Kalimat Renzano barusan berhasil membuat Kenzano terpaku.
Mendapatkan kenyataan bahwa selama ini dia memiliki saudara kembar saja sudah bisa membuatnya frustasi, dan sekarang, dia harus menghadapi kenyataan lainnya mengenai saudara kembarnya tersebut?
Bahwa ternyata, Renzano, adik kembarnya, memiliki perasaan khusus untuk Keisha?
“Gue serius sama ucapan gue barusan, Ken.” Renzano menyadarkan kakak kembarnya itu dari kekagetannya. Tentu saja berhasil, karena sekarang, Kenzano kembali fokus kepadanya. “Gue rasa, gue mulai jatuh cinta sama Keisha.”
“Dan kenapa lo harus kasih tau gue? Itu urusan lo sama Keisha, bukan urusan gue.” Kenzano membasahi bibir bawahnya yang terasa kering. Kedua tangannya semakin mengepal kuat, hingga cowok itu harus meringis untuk menahan rasa perih di telapak tangannya.
Sepertinya, tanpa Kenzano sadari, dia sudah melukai telapak tangannya sendiri akibat kuku yang menancap di sana.
“Gue hanya nggak mau dianggap sebagai musuh dalam selimut oleh saudara kembar gue sendiri. Gue hanya ingin saudara kembar gue tau tentang perasaan gue kepada cewek yang juga dicintai sama dia.”
Alis Kenzano terangkat satu dan dia bersedekap sekarang, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya dan juga darah yang mulai keluar, karena Kenzano bisa merasakan basah pada bagian telapak tangan tersebut.
“Cewek yang gue cintai? Apa maksud—“
“Jangan menyangkal, Ken. I know you love her.” Renzano segera memotong kalimat Kenzano, bahkan sebelum cowok itu berhasil menyelesaikannya.
Merasa tidak ada gunanya berdebat mengenai hal seperti ini, Kenzano berdecak jengkel. Cowok itu mengumpat dan mengacak rambutnya sendiri, sebagai tanda untuk menyalurkan rasa frustasinya.
Harus Kenzano akui, dia memang merasakan hal-hal aneh pada Keisha. Dia mendapati diri sangat protektif kepada cewek yang di awal pertemuan mereka sangat jauh dari kata bersahabat. Kenzano juga selalu merasakan debaran aneh pada jantungnya saat berdekatan dengan Keisha, atau melihat cewek itu tersenyum.
Hal lainnya yang dirasa aneh oleh Kenzano adalah, saat dia melihat ketakutan Keisha, juga bagaimana cewek itu menangis. Kenzano merasa sebagian dirinya yang lain ikut hancur bersama Keisha. Dia ingin Keisha tidak lagi merasakan sakit dan kesedihan itu, entah kenapa.
Apa itu berarti, yang diucapkan oleh Renzano benar? Bahwa dia sudah mencintai Keisha tanpa dia sadari?
“Gue nggak mau bersaing sama saudara kembar gue sendiri. Gue sadar, Keisha membutuhkan lo dan lo juga membutuhkan Keisha. Kalian ditakdirkan untuk bersama. Hanya lo yang bisa diandalkan oleh Keisha.” Karena gue sempat melihatnya. Hari di mana terdapat sepasang anak kembar yang sedang tertawa, berlarian di sisi kalian berdua.
“Lo mau nyerah?” tanya Kenzano. Dia sendiri heran, kenapa dia justru ingin Renzano juga berjuang mengenai perasaannya terhadap Keisha. Menyerah sebelum memulai perang rasanya tidak masuk akal.
Renzano menggeleng dan tersenyum. “Jelas gue nggak akan nyerah. Gue akan mengakui perasaan gue kepada Keisha.” Walau sudah tau akan ditolak nantinya. “Tapi, waktunya nggak tepat sekarang.”
Kenzano mengerutkan kening.
“Dengar, akan ada bahaya yang datang. Dan semua akan berakhir menyakitkan, kalau lo dan Keisha nggak waspada.”
###
Hari sudah pagi ketika Keisha membuka kedua matanya.
