Aiden terkejut mendapati Charlotte yang ternyata sedang berganti baju tanpa dibantu oleh para dayang. Pria itu lupa kalau seharusnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu dan tak pantas jika menggunakan lingkaran sihir yang terhubung langsung ke kamar wanita itu.
Karena terkejut, Charlotte membuka mulutnya dan hendak berteriak. Hal itu membuat Aiden segera menghampiri gadis itu dan membungkam mulut gadis itu agar tak berisik. Meski ruangan itu sangat besar, tak ada peredam suara di dalamnya. Sehingga suara keras yang berasal dari dalam ruangan itu, bisa terdengar ke luar
Tindakan Aiden yang berniat membungkam Charlotte itu semakin membuat Keadaan semakin parah. Sebuah pilihan yang salah membungkam Charlotte dengan tangannya membuat Charlotte melakukan sebuah kesalahan.
Keduanya kini semakin dilanda kecanggungan. Di mana Charlotte tak mengenakan pakaiannya dengan sempurna.
Tak lama kemudian, Dayang Charlotte masuk ke ruangan itu. Dayang senior yang merupakan seorang wanita paruh baya berusia 35 tahun itu tanpa sengaja menjatuhkan nampan yang ia pegang karena terkejut mendapati pemandangan tak biasa di hadapannya.
"Ah, maaf, Yang Mulia," wanita paruh baya itu kemudian menutup kedua matanya dan berbalik menutup pintu yang terbuka.
Aiden sedikit terheran dengan dayang itu. Bukannya berteriak histeris atau menghalanginya bersama Charlotte, wanita itu justru seperti menutupi semua kesalahan Charlotte.
"Dia dayangmu?" tanya Aiden dengan tangan yang masih membekap Charlotte.
Charlotte mengangguk membenarkan. tak hanya itu, Charlotte menatap ke arah tangan Aiden yang masih membungkam mulut Charlotte.
"Ah, Maaf. Kalau begitu saya permisi." usai melepas tangan yang membungkam mulut Charlotte, Aiden kemudian berlalu. Ia pergi menggunakan lingkaran sihir yang ia buat karena gugup.
Melihat lingkaran sihir itu, Charlotte seperti tampak pernah mengenali Aiden. Entah mengapa ia merasa bahwa Aiden adalah seseorang yang ia kenal.
Charlotte berusaha kembali mengingat ingatannya yang ia rasa sedikit berkurang.
"Nyonya Louise, masuklah," ujar Charlotte yang ia yakini dayangnya itu ada di balik pintu besar ruangannya.
Wanita paruh baya itu berjalan menunduk sembari membawa nampan yang sedari tadi ia pegang.
Charlotte tersenyum ke arah wanita itu.
"Maaf," ujar Charlotte karena merasa bersalah membuat Nyonya Louise mendapati dirinya dengan Aiden.
"Saya akan menyimpan rahasia, Yang Mulia. Anda tak perlu khawatir," ujar Louise mengerti dengan kekhawatiran Charlotte.
Louise masih mengamati Charlotte yang wajahnya tampak gusar. Ia mendekat ke arah gadis muda itu.
"Ada apa, Yang Mulia? Apa ada sesuatu yang membuat Anda resah?"
Charlotte mengangguk. "Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Aiden. Aku merasa sangat familiar dengan pria itu. Sepertinya aku sudah lama mengenalnya. Tapi aku tak pernah bisa mengingatnya."
"Jangan dipaksakan, Yang Mulia," ujar Nyonya Louise.
"Apa Anda mengetahui sesuatu?" tanya Charlotte langsung tanpa basa basi.
Dengan pandangan menyelidik, Charlotte mengamati perubahan raut ekspresi wanita itu.
Wanita paruh baya itu tertunduk. Raut wajahnya berubah sedih. Seperti ada sesuatu yang telah ia sembunyikan.
"Apa Anda benar-benar tak mengingatnya, Yang Mulia?" tanya Louise kembali memastikan.
Charlotte menggeleng. Ingatan Charlotte yang asli tak pernah mengingat Aiden. Sedikit saja, Tak ada bayangan aiden di kepalanya.
"Sebenarnya, kalian berdua adalah teman yang begitu dekat sejak kecil. Bahkan sebelum Tuan Aiden diketahui sebagai seorang penyihir, beliau selalu menjaga Yang Mulia. Dia selalu bersama Yang Mulia kemana pun Anda pergi."
Pernyataan Nyonya Louise cukup membuat Charlotte terkejut.
"Apa mungkin Aiden menghapus ingatanku tentangnya?" tanya Charlotte lagi.
"Bukan," jawab Nyonya Louise sembari tersenyum.
"Tapi kenapa dia seolah tampak tak mengenaliku?" tanya Charlotte.
"Bukan beliau yang tak mengenali Anda. Tapi karena Anda yang Nyaris melupakan beliau," ujar wanita itu.
"Apakah Anda tak pernah ingat kalau Anda dulu pernah tak sadarkan diri berminggu-minggu? Ayah Anda sampai mengira Anda sudah tiada hingga akhirnya beliau sakit dan meninggal dunia.
Sebuah fakta yang cukup mengejutkan membuat Charlotte sedikit pusing.
Samar-samar Charlotte memang mendapat ingatan masa lalunya.
Dulu, saat dia masih berusia sembilan tahun, Charlotte pernah mengutarakan rasa sukanya kepada Aiden. Dia juga tak segan memberitahu Aiden bahwa dirinya akan menikahi Aiden saat gadis itu dewasa. Namun, yang menyakitkan adalah Aiden tak memberikan jawaban kepada Charlotte. Justru Aiden menganggap angan Charlotte hanya sebatas keinginan anak kecil yang tanpa Arti. Tapi sepertinya Charlotte merasa ada sesuatu yang Janggal.
"Kenapa Aiden hingga saat ini tak menua?" tanya Charlotte.
"Dan juga kenapa ingatan Aiden dengan aku yang merupakan Arabella, tampak lebih jelas dibanding ingatan Charlotte?" pikir gadis itu lagi.
"Apa dia tahu kalau aku akan ke dunia ini dan berada dalam tubuh gadis yang bernama Charlotte ini?"
Nyonya Louise terkejut. "Apa maksud Yang Mulia?"
***
Sementara itu, Aiden kini kembali ke ruangannya di menara penyihir.
Ia berjalan mondar-mandir dengan wajahnya yang memerah. Apalagi saat mengingat kembali apa yang beberapa saat lalu terjadi. Dia tak menyangka kalau pada Akhirnya ia melakukan kesalahan yang tak seharusnya ia lakukan.
Ah, entah apa itu sebuah kesalahan atau sebuah keberuntungan. Untuk pertama kalinya dia melihat tubuh Charlotte. Dan apakah mungkin William pernah melihat tubuh gadis itu?
William mendadak berubah frustrasi. Ada rasa tak terima saat membayangkan William menatap tubuh indah Charlotte yang tak seharusnya pria itu miliki. Meski William tak pernah menyentuh Charlotte, Aiden yakin pasti suatu saat William akan menggunakan cara licik untuk memiliki Charlotte.
Aiden tak rela. Aiden tak ingin orang lain memiliki Charlotte yang seharusnya miliknya.
Aiden berpikir bagaimana caranya agar William memutuskan hubungan mereka. Namun, memutuskan pernikahan antara mereka adalah sesuatu hal yang sangat sulit. terlebih Aiden tak memiliki kuasa di kerajaan itu. Meskipun bisa menghancurkan kerajaan Axias, Aiden tak ingin membuat citra Charlotte menjadi buruk.
Aiden mengacak rambutnya kasar.
"Harus bagaimana lagi aku memisahkan kalian?"
Aiden berjalan mondar mandir. Dia kembali berpikir begitu keras.
Pikirannya beberapa saat kembali ke beberapa hari lalu, saat ia menemui William. Ia teringat pada wanita yang bergelayut manja di lengan pria itu saat itu.
Amber!
"Oh iya, aku mempunyai ide," gumam Aiden.
Aiden teringat dengan gadis itu. Ia yakin Amber bisa membantunya dan mau diajak bekerja sama.
Aiden yakin kalau Amber memiliki tujuan yang sama. Namun, Aiden tak ingin Amber mencelakai Charlotte.
Meski Amber bisa menjadi seseorang yang akan menjadi solusinya, Amber juga bisa menjadi bumerang baginya.
Ia harus benar-benar merencanakan semuanya dengan sempurna. Memanfaatkan Amber akan lebih mudah dibanting mengkonfrontasi William secara terbuka.
Mungkin akan menjadi pilihan terakhir bagi Aiden kalau cara pertamanya tak berhasil.
"Cepat atau lambat aku akan memilikimu, Arabella," batin pria itu