Aisyah mematung merasai reaksi Ammar yang masih tak acuh. Lelaki itu berjalan menuju kamar, perginya sendiri di ruang tengah. Aisyah membagikan kantong kertas berisi makan siang yang dibawakan Ammar untuknya. Segera melangkah cepat, lolos sang suami. Tidak bisa dibiarkan! Aisyah sudah tidak tahan tidak tahan seperti ini oleh Ammar. Halah! Baru sehari saja sudah kalang-kabut begini, bagaimana nanti jika seandainya benar dia mau berbagi perhatian Ammar dengan perempuan lain. Aisyah pasti bisa gila karena kelabakan sendiri. Membuka pintu kamar perlahan, ekor mata Aisyah terpilih sang suami yang sedang ganti pakaian. Diamati wajah dan rambut Ammar masih memercikan udara, "Abang ..." Aisyah memberanikan diri menegur. Dia harus segera bertanya pada Ammar, mengingat sikap lelaki itu masih saj