Rasanya suhu tubuhnya sedikit meningkat dan kepalanya terasa pusing. Keisha mengerang pelan dan mencoba bangkit dari posisi berbaringnya, saat dia menyadari sesuatu yang berat menindih lengannya.
Keisha menoleh dan terkejut ketika menyadari kepala Kenzano sedang meniduri lengannya. Dan, tangan cowok itu juga menggenggam tangannya dengan sangat erat. Tidak mau lepas atau memang sengaja agar tidak terlepas.
Perasaan Keisha meringan dan menghangat begitu saja tanpa bisa dia cegah. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. Kalau ditelaah lagi, ketika mimpi buruk itu menyerangnya dan dia menangis histeris, terlebih saat Renzano mengetahui mimpinya tersebut, Keisha tidak bisa mengingat apa pun lagi. Semuanya mendadak gelap. Sepertinya, dia jatuh tak sadarkan diri. Lalu, dia tidak mendapatkan mimpi buruk apa pun lagi.
Apa... itu karena ada Kenzano?
Karena Kenzano menjaganya dan menggenggam tangannya?
Jujur saja, Keisha merasa aman dan terlindungi saat Kenzano ada di sampingnya. Dia sendiri tidak tahu apa alasannya. Perasaan aman dan nyaman itu mendadak hadir dalam dirinya begitu saja.
“Ken...,” panggil Keisha lirih. Suaranya juga serak. Sial! Keisha benci jika harus sakit seperti ini. Dia benci demam. Karena sepertinya, suhu tubuhnya yang mendadak meningkat dan juga rasa pusing yang dialaminya, memberitahu cewek itu bahwa dia terserang demam.
Mendengar namanya dipanggil, Ken bergerak ringan dalam tidurnya. Lalu, kepalanya terangkat dengan cepat dan kedua mata tegasnya langsung menatap ke arah Keisha yang tersenyum. Senyuman yang sanggup membuat perasaan Kenzano lega. Membuatnya nyaman dan lengkap. Membuatnya menghela napas tanpa sadar.
Dia takut.
Takut jika sesuatu terjadi pada Keisha.
Entah apa yang terjadi padanya, jika sesuatu yang buruk menimpa cewek itu. Cewek yang entah bagaimana caranya, sanggup membuat Kenzano bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hatinya. Karena, suka atau tidak suka, mau tidak mau, Kenzano harus mengakui satu hal. Satu hal yang ada sangkut pautnya dengan Keisha.
Ya.
Sederhana saja.
Kenzano Altar Bagaskara sudah jatuh cinta pada Keisha Anastasya.
Persis seperti apa yang Renzano bilang kepadanya sebelum ini.
“Kei!” seru Kenzano. Dia meneliti keseluruhan fisik Keisha, seolah takut telah terjadi sesuatu pada cewek itu. “Ada apa? Lo nggak apa-apa, kan?”
Keisha semakin tersenyum dan menggeleng lemah. Gelengan sederhana namun memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya pada diri Kenzano. Sambil menghembuskan napas panjang dan lega, Kenzano justru semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan mungil cewek itu, bukannya melepaskan. “Gimana kabar lo pagi ini? Feeling better?”
Keisha mengangguk dan memegang kepalanya yang berputar akibat anggukkan kepalanya. Melihat itu, langsung saja Kenzano menangkup wajah Keisha, mendekatkan wajahnya pada wajah cewek itu seraya menatap panik.
“Kenapa, Kei? Ada yang sakit?”
“Cuma demam.” Keisha membasahi bibirnya dan berdeham. Rasa panas langsung menjalar pada wajahnya dan Keisha berharap semoga Kenzano tidak bisa melihat rona merah di pipinya. “Gue sepertinya demam dan sedikit pusing.”
“Mungkin karena lo belum makan semalam dan kelelahan akibat menangis,” kata Kenzano dengan nada panik yang tertangkap jelas di telinga Keisha. “Biar gue panggil dokter.”
Tepat ketika kedua tangan Kenzano terlepas dari wajah Keisha dan saat cowok itu hendak berdiri, Keisha langsung turun dari tempat tidur dengan satu gerakan cepat dan menahan lengan kokoh Kenzano.
