Esoknya di tempat kerja .
Lea memberanikan diri menemui manajer restoran, tempat ia bekerja paruh waktu.
“bu, saya mohon… saya benar-benar butuh uang untuk keluarga. Bisa nggak saya meminjam dulu dari gaji bulan depan?” suara Lea bergetar, tangannya menggenggam erat buku catatan kecilnya.
Manajernya hanya menghela napas panjang, lalu menggeleng.
“Lea, kamu anak baik, tapi aturannya jelas. Restoran ini nggak bisa kasih pinjaman. Maaf, kamu harus cari jalan lain.”
Lea menunduk, menahan rasa kecewa yang hampir membuatnya menangis di depan orang lain.
Setelah jam sibuk makan malam berakhir, manajer restoran memanggil Lea ke ruangannya. Lea masuk dengan sedikit gugup, takut ada kesalahan dalam pekerjaannya.
“Lea, duduklah,” kata sang manajer sambil membuka beberapa berkas.
Lea duduk, menunduk sopan. “Ada apa, bu?”
Manajer itu menatapnya sebentar lalu tersenyum tipis.
“Kamu pekerja yang rajin, jarang mengeluh, dan selalu tepat waktu. Kebetulan, restoran pusat kami yang ada di hotel bintang lima sedang membutuhkan tenaga tambahan untuk shift malam. Gajinya dua kali lipat dari yang kamu terima di sini.”
Lea terbelalak kaget. “Dua kali lipat…?” Ia hampir tak percaya mendengarnya.
“Ya,” jawab sang manajer mantap. “Tapi tentu saja, pekerjaannya lebih berat, tamunya lebih banyak, dan standar pelayanan jauh lebih ketat. Kalau kamu sanggup, aku bisa rekomendasikan kamu mulai besok malam.”
Lea terdiam sejenak. Dalam pikirannya, wajah Evan yang masih ditahan di kantor polisi terbayang jelas. Ia juga ingat suara bibi yang menangis. Uang tebusan itu masih jauh dari terkumpul, tapi kesempatan ini bisa mempercepat semuanya.
Ia akhirnya mengangguk mantap. “Saya bersedia, bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”
Manajer itu tersenyum puas. “Bagus. Kalau begitu, besok malam langsung datang ke restoran pusat. Pakai seragam formal hitam putih, dan jangan lupa—di sana, tamu-tamu kita orang penting. Kamu harus menjaga sikap.”
Lea menunduk hormat. “Baik, bu. Terima kasih banyak atas kesempatannya.”
Saat keluar dari ruangan itu, meski tubuhnya lelah, hati Lea sedikit lebih ringan. Ada harapan baru.
Namun, yang tidak ia ketahui adalah—restoran pusat itu sering dikunjungi Adrian untuk menjamu klien pentingnya.
Hotel Bintang Lima – Restoran Pusat, Malam Hari
Lampu kristal menggantung megah, musik piano lembut mengalun di sudut ruangan, dan aroma wangi makanan mahal memenuhi udara. Lea berdiri di balik pintu staf, jantungnya berdetak kencang. Seragam pelayan hitam-putih yang ia kenakan terasa asing di tubuhnya, begitu berbeda dari restoran kecil tempat ia biasanya bekerja.
“Lea, kamu bertugas di area VIP malam ini. Hati-hati, tamunya orang penting semua,” ujar supervisor sambil menyerahkan daftar meja.
Lea mengangguk, menahan rasa gugup. “Baik, pak.”
Dengan langkah hati-hati, ia masuk ke area VIP. Matanya menyapu ruangan, berusaha bersikap profesional, hingga pandangannya terhenti pada seorang pria di meja besar dekat jendela.
Adrian -pria yang bersama nya malam itu-
Ia duduk dengan beberapa klien bisnis, mengenakan setelan jas hitam elegan, aura wibawanya begitu kuat. Lea spontan menunduk, berharap Adrian tidak melihatnya. Tapi takdir berkata lain—ketika Lea mendekat untuk menuangkan wine di meja itu, suara Adrian terdengar.
“Excuse me…” Adrian berhenti berbicara ketika pelayan di sampingnya mengangkat kepala. Mata mereka bertemu.
Lea tercekat, tangannya hampir gemetar saat menuangkan minuman. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, mencoba tetap tenang.
Adrian menatapnya lekat-lekat. Ia jelas terkejut, bahkan klien di sebelahnya sampai menyadari. “Mr. Adrian, is everything okay?”
Adrian tersenyum tipis, menyembunyikan keterkejutannya. “Yes. Everything is fine.” Namun matanya tak lepas dari sosok Lea.
Lea selesai menuang wine, lalu menunduk sopan. “Silakan menikmati, Tuan.” Suaranya bergetar halus. Ia hendak pergi, tapi Adrian menghentikannya.
“Wait.”
Langkah Lea membeku. Ia bisa merasakan sorot mata tajam Adrian di punggungnya. Semua klien ikut menoleh.
Adrian berdehem lalu berkata dengan nada tenang, seolah sekadar basa-basi, “Tambahkan satu botol wine lagi ke meja kami.”
“B-baik, Tuan.” Lea buru-buru melangkah pergi.
Saat ia kembali ke pantry, nafasnya masih tersengal. Dadanya sesak—kenapa harus bertemu dia disini?
Sementara itu, di meja VIP, Adrian hanya diam, matanya mengikuti Lea yang menjauh. Rasa penasaran dalam dirinya semakin membesar. Ia mulai menyusun rencana, malam ini ia tidak akan membiarkan Lea pergi tanpa jawaban.
Shift Lea akhirnya selesai. Ia melepas celemek seragam dan menyandarkan tubuhnya di dinding ruang staf, menghembuskan napas panjang. Punggungnya pegal, kakinya terasa berat, tapi yang paling mengganggu pikirannya adalah satu hal—Adrian.
“Apa dia benar-benar tadi… melihatku?” gumamnya lirih.
Dengan langkah pelan, Lea keluar dari pintu belakang restoran. Udara malam menyambutnya, dingin menusuk kulit. Ia merapatkan jaket tipisnya, lalu mulai berjalan cepat menyusuri trotoar.
Namun baru beberapa langkah, sebuah suara dalam dan tegas membuatnya berhenti.
“Lea.”
Lea terkejut. Tubuhnya menegang. Ia menoleh—dan di sana, berdiri bersandar pada mobil hitam mewah, Adrian dengan setelan jas yang masih rapi. Tangannya memasukkan ke saku celana, sorot matanya tajam namun ada sesuatu di dalamnya… semacam rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Lea gugup, mencoba tetap tenang.
Adrian melangkah mendekat. “Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu bekerja di tempat seperti ini?”
Lea menunduk, menggenggam erat tas kecilnya. “Itu… bukan urusanmu.”
Adrian berhenti tepat di depannya. Wajahnya begitu dekat, membuat jantung Lea berdegup kencang. “Semuanya berubah sejak malam itu. Kamu pikir aku tidak mengenalimu? Kamu pikir aku bisa pura-pura tidak peduli?”
Lea menggigit bibirnya, berusaha keras menahan emosi. “Malam itu… sebuah kesalahan. Lupakan saja.”
“Tapi aku tidak bisa.” Suara Adrian rendah, namun tegas. “Dan aku tahu… kamu juga tidak bisa.”
Lea menoleh ke arah lain, matanya mulai berkaca-kaca. Malam itu memang mengubah segalanya, tapi bukan berarti ia bisa mengakuinya begitu saja.
“Kita tidak seharusnya bertemu lagi,” bisiknya.
Adrian menatapnya lama, seperti berusaha membaca isi hatinya. Lalu, dengan suara yang lebih lembut, ia berkata, “Kalau begitu… kenapa takdir terus mempertemukan kita?”
Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara lalu lintas di kejauhan yang terdengar.
Lea melangkah mundur, berusaha menjaga jarak. “Aku harus pulang.” Ia berbalik, melangkah cepat, meninggalkan Adrian yang hanya berdiri di tempat, menatap punggungnya menjauh.
Namun dalam hati, Adrian membuat keputusan.
Ia tidak akan membiarkan Lea pergi begitu saja lagi.