"Sholeh kamu punya tugas dari Abi!" Kiyai Hasbi duduk di pinggir tempat tidur Ustazd Sholeh.
"Pergilah ke Diskotik yang tidak jauh dari pesantren. Berilah pencerahan di saana! Abi sudah bicara pada pemiliknya dan mereka memberikan izin untuk Abi mengirim orang datang kesana."
"Abi, apa kita tidak salah tempat?"
"Sholeh, kewajiban kita adalah mengingatkan. Terlebih itu adalah lingkungan kita sendiri." Ucap Yai Hasbi meyakinkan.
"Baiklah Bi." Meskipun Sholeh tidak yakin akan hasilnya.
"Sholeh, lakukan saja! Biarlah Allah yang menentukan hasilnya."
“Baiklah Bi."
Hari ini Ustadz Sholeh harus pergi ke tempat yang sebelumya tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya, jangankan menginjakan kaki disana membayangkan saja ia sudah merinding. Tapi ia harus tetap pergi karena perintah dari Yai Hasbi sudah seperti titah baginya untuk segera dilaksanakan dengan tuntas.
Suasana dalam Diskotik riuh ketika kedatangan seorang Ustadz yang lengkap dengan sorban hijaunya. Apalagi ia adalah Ustadz muda yang tampan, yang bisa membuat hati wanita meleleh ketika melihatnya. Yah meskipun tidak setampan nabi Yusuf setidaknya tampanlah untuk penduduk kota kecil yang berkembang.
Ustadz Sholeh di beri panggung untuk berceramah. Meskipun orang-orang disana adalah orang-orang pendosa tapi mereka adalah orang-orang yang menaruh tinggi kehormatan para Ustadz dan alim ulama di kota mereka.
Ustadz Sholeh berceramah dengan pandangan Wah dari para wanita yang sebagian tetap dengan pakaian terbuka. Mereka bukan terpesona pada perkataan Ustadz Sholeh namun kegantengannya memang melewati batas untuk sebuah penghuni kota kecil.
Selesai Ustadz Sholeh ceramahpun tak satupun dari mereka yang tahu apa saja yang dikatakana oleh Ustadz Sholeh. Mereka juga tidak sadar kalau Ustadz Sholeh sudah selesai ceramah dan hendak pulang tidak mau berlama-lama.
"Hey, Ustadz. Maukah kau menikah denganku?" Teriak Maharani yang langsung di sikut temannya. Kalau Momy Sen mendengar yang ia katakana, habislah ia.
Ustadz sholeh menoleh ke sumbe suara.
DEG.
Bagaimana mungkin dia adalah orang yang sama. Benak Ustazd sholeh.
Lama Ustadz Sholeh terpana. Wanita ini adalah wanita yang sama dengan wanita yang ada dalam mimpinya di beberapa malam setelah ia melakukan sholat Istikhoroh untuk perjodohan ia dan putri Pak Hasan. Namun mengapa wanita yang berpakaian tertutup dalam mimpinya sekarang dengan pakaian terbuka dan rambut pirang ala anak ABG gaul.
"Tidak mungkin," gumamnya.
Ustadz, menikahlah denganku. "Percayalah aku akan menuruti semua kemauanmu sekalipun harus kau madu." "Hahaha." Maharani terkekeh sendiri, ia bisa mengucapkan hal konyol seperti itu.
Ustadz Sholeh mencoba tidak menghiraukan, lagian manamungkin dia orangnya. Ustadz Sholeh berpikir mungkin ia salah, ia perlu mengulang lagi istikhoroh itu.
"Rani, kau cari mati ya. Kalau Momy Sen mendengarmu bicara begitu kau bisa habis." Ucap Hany teman akrab yang sangat menyayangi Maharani.
"Kalau kau tidak buka mulut, Momy Sen tidak akan tahu. Dia adalah satu-satunya harapanku untuk bisa bebas dari sini."
"Hahaha, Rani kau pikir seorang Ustadz akan mau menikah dengan orang seperti kita." Jangan halu kamu!
"Setidaknya aku berusaha. Heh kamu dengar ya, aku tidak akan mau mati disini dengan predikat pelacur."
"Ya terserah kau saja yang penting aku sudah peringatkan untuk berhati-hati dalam bicara."
"Aku tidak perduli," Maharani berlalu dan mengerjar Ustadz Sholeh yang hamper keluar dari pintu ruangan.
"Ustadz tunggu!"
Ustadz Sholeh menoleh namun tidak berani menadang.
"Ada apa ya Mbak? Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?"
"Ustadz aku bersungguh-sungguh dengan perkataanku tadi, aku rela kalau mau di madu asal Ustadz menikahi saya dan membebaskan saya dari tempat ini." Maharani berbicara sedikit berbisik.
"Maaf siapa namamu?"
"Maharani, panggil saja Rani."
"Oh ya, Rani pernikahan bukan hal yang bisa jadi mainan. Tiba-tiba menikah lalu tidak suka di buang ganti yang lain, menikah tidak seperti itu Rani. Perlu kesungguhan dengan didasari keikhlasan ingin menyempurnakan Iman kepada Allah,"
"Ustadz boleh kita bicara di luar saja."
"Baiklah," Mereka keluar, jauh dari penjagaan anak buah Momy Sen.
"Ustadz, saya tahu tentang yang Ustadz katakana barusan, tapi ustadz juga tahu saya bukan orang yang bisa mendapatkan hal yang special. Maka dari itu asal Ustadz menikahi saya saja sudah cukup, meskipun besoknya ustadz buang saya akan terima."
"Apa alasan kamu berkata demikian?"
“Bebaskan saya, saya bisa menutup rapat bahwa Ustadz pernah menikahi orang seperti saya. Asal Ustadz bisa membebaskan saya dari tempat ini."
Mata dari para penjaga di luar mulai mengintai resah.
"Kembalilah dulu Rani, kamu di cari. Saya akan memikirkan bagaimana kamu bisa bebas tanpa perlu menjadi istri saya."
Melihat para penjaga yang terus mengelilingi mereka akhirnya Maharani masuk kembali.
*************************
Ustadz Sholeh melipat kembali sajadah tempat ia bersujud memohon petunjuk dari Allah tentang sekelumit masalah yang ia hadapi.
Kamar sunyi menjadi saksi bisu setiap malam ia selalu terbangun untuk sholat di sepertiga malam paling utama. Setelah mengucap Doa akahirnya ia terlelap kembali.
Seorang wanita menangis di sudut ruangan, ia berpakaian serba putih namun ada sedikit noda pada bajunya.
"Istriku kenapa menangis?"
"Mas, aku menagis karna bahagia bisa menjadi Istrimu. Sebuah kebanggaan bisa bersamamu Mas."
Mereka berpelukan hangat.
Ustadz Sholeh membuka mata, mimpi yang sama dan berulang kali, tapi mengapa ia masih ragu.
Ia takut keraguannya akan petunjuk Allah malah menjadi dosa baginya.
"Ataghfirullahalazdim," ia menghabiskan malam dengan berdzikir.