Charlotte yang berbeda (2)

1103 Words
Keesokan harinya, kediaman Duke Rowney tampak begitu sibuk. Banyak orang berlalu-lalang keluar masuk kediaman Duke itu. Para dayang dan maid lainnya saling bantu membawakan barang-barang yang masuk untuk dicoba oleh Charlotte. “Bagaimana dengan yang ini?” Seorang dayang menunjukkan sebuah gaun berwarna kuning di hadapan Charlotte. Gadis itu kemudian memindai gaun itu dari atas hingga bawah. Cantik! Namun entah mengapa menurut Charlotte gaun itu tidak menggambarkan karakternya. “Kalau yang ini?” ujar seorang pria berkacamata yang diketahui adalah desainer gaun itu. “Ini adalah gaun terbaik yang bertabur berlian di atasnya. Gaun ini adalah buatan tangan kami yang paling bagus.” Dayang Charlotte membawakan gaun berwarna biru gelap mendekat ke arahnya, gaun yang ditunjukkan oleh sang desainer sebagai gaun terbaik. Gaun yang luar biasa! Bukan karena berlian yang bertabur di bagian rok gaun itu. Akan tetapi gaun itu memang cantik karena tampak seperti langit malam berbintang. Ah, apakah di dunia ini mereka memgenal sesuatu yang bernama payet? Atau berlian imitasi, mungkin? Ingat Charlotte ... Kamu kini hidup di dunia mana! Charlotte mendekat ke arah gaun itu, memindai setiap bagian gaun yang benar-benar tanpa cela. Seolah ada sihir di setiap bagiannya. “Siapa yang membuat gaun ini?” tanya Charlotte tanpa mengalihkan pandangannya dari gaun biru itu. “Emm. Bolehkan kami tak menjawabnya? Karena hal itu merupakan sebuah perjanjian rahasia.” Sang desainer tampak menunduk. Ia tak bisa memberitahukan kepada Charlotte akan pembuat gaun karena ia sebelumnya telah berjanji tak membocorkan rahasia bahwa orang lain memang sengaja memberikannya untuk Charlotte. Gadis itu menatap tajam pria berkacamata itu, berusaha menekan sang desainer untuk mengungkap siapa orang yang membuat pakaian indah itu. “Maafkan kami, Yang Mulia,” ucap Pria itu sekali lagi dengan membungkukkan badannya. “Baiklah. Sekarang apa lagi?” Charlotte kembali menatap ke arah barang-barang yang dibawa oleh orang-orang masuk ke ruangan besar itu yang memang mereka siapkan untuk Charlotte pilih. Beraneka macam gaun, sepatu, dan aksesoris lainnya tertata rapi di ruangan itu. Etalase berpuluh-puluh toko tampak seolah dipindahkan oleh mereka ke kediaman Duke Rowney. Charlotte memilih sebuah sepatu dengan warna silver dengan ukuran kakinya. Gadis itu memadankan gaun tadi dengan sepatu silver itu. Terlalu berkilau! Memang benar pesta yang akan diadakan esok hari adalah pesta untuk dirinya. Dia memang harus menjadi yang terbaik di pesta itu. Namun, bukan berarti harus menjadi pusat perhatian karena silau. “Bagaimana dengan sepatu ini, Yang Mulia? Dan juga hiasan ini. Mereka tampaknya akan cocok untuk anda pakai saat pesta.” Sebuah sepatu berwarna transparan juga sebuah ornamen berkilau yang tampak seperti bintang fajar, membuat Charlotte jatuh cinta pada benda itu dalam pandangan pertama. Charlotte pun mencobanya. Indah! Sempurna! Charlotte yang dasarnya memang cantik, tampak semakin cantik dengan gaun itu. “Aku akan memilih gaun ini,” ujar Charlotte sembari mematut dirinya di depan cermin besar tak jauh darinya. Charlotte kemudian melepaskan gaun yang baru saja ia coba, berikut pernak-perniknya untuk disimpan dan dikenakan keesokan hari. Kabar mengenai warna dan pola gaun yang akan dikenakan oleh Charlotte tersebar luas. Bukan! Mereka mendapat kabar itu bukan untuk meniru warna gaun atau bahkan bentuk gaun yang sama. Para wanita di sana yang mengetahui warna dan bentuk gaun dari sang Putri Mahkota harus memakai gaun yang berbeda baik dari segi warna apalagi motif. Menggunakan sesuatu yang sama dengan salah satu anggota kerajaan merupakan sebuah kejahatan yang akan mendapat hukuman