Lama Ustadz Sholeh terpana sebelum akhirnya ia memalingkan wajah.
"Astaghfirullah." Ia menyadari kesalahan memandang seorang gadis yang belum menjadi mahkromnya.
"Kenapa Ustadz?"
"Ngak, coba kamu pilih yang lain beberapa. Bisa dua atau tiga baju lagi."
"Dicoba lagi Ustadz?"
"Pilih aja dulu yang mana kamu suka!"
"Oh.. gitu, baiklah."
"Astaghfirullah, ataghfirullah. Ya Allah ampuni dosa hamba membawa gadis yang bukan mahkrom hanya berdua saja." Gumam Ustadz Sholeh saat Rani mencoba memilah milih baju kembali.
"Ustadz aku suka yang ini."
"Baik, pilih dua lagi!"
"Dua lagi? Buat apa Ustadz? banyak banget."
"Pilih saja, jangan lama-lama. Aku akan segera mengantarmu."
"Mengantar kamana?"
"Nanti saja bicarakan itu, selesaikan urusanmu dulu!"
"Baiklah kalau begitu." Rani menunduk patuh.
"Ustadz, aku sudah selesai." uca Rani menenteng tiga gamis set hijab degan satu yang telah ia pakai.
"Baiklah."
"Mbak, Mbak...." Ustazd Sholeh memanggil seorang pelayan wanita.
"Ini yang mana Mas?" tanya seorang pelayan melihat Rani yang menenteng begitu banyak gamis.
"Semuanya. Berapa semuanya?"
"Semuanya?" Teriak Rani tanpa sadar dan langsung menutup mulutnya karena mengagetkan Ustadz Sholeh.
"Hehe, maaf Ustadz. Apa ngak satu aja nih, kebanyakan kalau semuanya."
"Jangan menolak reslzeki."
"Aaaa." Rani masih ingin berkata namun ia urungkan.
"Baiklah, berapa semuanya Mbak?"
"Sebentar ya Mas, dihitung dulu."
Pelayan itu pergi membawa tiga gamis dan membungkusnya karena yang satunya sudah resmi di pakai pemiliknya.
"Semuanya delapan ratus lima puluh ribu Mas." Pelayan itu mengulurkan paper bag berisi tiga baju.
"Delapan ratus lima puluh ribu? Ustazd itu terlalu mahal." Ucap Rani keras.
"Bisa ngak kamu kalau bicara volumenya dikecilin dikit. Semua orang disini punya kuping yang masih berfungsi normal."
"Oh.. ya maaf. Keceplosan. Ustadz uang sebanyak itu hampir setara dengan ongkos makanku selama sebulan."
"Bisa di bayar pakai debit?" Ustazd Sholeh berbicara pada pelayan tanpa menghiraukan Rani lagi.
"Bisa Mas, kesebelah sana ya." pelayan membawanya ke meja kasir yang bisa menggesek kartu debit.
"Pinnya Mas, silahkan!"
Ustazd Sholeh mengetik pinnya dan pelayan mengembalikan lagi kartu debitnya.
"Trima kasih Mas, belanja lagi di sini ya Mas." ucap kasir wanita.
Ustazd Sholeh hanya tersenyum menanggapinya.
Tapi para pelayan memandang Rani dengan tatapan sinis yang membuat ia tidak nyaman, namun memandang Ustazd Sholeh dengan mata berbinar layaknya harimau yang langsung mau menerkam sasarannya.
"Bukankah wanita itu datang dengan pakaian seksi tadi?" ucap Sang kasir.
"Iya, sepertinya mereka hanya ingin berkedok saja." jawab sang pelayan
Hanya Maharani yang dibelakang Ustadz Sholeh yang mendengar percakapan itu, sedangkan Ustadz Sholeh berada di depannya dengan sibuk melihat layar ponselnya.
"Dasar penggosip, dilaporin sama Boss kalian baru tahu rasa kalian." Rani berbalik demi mengatakan itu, sementara Ustadz Sholeh masih tidak menoleh.
Kasir dan pelayan hanya tertunduk merasa telah melakukan kesalahan yang bisa mengancam hidup mereka.
"Bukankah kalian tahu pembeli adalah raja, beraninya kalian menggunjingkannya sebelum dia menghilang. Apa kalian sengaja agar aku mendengar semuanya hah?"
"Maaf Mbak ada apa ini?" Seorang ibu paruh baya dengan gamis bunga menghampirinya. Rani yakin itu adalah Boss di butik ini.
"Ngak apa-apa kok Buk, urusannya udah selesai. Tapu akan terulang jika mereka mrlakukannya lagi."
"Waduh, saya mohon maaf ya Mbak kalau ada yang menyinggung perasaan Mbak, saya akan menegur mereka."
"Baiklah, terima kasih Buk. Saya pergi dulu."
"Ya Mbak."
Maharani menoleh seorang ibu paruhbaya tadi menegur anak buahnya dengan lembut. Wanita yang lembut, sama seperti ibuku, pikir Rani.
"Mmm, kemana dia?" Ustadz Sholeh mencari setelah hampir membuka pintu mobil dan baru menyadari jika Rani sudah tidak ada di belakangnya.
"Jangan-jangan dia kabur, secara dia kan hanya terpaksa ingin menikah denganku." Ustazd Sholeh membuka mobil dan menaruh paper bag tadi di sana, ingin kembali demi mencari Maharani.
Namun ketika ia mendongak setelah menutup kembali pintu mobil,
"Kenapa ditutup lagi, bukannya mau masuk?" Rani sudah berada berseberagan dengannya hendak membuka pintu mobil yang baru saja berbunyi alarm penguncinya.
"Dari mana?"
"Ngak, ngobrol sedikit sama anak-anak butik tadi. Siapa tahu bisa di ajak berteman.
"Oh.. ya udah. Masuk yuk." ucap Ustazd Sholeh saat ia telah membuka kembali kunci mobilnya.