part 4

706 Words
Malam di tempat kerja... Lea sibuk membereskan meja di restoran kecil tempatnya bekerja. Seragamnya sederhana, wajahnya lelah, tapi matanya tetap tenang—seolah ia sudah terbiasa menghadapi dunia yang tak pernah adil. Ia menoleh ke arah meja kosong di sudut. Biasanya Cika, temannya sesama pelayan, akan ikut bekerja shift malam ini. “Bu Rindi,” Lea memanggil atasan mereka, “Cika tidak masuk hari ini? Apa dia--” Wanita paruh baya itu tersenyum samar sambil menulis di buku catatan. “Cika sudah berhenti, Lea. Katanya dapat pekerjaan baru… tempatnya lebih ‘bagus’ katanya. Jadi dia tidak akan bekerja disini lagi.” Lea terdiam. Ada perasaan aneh yang membuat dadanya sesak. Cika memang pernah bercerita tentang tawaran kerja dari kenalannya, tapi caranya pergi begitu mendadak, tanpa pamit padanya, terasa janggal. Ia mengingat lagi kejadian malam itu—saat ia diberi minuman yang membuat tubuhnya kacau. Apa Cika tahu sesuatu? pikirnya. Malam Hari – Jalan Sepi Lea melangkah pulang dengan langkah lelah, Udara malam terasa dingin menusuk, dan jalan yang ia lalui begitu sunyi. Tiba-tiba terdengar suara siulan dan tawa kasar. Sekelompok preman muncul dari balik gang, menghadangnya. “Heyy...ini kan adiknya si Evan!” salah satu dari mereka menunjuk Lea. “Wajar aja adiknya cantik begini… pasti enak kalau kita mainkan” timpal yang lain sambil mendekat. Lea panik. Jantungnya berdegup kencang, kakinya spontan mundur. “Tolong… jangan ganggu aku!” Namun para preman itu justru semakin mengepung. Salah satu mencoba meraih lengannya. Lea menjerit, melepaskan diri, lalu berlari sekuat tenaga. Langkah kakinya berpacu dengan suara mereka yang mengejar. Nafasnya terengah, jalanan makin gelap. Sampai— BRUKK! Lea hampir saja tertabrak mobil hitam yang melintas cepat di jalan itu. Ia berhenti mendadak, hampir jatuh. Mobil itu mengerem keras. Dari dalam, seorang pria keluar dengan wajah tegas—Adrian. “Lea?!” Adrian terkejut melihatnya. Matanya langsung menangkap para preman yang berlari mendekat dengan tatapan bengis. Salah satu preman meludah ke tanah. “Eh, bos kaya. Jangan ikut campur! Gadis ini urusan kami!” Adrian mendekat, berdiri di depan Lea, melindunginya. Wajahnya dingin, aura berwibawa membuat para preman ragu. “berani menyentuh nya, kalian semua berurusan denganku ” Lea gemetar di belakang Adrian, matanya berkaca-kaca Dan rasa takut tergambar jelas di wajahnya. Preman-preman itu saling pandang, jelas tak berani melawan orang sekelas Adrian. Dengan gerutuan kesal, mereka akhirnya mundur, menghilang ke dalam gang. Lea akhirnya jatuh berlutut, menangis ketakutan. Adrian menoleh, meraih bahunya lembut. “Kamu baik-baik saja?” suaranya terdengar lebih hangat dari biasanya. Lea mengangguk pelan, meski wajahnya penuh air mata. Malam itu, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar aman—di sisi Adrian. Kantor Adrian Lampu kota berpendar di balik jendela kaca tinggi. Adrian masih sibuk dengan berkas-berkas di mejanya ketika suara ketukan terdengar. “Masuk,” ucapnya datar tanpa mengalihkan pandangan. Pintu terbuka perlahan, dan Kirana melangkah masuk dengan gaun kerja elegan, senyum tipis mengembang di bibirnya. “Adrian,,” sapanya lembut. “Sudah lama, ya.” Adrian mendongak. Tatapannya dingin, kaku. “Kirana.” Wanita itu berjalan mendekat, meletakkan tas di kursi. Ia duduk tanpa diminta, seolah ruangan itu masih menyimpan hak miliknya. “Aku dengar kamu jarang keluar belakangan ini. Sibuk… atau ada seseorang yang mengalihkan perhatianmu?” Nada suaranya menggoda, matanya tajam mengamati ekspresi Adrian, Adrian hanya menyandarkan tubuh, menyilangkan tangan di d**a. “Kalau kau datang hanya untuk itu, pintu masih terbuka. Kau bisa keluar kapan saja.” Kirana terkekeh kecil. “Dingin sekali. Padahal dulu, kamu yang paling sulit melepas aku.” Ia bersandar di meja Adrian, jarak mereka hanya sejengkal. “Kembalilah padaku. Kita bisa mulai lagi. Aku tahu kamu masih butuh seseorang seperti aku di sisimu.” Mata Adrian mengeras. Dalam pikirannya, wajah Kirana perlahan tergantikan oleh sosok lain—seorang gadis dengan tatapan polos dan senyum tulus, yang bahkan ketika terluka masih berusaha kuat. Lea. “Tidak, Kirana,” suaranya berat, tegas. “Yang aku butuhkan bukan orang yang selalu ingin mengikatku dengan masa lalu. Tapi seseorang yang bisa menuntunku ke masa depan.” Kirana membeku. Senyum tipisnya goyah, berubah jadi garis kaku. “Jadi… ada orang lain?” tanyanya, nada cemburu menyelinap di balik suara manisnya. Adrian tidak menjawab. Tapi keheningan itu lebih lantang daripada kata apa pun. Kirana keluar ruangan Adrian dengan wajah kesal...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD