya masa lalu dan nggak mencoba untuk berdamai. She needs to change. Gue tau apa yang dialami Keisha emang menyakitkan, tapi, dia nggak akan pernah menemukan kebahagiaan kalau seperti ini terus.”             “DIAM! SEMUA ITU BUKAN URUSAN LO!”             “Gimana kalau gue bilang, itu juga urusan gue?”             Kenzano menggertakkan giginya. Emosinya semakin memuncak dan dia sangat menginginkan kesakitan Renzano detik ini juga.             “Apa maksud lo?!”             Kedua tangan Renzano ikut mengepal. Dia tahu ini salah, tapi, dia tidak bisa mengontrolnya. Hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia, sementara manusia itu sendiri tidak bisa melakukannya.             “What if i tell you that i love that girl, just like you do?”        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD