part 7

482 Words
Ruang Makan Keluarga Adrian – Malam Hari Risa duduk manja di kursi makan, menatap ayahnya dengan tatapan penuh harap. Adrian baru saja pulang kerja, melepas jasnya, lalu duduk di hadapannya dengan wajah lelah. “papa…” suara Risa lembut tapi penuh maksud. Adrian hanya mengangkat alis, menunggu. “Sebentar lagi ulang tahunku. Aku ingin pesta yang besar, mewah, dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.” Risa menautkan jemarinya di depan d**a, senyumnya penuh kepastian. Adrian mendesah pelan. “Pesta besar lagi? Risa, bukankah setiap tahun kamu sudah mendapat perayaan yang cukup?” Risa menggeleng cepat, wajahnya penuh ambisi. “Tidak, papa. Tahun ini harus spesial. Aku ingin semua teman kampusku datang. Aku ingin menunjukkan siapa aku—putri Adrian Wijaya, pengusaha sukses! Mereka harus tahu kalau tak ada yang bisa menyaingiku.” Adrian menatapnya lama. Ada campuran rasa kesal sekaligus kasihan. Ia tahu sifat manja putrinya makin menjadi-jadi, apalagi belakangan ia sering mendengar kabar Risa membuat masalah di kampus. “Risa…” suara Adrian berat. “Ulang tahun itu seharusnya tentang kebahagiaan, bukan ajang pamer.” Namun Risa langsung menyela dengan nada keras, “papa tidak mengerti! Semua orang harus tahu posisiku. Aku tidak mau kalah dari siapapun" Risa tersenyum puas, merasa keinginannya akan segera dikabulkan. “Jadi, bagaimana, papa?? Kamu akan buatkan pesta ulang tahun paling mewah untukku, kan?” "Hmmm..." Hotel Mewah – Ruang Ballroom Lampu kristal berkilauan, musik lembut mengalun, dan meja-meja dihiasi bunga segar. Pesta ulang tahun Risa digelar dengan meriah. Semua teman kampusnya hadir, kecuali Lea.. gaun-gaun indah dan jas elegan memenuhi ruangan. Risa turun dari tangga dengan gaun merah menyala, tersenyum puas melihat semua mata tertuju padanya. Ia merasa malam ini adalah panggungnya. Di sisi lain ruangan, Adrian berdiri bersama beberapa rekan bisnis. Wajahnya datar, hanya sekadar hadir untuk memenuhi permintaan putrinya. Tak lama kemudian, seseorang datang dengan gaun glamor berwarna emas. Tatapannya langsung mengarah pada Adrian, Itu Kirana—mantan istri yang selama ini masih berusaha kembali ke pelukan Adrian, “Adrian,,” sapa Kirana dengan senyum manis, meski sorot matanya penuh maksud. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu dalam suasana resmi seperti ini.” Adrian menoleh, sedikit kaku. “Kirana… aku tidak menyangka kamu datang.” Kirana tertawa kecil, menyentuh lengannya seolah akrab. “Bagaimana aku bisa melewatkan ulang tahun putri kita? Risa tetap anakku, kan?” Adrian menatapnya sebentar, tidak menjawab. Ia tahu kedatangan Kirana bukan hanya untuk Risa, melainkan untuk mendekatinya lagi. Risa, yang melihat dari kejauhan, langsung berlari ke arah mereka. “Mama! Aku tahu mama pasti datang!” katanya sambil memeluk Kirana. Senyumnya penuh kemenangan, seolah pesta malam itu lengkap dengan kehadiran kedua orangtuanya. Kirana membelai rambut Risa lalu melirik Adrian sambil berbisik manja, “Lihat? Betapa bahagianya dia saat kita bersama… Tidakkah kamu merindukan keluarga kita kembali utuh, Adrian?” Adrian terdiam, hatinya bergejolak. Pesta ini yang seharusnya hanya untuk Risa, perlahan berubah jadi panggung Kirana untuk merayunya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD