"Aisyah bolehkan jika Abang mau menerima pinangan Kyai Bisri dan menjadikan Rania istri Abang." Hening. Ammar tidak bisa mengatakan-kata. Mendengar kalimat Aisyah, ibarat ulu perang ditancap anak panah. Sakit. Bagaimana sang istri bisa berpikir ke arah sana. Bagaimana Aisyah bisa tahu tentang masalah Rania. Padahal Ammar berpikir dia berhasil mengatasi masalah ini dari Aisyah. Nyatanya nol besar. Ammar belum juga mengeluarkan suara. Manik-manik sebaliknya. Dari sorot netra Ammar mengisyaratkan ketidaksukaan oleh kata-kata tanya itu, "Jangan mencandai Abang dengan kalimatmu barusan, Wallahi Abang tidak suka mendengarnya, Aisyah!" Sarkasnya dengan rahang mengetat. Aisyah bangkit dari duduk. Dia agak gentar dengan reaksi Ammar. Tadinya mengira jika lelaki itu akan langsung menyahut denga

