Bab 3 — Selalu Sendiri

1226 Words
Ayu's PoV Aku meraih tasku yang berada di samping brankar. Tas tersebut sudah terlihat di sana waktu aku membuka mata beberapa saat lalu. Aku meraih kartu identitasku dari dalam dompetku di dalam tas, lalu mengulurkan kepada lelaki tersebut. "Ini KTP saya, bisa kamu pegang sebagai jaminan. Untuk alamatnya, memang enggak sesuai dengan tempat tinggal saya sekarang karena saya telah pindah." Aku tak menemukan ponselku saat ini. Mungkin tertinggal di mobil atau ada pada mamaku? Aku ingat sebelum kejadian tadi, akan menjawab panggilan telepon dari mama. Ponsel telah aku keluarkan dari tas. "Saya nggak tahu di mana HP saya sekarang, tapi kamu bisa catat dulu aja nomornya. Sekalian sama alamat saya tinggal sekarang. Saya enggak akan berbohong, bisa kamu tanya juga sama mama saya di luar." Lelaki itu berdehem setelah mengambil KTP-ku. Dia tampak mengotak-atik ponselnya, kemudian menyodorkan ponsel tersebut padaku. "Catat di sini dan tempat kamu kerja juga sekalian, biar saya tahu harus mencari kamu di mana jika nggak ada di rumah dan nggak bisa dihubungi." "Baik." Aku menerima ponsel tersebut, yang mana pada layarnya terbuka bagian note. Aku mengetikkan alamat tinggalku yang lengkap, kantor tempatku bekerja serta nomor ponselku juga. Setelahnya, aku kembalikan ponselnya. "Tapi, tolong, jangan usik keluarga saya. Cukup berurusan dengan saya aja. Saya yang salah di sini, bukan keluarga saya." Aku tak mau mama semakin marah padaku jika diusik. Lelaki itu tampak menaikkan alisnya. "Saya minta tolong... " pintaku lirih. "Mau perkarain ini ke pihak berwajib atau apa pun itu, enggak apa-apa. Asal jangan bawa-bawa orang terdekat saya. Saya yang lalai—salah, jadi saya sendiri yang akan menanggung akibatnya." "Oke. Saya akan hubungi atau temui kamu nanti." Lelaki itu tampak melihat-lihat KTP-ku yang berada di tangannya, kemudian beralih menatapku lagi. "Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah mencoba kabur ke mana pun, karena saya pasti akan temukan kamu dan menyeretmu ke dalam penjara." "Nggak akan." Mau kabur ke mana memangnya? Jika pun ingin kabur, sudah aku lakukan dari hari-hari sebelumnya ke alam yang sama dengan Kak Elang. Di dunia ini, tak ada tempat yang bisa aku kunjungi lagi. Tak ada tempatku berkeluh kesah, mengadu perihal apa pun yang aku alami. "Saya pegang omongan kamu." Aku mengangguk lemah. "Mas, apa saya boleh melihat jenazahnya? Tolong izinkan saya untuk meminta maaf atas apa yang telah saya lakukan, meski dia tak lagi bisa mendengar. Saya hanya ingin mem— " "Nggak usah," ucapnya dingin. "Dia baik dan pasti akan memaafkan, tapi tidak dengan saya. Saya tidak akan memaafkan seorang pembunuh. Jadi, saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Kamu harus membayar atas apa yang sudah kamu lakukan." "Saya mengerti." Tentu, aku harus menerima ganjaran atas kesalahanku tanpa harus diingatkan pun. Aku menatap nanar punggung yang perlahan mulai menjauh, lalu menghilang dibalik pintu. Entah apa konsekuensi yang akan aku terima dari lelaki itu nanti, aku hanya bisa pasrah. Wajar dia terlihat sangat marah dari tatapan dan nada bicaranya. Kehilangan calon istri, pasti dia sedih sekali. Aku paham karena pernah berada di posisi yang sama, yang sampai saat ini masih sakit sekali rasanya. Mulut bisa berkata ikhlas, tapi hati tak semudah itu merelakan. Aku memejamkan mata. "Apa kata orang barusan?" Aku membuka mata kembali perlahan mendengar suaranya mama. "Awas aja kalau sampai nama kami dibawa-bawa kalau urusannya di perpanjang di kantor polisi! Kamu urus aja sendiri, kami nggak ikut campur." "Mama tenang aja. Aku enggak akan bawa-bawa nama mama—keluarga. Aku akan menanggung semuanya sendiri, resiko atas kesalahanku." "Bagus kalau kamu tahu diri. Gimana pun konsekuensinya nanti, kami nggak bakalan bisa bantu apa pun. Kamu tahu sendiri gimana keuangan keluarga yang pas-pasan. Lagian, kamu ini ada-ada aja, bisa ceroboh begitu sampai bikin nyawa orang melayang." Aku tak menyahut. Situasi di jalanan itu tak bisa ditebak. Aku yang sepersekian