Setelah insiden itu berakhir, Keisha dan Kenzano pergi mengunjungi salah satu rumah ayahnya Eve untuk bertemu dengan ayah cewek itu dan Keilvan, kakaknya. Begitu berhadapan dengan sang ayah, Keisha mendadak bungkam. Cewek itu menunduk, tidak bertatapan dengan pria tersebut. Hatinya tidak bisa berbohong. Dia masih sakit hati, tetapi juga merindukan sosok ayahnya itu. Di samping Keisha, Kenzano tersenyum maklum dan menarik napas panjang. Dia menggenggam erat tangan Keisha yang terasa dingin di kulitnya. Kaget, Keisha menoleh. Senyuman Kenzano menyambutnya dan dia mendapati diri menjadi rileks. Memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, kini Keisha berani menatap manik ayahnya yang tidak pernah berhenti tersenyum. “Keisha akan jujur sa