Tidak mengerti maksud dari tindakan Keisha, Kenzano menoleh dan tubuhnya membeku kala dua lengan kecil nan halus milik Keisha melingkari lehernya. Mencengkram lehernya, seolah menggantungkan hidupnya di sana.
Keisha memeluknya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya pada leher Kenzano.
“Gue nggak apa-apa. Nggak usah panggil dokter,” ujar cewek itu lirih. Kedua matanya terpejam dan rasa nyaman serta aman itu mulai melingkupi dirinya.
Keisha ingin waktu berhenti, walau sebentar saja. Agar dia bisa tetap memeluk Kenzano seperti ini. Menggantungkan hidupnya pada cowok itu walau hanya sejenak. Karena sejujurnya, Keisha benar-benar tidak sanggup lagi menghadapi apa pun yang bertubi-tubi datang kepadanya. Dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapi semuanya sendiri, walau selama ini, dia selalu berpikir dia tidak membutuhkan siapa pun untuk membantunya.
Salahkah jika saat ini, Keisha mulai membutuhkan... seseorang?
Salahkah jika dia membutuhkan Kenzano agar tetap disampingnya?
Alasannya sederhana saja.
Dia, Keisha Anastasya sudah menjatuhkan hatinya pada malaikat kematian bernama Kenzano Altar Bagaskara.
Butuh waktu beberapa menit bagi Kenzano untuk menyadari bahwa saat ini, Keisha sedang memeluknya. Bergantung padanya. Kemudian, Kenzano mulai mengangkat kedua lengannya. Melingkari pinggang Keisha dan semuanya terasa lengkap sebagaimana mestinya. Semua terasa pas menurut Kenzano. Dia bisa merasakan detak jantung Keisha pada dadanya, bahkan dia juga bisa merasakan suhu tubuh cewek itu yang sedikit meningkat.
“Gue... takut...,” lirih Keisha. Buliran kristal itu kemudian jatuh begitu saja, mengenai leher juga kaus yang dikenakkan oleh Kenzano. “Gue... takut....”
Kenzano memejamkan kedua matanya dan menarik napas. Dieratkannya pelukannya, dibawanya tubuh rapuh itu semakin mendekat ke arahnya. Menghapus semua jarak yang memungkinkan di antara mereka. Diciumnya rambut Keisha sejenak, sebelum kemudian dia membuka mata dan tersenyum tipis.
“Apa yang harus lo takutkan?” tanya Kenzano kemudian. Tak ada jawaban. Entah Keisha enggan menjawab atau cewek itu tidak memiliki jawabannya.
“Apa yang harus lo takutkan saat gue ada di samping lo, Kei?” tanya Kenzano lagi. Cowok itu kembali menarik napas panjang dan lagi-lagi, dia semakin mempererat pelukannya.
“Kenangan itu menyeruak, Ken... Renzano memang nggak salah apa pun, tapi dia bisa tau semuanya karena kemampuannya itu. Gue hanya... gue hanya nggak ingin siapa pun mengetahui kenangan pahit itu. Terlebih... elo.”
“Apa yang salah kalau gue tau soal kenangan pahit lo itu?”
Keisha diam.
“Dengar, Kei... lo nggak perlu takut apa pun lagi sekarang. Keluarin semua rasa takut lo. Di sini, ada gue. Ada gue yang akan mengambil semua rasa takut lo dan membuangnya jauh-jauh. Di sini, ada gue. Ada gue yang akan selalu di sisi elo sampai kapan pun, membantu lo untuk bangkit. Di sini, ada gue. Ada gue, si malaikat kematian yang akan selalu mencabut nyawa orang-orang yang berniat jahat sama lo.” Kenzano menarik napas panjang kemudian memejamkan kedua matanya.
Di sini, ada gue. Ada gue yang mencintai lo, sepenuh hati gue.
Hanya kalimat sederhana namun sanggup membuat Keisha tersenyum dan menikmati momen-momen ini bersama Kenzano. Membiarkan Kenzano memeluknya dengan erat dan mencium keningnya. Membiarkan seseorang untuk pertama kalinya berada di sisinya, di dekatnya, menjaga dan melindunginya. Membiarkan seseorang mengetahui rahasia masa lalu kelamnya.
“Terima kasih. Terima kasih, Ken.” Keisha menangis lagi. Tangisan lega dan kebahagiaan yang entah kenapa mendadak hadir dalam dirinya. “Terima kasih.”
Kenzano hanya mengangguk. Membiarkan Keisha menangis di pundaknya.
“Dan maaf... maaf untuk semua sikap gue yang menyebalkan ke lo di awal pertemuan kita.” Keisha bisa merasakan tubuh Kenzano sedikit terguncang, tanda cowok itu sedang tertawa akibat ucapannya barusan. Membuat Keisha ikut tertawa walau hanya sebentar.
Dan maaf karena gue dengan bodohnya jatuh cinta sama lo, Ken...
Pintu kamar Keisha terbuka sedikit, memungkinkan siapa pun mengintip ke dalam kamar. Dari balik pintu, Renzano berdiri. Dia tersenyum tipis dan menarik napas panjang untuk mencoba meredam rasa sakit akibat cemburu yang muncul di dalam hatinya.
“Lo tau sejak ngeliat mereka berdua, kalau Kenzano dan Keisha itu saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain,” kata Eve yang menatap Renzano dengan tatapan simpatik. “Lo tau, lo nggak akan mungkin bisa masuk ke dalam kisah percintaan mereka.”
“Ya, gue tau.” Renzano mengangguk mantap. “Gue sangat tau sejak melihat mereka berdua di awal pertemuan. Kenzano nggak akan bisa tanpa Keisha, pun sebaliknya. Cuma, perasaan ini nggak bisa gue kontrol. Entah kenapa, gue jadi jatuh cinta juga sama Keisha.”
“Then, tell her. Tell her about your feeling. Tell her that you love her. Keputusan terakhir, ada di tangan Keisha.” Eve mendekati Renzano dan menggenggam erat tangan saudara sepupunya yang baru ditemuinya selama dua puluh tahun lamanya tidak dia ketahui. “Bukankah Kenzano juga bilang ke lo? Bahwa itu adalah urusan lo dan Keisha?”
Renzano menunduk dan melirik sekilas ke dalam kamar. Di sana, Kenzano dan Keisha sedang mengobrol entah apa dan tertawa. Keduanya bercanda dan terlihat sangat bahagia.
Apa Renzano sanggup merusak kebahagiaan mereka dengan cara menyatakan perasaannya kepada Keisha? Bagaimana kalau nantinya Keisha menjadi canggung dengannya dan Kenzano, demi menjaga tali persaudaraan mereka berdua?
“Keisha dan Kenzano nggak pernah berpikiran dangkal, Ren,” sela Eve, membuyarkan lamunan Renzano. Diberinya seulas senyum, saat Renzano menatapnya. “Gue kenal Kenzano udah lama. Dia nggak akan mungkin menjauhi lo dan membenci lo hanya karena lo juga mencintai Keisha. Buktinya, setelah lo memberitahu bahwa lo juga jatuh cinta sama Keisha, Kenzano justru menyuruh lo untuk berjuang juga, kan?”
Renzano diam.
“Itu karena Kenzano mau, lo juga memperjuangkan cinta lo. Karena keputusan ada di tangan Keisha. Biar Keisha yang memilih. Toh, Kenzano juga tidak tau soal perasaan Keisha yang sebenarnya, kan? Mereka nggak tau kalau mereka saling menyukai. Jadi, lo dan Kenzano bisa berjuang bersama-sama secara sportif. Dan lagi, setelah lo bilang perasaan lo terhadap Keisha ke Kenzano, kalian berdua baik-baik aja, kan? Malah membicarakan soal masalah Keisha?”
Renzano mengangguk. Dia mencerna semua ucapan Eve barusan. Benar, dia mencintai Keisha. Benar, Kenzano dan Keisha belum tahu perasaan mereka masing-masing. Jadi, dirinya dan Kenzano berada di awal yang sama.