detik saja melirik ponsel, tiba-tiba ada motor menyalip dan tak dapat aku hindari. "Untungnya biaya kamu di sini bisa ada asuransi dan itu pihak korban juga nggak ada tuntutan biaya duka. Entah lah kalau nanti nuntutnya. Kamu pikirin aja lah nanti sendiri gimananya." "Iya, Ma." "Kamu harus rawat inap semalam ini dan mama nggak bisa nungguin. Adeknya kamu juga enggak bisa." Aku mengangguk paham. Aku juga tak berharap ditunggu, sudah terbiasa apa-apa sendiri. Mama langsung pulang setelah meletakkan ponselku di dekat tas. Memang selama ini aku selalu sendiri, bukan? Dalam keadaan apa pun, aku hanya memeluk diriku sendiri. Semua kembali seperti dulu, sebelum kedatangan Kak Elang dalam hidupku. *** Aku hanya semalam di rumah sakit dan keesokan harinya sudah diperbolehkan pulang. Keluar dari rumah sakit dijemput? Tentu saja tidak. Aku pulang naik taksi sendiri. Mobilku masuk bengkel. Tak banyak kerusakan katanya mama. Sehari saja istirahat di rumah, besoknya aku sudah kembali bekerja dengan bagian keningku yang masih harus menggunakan perban kecil. Aku lebih memilih bekerja dari pada di rumah yang selalu merasa kesepian meski ada orang tua dan adikku pun. Tak akan ada yang peduli dengan kondisiku di rumah itu, walau bagaimana pun. Makanya, mendingan aku berangkat kerja—ada kesibukan. Tak melamun saja. Tak ada yang bisa aku ajak berbicara dari hati ke hati di rumah itu. Teman? Aku sama sekali tak punya. Teman dekatku dulu saat sekolah sudah menjauh semua ketika papaku brangkrut. Bertemu ketika aku mendatangi acara reuni pada waktu itu, semua terlihat menjaga jarak denganku. Ada foto bersama saat itu, hanya sekedar sama-sama tersenyum dalam lensa kamera saja. Di kantor, aku hanya berinteraksi perihal pekerjaan saja dan acara-acara tertentu. Tak ada seseorang yang dekat denganku, lebih tepatnya aku yang menarik diri tak mau dekat dengan siapa pun. Kak Elang lah satu-satunya yang beberapa tahun ini menjadi segalanya bagiku. Tak sekedar pasangan saja, tapi juga teman dan layaknya pengganti orang tua yang membimbing—menuntunku kepada hal-hal positif. Dia juga mengajariku banyak hal. Suka dukaku, diterima dengan baik olehnya tanpa pernah menghakimi. Dia benar-benar lelaki yang sangat baik, tak pernah aneh-aneh pun. Sayangnya, Tuhan lebih menyayanginya sehingga mengambilnya cepat dari sisiku. Baru saja hendak makan soto yang aku titip minta belikan oleh OB, mataku teralih pada layar ponselku yang tampak ada notifikasi pesan masuk di sana. 081118896xx Tes Saya calon suami orang yang kamu tabrak sampai meninggal itu. Jantungku berpacu dengan cepat. Sejak hari itu, bohong jika aku tak gelisah memikirkan akibat dari kecerobohanku. Rasa bersalah menghantui karena telah menghilangkan nyawa seseorang, bercampur dengan rasa rindu yang kian menyiksa kepada pemilik hatiku yang tak lagi berada di dunia ini. Semuanya, hanya bisa aku pendam sendiri tanpa ada teman bicara. Hanya kepada Tuhan satu-satunya tempatku mengadu. Dengan tangan gemetar, aku pun membalas pesan lelaki. Pesanku dibaca saja, tapi tak lama kemudian layar ponselku menyala dan menampilkan nomor yang barusan mengirimiku pesan. "Hallo?" "Di mana kamu?" "S-saya di kantor." "Good. Enak banget bisa langsung masuk kerja, sementara ada orang yang harus dikubur di dalam tanah karena perbuatanmu." Terdengar nada sinis di seberang sana. Aku memejamkan mataku. Kalau bisa, aku ingin menggantikan posisi perempuan itu. Tidak dengan bunuh diri, tapi lenyapkan saja nyawaku dengan cara apa pun. "Maaf." Hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku. "Pulang kerja jam berapa? Saya mau bicara." "Jam 5. Baik, mau ketemu di mana?" "Saya akan kabari kamu nanti untuk tempatnya." Aku menatap layar ponselnya setelah sambungan telepon berakhir. Pada laya ponselku itu, ada wallpaper foto bersama Kak Elang. Tanganku terulur menyentuh layar ponsel tersebut. Kenapa waktu 2 hari lalu kamu nggak jemput aku biar ikut bersamamu di sana, Kak? Kenapa harus orang lain? Seharusnya aku aja yang dikubur, bukan dia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD