Aku sungguh malu. Aduh. Tidak bisa mundur lagi. Seperti seorang prajurit yang maju ke medan perang dan berada di garis pertama lalu terkena bom. Huuu kenapa perjumpaannya ngeri banget sih. Tapi emang iya. Aku memang tidak bisa mengatakan apapun lagi. Hanya tulisanku yang bisa dibaca Irgi. Untuk sesaat dia hanya melongo. Bahkan aku kira dia membeku. Karena tidak bergerak sedikitpun. Tapi setelahnya yang membuatku kewalahan. Irgi langsung menarik ku untuk berdiri dan menggendongku. Serta berteriak. Lalu segera membawaku ke dalam kamar. Apalagi kalau bukan itu... Uh malu. Setelah semalam akhirnya menyerah. Aku terbangun dan melihat Irgi masih tertidur dengan pulas. Ada keposesifan saat ini menyelubungi hatiku. Aku memang jatuh cinta kepadanya. Jangan kalian tanya itu kapan. Mungkin saat I

