Perjalanan Panjang

1137 Words
"Ustadz.. kita mau kemana?” tanya Rani disela perjalanan yang lengang. Karena kota kecil jadi bisa menyetir dengan leluasa tanpa macet. “Ke rumah kamu,” jawabnya dengan santai sembari menyetir, pandangannya lurus ke depan. “Hahahaha,” Rani tergelak, tak kuasa untuk menahan agar tidak terpingkal. “Kenapa kamu ketawa? Bukannya kamu minta dinikahi? Saya harus ketemu orang tuamu dulu sebelum menikah.” “Huahaha,” Rani makin tergelak. Ustadz Sholeh mengernyitkan dahi tidak paham mengapa Rani merasa ada yang begitu lucu padahal ia teramat serius. “Oke… anggap saja Ustadz serius nih. Terus emangnya Ustadz tahu rumah aku di mana?” Rani berhenti tertawa dan melirik ustadz Sholeh yang berbicara dengan fokus melihat jalanan didepannya. “Yang pertama. emangnya ada kelihatan bercanda di wajah saya? Dan yang kedua, makanya saya ajak kamu biar jadi petunjuk arah,” ucap Ustadz yang ketika berbincang tidak pernah sekalipun melirik Maharani. “Jadi Ustadz serius ini?” ucap Rani dengan penuh keterkejutan. Baginya menikah dengan seorang ustadz bagai mimpi siang bolong yang tidak akan pernah jadi kenyataan. “Balik lagi ke jawaban pertama, emang ada kelihatan bercanda di wajah saya?” “Hehe, Ustadz garing tapi lucu yah,” mengucap dengan berbunga-bunga. “Eh, tapi…” kata-kata Rani yang tesekat, ia tak bisa berpikir bagaimana ia bersanding dengan laki-laki suci sementara ia baru saja keluar dari lumpur dan masih penuh dengan noda. “Tapi apa?” “Ustadz… Apa tidak masalah dengan status saya?” tanya Rani dengan ragu. “Memangnya kenapa dengan status kamu? Atau kamu sebenarnya sudah pernah menikah dan menjadi janda?” “Ih… bukan itu maksud saya. Maksud saya adalah saya yang dulu tinggal di Bar dan bergaul dengan orang-orang yang yah.. begitulah,” Rani menjelaskan. “Astagfirullah, maaf ya. Saya kok bisa keceplosan ngomong kayak tadi.” “Biasa saja kali Tadz. Saya ngak tersinggung sama sekali.” Diam sejenak. “Ustadz ngak jawab pertanyaan saya?” ulang Rani. “Yang mana?” “Itu.. yang soal menikah sama orang kayak aku…” “Oh….” Rani menunggu kalimat selanjutnya, namun kalimat itu hanya skak sampai di situ saja. “Kok cuma oh sih Tadz?” “Ngak apa-apa. Asal Allah yang pilihkan, aku yakin itu yang terbaik,” jawab Ustadz Sholeh santai yang membuat Maharani melongo. Allah yang pilihkan? pertanyaan yang besar bagi orang seperti Maharani. Dalam pikirannya, mana mungkin Allah memilihkan orang seperti dia untuk laki-laki bagai tak tersentuh debu seperti Sholeh. * * “Ustadz STOP…” Teriak Rani. “Chiiittt…” rem mendadak menimbulkan bunyi antara perpaduan Roda dan aspal jalanan. “Kenapa?” Ustadz Sholeh celingukan mencari barangkali ada kucing yang hampir tertabrak di depan mereka. “Tunggu Ustadz.. perasaan ada yang salah deh,” Ucap Rani sembari berpikir. “Astaghfirullah… Apaan? Kamu jangan teriak sembarangan begitu, bahaya loh buat kita. Kalau kita berdua kecelakaan gimana?” Ucap Ustadz Sholeh hampir emosi, untungnya mengucap istighfar terlebih dulu. “Sebentar Ustadz, kata Ustadz kan tadi mau ke rumah saya.” “Ya.. terus…?” “Arah rumah saya bukan kesini Ustadz.” “Terus kemana?” “Kesono,” Dengan lugunya menunjuk kearah belakang. “Astaghfirullah, jadi kita udah jalan sejauh ini arahnya berlawanan?” “Begitulah…” Masih sok polos. “Kenapa kamu ngak bilang dari tadi Rani,” Ustadz Sholeh sedikit kesal namun tidak bisa marah. “Ya… Ustadz ngajak ngobrol terus, aku jadi lupa nunjukin arah. Lagian aku udah lama ngak pulang dan keluar sejauh ini. Jadinya ngak hafal lagi deh daerah ini,” ucap Rani memelas agar ustadz Sholeh tidak merasa kesal lagi. “Jadi kita putar balik nih?” untuk pertama kalinya ustadz Sholeh menoleh Rani selama ia menyetir. “Harus, kalau Ustadz ingin ke rumah saya.” Ia bukan amatiran hingga harus begitu fokus pada jalan yang ada di depan, bukan. Hanya saja ia merasa sangat berdosa karena hanya berdua saja dengan seorang wanita dalam mobil, dan yang pastinya yang ketiga adalah syeitan. Andai saja ia lebih sering menoleh dan berinteraksi tatap muka langsung maka akan hilang rasa canggung dan mulai terbiasa dengan wanita yang belum menjadi mukhrimnya, dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Bukan saja ia menghormati seorang perempuan yang ia sanjung sebagai makhluk yang bermartabat tinggi, namun ia juga tidak mau terjerumus dalam kubangan dosa. Ia hanya ingin terus meluruskan niatnya untuk menyelamatkan Maharani dan menghalalkannya seperti perintah yang selama ini selalu ada dalam mimpinya. * * Setelah dua jam lebih perjalanan dari kota mereka memasuki sebuah perkampungan. Di perjalanan mereka sempat singgah untuk melaksanakan sholat dzuhur di masjid pinggir jalan. Perkampungan yang telah banyak berubah dari beberapa tahun yang lalu semenjak Rani pergi merantau yang katanya mau kuliah. Sekarang kampungnya baru saja diaspal ulang, dulu pernah diaspal namun belum sebagus sekarang. Desa yang sudah tertata rapi dengan pagar yang di cat senada di pinggir jalan, semua berwarna hijau dan menyatu dengan alam. Jalan lingkar desa yang sudah di aspal juga, dulu jalan lingkar desa sudah ada namun belum diaspal. “Berhenti Tadz!” ucap Rani di depan rumah besar pinggir jalan yang pagarnya juga di cat dengan warna hijau. “Ini rumah kamu?” “Mmm,” Rani mengangguk. “Kalau kamu orang berada, kenapa kerja di tempat seperti itu? Bahkan dilihat dari rumah kamu, kamu tidak kekurangan suatu apa pun,” ucap Ustadz Sholeh memandang rumah besar namun bergaya rumah lama yang tidak di desain. Kalau sekarang mungkin orang-orang akan mengejek rumah itu seperti gedung sekolah, namun tetap saja membangun rumah yang besar perlu biaya yang ditafsir besar pula. Halaman rumahnya juga besar, ada satu buah mobil terparkir di garasi rumah. “Ceritanya panjang Tadz. Kalau saja aku tidak menjadi manusia yang bodoh dulunya, maka tidak akan terjadi hal-hal seperti sekarang.” “Oke,.. sekarang tunggu apa lagi? Ayo kita turun dan temui orang tua kamu.” Rani menunduk dan terlihat ragu. Ustadz Sholeh turun dan membukakan pintu mobil buat Rani. “Ayo!” ucap ustadz Sholeh ketika pintu mobil terbuka. “Rani.. masalah itu dihadapi. Mau sampai kapan kamu menghindar terus.” “Aku malu Tadz, udah lama ngak ngubungin orang tua, sekarang malah tiba-tiba saja pulang. Gimana kalau ketahun identitas aku selama tinggal di kota.” ucap Rani dengan takut. “Makanya harus kita hadapi dan cari solusinya. Saya akan bantu kamu dan akan tetap menikahi kamu meskipun selurus dunia mengenal kamu dengan pandangan tidak baik. Menikahi kamu seperti sebuah perintah buat saya.” Rani tersenyum menanggapi ucapan ustadz Sholeh, ia merasakan energinya yang hilang tadi telah kembali hanya dengan mendengar satu kalimat saja. ‘Saya akan tetap menikahi kamu meskipun seluruh dunia mengenal kamu dengan pandangan tidak baik,’ kalimat itu mampu membuatnya terbang keangkasa dan tidak lagi mau menapaki tanah yang penuh dengan kenyataan pahit karena dosa-dosa yang telah ia perbuat. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD