Sangat Mirip

707 Words
"Abi, bisa bawa Sholeh ke rumah Pak Hasan. Sholeh ingin bicara pada Pak Hasan." "Kau sudah mendapat petunjuk." "Sudah Bi," "Baiklah kita berangkat." Mereka sampai di rumah Pak Hasan, deretan parkit mobil mereka sudah terlihat jelas mereka memang keluarga terkaya di kota kecil yang penduduknya tidak seberapa ini. "Assalamualaikum." "Waalaikum Salam," keluarga besar Pak Hasan menyambut dengan hangat. Karna sebelumnya Yai Hasbi sudah mengabarkan kedatangan mereka jadi keluarga Pak Hasan sudah siap. Mereka memulai obrolan ringan, para ART sigap membuatkan minuman dan menyajikan beberapa toples makanan ringan. "Jadi begini Pak, saya minta maaf sebelumnya tiba-tiba merepotkan." "Tidak masalah Ustadz, kami senang Ustadz dan Yai kemari." "Pak Hasan saya sudah beberapa kali Sholat istikhoroh dan jawabannya tetap sama jika saya dan putri Bapak tidak bejodoh. Saya minta maaf pada Bapak." Pak Hasan hanya diam, bukan itu jawaban yang ia inginkan. "Pak Hasan masih dan lain waktu untuk kita menjalin keluarga. Tunggu higga anak-anak kita siap terlebih dulu." "BaiklahYai," wajah Pak Hasan suram. *************** Ustadz Sholeh datang kembali ke Diskotik tempat Maharani bekerja. Semua mata tertuju padanya, ia hanya memakai sarung, baju koko, peci dan sorban. Tapi mereka memandang layaknnya ia berpakaian tentra saja. "Ustadz kenapa datang kemari, tidak ada jadwal ceramah hari ini," ucap salah satu penjaga disana. "Dia datang mencariku, ia kan Ustadz," Rani keluar dari kerumunan. "Ia saya mencari kamu." "Benarkan? Sungguh? Ye yey ye, akhirnya di cari-cari Ustadz. Apa ku bilang Hany," teriaknya pada temannya Hany yang manyun. "Apa Ustadz kesini setuju dengan tawaranku kemarin?" "Ya, saya mau menikahimu," "Apa? Rani meloncat-loncat kegirangan." "Hey, kalian dengar semua. Ustadz Sholeh akan menikahiku. Kalian weeeee." Rani mebalik jempolnya kebawah. Sebelumnnya ia di cemooh para temannya ketika ia mengatakan minta di nikahi oleh Ustadz Sholeh tempo hari. "Eh, Rani awas kau ya. Aku akan mengadukanmu pada Momy," ucap Rena. "Lakukan saja, wek." Rani mengeluarkan lidah. "Ustadz ayo kabur," Maharani menarik sorban Ustadz Sholeh menariknya sambil berlari, Ustadz Sholeh terpaksa ikut berlari layaknya maling. Ya maling gadis kesayangan Momy Sen. "Eh, tunggu kenapa harus lari," Ustadz tidak terbiasa lari-larian seperti maling. "Tunggu!" cegat dua penjaga. "Eh, kau mau kuwalat sama Uztadz. Dia bahkan bisa menggajimu lima kali lipat dari disini." Maharani menantang. "Benarkah?" "Iya, beri kami jalan!" "Baiklah Nona," "Lari....." Maharani menarik kembali sorban Ustadz sholet menyeretnya hingga ke parkiran. "Eh, Rani tunggu! "Alexander mengejar. Tangkap saja kalau bisa. "Awas kau ya." "Eh Rani, mau kamana kamu?" Momy Sen baru keluar. "Kabur Mom, pakek nanya lagi," Rani manarik Ustadz Sholeh lagi untuk berlari. "Kalian berdua kenapa diam saja, cepat kejar!" Momy Sen menepuk bahu penjaga yang hanya melongo menyaksikan sang primadona kabur. "Momy, kata Rani Ustadz itu bisa gaji kami lima kalli lipat dari sini. Kami mencoba berpikir untuk membuat surat pemunduran diri di sini dan melamar di tempat Ustadz tadi," penjaga yang besar, tinggi dan sangar jadi terlihat polos. "Begok. Kalian di bodohi. Tidak ada yang mau menggaji kalian kecuali saya. Cepat kejar sana!" "Baik Momy, tapi gaji kami di naikkan dua kali lipat kan?" "Kejar atau gaji kalian bulan ini tidak akan keluar." "Iya, iya Momy." "Eh, tunggu!" leher Ustadz Sholeh hamper tercekek karna sorbannya sendiri. "Kenapa lagi ustadz, Ustadz sudah janji mau menikahi saya. Jangan berhenti." "Eh, mobil saya di sana." Menunjuk kearah kanan. "Ustadz bawa mobil? Bilang dari tadi," "Kamu main tari-tarik saja dari tadi." "Woy Rani," Alexander sudah dekat sementara Momy Sen mengejar tidak sampai lima meter dengan badan besarnya. Melihat Alex yang sudah dekat mereka berdua sigap berlari. Ustadz Sholeh memencet tombol pembuka kunci mobil yang membuat Rani dengan mudah tahu mobil mana yang berbunyi tadi, Ustadz Sholeh dengan cepat mengemudikan mobilnya keluar dari area Diskotik. "Wah ternyata Ustadz ngak kalah sama pembalap hebat." "Kamu punya pakian tertutup?" "Mana ada Ustadz. Ustadz Mah sudah tahu kita kabur mana ada pakaian saya bawa." "Kita belanja dulu kalau begitu," Ustadz Sholeh membawa Maharani ke butik muslimah. Ia memilih baju berwarna putih yang sedikit mirip dengan baju yang di pakai wanita yang ada dalam mimpinya. Untuk lebih meyakinkan diri, ia berharap setelah memakai pakaian muslimah Rani jadi tidak mirip dengan wanita dalam mimpinya itu. "Lihat Ustadz apakah sudah mirip seoarang Ustazdah?" DEG. Jantung Ustadz Sholeh terasa berhenti. Kau benar-benar mirip, Ustadz Sholeh baru yakin jika Maharani adalah benar wanita yang ada di dalam mimpinya yang berulang-ulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD