"Sebel deh Gi, itu Tante Merry tetanggamu depan rumah tadi nginterogasi aku." Aku terkejut mendengar keluhan Bulan. Di Minggu pagi nan cerah ini tiba-tiba wajah Bulan sudah dinaungi mendung. Pasti sebentar lagi hujan deh. Dia itu sekarang mulai sensitif. Entah karena hormon kehamilannya. Dia kalau terkena bentakan atau sesuatu yang tidak mengenakkan pasti langsung menangis. Sungguh, itu bukan Bulan. "Ada apa hem?" kuhampiri Bulan yang kini sudah duduk di atas sofa. Dia tadi sempat berpamitan untuk pergi berbelanja ke pasar. Sebenarnya aku melarang, tapi namanya Bulan juga gak mungkin kan bisa dilarang? "Itu Tante Mery. Masa bilang gini. Wah Irgi nopo Kok entuk bojo koyo Kowe nduk? Wuelek. Wes lemu, tembem meneh. ( wah Irgi kenapa kok dapat istri kayak kamu? Jelek. Sudah gemuk

