Lea baru saja keluar dari kelas yang ia ikuti. Ia duduk sebentar di bangku taman. mencoba merilekskan tubuhnya dengan semilir angin. Baru saja ia hendak merapikan buku catatannya, ponselnya bergetar. Bibi Ratih menelpon.
Lea langsung menjawab, “Halo, Bi? Ada apa?”
Suara Bibi Ratih terdengar panik.
“Lea… tolong, Nak. Evan… dia ditahan di kantor polisi. Katanya terlibat perkelahian di jalan.”
Lea terperanjat. “Apa? Ditahan? Dengan siapa dia berkelahi?”
“bibi tidak mendengar jelas masalah nya. Tapi Katanya dia membela teman yang dipalak sekelompok pemuda. sekarang malah dia yang dibawa ke kantor polisi. Bibi tidak tahu harus gimana…” suara Bibi nyaris menangis.
Lea menggenggam ponsel erat-erat. “Tenang, Bi. Aku segera ke sana. Tolong jangan khawatir.”
Ia berdiri cepat. Wajahnya serius, langkahnya tergesa.
Dalam hati, Lea merasa dadanya semakin berat—seolah dunia tak pernah memberinya jeda. Di kampus ia harus menghadapi Risa, di rumah ia harus menghadapi paman kasar dan masalah keluarga, dan kini Evan, sepupunya yang selalu melindunginya, justru terjerat masalah hukum.
Namun Lea tahu satu hal: ia tidak boleh menyerah.
Langit sudah gelap ketika Lea tiba di kantor polisi. Nafasnya memburu setelah berlari kecil dari halte. Gedung itu tampak dingin dengan lampu putih menyilaukan.
Ia masuk ke lobi dan segera menghampiri meja resepsionis.
“Permisi, saya mencari Evan Saputra. Katanya dia ditahan di sini malam ini.”
Petugas menatap daftar di tangannya, lalu mengangguk. “Benar, dia ada di ruang tahanan sementara. Anda siapa?”
“Saya keluarganya. Saya… sepupunya.”
Petugas mengangguk singkat, lalu mempersilakan Lea menunggu. Beberapa menit kemudian, Lea dibawa menuju lorong panjang. Bau lembap dan suara pintu besi bergemerincing membuat jantungnya berdebar.
Di balik jeruji, Lea melihat Evan duduk bersandar di dinding. Wajahnya sedikit lebam di pipi kanan, bibirnya pecah. Namun begitu melihat Lea, ia tersenyum kecil.
“kakak…” Lea berjongkok di depan jeruji, matanya berkaca-kaca. “Kenapa kamu sampai begini? Bibi sampai panik.”
Evan mengangkat bahu, ekspresinya pasrah. “Aku cuma membantu temanku, dia di palak preman kami berkelahi dan aku tidak menyangka akan berakhir disini.”
Lea menggenggam jeruji kuat-kuat. “Kamu selalu melindungi orang lain, tapi siapa yang melindungi kamu,?” suaranya bergetar.
Evan menunduk sejenak, lalu menatap Lea dengan mata serius. “Aku nggak apa-apa, Lea. kamu jangan khawatir. Aku bisa hadapi ini.”
Air mata Lea jatuh tanpa bisa ditahan. Ia merasa tak berdaya, tapi dalam hatinya muncul tekad. Aku harus cari cara bebaskan Evan… apapun itu.
- Ruang Penyidik
Setelah berbicara dengan Evan, seorang petugas memanggil Lea untuk ikut ke ruangan kecil. Lampunya redup, di atas meja berserakan berkas. Seorang polisi senior duduk bersandar sambil menyalakan rokok.
“Jadi kamu keluarganya?” tanya polisi itu dengan nada malas.
Lea menegakkan badan. “Iya, Pak. Evan itu sepupu saya. Dia bukan anak nakal, dia hanya ingin membantu teman nya yang dipalak. Tolong bebaskan dia, Pak.”
Polisi itu tersenyum miring. “Hukum itu bukan soal niat baik, Dek. Dia bikin keributan di jalan, bikin warga resah. Kalau mau diproses, ya bisa panjang urusannya. Bisa berbulan-bulan.”
Wajah Lea pucat. “Jadi… harus bagaimana, Pak?”
Sang polisi mematikan rokoknya di asbak, lalu mencondongkan badan. Suaranya pelan, namun menusuk.
“Kalau kamu serius mau sepupumu bebas malam ini juga… ada jalannya. Tapi ya, kamu ngerti sendiri kan? Butuh uang pelicin. Tebusannya… dua puluh juta.”
Lea membelalakkan mata. “D-dua puluh juta?!”
“Ya. Kalau nggak, ya tunggu sidang. Kamu mau?” jawab polisi dingin.
Lea terdiam. Tangannya gemetar, keringat dingin menetes di pelipisnya. Uang sebanyak itu mustahil ia dapatkan. Gajinya sebagai pelayan restoran bahkan tidak cukup untuk sebulan hidup, apalagi menebus Evan.
Suasana rumah kecil itu terasa sesak. Paman pulang dengan bau alkohol menyengat. Tubuhnya sempoyongan, matanya merah, dan nada bicaranya penuh emosi.
“Dasar anak bodoh! Bagaimana bisa anak tidak berguna itu sampai ditahan polisi?! Memalukan keluarga saja!” bentaknya sambil menendang kursi hingga terjungkal.
Bibi Ratih yang kurus pucat mencoba menenangkan. “Sudahlah, pak… jangan marah-marah, anak itu hanya… membela temannya.”
Paman menoleh dengan mata melotot. “Membela?! Itu namanya cari masalah! Dan sekarang siapa yang harus keluarin duit buat tebusan, hah?! Aku?!” Ia menggebrak meja keras hingga gelas pecah berhamburan.
Lea yang baru pulang berdiri di ambang pintu, menggenggam erat tas lusuhnya. Dadanya bergetar menahan takut.
“Paman… jangan salahkan kak Evan. Dia tidak bermaksud. Saya akan cari jalan, saya akan dapatkan uangnya.”
Tapi paman justru melotot padanya. “Kau? Anak ingusan seperti kau bisa apa? Jangan sok jadi pahlawan! Kau pikir dengan kerja pelayan restoran receh itu bisa menyelamatkan dia?!”
Lea terdiam, bibirnya bergetar, tapi matanya menatap tegas—meski ada air mata yang hampir jatuh.
“Kalau bukan aku, lalu siapa lagi? Aku tidak akan membiarkan kak Evan ditahan. Apa pun caranya, aku akan mencari uang itu.”
Bibi Lea menatapnya penuh cemas, matanya berkaca-kaca. “Lea… hati-hati, Nak. Jangan korbankan dirimu terlalu jauh…”
Sementara pamannya kembali menuang minuman ke gelas, bergumam kasar. “Terserah! Jangan harap aku bantu.”
Lea melangkah masuk ke kamarnya, memeluk tasnya erat-erat. Dalam hatinya ia bertekad—besok ia harus benar-benar mendapat pekerjaan tambahan untuk mengeluarkan Evan --