Sama-sama mencoba memenangkan hati Keisha dan membiarkan cewek itu mengambil keputusan.
“Menurut lo, nggak apa-apa kalau gue menyatakan perasaan gue ke Keisha?” tanya Renzano ragu.
Eve mengangguk mantap dan menepuk pundak Renzano beberapa kali. Lalu, cewek itu membisikkan sesuatu, menyebabkan Renzano menatapnya tidak percaya dan langsung menoleh ke dalam kamar Keisha.
Di sana, Kenzano balas menatapnya. Cowok itu tersenyum. Senyuman ramah pertama yang didapatkan Renzano. Dan detik itu juga, Renzano tahu bahwa Kenzano sudah mulai menerima kehadirannya.
###
Ponselnya terus berdering, membuat Keisha mengerutkan kening dan menjauhkan majalah yang sedang dibacanya.
Tadinya, dia berniat mengabaikan semua panggilan itu. Keisha tidak mengenal nomor yang muncul di layar ponselnya. Dia malas kalau harus mengangkat telepon dari orang yang tidak dikenal. Belum lagi, di sofa tak jauh di depan tempat tidurnya, Kenzano sedang tertidur. Pulas.
Setelah mengantarkan sarapan untuk Keisha dan berkeras menemani cewek itu, Kenzano akhirnya terlelap juga di sofa kamar ini. Sepertinya, cowok itu kelelahan karena menjaganya semalaman suntuk.
Akhirnya, Keisha menyerah. Dia meraih ponselnya yang berada di atas meja, di samping tempat tidur dan menggeser tombol berwarna hijau, sebelum kemudian Keisha mendekatkan ponselnya ke telinga.
“Keisha?”
Suara orang di ujung sana membuat Keisha mengerutkan kening. Dia belum mengucapkan salam pembuka, namun orang tersebut telah lebih dulu menyebutkan namanya.
“Siapa lo?” tanya cewek itu dengan nada datar dan waspada.
“Ini Kakak, Kei.”
DEG!
“Kakak perlu ngomong sama kamu, tapi nggak di telepon.” Keilvan Augusta menarik napas panjang. Suaranya terdengar kalut, entah mengapa. “Kakak tunggu kamu di taman biasa. Taman dekat rumah kita dulu. Satu jam dari sekarang.”
Sambungan terputus.
Keisha menatap datar ponselnya yang kini menampilkan seekor anak kucing memakai topi dengan wajahnya yang polos dan memelas. Cewek itu mencengkram ponselnya dan menahan diri untuk tidak menangis. Dia tidak ingin bertemu dengan keluarganya lagi. Tidak ingin. Tapi... jika didengar dari suara Keilvan, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.
Hanya saja, ada yang janggal di sini. Kenapa rasanya, suara Keilvan berubah? Kenapa rasanya, Keisha merasa takut setelah mendengar suara kakaknya? Ada apa ini? Perasaan tidak wajar apa ini?
Perlahan, Keisha menoleh. Menatap Kenzano yang masih tertidur sambil melipat kedua tangan di d**a. Akhirnya, setelah membuang napas panjang, Keisha memantapkan hati.
“Sleep tight, Ken,” ucap cewek itu pelan, kemudian turun dari ranjang dan pergi keluar kamar.
Tak lama, pintu kamar tersebut kembali terbuka. Sosok tinggi itu melangkah masuk dan berdiri di samping kaki Kenzano. Menatap cowok itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Kedua tangannya mengepal kuat tanpa sadar dan debaran jantungnya kian meliar, seiring dia melihat kepergian Keisha beberapa saat yang lalu.
“I told you that i saw her blood everywhere, right, Ken?”
Kedua mata Kenzano terbuka. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Hawa dingin itu mulai datang menghampirinya.
“Selama gue hidup dan bernapas, selama itu juga gue akan menjamin keselamatan jiwanya. I’m not gonna let anybody hurt her, i swear to God.”
Lalu, Kenzano mulai berlari.
Tolong tetap bernapas untuk gue, Keisha!