bc

My Young Boyfriend

book_age18+
274
FOLLOW
2.0K
READ
billionaire
possessive
family
drama
bxb
others
like
intro-logo
Blurb

Usia tidak menjadi masalah ketika cinta telah memanggil, cinta tak memilih.

Sasa jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang laki-laki yang ia temui di sebuah kafe. Kemudian dia tahu kalau laki-laki yang bernama Kevin itu adalah adik kelasnya, dua tahun lebih muda darinya.

Sekali lagi, cinta tak memandang usia.

Sasa sudah jatuh hati dan ia memutuskan kalau laki-laki tinggi, putih dan pandai bernyanyi serta bermain musik itu harus menjadi pacarnya. Titik.

chap-preview
Free preview
Part 1
'Nomor yang anda tuju sedang sibuk---'. "Taik," maki Sasa disela segala gerutuan tak jelasnya, ponsel yang sebelumnya ia genggam, dengan kesal ia hempaskan ke atas meja tepat di depannya. Bunyi gedebuk kecil terdengar saat ponsel itu mendarat. Julio, adiknya sampai sekarang belum menunjukkan batang hidungnya hingga membuatnya kesal. "Lo kenapa, Nyet? Muka lo uda kaya mau berak gitu." Putri, sahabat kentalnya bertanya seraya menyeruput es teh-nya. Mata gadis berambut merah itu menatap temannya yang terlihat kesal. "Nelpon siapa?" Kafe tempat mereka sekarang terbilang sunyi, mengingat saat ini adalah malam minggu. Biasanya, tempat itu selalu ramai pengunjung. Entah itu hanya sekedar minum kopi, makan dengan pasangan, pasti selalu banyak orang. Apalagi, di kafe tersebut sering ada band yang nyanyi, hal itu lah yang membuat kafe itu menarik, terlepas dari makanan dan minumannya yang enak. "Emang lo pernah liat gue berak? Sotoy, lo! Nelpon adek gue, suruh jemput bukannya dateng-dateng." Sudah dari satu jam yang lalu adiknya tidak bisa dihubungi. Beginini kalo uda dikasih pinjam mobil, bilangnya bentar tapi lama. Awas aja, lain kali kalo minjam lagi nggak bakalan gue kasih, batinnya kesal. Mau sampe mulutnya berbuih pun nggak gue peduli. "Abis! Muko lo nggak enak banget liatnya, hehehe. Uda lo bareng gue aja, susah amat?" Sasa menghela napas, matanya menatap kesekeliling kafe, pikirannya teringat pada mantan pacarnya Vino. Pacar yang sudah ia putuskan tapi selalu menguntitnya, nggak berhenti membuatnya kesal. Matanya menatap keluar jendela kaca kafe, Di luar sedang hujan, mungkin karena itu pengunjung nggak terlalu ramai. Sebenarnya masalah jemputan hanyalah satu dari banyak sumber yang membuat mood-nya jelek, kalau hanya perkara kendaraan, dia bisa saja naik taxi. Tapi dia takut bercerita tentang Vino, karena dari awal Putri uda nggak setuju dengan hubungan mereka. Putri tau mereka uda putus dan gadis itu bahagia, dia tidak suka pada pacar sahabatnya itu. Kalau sekarang ia bilang kalau Vino menguntitnya, pasti dia akan dapat ceramah lagi. Lebih baik nggak usah. "By the way, lo uda dapat pasangan buat party besok?" tanya putri sambil menggoyang-goyang-goyang sedotan dalam gelasnya. Valentine's party, selalu diadakan setiap tahunnya oleh pihak sekolah. Tujuannya untuk mengeratkan talih kasih diantara sesama murid. Nggak tau itu ada fungsinya atau tidak, kalo dilihat-lihat kayanya nggak ngasih efek juga. Tapi yah, namanya juga acara yang uda rutin diadakan, harus diikuti dan dihargai. Dalam acara itu setiap murid rata-rata membawa pasangan atau pacar mereka. Sebenarnya nggak harus juga, tapi kan malu kalo datang sendirian. Ketauan jomblonya. Dan sekarang Sasa lagi galau, pasalnya dia adalah salah satu murid yang terancam bakalan datang ke party itu sendirian. Dia lagi jomblo. Putri mah enak, dia punya pacar. Erga namanya, anak SMA sebelah alias tetangga. Erga orangnya nggak ganteng, tapi nggak jelek juga. Gimana bilangnya ya, pokoknya dia itu biasa aja penampilannya. Tapi Erga baik, perhatian, kayanya cinta banget sama Putri. Elah, anak es em a uda bisa bilang cinta. Yang jelas nggak kaya Vino. Vino memang ganteng, tajir, banyak fans- nya, tapi hal itulah yang membuatnya bertindak sesuka hati. Suka-suka dekatin cewek lain, nggak nyadar kalau uda punya pacar. b******n, Putri menyebutnya. Tapi, memang gitu ya? Orang ganteng itu biasanya b******n. Fucker. Sasa mengangkat bahu, pisang coklat yang sebelumnya ia abaikan mulai ia cicipi. "Belom, gue kan jomblo sekarang, hiks," ujarnya penuh drama. "Jadi lo nyesel putus sama badak nyosor itu, eh?" Putri nggak senang melihat sahabatnya masih mengingat-ingat Vino sibajingan. "Lo itu cantik, Va! Sexy lagi, yang lebih cakep dari si badak nyosor sekali pun bisa lo dapet." Sasa menatap sahabatnya dengan pandangan berterimakasih, memang hanya putri sahabat terbaiknya. Mereka berteman sudah hampir tiga tahun. Awal mereka bertemu adalah saat mos SMA dulu, hingga sekarang mereka sudah kelas tiga, mereka masih bersama. Tapi kan nyari cowo buat diajak datang bareng ke party nggak gampang. Emang dikata kacang goreng? "Waktunya tinggal dua hari lagi," Sasa memberitahu, "mau cari dimana coba?" "Di Hongkong!" Gumam Putri kesal. Sasa itu cantik, satu sekolah juga tahu. Siapa pun pasti mau jadi pasangannya di pesta, tinggal pilih. Capcus. "Jauh amat, nyet!" Sasa merengut kesal. "Gue heran sama lo?" "Because what??" "Abisnya lo tu aneh, lo tinggal pilih aja kali. Ada Farhan, Tommy, Tio, alah banyak. Lo tinggal bilang, 'hay, mau nggak dateng bareng gue ke party?' Gue jamin seribu persen mereka nggak bakalan nolak." "Tapi gue nggak srek sama mereka, gimana dong?" "Elah, sama Vino si badak nyosor aja lo mau. Dikasih yang baek-baek malah nolak, kampret emang." Sasa mendorong piringnya yang masih berisi pisang coklatnya, isinya masih banyak karena gadis itu baru menyentuhnya sedikit. "Cariin dong, Put! Masa iya gue datengnya sendirian," dengan pandangan memelas ia menatap sahabatnya, "tapi harus ganteng ya!! Hehehe." Putri berdecak tapi tetap mencoba mencari dalam pikirannya siapa laki-laki yang bisa jadi pasangan sahabatnya ini. "Ada sih, tapi agak tua'an. Temennya abang gue, kan nggak masalah bawa orang luar." Sasa menghela napas, "lo apaan sih, nggak niat banget cariin pasangan buat gue." "Hhhmm, jadi siapa dong? Murid satu sekolah lo mau nggak?" Sasa menggeleng, "nggak suprise. Uda banyak yang pada kenal. Gue pengennya orang dari luar sekolah kita, biara agak gimana gitu. Apalagi kalo yang cakep, beeuh!" Sedotan yang ada di dalam gelas putri melayang ke arah Sasa, "lo itu uda minta cariin, banyak maunya!" "Hehehe, peace," Sasa menganggat dua jarinya sambil menyeringai. "Selamat malam, sambil menikmati makanan dan minuman anda izinkan saya mempersembahkan sebuah lagu untuk menghibur malam minggu anda," suara berat---atau biasa disebut serak-serak banjir--- memutus obrolan dua sahabat yang sedang mencari kandidat itu. "Lagu dari band favorite saya, the script, judulnya the man who can't be moved." "Buset," Putri berseru disertai matanya yang melotot, "ganteng banget, nyet! Sumpah." "Apaan, sih?" Sasa menoleh kebelang, posisi duduknya yang memang membelakangi panggung membuat badannya harus sedikit menyamping untuk bisa melihat si ganteng yang dimaksud sahabatnya. Beda dengan putri yang duduknya menghadap langsung pada panggung. Tatapan matanya menatap langsung orang yang dimaksud. Dan serius, Sasa terpesona. Laki-laki itu duduk di atas kursi tinggi, dengan kaki naik di kaki kursi. Gitar dalam pelukannnya. Laki-laki itu ganteng, putus Sasa dalam hati. Detik berikutnya, petikan gitar mengalun disertai suara merdu. Lagu yang laki-laki itu nyanyikan tidak mirip dengan penyanyi aslinya, lagu itu telah diaransemen menjadi lebih enak didengar. Lebih anak muda. Dan Sasa semakin terpesona. Dari