“Silakan masuk, Paman. Ada apa Anda datang ke sini?” Charlotte tak beranjak dari tempatnya.
Terkesan tak sopan. Tapi Charlotte yang kini bukanlah Charlotte yang dulu. Gadis yang selalu dikendalikan oleh pria yang menjadi pamannya itu.
Charlotte mengingat dengan jelas bagaimana perlakuan sang paman yang sangat kasar kepadanya.
“Kenapa kamu tak mengantar Pangeran hingga ke depan?” Hardik sang paman.
“Apakah itu harus? Bukankah itu seharusnya kewajiban paman untuk mengantar kepergian Pangeran William?” jawab Charlotte dengan tenang.
Duke Rowney terkejut. Charlotte benar-benar berubah. Gadis yang dulu begitu takut padanya, kini dengan berani mengangkat kepalanya saat berbicara.
Bulir bening tiba-tiba muncul di pelipis pria yang tak lagi muda itu. Segala bentuk u*****n yang hendak ia lontarkan mendadak tak sanggup ia ucapkan. Kedua kakinya sedikit bergetar saat kedua matanya bertatapan dengan mata indah Charlotte yang tampak membara.
“Ma-maafkan paman. Seharusnya sebagai tunangan pangeran William, kamu mengantarnya saat ia hendak pulang,” ujar Duke Rowney tergagap.
“Apa Anda sekarang lupa dengan siapa Anda berbicara?” tantang Charlotte.
Duke Rowney kemudian menundukkan kepalanya. Kali ini dia mengalah, lebih tepatnya kalah. Dia tak ingin bertindak gegabah. Keinginannya sebagak mertua sang Pangeran masih belum tercapai. Pria itu lembali menekan emosinya dalam-dalam.
“Kalau tak ada yang perlu Paman sampaikan lagi, Paman bisa pergi. Aku perlu istirahat,” usir Charlotte tanpa basa-basi.
Pria itu kembali membulatkan matanya dengan mulut setengah terbuka. Tak menyangka kalau gadis yang dulunya penurut dan cenderung penakut, bisa seberani itu.
“Apa dia Charlotte yang selama ini tinggal di kediamannya?” pikir pria itu.
Tak ingin kembali berdebat, Duke Rowney akhirnya meninggalkan Kamar Charlotte.
Kini Charlotte kembali sendiri di ruangannya. Setelah kedatangan sang paman yang mengejutkannya, membuat rasa kantuknya sirna.
Charlotte berjalan ke arah balkon kamarnya, berdiri menatap langit yang tengah mengujinya. Sesaat kemudian, ia menatap ke arah kedua tangannya. Memperhatikan jemari lentik dengan potongan kuku yang selalu rapi, dan permukaan telapak tangan yang sangat halus. Berbeda dengan dirinya yang sebenarnya. Di mana sebelumnya ia adalah seorang pekerja kasar yang kedua tangannya bahkan lebih kasar daripada pekerjaannya.
“Entah ini sebuah keberuntungan atau kesialan saat jiwaku memasuki tubuhmu. Kita hanya memiliki sesuatu hal yang sama. Nasib sial dan balas dendam kepada seorang pria,” gumam Charlotte sembari menatap punggung tangannya yang ia angkat tinggi ke udara.
“Aku akan membantumu membalaskan rasa sakit hatimu di masa lalu,” lanjut gadis itu lagi.
Beberapa saat kemudian, Charlotte mendengar suara ringkik kuda. Gadis itu mendapati sebuah kereta yang baru saja tiba.
Tak lama, pamannya memasuki kereta kuda itu kemudian berlalu meninggalkan kediamannya.
“Mau pergi ke mana pria itu?” gumam Charlotte.
***
Hari sudah berganti malam. Charlotte belum menemui pamannya lagi sejak pria itu pergi meninggalkan kastilnya.
Tak seperti biasa pria itu belum kembali saat malam sudah gulita. Biasanya sebelum makan malam, pria itu sudah tiba. Ah, kenapa Charlotte mengkhawatirkan pria itu?
Bukankah itu hal bagus kalau pria licik itu tak kembali?
Saat malam mulai sedikit larut, Duke Rowney akhirnya tiba. Pria itu tampak kelelahan usai melakukan perjalanan. Sepertinya pria itu baru saja datang dari istana. Apa mungkin Raja memanggilnya? Atau mungkin Pangeran William?
