Aiden hendak pergi meninggalkan ruangannya. Belum sempat ia membuat lingkaran sihir, pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.
Pria itu kemudian berjalan menuju pintu kayu yang merupakan akses ke menara.
Aiden mengernyitkan dahinya saat mendapati Anne berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Gadis itu memainkan kedua jari tangannya.
“Maaf aku mengganggumu, Aiden. Orang tuaku, baru saja tiba. Dia ingin berbicara denganmu.”
Orang tua Anne?? Untuk apa? Aiden tak pernah berurusan dengan orang tua Anne. Lagi pula yang mengajukan permohonan perjodohan adalah melalui James.
“Mengenai pertunangan kita. Orang tuaku ingin mendengar sendiri pernyataan darimu.”
“Kenapa? Bukankah melalui James semuanya sudah cukup?” Aiden masih berusaha menolak. Ia merasa ada sesuatu yang janggal. Firasatnya mengatakan, ada yang tak beres.
“Tidak. Mereka bersikeras menemui mu.” Anne masih bersikeras membawa Aiden bertemu dengan orang tuanya. Meski tampak sekali kegugupan di wajah gadis itu.
“Merepotkan!” gumam Aiden.
Samar-samar Anne mendengar gumaman pria itu. Ia mengepalkan tangannya, menahan geram atas pernyataan Aiden yang tak pernah menghiraukannya.
“Di mana mereka sekarang?”
“Ikutlah denganku,” ujar Anne.
Aiden berjalan mengekori Anne di mana Anne berjalan di depannya. Pria itu berusaha bersikap biasa saja karena yakin akan bisa menghadapinya meski diriny sendiri.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang ada di bangunan itu, hingga tiba di sebuah ruangan yang Anne bilang adalah kamarnya.
“Kenapa kita ke kamarmu?” tanya Aiden.
“Mereka menunggu di dalam kamar. Tak mungkin bagi mereka menunggu di luar dan berkeluyuran di dalam menara penyihir ini, bukan?”
Pertanyaan Anne membuat Aiden menganggukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan Anne. Tapi bukankah mereka jarang menerima kedatangan tamu?
Meski demikian, mereka kemudian masuk ke dalam kamar gadis itu.
“Di mana mereka?”
Aiden mengedarkan pandangannya. Saat memasuki kamar gadis itu, dia merasa ada sesuatu yang tak beres. Ada energi sihir ya g seolah menahannya.
Belum sempat pria itu melepaskan energi sihir yang membuatnya tak bisa bergerak, sebuah hantaman melayang mengenai tengkuk pria itu. Hal itu membuat Aiden kemudian pingsan tak sadarkan diri.
***
Entah sudah berapa lama Aiden tak sadarkan diri. Tiba-tiba saja ia mendapati dirinya dalam keadaan terikat oleh tali sihir pada tangan dan kakinya. Tak hanya itu, mereka membuat sebuah pembatas untuk melemahkan kekuatan siapa pun yang ada di dalam ruangan itu.
Aiden merasa kekuatannya melemah. Meski ia merupakan seorang penyihir tersohor dengan kekuatan yang luar biasa, tetap akan kalah dengan mantra sihir yang saling menguatkan, yang menahan Aiden seperti saat ini.
Ternyata mereka yang menggunakan mantra sihir itu, diam-diam mempelajari ilmunya dari anggota akademi lain dengan penyihir pembimbing yang berbeda.
Seseorang akhirnya muncul di hadapan Aiden. Ia mengenakan sebuah topeng di balik jubah hitam yang orang itu pakai.
“Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menahanku seperti ini,” teriak Aiden yang cukup memekakkan telinga.
Kalau penyihir biasa, merka akan takut kepada pria itu. Namun, seseorang yang berjalan mendekati dirinya tak takut. Bahkan ia tampak percaya diri saat menghampiri dirinya.
“Apa yang kalian lakukan kepadaku?” seru Aiden lagi kepada orang itu.
Orang itu masih tak bersuara. Namun, Aiden bisa melihat orang itu tersenyum. Dan senyuman orang itu sangat Aiden kenal.
“Kamu, James?” Aiden memastikan.
Orang itu semakin tertawa terbahak. Ia kemudian membuka jubah dan topeng yang ia kenakan sebelumnya.
“Ini aku, Aiden. Anne,” ujar gadis itu sembari menyeringai.