kakinya, Sasa tau laki-laki itu tinggi. Tubuhnya dibalut jaket kulit coklat dengan celana jeans pudar, sepatu boot terlihat mengheñtak-hentak pelan seiring musik. "Kalo kaya dia baru gue mau," cetus Sasa tanpa sadar, matanya tak henti terpesona pada nyanyian dan laki-laki yang ada di atas panggung. Kalo diliat-liat usianya juga nggak jauh-jauh amat darinya, palingan selisih dua-tiga tahun. Bolehlah. "Yee lo mau, masalahnya dia mau apa nggak?" "Lo sendiri yang bilang gue tinggal pilih, and i choose him". "Tapi kan beda, setan. Kita nggak kenal sama dia!" "Bodo! Gue suka dia! Pokoknya gue harus dateng bareng dia! Eh eh, dia liat ke arah gue, Put. Dia liat gue!!" Sasa salah tingkah di bangkunya, tanpa sadar tangannya bergerak merapikan rambut dengan sendirinya. Laki-laki itu memang melihat padanya, tatapan bola mata coklat itu pun memandang penuh arti. "Lo mau gue minta nomornya?" Putri menawarkan. "Eh," Sasa menatap sahabatnya untuk pertama kali sejak matanya melihat ke arah panggung, "nggak masalah emang kalo cewe yang minta nomor HP cowo duluan?'' tanyanya ragu. Putri menjentikkan jarinya, "nggak masalah itu, kalo nggak kita yang mulai nggak bakalan dia bisa dateng bareng lo!" Sasa tersenyum manis, suasana hatinya kembali baik. Badak nyosor yang suka menguntit sudah hilang dari otaknya, bahkan dari setiap peredaran darahnya. Seenggaknya untuk saat ini. "Bentar, ya!" Putri berdiri dari kursinya, "gue mau minta nomor HP-nya." "Lo yakin?" "Ck, lo mau dateng sama dia, kan?" tanya putri sambil menunjuk ke arah laki-laki di atas panggung yang saat ini sedang menyanyikan bagian reff- nya. "Iya, sih!" "Serain pada sahabat kece lo ini! Semua beres." Di bangkunya, Sasa ketar-ketir sendiri. Harusnya dia yang minta langsung bukannya malah nyodorin Putri jadi pionnya. Halah, biarin lah. Si putri kan emang jagonya soal beginian. Waktu kenalan sama pacarnya Erga juga berawal dengan yang beginian juga, batinnya menimpali. Ketemu, suka, minta nomor, jadian, selesai. Kali aja yang ini juga berhasil. Tapi si ganteng jadiannya sama Sasa. Haha. Gitar yang berada dalam pelukan laki-laki itu membuatnya iri. Pengennya aku yang dia peluk, hayalnya tanpa sadar. Belum juga kenalan uda minta yang enggak-enggak, batinnya tidak suka. Putri terlihat berjalan menghampiri panggung, gadis itu berbicara tentang sesuatu pada seorang laki-laki berkaos coklat tepat di samping panggung, kayanya temen nya si ganteng. Beberapa saat kemudian lagu berakhir, laki-laku itu mengucapkan terimakasih kemudian menyingkir ke sudut panggung untuk membiarkan temannya yang lain menggantikannya. Setelah punya kesempatan, putri langsung menemui Kevin--dia tahu nama laki-laki itu dari Rafa, orang yang disamping panggung tadi. Tak menunggu lama, dengan tidak merasa canggung sedikit pun ia memberi tahu niatannya yang agak gila. Sasa yang duduk di kursinya sedang menatap ingin tahu apa yang sahabatnya bicarakan dengan laki-laki tampan itu. Putri menunjuk-nunjuk ke arahnya seolah memberitahu siapa gadis yang dia maksud. Oh, God. Jantung Sasa berdetak lebih kencang, saat mata coklat itu menatap tepat padanya. kalau tidak karena suara musik mungkin suara dentuman jantungnya akan terdengar. Lama, iris coklat itu tak berpaling darinya sementara Putri terus berbicara, dia terlihat menjelaskan sesuàtu. Please, jangan tatap gue kaya gitu! Gue kan jadi nggak tahan, resahnya dalam hati. Nggak tahan pengen langsung deket-deket sama kamu. Sasa meremas-remas jarinya gugup. Berhasil nggak ya? Berhasil nggak ya?, tanyanya terus di dalam hati. Dia hampir melonjak bahagia saat Kevin mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian memberikan nomor HP-nya pada Putri. Itu hanya sebuah nomor, tapi baginya itu uda kaya tiket menuju kebahagian. Berhasil, soraknya gembira. Putri berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Senyuman yang seolah mengatakan, 'kita berhasil, nyet'. Sementara Kevin terus menatap Sasa yang uda seneng nggak ketulungan. