Hari begitu cepat berlalu. Tanpa terasa waktu membawa Charlotte ke hari di mana dia akan memasuki istana. Semuanya terasa sangat cepat. Charlotte merasa dirinya tak beristirahat dengan baik di malam sebelumnya. Bayangkan saja, dini hari dia harus terbangun dan bersiap lebih awal sebelum berangkat ke istana.
Gadis itu berulang kali tertidur saat wajahnya sedang dirias. Beruntung Charlotte tak perlu mendapat riasan yang terlalu menonjol karena wajahnya yang sudah cantik secara alami.
“Sudah selesai, Lady,” ucap seorang wanita yang bertugas merias wajah dan menata rambut Charlotte.
Charlotte terjaga. Dia yang menikmati sedikit waktu tidur tambahannya sontak terjaga.
“Oh, sudah ya. Sekarang apa yang perlu aku kerjakan?” tanya Charlotte yang membuat dayang di sana sedikit kebingungan. Charlotte tampak bukan seperti Lady Charlotte yang mereka ketahui. Dia seperti Charlotte yang berbeda. Charlotte yang biasanya pendiam dan penurut, benar-benar berubah.
“Em. Sekarang waktunya berganti gaun, Lady,” ucap salah satu dayang yang sudah siap mengantar Charlotte ke ruang ganti.
Charlotte pun mengikuti salah satu dayangnya tadi. Dia menuju bilik lain di dalam kamarnya untuk berganti pakaian seperti pakaian yang telah disiapkan kemarin.
Usai berganti, Charlotte dihadapkan pada sebuah cermin besar di mana dia bisa melihat pantulan dirinya yang sudah siap untuk pergi.
Perjalanan menuju istana membutuhkan waktu yang tak sebentar. Oleh sebab itu keluarga Duke Rowney mempersiapkan Charlotte lebih awal agar pihak istana tak terlalu lama menunggu.
Acara yang biasanya berlangsung saat malam hari, entah mengapa saat ini diadakan saat pagi hari oleh pihak istana.
Perasaan Charlotte hari itu adalah hari yang tak biasa. Pihak istana tampak seperti sedang meminta pernikahannya dengan William dipercepat.
“Semoga saja firasatku keliru,” gumam Charlotte saat sudah berada di dalam kereta menuju istana.
Tak lama, iring-iringan Charlotte tiba di pelataran istana. Istana yang sangat megah dan tampak sangat kokoh sedikit asing bagi Charlotte yang beberapa kali memasuki istana pada malam hari.
Charlotte tak menyangka kalau istana itu tampak menakjubkan saat pagi hari.
Iring-iringan Charlotte ternyata sudah ditunggu oleh pihak istana. Pihak istana menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat luar biasa menakjubkan. Benar-benar seperti sebuah persiapan pernikahan.
“Apa mungkin?” gumam Charlotte.
Iring-iringan Charlotte diarahkan menuju paviliun barat. Di mana nantinya akan menjadi istana Charlotte sebagai permaisuri. Dan benar saja, di sana orang-orang sudah ramai berkumpul. Paviliun barat sudah dihias dengan ornamen serba putih dan juga bermacam bunga berwarna-warni. Di ujung sana, Charlotte bisa melihat altar pernikahan yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh pihak istana. Tak hanya itu, Pangeran William yang sudah siap lebih dahulu menyambut Charlotte dan menggandengnya menuju altar.
Firasat Charlotte benar. Pangeran William ternyata tak ingin menyiakan lebih banyak waktu untuk menggapai misinya. Bahkan dia rela menjebak Charlotte untuk menjalani pernikahan mendadak yang seolah semuanya sudah disepakati bersama.
Menyebalkan!
Mau tidak mau, Charlotte menikah dengan William saat itu juga. Sebuah seringai tipis terbit di wajah William. Pria itu merasa semua yang ia rencanakan akan selalu berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Meski membuat Charlotte kesal, ia tak peduli. William hanya ingin tujuannya menjadi penguasa selangkah lagi akan segera terpenuhi.
“Tak akan semudah itu kamu mendapat apa yang kamu mau.” Charlotte bergumam dalam hatinya.
Semua orang bersorak bahagia atas pernikahan Charlotte dan William.
Sementara itu, di tempat yang sama, ada dua orang yang tak suka dengan pernikahan dadakan yang sengaja direncanakan oleh William. Terlebih saat mereka sudah diresmikan sebagai pasangan suami istri.
Acara pagi itu akhirnya selesai saat siang hari.
Melelahkan!
Beruntung Charlotte tak ambruk di saat acara karena kurang istirahat. Dipaksa berdiri dan berdansa beberapa kali cukup membuat Charlotte pusing. Beruntung William mengizinkan Charlotte untuk pergi lebih dahulu, beristirahat di kamar yang nantinya akan menjadi milik Charlotte.
Setelah tiba di sebuah kamar yang luasnya sekitar lima kali lebih luas dari kamar miliknya, Charlotte merebahkan dirinya di sebuah ranjang besar di kamar itu.
Tanpa membutuhkan waktu lama, Charlotte pun akhirnya tertidur karena kelelahan.
***
Hari berganti malam. Sudah barang tentu, masih ada pesta lagi saat malam. Dan pastinya akan sangat melelahkan.
Dan di sinilah Charlotte sekarang. Duduk di sebuah kursi yang cukup besar yang terletak di samping kursi kosong milik William.
Sementara William? Usai upacara penobatan, kini pria itu justru berdansa dengan wanita lain di bawah sana, meninggalkan Charlotte yang kepalanya masih berdenyut karena belum siap menerima rangkaian acara yang begitu tiba-tiba. Sampai ia tak menyadari kalau sedari tadi Aiden berdiri di sampingnya. Mendampinginya menggantikan William yang bersenang-senang dengan orang lain di sana.
“Antarkan aku kembali ke kamar,” ujar Charlotte kepada Aiden. Ia mengira Aiden adalah dayangnya.
Dan Charlotte baru menyadari bahwa itu adalah aiden saat merasa genggaman orang yang ia kira dayang itu begitu besar dan sangat erat menggenggamnya.
“Kamu?” ucap Charlotte spontan.
Ia reflek menutup mulutnya dengan tangannya, menoleh ke sekitar takut ada orang lain yang mendengar suara keterkejutannya barusan. Aman!
“Mari saya antar, Yang Mulia,” ujar Aiden dengan wajah sendu.
Ya, Aiden sangat sedih mendapati William ternyata begitu cepat mengikat Charlotte menjadi istrinya.
Namun, bukan Aiden namanya. Jika tak bisa mendapatkan Charlotte, wanita yang ditakdirkan mendampinginya. Aiden pasti akan mendapatkan cara untuk membuat William meninggalkan Charlotte. Terlebih lagi William tampak mengabaikan Charlotte, memilih bersenang-senang dengan wanita bangsawan lain.
Charlotte kemudian meninggalkan aula diikuti Aiden. Pria itu mengawal Charlotte hingga kamarnya. Tangannya terkepal begitu kuat, menahan amarah karena dirinya yang merupakan seorang penyihir, didahului oleh orang lain dalam memiliki gadis yang berada di depannya kini.
Aiden berharap, William tak mendatangi Charlotte di malam hari.
Charlotte merasa aura di sekitarnya mendadak dingin saat Aiden bersamanya. Entah hanya perasaannya saja. Namun, Charlotte seolah tahu apa yang Aiden rasakan. Meskipun Charlotte belum memiliki perasaan apapun baik kepada William maupun kepada Aiden, gadis itu bisa merasakan sebuah kecemburuan yang begitu besar berasal dari Aiden.
“Terima kasih sudah mengantar saya,” ujar Charlotte saat dirinya sudah tiba di depan pintu besar kamarnya di istana itu.
Aiden hanya mengangguk. Meski ingin rasanya ia mengucapkan kalimat, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkannya.
“Apa ada yang ingin Anda sampaikan?” tanya Charlotte kepada Aiden.
Dengan ragu, Aiden mengangguk. Sebenarnya dia ragu akan apa yang hendak ia katakan.
“Katakanlah!” titah Charlotte kepada pria tampan di hadapannya itu.
Aiden mengangkat wajahnya. Di sana Charlotte bisa melihat raut kesedihan di wajah pria itu. Kesedihan yang teramat sangat dalam.
“Sebenarnya apa yang hendak saya katakan bukan hal yang penting. Mungkin tak pantas untuk saya katakan.”
“Apa itu?”
“Izinkan saya tinggal bersama Anda malam ini,” jawab Aiden pada akhirnya.