Gadis yang memakai baju tipis yang tak seperti biasanya itu mendekati Aiden yang sedang tak berdaya.
Ia mendekat ke arah Aiden. Menggoda pria itu dengan memainkan jemari lentiknya di atas rahang tegas Aiden.
Aiden sedikit terkejut. Namun, ia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dari Anne. Hanya saja, ia masih berpikir, untuk apa Anne menahannya? Kenapa gadis itu melakukan hal seperti itu?
“Kenapa kamu menahanmu seperti ini?” tanya Aiden masih menahan diri untuk tidak menyakiti gadis itu.
Anne menundukkan kepalanya. Gadis itu memainkan kedua tangannya. Sementara Aiden mendapati rona merah di pipinya.
“Maafkan aku, Aiden. Aku hanya menginginkan kamu. Menginginkan kamu untuk diriku sendiri. Oleh karena itu, saat aku mendengar kamu menjaga Charlotte itu, aku tak terima. Bukankah aku tunangan mu? Kenapa kamu justru mengabaikan ku?” cecar gadis itu dengan tatapan matanya yang sendu.
Aiden tersentak. Ia tak pernah berpikir kalau Anne benar-benar menyukai dirinya. Selama ini ia tak pernah menghiraukan gadis itu. Ia selalu mengabaikan Anne karena berpikir bahwa perjodohan mereka bukanlah sesuatu yang mereka inginkan satu sama lain.
“Kamu tahu, Ann. Bukankah aku telah menolak perjodohan kita? Apa James tak menyampaikannya padamu?” Aiden berusaha melunak. Ia tak ingin Anne berbuat nekat dan membuat dirinya menyakiti gadis itu.
“Aku tak ingin perjodohan kita dibatalkan Aiden! Apa kamu tak pernah merasakan ketulusanku selama ini?” ucap gadis itu sedikit berteriak.
“Bahkan aku merelakan kebangsawananku hanya demi masuk ke akademi, supaya aku lebih mengenal kamu . Karena aku ingi lebih dekat denganmu. Tapi kenapa? Kenapa justru kamu memilih Charlotte padahal kamu tahu kalau Charlotte adalah milik pangeran William, bukan untukmu!” seru gadis itu sembari mengeluarkan air mata.
Ya, Anne akhirnya menangis. Ia kesal kepada Aiden yang tak pernah sedikit pun memberinya kesempatan untuk membuktikan kalau dirinya layak untuk pria itu.
“Bukankah kamu tahu kalau aku adalah seseorang yang tak menua?” Aiden berusaha berbicara dengan tenang agar gadis itu tak kembali histeris.
“Aku tak akan pernah menua kalau aku tak bertemu dengan seseorang yang sudah dituliskan akan menjadi pendamping hidupku.”
“Bukankah lebih baik kalau kamu tak pernah menua? Kamu bisa tetap abadi kalau kamu bersamaku, seseorang yang bukan dituliskan untuk bersamamu?”
Aiden menggeleng. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu.
“Aku tak ingin lagi melihat orang-orang pergi lebih dahulu daripada aku.”
Seketika Anne terdiam. Perkataan Aiden sungguh membuatnya tak karuan. Gadis itu mulai sedikit memahami Aiden. Ia tak ingin Aiden merasa sedih karena akan terus abadi kalau bersamanya. Tapi, dia tak ingin Aiden dengan orang lain. Terlebih apabila Aiden bersama Charlotte. Anne tak ingin Aiden disalahkan dan menjadi penyebab hal-hal yang akan menjadi perubahan besar ke depannya.
“Kenapa kita tak mencoba bersama lebih dulu?” pinta Anne pada akhirnya.
Sebuah pemikiran gila melintas begitu saja dari benak Anne. Biarlah ia tak bisa menjadi istri Aiden, menjadi pendamping hidup pria itu. Asalkan bisa memberikan dirinya kepada Aiden, ia akan merasa bahagia.
Gadis itu mengikis jarak dengan Aiden. Ia perlahan memainkan jemari lentiknya pada leher dan d**a pria itu. Berharap Aiden akan merasakan sesuatu yang bisa membuat pria itu melunakkan hatinya untuknya.
Biar saja ia tak menjadi istri seorang Aiden. Menjadi milik Aiden saja, akan menjadikannya cukup.
“Aku tak akan melepaskan mu, Aiden,” bisik gadis itu di telinga Aiden.