Saat Duke Rowney tiba di depan kamar Charlotte, pria itu tampak ragu. Tangannya masih tergantung di udara, belum berani mengetukkan tangannya ke arah pintu yang cukup besar itu.
Pria itu kemudian memanggil salah satu dayang Charlotte. Ia memberikan sebuah bingkisan yang sedari tadi ia bawa kepada dayang itu, berharap dayang itu memberikan bingkisan hadiah ditu kepada Charlotte.
“Katakan padanya. Ini adalah hadiah dari pangeran William. Dua hari lagi akan ada pesta di kerajaan. Dan Charlotte wajib datang karena dua hari lagi adalah pesta penyambutannya memasuki istana.” Duke Rowney mengutarakan pesan dari istana dengan sangat jelas.
Namun, pria itu masih tampak lesu. Seharusnya pria itu bahagia karena tak lama lagi keinginannya menjadi anggota kementerian sekaligus mertua putra mahkota akan terwujud.
Apa yang terjadi di istana sebelumnya?
Usai memberikan bingkisan itu, Duke Rowney meninggalkan wilayah kamar Charlotte. Dayang dari gadis itu pun mengetuk pintu, menyampaikan pesan yang ia terima dari sang paman.
Charlotte mengernyitkan dahi. Kenapa secepat itu?
Padahal baru tadi pagi Charlotte mengajukan kesepakatan. Kenapa pria itu seolah tak sabar dan mempercepat hari masuknya dia ke istana? Bukankah seharusnya ia memiliki waktu satu purnama?
“Apa yang direncanakan pria itu?” gumam Charlotte.
“Kamu boleh pergi. Kembalilah bekerja,” ujar Charlotte kepada dayangnya yang membawakan bingkisan itu.
Ah, entahlah.
Besok akan ia pikirkan lagi langkah apa yang akan ia ambil.
Charlotte membaringkan tubuhnya diatas pembaringan miliknya yang cukup luas. Tempat tidur yang begitu nyaman itu benar-benar membuat beban pikiran yang baru saja membebaninya itu sirna.
Gadis itu menatap langit-langit kamarnya. Padahal baru saja ia tiba di dunia ini, kenapa harus menghadapi masalah serumit ini.
Hingga tanpa sadar gadis itu pun akhirnya tertidur.
Charlotte bermimpi sesuatu yang aneh. Dalam mimpinya, kilas balik masa lalunya seolah berputar kembali di hadapannya. Namun, bedanya adalah ada seorang pria yang menemukan dirinya, bahkan pria itu yang menyelamatkan dirinya. Tak hanya itu, dalam mimpi gadis itu, menampakkan bahwa sebelumnya ia dan pria asing adalah sepasang kekasih yang harus terpisah. Dan sayangnya pria yang ada dalam mimpi Charlotte bukanlah Pangeran William.
Dalam mimpi, Charlotte hanya tahu postur tubuhnya. Ia tak dapat mengenali wajahnya, karena tiap kali Charlotte menatap wajah pria itu akan merasa silau karena cahaya luar biasa dari wajah pria itu. Namun, Charlotte merasa bahwa dia mengenalnya. Postur tubuh pria seperti itu pernah Charlotte temui.
Ah, tidak mungkin!
Pria menyebalkan itu adalah seorang penyihir. Menurut peraturan di kerajaan itu, seorang penyihir tidak diperkenankan menikah dengan rakyat biasa. Maksud dan tujuan dari pihak kerajaan sebenarnya bagus, yakni agar kekuatan sihir mereka tak memudar hanya karena menikahi penduduk yang tak memiliki sihir apa pun. Hanya saja, pernikahan antara sesama penyihir sangat jarang sekali. Bahkan beberapa dari mereka malah enggan menjalin hubungan romansa. Jadi sangat tidak mungkin penyihir itu.
Pikiran Charlotte terus menyangkal itu.
Tanpa Charlotte sadari, setiap kali gadis itu memikirkan Aiden, permata biru yang merupakan liontin kalung yang dikenakannya menyala.
Kalung itu seolah menyampaikan pesan kepada Aiden bahwa hati Charlotte berdetak untuknya.
Seorang pria tampak tersenyum. Ia tak menyangka kalau waktu yang ia tunggu akan segera tiba.
Aiden tak ingin kalah dengan William yang tiba-tiba memajukan hari di mana Charlotte akan memasuki istana. Aiden menyusun rencana bagaimana membuat wanitanya selalu aman dalam jangkauannya. Meski ia tahu hal itu akan sangat rumit saat mengingat ia akan berhadapan dengan siapa.