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang tak bisa Sasa mengerti. Ah, udalah! Yang penting, uda ada harapan buatnya nggak datang sendirian saat pesta dua hari lagi. Tapi, masa sih?? Tatapan mata Kevin beralih saat Rafa memanggilnya, dua orang itu terlihat mengobrolkan sesuatu kemudian keduanya menyingkir semakin ke sudut panggung. "Gimana..gimana??" tanya Sasa antusias. Tadi dia memang uda liat Kevin memgeluarkan ponsel, tapi dia masih sedikit kurang yakin kalo laki-laki tampan itu memberi nomor ponselnya pada gadis yang tidak dia kenal. Seringaian sombong terbentuk di bibir Putri, "beres itu mah," ujarnya seraya kembali ke kursinya, ''nanti gue kirimin ke HP lo." "Siapa namanya, Put?" "Kevin Aritonang!" "Hah? Dia orang batak?" "Yup," Putri mengangguk, "kayanya dia suka juga deh sama lo." "Darimana lo tahu? Emang dia bilang apa aja sama lo?" tanya Sasa nggak sabaran. "Dia nggak bilang apa-apa sih." "Taik lo," gumam Sasa kesal, "terus lo tau darimana kalo dia suka sama gue?'' "Bicara nggak usah pake otot juga kali," Putri menatap sahabatnya dengan melotot, "tadi pas gue minta nomor Hp-nya dia nolak! Terus gitu gue bilang lo yang minta Kevin langsung ngasih. Kalo nggak suka terus apaan? Paling nggak dia tertarik sama lo." Sasa mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum bodoh, "thank you ya Put, gue sayañg lo deh pokoknya." "Hhmm," putri bergumam. "Terus---." "Sorry gue telat," tiba-tiba Julio datang, anak itu terlihat biasa-biasa aja padahal dia uda super telat menjemputnya. Untuk mencegah kakaknya ngamuk, senyuman Julio Giotama terpaksa dia keluarkan, dan berhasil. Berhasil bukan karena senyumannya, melainkan karena nomor Hp laki-laki pujaannya yang uda Sasa dapatkan. "Nggak papa," gumam Sasa biasa saja, "tapi sekali lagi lo ulangin, abis lo." "Ngerti gue!!" "Yaudah, ayo pulang!" Julio adalah adik Sasa satu-satunya, alias mereka hanya dua bersaudara. Usianya tiga tahun dibawah Sasa, karena itulah Julio masih belum diperbolehkan punya mobil, masih anak-anak kalo kata mamanya. Putri dan Sasa beranjak dari kursinya, kedua gadis itu merapikan barang-barang mereka yang ada di atas meja. Mereka bertiga sudah akan melangkah meninggalkan kafe saat nama Julio ada yang memanggil. Julio berbalik kemudian melihat Rafa yang memanggilnya dari sudut panggung. Julio mengangkat satu tangan sebagai tanda kalo dia mendengar panggilan itu kemudian tersenyum. "Lo kenal mereka?" tanya Sasa yang berdiri di sampingnya, mata gadis itu menatap bergantian antara adiknya dan Rafa. "Mereka kawan gue," jawabnya memberitahu, "Rafa sama kevin satu kelas sama gue." "Hah????" Sasa dan Putri sukses melongo. Tapi yang lebih terkejut dan berefek luar biasa adalah pada Sasa. Jika bisa matanya jatuh, kayanya matanya yang melotot besar luar biasa itu bakalan menggelinding di lantai. Sasa nggak percaya kalo laki-laki itu, kevin, adalah teman sekelas adiknya. Pasalnya, dari segi tubuh, Kevin tak terlihat semuda adiknya Julio. Ditunjang dengan fisik yang tinggi membuatnya pangling. Bagaimana ini?, batinnya frustasi. Dia uda terpesona pada laki-laki yang lebih muda darinya. Dia jatuh hati sama berondong. "What the fuck." Bersambung...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Everything

read
283.6K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Suddenly in Love (Bahasa Indonesia)

read
77.9K
bc

FINDING THE ONE

read
34.7K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

DIA UNTUK KAMU

read
40.0K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook