Rakha's PoV
"Hati-hati bawa motornya," ucapku pada seorang perempuan yang merupakan calon istriku. Namanya Ella, karyawanku yang merupakan orang sederhana yang akan aku nikahi dalam waktu sebulan lagi.
"Iya, Mas. Nanti aku kabarin kalau udah sampai."
Sambungan telepon kami pun berakhir. Aku meletakkan ponselku, kemudian menyandarkan punggungku pada kursi dengan mata terpejam. Kepalaku penuh, memikirkan banyak hal tentang pekerjaan dan juga rencana masa depan.
Ella adalah perempuan pilihanku ketika orang tuaku mendesakku agar segera menikah. Syarat agar aku tetap menjadi CEO di sini adalah harus memiliki pasangan, menikah. Jika tidak, bisa saja posisi ini beralih pada sepupuku yang merupakan manajer personalia di sini yang berusia 2 tahun lebih muda dariku. Dia juga sebentar lagi menyelesaikan study S2 dan sudah memiliki kekasih pula. Makanya, orang tuaku ingin segera aku menikah sebagai syarat yang diminta oleh kakekku. Setengah tahun menjabat sebagai CEO menggantikan posisi omku yang sakit keras, tak lantas membuat posisiku tersebut aman.
Aku tak sedang dekat dengan siapa pun, sudah beberapa tahun sendiri. Pernah pacaran, itu hanya sebentar ketika kuliah di luar negeri. Ketika orang tuaku meminta untuk menikah yang sebenarnya belum terpikir pada usiaku yang 29 tahun ini, aku mau tak mau mencari perempuan yang akan aku nikahi. Aku yang tak punya teman di sini waktu sekolah sebelum kuliah di luar negeri, tak punya teman meminta tolong mencarikan pasangan untukku. Pada akhirnya aku mencari di lingkungan kerjaan, menolak untuk dicarikan oleh mama. Hingga pilihanku jatuh pada Ella, seorang staff keuangan di kantorku. Dia merupakan anak dari panti asuhan yang sudah mandiri dan tinggal di indekos. Dia sederhana apa adanya dan lumayan cantik juga. Aku pikir, akan bisa jatuh cinta padanya nanti seiring berjalannya waktu.
Orang tua serta kakekku setuju-setuju saja dengan siapa pun pilihanku, yang penting baik dan berpendidikan juga. Ella merupakan lulusan sarjana pada salah satu universitas negeri di Jakarta ini, jadi dia diterima oleh keluargaku. Tak peduli walau perempuan itu hidup sebatang kara, tidak memiliki keluarga.
Membuka mata, aku memakai kacamataku dan kembali fokus pada layar di depanku. Sudah jam 5 lewat, tapi aku belum akan pulang. Masih banyak laporan yang harus aku periksa, tak mau menunda-nunda.
Pandanganku beralih dari layar di depanku ke arah ponsel di dekat keyboard, ketika ada panggilan masuk dari nomor telepon yang bukan nomor ponsel. Aku biasanya tak pernah mengangkat telepon sembarangan, akan tetapi entah kenapa perasaanku tak enak. Aku pun meraih benda pipih tersebut, lalu menyentuh layar hijau di sana.
"Hallo?"
"Apa benar saya bicara dengan saudara Rakha?"
"Iya, saya sendiri."
Perkataan sang penelepon selanjutnya membuat jantungku berpacu dengan cepat. Aku mendapatkan telepon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa Ella mengalami kecelakaan dan kondisinya kritis. Aku langsung beranjak dari kursiku, bergegas menuju rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, aku harus menerima kenyataan pahit jika nyawanya Ella tak bisa diselamatkan. Aku lemas seketika. Kenapa perempuan selembut dan sebaik Ella lebih dulu meninggalkan dunia ini? Walau belum ada rasa cinta untuknya, tapi aku merasa tak rela ditinggalkan perempuan seperti Ella. Langka perempuan yang seperti itu pada zaman sekarang.
Tanganku gemetar, terulur perlahan menyentuh jemari tangannya Ella. Perempuan itu mengalami benturan hebat pada dadanya dan terdapat luka-luka pada bagian kaki dan tangannya. Benturan keras pada dadanya itu adalah hal fatal yang membuat dirinya tak bisa diselamatkan. Sedangkan bagian wajahnya yang terlindungi helm, sedikit ada goresan luka pada dagunya.
"Yang tenang di sana, La." Aku berusaha untuk tetap tegar, masih tak menyangka jika hari ini aku kehilangan calon istriku. Jika tahu akan begini, aku akan mengantarkannya pulang dan menunda kerjaanku. Begitu lah, takdir tak ada yang tahu.
Saat tengah berbicara dengan Ella yang tentunya tak bisa lagi menyahut perkataanku, aku diberitahu jika orang yang terlibat kecelakaan dengan Ella ada di IGD ini juga. Ella ternyata ditabrak oleh sebuah mobil.
Aku berdiri menuju brankar penabrak calon istriku itu, yang akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Dia tak mengalami luka parah, hanya saja sedang pingsan saat ini. Aku ingin marah rasanya, walau sadar bahwa itu tak akan mengembalikan nyawanya Ella. Tiba di dekat brankar, aku mengernyit begitu mendapati wajah perempuan yang familier bagiku. Aku mencoba mengingat-ingat, hingga mataku membola begitu telah mengingat siapa perempuan yang sedang memejamkan mata tersebut. Setelah belasan tahun, aku baru melihatnya lagi dalam jarak sedekat ini. Aku pernah tak sengaja melihatnya sekitar beberapa tahun lalu, sekedar melihat sekilas saja. Pada media sosial juga ada seliweran, foto acara reuni yang mana dia paling menonjol di sana. Dia adalah Ayu Saras Magdalena, adik kelasku dulu yang pernah aku sukai. Cantik memang, sama seperti dulu tak ada perubahan yang spesifik. Hanya terlihat agak dewasa saja. Aku menggeleng, apa gunanya cantik tapi mulutnya jahat?
Tanganku mengepal seketika, ingat akan kata-kata pedas yang terlontar dari mulutnya padaku.
"Lo kok pede banget nembak gue? Nggak ngaca? Nggak sadar diri banget. Lo itu... bukan.tipe.gue. Jauhhhhhhhhh! Coba lo ambil kaca dulu sana! Hitam, gendut, jelek, cupu, berani-beraninya nembak gue?" Masih terekam jelas di benakku, bagaimana kata-kata Ayu saat menolakku dulu.
Ya… aku pernah menyatakan perasaanku kepada perempuan itu dulunya. Dia cantik sekali dan aku diam-diam mengagumi, hingga suatu saat aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku sadar, dulu aku banyak kekurangan. Tapi, aku hanya ingin dia tahu betapa aku mengagumi paras dan tingkahnya yang lucu. Tak kusangka jika dia menolakku dengan kata-kata menyakitkan hati.
Takdir selucu itu. Sekarang aku dipertemukan lagi dengannya, si sombong satu ini bahkan telah merenggut nyawa calon istriku? Aku tersenyum miring, tak akan aku biarkan dia lolos begitu saja setelah membuatku kehilangan. Perempuan sombong satu ini harus diberikan pelajaran.
“Saya akan menemui dia nanti setelah mengurus administrasi. Akan di bawa ke ruang rawat lantai berapa?”
***
Aku mengurus administrasi, sebelum jenazahnya Ella dibawa menggunakan ambulance. Setelahnya, aku akan mampir sejenak ke ruang rawat di mana Ayu berada karena barusan mendapatkan kabar bahwa dia telah sadar. Aku harus menemuinya, sebelum dia kabur. Barusan sempat berbicara dengan pihak berwajib, aku bilang jika tak ingin memperpanjang. Aku kenal dengan penabraknya.
Bisa saja aku langsung jebloskan dia ke dalam penjara, akan tetapi aku kepikiran hal lain. Entah lah, aku pusing, aku akan memikirkannya lagi nanti setelah proses pemakaman Ella. Aku sudah menghubungi ibu panti tempat Ella tinggal sebelumnya, kami sepakat akan memakamkan Ella pada malam ini juga.
Aku melangkah menuju ke ruang rawat Ayu. Begitu masuk ke dalam sana, dia tak sendiri. Ada mamanya di sana yang terlihat tak bersahabat sekali wajahnya. Aku tak peduli, hanya ada urusan dengan anaknya saja. Aku meminta mamanya untuk keluar, ingin berbicara berdua dengan Ayu saja.
Ternyata, perempuan itu tak mengenaliku. Sangat wajar, aku telah banyak berubah dari segi fisik. Aku selama di luar negeri rajin olahraga dan menjaga pola makan, serta udara di sana juga yang cocok denganku. Aku tak lagi gendut, hitam dan tak lagi menggunakan kacamata tebal. Postur tubuhku bisa dibilang bagus dan juga tinggi menjulang dengan kulit yang cerah. Tentu saja Ayu tak mengenaliku lagi.
Aku berkata kepada Ayu jika aku adalah pihak dari korban yang dia tabrak. Dia pun mengangguk. Lalu, dia terkejut ketika aku bilang bahwa orang yang ditabraknya itu meninggal dunia.
“Ma-af… s-saya enggak sengaja. Saya turut berduka cita atas calon istri Masnya. Maafkan saya karena lalai. Sa— “
“Kata maaf kamu nggak akan mengembalikan nyawa calon istri saya,” ucapku dingin. “Enggak bisa bawa kendaraan dengan benar, kenapa tetap mengemudi?”
Perempuan itu menundukkan kepala. “Maaf.”
“Saya akan membuat perhitungan sama kamu.”
Seketika perempuan itu mendongak.
“Kenapa? Udah menghilangkan nyawa orang yang penting bagi saya, kamu berharap saya akan memaafkan begitu saja?”
Ayu tak menyahut.
“Saya akan menemui kamu lagi nanti, setelah pemakaman selesai. Jangan coba-coba untuk kabur, atau saya akan penjarakan kamu!”
"Nama saya Ayu Saras dan kamu bisa mencatat alamat lengkap saya, semisal kamu tidak menemukan saya di sini karena mungkin saya sudah diperbolehkan pulang.”
"Saya minta nomor HP dan identitas kamu, saya akan pegang sebag— “
"Saya nggak akan kabur." Perempuan itu memotong cepat ucapanku.
Aku menaikkan alisku dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman sinis. Suara itu, terdengar begitu pelan. Tidak seperti dulu kala menghinaku dengan suara lantang.
“Kamu pikir, saya akan percaya begitu saja perkataan orang seperti kamu?”
***