berat, dipenjara di bawah tanah. Tak ada satu pun penduduk yang berani menentang peraturan itu. “Baiklah. Apa masih ada lagi?” tanya Charlotte usai berganti pakaian. “Sudah cukup, Yang Mulia. Kalau begitu,kami akan berkemas,” ujar Desainer itu lagi pamit undur diri. Para dayang membantu pria itu beserta orang-orangnya untuk membereskan kekacauan yang mereka buat sebelumnya. Sementara Charlotte berjalan meninggalkan mereka menunu balkon kamarnya. Ia butuh udara segar. Entah mengapa udara di dalam ruangan tadi sangat menyesakkan dadanya tanpa sebab. *** “Sudah aku duga, kamu akan memilih gaun itu, Ara,” ujar Aiden sembari melihat pantulan sihir di mana ia bisa melihat apa yang terjadi di kediaman Duke Rowney. Bahkan dia sengaja memperhatikan Ara dan tak mengalihkan pandangan dari gadis itu. Ya, gaun berwarna biru pekat itu merupakan gaun yang sengaja ia kirim untuk Ara. Gaun itu memiliki kekuatan magis yang nantinya bisa menjaga Ara dari hal-hal buruk. Aiden ingin terus menjaga Ara meskipun ia tak bisa mendekat. Setidaknya perlindungan dirinya akan gadis itu melekat. “Apa yang kamu lakukan Aiden?” Anne tiba-tiba saja masuk ke ruangan Aiden tanpa permisi. Aiden menghela napas kasar. “Sudah berapa kali aku memperingatkan kamu agar permisi dahulu sebelum memasuki ruangan orang lain?” hardik pria itu. Aiden cukup terkejut melihat Anne yang memergoki dirinya membuat pantulan sihir yang menyerupai kamera pengawas itu. Dia tak ingin Anne berbuat sesuatu yang buruk pada Ara. Aiden tak ingin Anne bertemu dengan Ara sebelum Ara ingat siapa dirinya yang sebenarnya. Anne adalah seorang gadis yang keras kepala. Status kebangsawanannya yang tinggi, membuat gadis itu sangat sombong. Padahal Aiden bisa saja menghancurkan keluarga Anne. Meski Aiden tak bisa melakukannya karena akan melanggar aturan penyihir menara. “Kamu bukan sedang memata-matai aku, bukan?” goda Anne menyenggol bahu Aiden. Aiden justru meninggalkan gadis itu tanpa berkata-kata. Dan seperti biasa, Anne mengentakkan kakinya karena kesal. Seperti anak kecil. Anne penasaran akan siapa yang sedang Aiden perhatikan. Ia belum sempat melihat dengan jelas pantulan siapa yang tadi membuat Aiden menampakkan senyum menawan yang belum pernah Anne lihat selama menjadi seorang penyihir di menara itu. Anne adalah seorang gadis bangsawan yang memilih menjadi penyihir menara karena mengejar Aiden. Dulu ka merupakan teman dekat Pangeran William. Namun karena pangeran William harus mengemban status sebagai Putra Mahkota, calon penerus kerajaan, mau tak mau pria itu harus kembali ke kerajaan untuk belajar mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan. Sementara Anne masih terus mengejar Aiden yang mana sudah beratus-ratus tahun menunggu seseorang yang entah siapa, Anne tak pernah tahu. Anne sempat mengira kalau Aiden memiliki ketertarikan kepadanya. Namun akhir-akhir ini, melihat Aiden yang berulang kali meninggalkan menara, membuat Anne yakin kalau wanita yang mungkin akan menjadi pengantin Aiden bukan dirinya. Anne tahu bahwa Aiden adalah seorang penyihir berusia ratusan tahun dengan fisik yang tak pernah menua. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri dan membuat Anne begitu mendamba pria itu. Belum lagi ketampanan yang paripurna. Siapa pun yang melihat wajah Aiden, pasti akan langsung mengaguminya. Hanya saja yang bisa melihat pria itu hanya kalangan penyihir dan keluarga kerajaan saja. Aiden tak pernah sedikit pun ingin menampakkan dirinya kepada manusia biasa. Namun, siapa gadis beruntung yang akan menjadi orang yang memiliki pria itu? "Aku akan mencari tahu siapa wanita itu. Karena Aiden hanya boleh menjadi milikku," gumam Anne dengan kilat di matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD