“Rani…” ibunya berteriak di depan pintu.
Sedari tadi ibunya tengah mengawasi gerak gerik orang di depan pintu pagar rumahnya. Sedikit pangling karena Rani kini tengah memakai hijab dengan busana syar’i.
Rani tersenyum menatap ibunya dari kejauhan, perlahan matanya mulai berkaca-kaca seiring dengan langkah kaki pelan memasuki pagar halaman rumah.
“Ummi,” ia mencium tangan ibunya yang kini juga menitihkan air mata sama sepertinya.
“Rani,” ucap ibunya seolah tak percaya jika anaknya sekarang pulang ke rumah setelah sekian lama tidak pernah menampakkan wajahnya di depan kedua orang tuanya.
mereka berpelukan dengan haru, hingga ustadz Sholeh juga hampir menitihkan air mata melihat mereka yang sepertinya sangat saling rindu selama ini.
“Rani,” ayahnya keluar mendengar suara di depan.
“Abi,” Rani mencium tangan ayahnya, ia membalik tangan ayahnya hingga mencium telapak tangannya juga. Tangan hangat yang sudah lama tidak mengusap kepalanya lembut seperti biasanya.
“Rani, masya Allah.. sekarang kamu berhijab Nak. Masya Allah anak bapak makin cantik kalau pakai hijab,” ucap ayahnya tersenyum penuh kegembiraan melihat anaknya sepertinya banyak berubah.
Dulu mereka sering menasihati anaknya untuk selalu memakai hijab kemanapun Rani pergi, tapi ia sering abai dengan nasihat orang tuanya.
Rani tersenyum canggung dengan anggapan salah orang tuanya, sedangkan ustadz Sholeh masih terkesima melihat kedua orang tua Rani yang ternyata terlihat seperti orang yang sangat paham agama.
“Eh.. siapa ini Nak?” ucap ibunya melirik ustadz Sholeh.
“Assalamu’alaikum Pak, Buk,” ustadz Sholeh mencium tangan ayah Rani lalu menangkupkan tangan sembari tersenyum pada ibunya Rani.
“Wa’alaikum salam,” sahut kedua orang tua Rani.
“Namanya Ustadz Sholeh Mi, Bi. Beliau….” Rani terdiam seperti memikirkan sesuatu, ia bahkan tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang orang yang baru beberapa hari ini ia kenal.
“Saya seorang guru Pak, Buk,” ustadz Sholeh menimpali karena melihat Rani yang kebingungan.
“Panggil Ummi dan Abi saja! Mari masuk Nak,” sahut ibunya Rani.
“Ya, Ummi, Abi.”
Mereka masuk dan dipersilahkan duduk oleh kedua orang tua Rani, sementara ibunya ke dapur untuk membuat minuman.
“Rani, ini punya kamu,” ustadz Sholeh mengangkat paper bag belanjaan mereka tadi di butik.
“Oh,… makasih ya Tadz,” Rani mengambilnya lalu berjalan menuju ruangan yang begitu ia rindukan, apalagi kalau bukan kamarnya sendiri.
“Kamu Ustadz? Mengajar di sekolah negri, swasta atau yayasan?”
“Yayasan Bi, Pondok Pesantren.”
“Oh… Pondok pesantren. Wah, Rani beruntung ya bisa kenal orang seperti kamu di sana. Kalau tahu dia bergaul dengan orang seperti kamu dan berubah menjadi lebih baik seperti sekarang kami ngak perlu sekhawatir ini sama dia selama bertahun-tahun.”
Ustadz Sholeh hanya tersenyum, ia tidak ingin mengungkapkan perihal mereka yang baru saling mengenal. Ia tahu Rani pasti begitu takut jika orang tuanya akan tahu tentang kisah masa lalunya yang gelap. Walaupun bisa dibilang Rani hanya baru melewati kisah masa lalunya satu garis, Rani bahkan belum sempat membuang masa lalunya dalam waktu dua puluh empat jam, belum juga satu hari meninggalkan tempat kelam itu.
“Lagi ngobrol apa? kayaknya serius amat,” ibunya tiba dengan membawa minuman dan biscuit.
“Ngak juga kok Mi,” sahut ustadz Sholeh.
“Ayo di minum dulu, kayaknya haus dari perjalanan jauh,” ibunya Rani menaruh minuman di depan ustadz Sholeh.
“Iya Ummi,” ustadz Sholeh meneguk minuman sedikit.
“Oh ya, tadi Sholeh sama Rani udah makan belum? Kalau belum bisa Ummi siapin dulu.”
“Ngak usah repot Ummi, udah makan kok tadi di jalan.”
“Oh.. gitu.”
“Krek…” semua menoleh saat Rani membuka pintu dan keluar dari kamar.
Rani habis mandi dan telah berganti pakaian, ia tetap memakai hijab namun dengan pakaian lebih santai. Di kamarnya banyak koleksi jilbab, jadi tidak perlu gelabakan jika harus tiba-tiba berganti busana.
“Rani, udah mandi Nak. Sini duduk Sayang!” ibunya yang duduk di sofa panjang bergeser sedikit member ruang untuk Rani duduk.
“Gini Abi, Ummi…. mumpung Rani udah duduk di sini. Saya mau langsung aja membicarakan maksud kedatangan saya membawa Rani ke sini,” menebak apa yang akan dikatakan ustadz Sholeh dalam pikiran kedua orang tua Rani membuat kedua orang tuanya saling melirik.
“Hem… ya silahkan, sampaikan saja!”
“Saya kesini mau mengkhitbah anak Ummi dan Abi jika Ummi dan Abi mengizinkan,” kedua orang tuanya pun saling berpandangan, dalam pikiran mereka bertanya satu sama lain.
“Ya… kalau Abi terserah pada Rani. Untuk hal ini kan yang akan menjalani Rani sendiri, jadi Abi merasa tidak berhak untuk memutuskan itu.”
“Lalu bagaimana dengan kuliahnya?” pertanyaan ibu itu sukses membuat Rani terbelalak.
Kuliah?
Kuliah yang sudah sejak lama Rani tinggalkan karena salah pergaulan.
“Kalau Rani tetap mau kuliah saya ngak masalah kalau dia melanjutkan setelah menikah.”
Rani lebih terkejut lagi dengan apa yang dikatakan ustadz Sholeh. Bagaimana mungkin ia bisa bicara setegas itu dan mengambil keputusan semantap itu sedangkan mereka baru saling mengenal satu sama lain. Ia bahkan belum mengetahui sama sekali tentang ustadz Sholeh selain dari bahwa dia seorang yang dipanggil ustadz.
“Wah itu bagus, kalau begitu seratus persen Ummi setuju. Hanya balik lagi keputusan ada sama Rani sendiri.”
“Rani gimana? Mau menikah sama Sholeh?” tanya Abinya pada Rani yang kini tengah menunduk.
Rani mengangguk begitu saja, entah apa yang mendorongnya untuk menganggukkan kepala tapi ia hanya menuruti kemauan hatinya yang mau mengangguk pertanda setuju.
Awalnya Rani hanya ingin dibebaskan dari tempat kelam itu dan membalas budi pada orang yang membebaskannya, itu pemikiran awalnya. Sebenarnya ia tidak yakin jika seorang ustadz mau menikah dengannya. Namun mendengar apa yang dikatakan ustadz Sholeh barusan membuatnya merasa tidak pantas dan kotor untuk seorang ustadz, namun ia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik dalam hidupnya.
Untuk sekarang Rani bisa menganggap jika menikah dengan ustadz Sholeh dan melayaninya dengan baik adalah sebuah balas budi yang setimpal.
**