Dita merelakan paginya dengan bangun lebih cepat dari biasanya karena ada yang harus dia kejar hari ini. Faisal. Ya, Dita bertekad untuk mendapatkan jawaban dari Faisal. Mengapa laki-laki itu tidak mau menghidupkan telepon genggamnya, membalas semua chat-chat yang dia kirim, bahkan membiarkan waktu libur yang ia ambil berantakan. Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah Faisal harus memberinya penjelasan mengenai siapa gadis yang mengantarnya ke bandara siang itu dan apa hubungan di antara keduanya.
Dita menempuh perjalanan macet Jakarta dan langsung menuju kantor Faisal. Gadis itu sengaja tak menemui Faisal di apartemennya, karena tahu jika Faisal pasti sudah berangkat kantor sepagi ini.
Tiba di halaman gedung bank, tempat Faisal bekerja, Dita memarkir mobilnya dan menunggu. Dia tak melihat ada mobil Faisal di area parkir. Dita jengah. Dia menghubungi Faisal sekali lagi. Setelah berpuluh-puluh kali dia melakukan hal yang sama, hasilnya tetap sia-sia. Panggilan pertama tak tersambung. Dita kesal sehingga dia kembali menghubungi laki-laki yang sedang merajuk itu. Kali ini, Dita mengambil inisiatif untuk masuk ke gedung kantor Faisal dan meminjam ponsel salah seorang kenalannya yang merupakan teman Faisal. Rupanya, teman Faisal itu pun tidak tahu jika Faisal sudah mengganti nomornya.
Suasana mulai ramai di depan halaman bank. Dita nyaris putus asa, tetapi senyum gadis itu terbit ketika dilihatnya mobil hitam yang dikenalnya memasuki pelataran parkir kantor. Mobil Faisal. Dita segera masuk dan menunggu di dalam mobilnya. Faisal akan segera melakukan apel paginya.
Dari dalam mobil, Dita mengamati Faisal penuh rindu yang terselip penyesalan karena mengabaikan lamaran laki-laki itu.
“Maafin aku, Sal.” Dita bergumam lirih.
Jas hitam terlihat pas dikenakan Faisal, dipadukan dengan kemeja biru dan dasi hitam. Laki-laki itu masuk dengan senyum sumringah yang selalu tersuguh untuk para satpam dan office boy yang berpapasan dengannya.
Dengan lift, Faisal menuju lantai tiga, di mana ruangannya berada. Kegiatan rutinnya sebelum apel pagi adalah meletakkan tas kerja di atas meja, membuka tirai jendela ruangannya agar cahaya matahari pagi bisa masuk maksimal, kemudian menatap ke jalanan bawah yang ramai oleh para pekerja, ke mana pun tujuan mereka. Yang jelas, kepadatan jalan menjadi pemandangan rutinnya setiap pagi.,Laki-laki itu baru saja mengenyakkan tubuhnya pada kursi hitam, saat telepon kantor yang terletak rapi di atas mejanya berdering.
“Halo, selamat pagi.”
“Hei, Sal. Ini Dita.”
Suara itu membuat Faisal merasa marah. Laki-laki itu mengembuskan napas kesal. “Ada apa lagi, Dit? Ini masih jam kantor dan kamu nelepon di nomor kantor. Fasilitas kantor, seharusnya hanya untuk orang yang berkepentingan.”
“Sal, aku tahu ini telepon kantor. Tapi aku terpaksa hubungi kamu di nomor ini. Kamu lupa, kamu sendiri yang gak aktifin nomormu?” Dita membela diri.
Faisal mendengus. “Maaf, Dit. Aku rasa semua udah berakhir. Kamu sendiri yang mutusin lebih milih karirmu daripada hubungan kita. Aku gak punya alasan buat pertahanin hubungan kita di depan bapak sama ibuku.” Faisal berharap penjelasan gamblangnya itu bisa membuat Dita mengerti.
“Sal! Kamu omongin apa, sih? Kamu mau kita putus begitu aja, setelah semua yang kita laluin beberapa tahun ini?” Dita bertanya dengan nada tinggi, tak mau menerima keputusan Faisal.
Faisal kembali mendengus kesal. “Bukannya justru ini yang kamu mau?”
Dita tersenyum kering. “Aku curiga… jangan-jangan, undangan bapak dan ibumu hanya alasan buat lari dari aku. Biar kamu bisa jalan sama perempuan muda yang nganterin kamu ke bandara!” Dita tak bisa lagi menyembunyikan unek-uneknya. Gadis itu spontan mengatakan apa yang ada di kepalanya—sehubungan kejadian kemarin di bandara.
Faisal terkesiap. Menyadari Dita yang ternyata telah tahu tentang ia yang diantar Sekar ke bandara kemarin.
“Jangan salahin aku, kalau akhirnya aku nerima perempuan yang dijodohkan denganku, Dit. Kamu yang lebih dulu mengabaikan hubungan kita,” Faisal menjawab dengan nada tenang, seolah hubungan yang mereka bina beberapa tahun ini tak memberi pengaruh apa pun padanya.
Di dalam mobilnya, Dita melotot dengan kesal mendengar bagaimana tenangnya sikap Faisal padahal hubungan mereka terancam buyar berantakan.
“Sal! Apa maksud kamu dengan perjodohan itu? Aku gak mau dengerin penjelasan kamu di telepon. Aku bakal nunggu kamu di apartemenku nanti malam. Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus datang!”
Klik
Dita mematikan sambungan teleponnya dengan kesal. Wajahnya memerah. Dia melempar telepon genggamnya ke jok sebelah. Tangannya mengepal geram dan memukul kemudi dengan tak kalah kesal. “Aku gak akan biarin kamu memperlakukan aku seperti ini, Sal! Tidak! Selamanya kamu hanya untukku. Bukan orang lain,” Dita bergumam lirih, tetapi masih menyimpan amarah yang nyaris tak bisa dibendung. Dengan penuh kekecewaan dan kekesalan, Dita mengemudikan mobilnya keluar dari area kantor Faisal, melaju pelan dan berbaur kembali dengan lalu lintas Jakarta yang padat merayap. Hari ini pasti akan berjalan sangat lamban buatnya.
* * *
Pulang dari kampus, Sekar langsung ke sanggar. Sore ini geladi bersih sebelum pentas di alun-alun, dalam rangka gebyar ulang tahun kota. Panasnya matahari terasa menyengat kulit Sekar yang kuning langsat. Namun, itu tak menyurutkan semangatnya untuk tampil dengan sempurna. Setibanya di sanggar, gadis itu melihat Panca sudah stand by di sana. Panca terlihat sedang berbincang akrab dengan Rini, gadis manis yang masih duduk di bangku SMA. Selama ini Rini terkenal menyukai Panca. Dengan senyumnya yang sumringah, Sekar menghampiri mereka.
“Hei, Ca? Sudah lama datang?” Sekar menyapa ramah, sementara para penari lain yang sore ini juga mengikuti geladi bersih mulai berdatangan.
“Lumayan. Aku keluar kampus lebih awal.”
Panca menoleh sesaat dan tersenyum, tetapi senyuman Panca kali ini terlihat sangat hambar dan aneh, tidak seperti biasanya. Sekar mampu merasakannya, mengingat mereka sudah sangat lama berteman. Sementara Rini yang melihat kedatangan Sekar sedikit mencelus karena merasa kebersamaannya dengan Panca terganggu.
Mendengar jawaban singkat dari Panca, Sekar hanya tersenyum tipis dan mengangguk dengan canggung, kemudian berjalan meninggalkan mereka untuk berganti baju dengan kostum latihan sebagaimana biasa.
Sepeninggal Sekar, diam-diam ekor mata Panca melirik ke arah Sekar meski celotehan Rini masih terdengar riang di telinganya. Pikiran Panca tidak lagi terfokus pada celotehan Rini. Di kepalanya hanya ada satu hal: dia harus bertanya mengenai lelaki yang beberapa waktu lalu diantar Sekar ke bandara.
Geladi bersih siang ini berjalan dengan baik dan lancar. Pementasan dipastikan akan berjalan dengan sempurna. Sanggar sudah sepi. Seluruh penari sudah pulang karena mendung mulai menggayuti langit kota.
Panca mendatangi Sekar yang masih berada di ruang ganti. “Bisa kita bicara sebentar, Sekar?” katanya, ketika mereka selesai geladi bersih. Nada suara Panca terdengar sangat serius kali ini.
Sekar tersenyum menatap Panca, sementara mata Sekar celingukan mencari seseorang. “Rini di mana?” tanya gadis itu ketika mendapati Panca yang datang sendirian.
“Dia udah pulang duluan. Ada kepentingan mendadak katanya,” Panca menjawab acuh.
“Ooo.” Sekar mengangguk mengerti.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.” Panca mengingatkan Sekar.
“Apa yang mau kamu tanyakan?” tanya Sekar sembari melangkah pelan.
“Ada hubungan apa di antara kalian?”
Sekar mengernyitkan keningnya. “Siapa yang kamu maksud?”
“Kamu.” Panca menjawab dingin.
Sekar menggeleng, tak mengerti dengan sikap aneh Panca kali ini. “Aku ndak ngerti dengan apa yang kamu bicarakan.”
“Aku mengikutimu sampai ke bandara waktu itu.” Kalimat Panca sontak membuat Sekar terkejut dan menatap Panca dengan pandangan aneh. Untuk apa lelaki itu mengikutinya sampai ke bandara waktu itu, tentu saja itu pikiran pertama yang menghambur di kepala Sekar.
“Buat apa kamu menguntit aku ke bandara?” Sekar berjalan meninggalkan ruang ganti, menyusuri lorong sanggar yang menghubungkan antara ruang ganti dengan aula utama, tempat para penari berlatih.
Panca mendengus. “Tanpa bertanya, harusnya kamu tahu apa yang membuatku melakukannya, Sekar,” jawabnya dengan nada murung.
Sebenarnya Sekar tahu ke mana arah pembicaraan Panca, tetapi jelas dia tak mau mengotori persahabatannya dengan Panca.
“Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya.” Hanya itu jawaban singkat Sekar.
Tiba-tiba tanpa diduga, Panca menyentak bahu Sekar dan membuat gadis itu—mau tak mau—menghadap ke wajahnya yang sama sekali tidak ramah.
“Panca!” Sekar terpekik.
Dan sikap tak terduga selanjutnya adalah ketika Panca mendorong Sekar ke arah dinding lorong dengan paksa. Lalu, sekonyong-konyong laki-laki itu mencium bibir Sekar tanpa permisi, membuat Sekar gelagapan tak karuan hingga dengan sekuat tenaga dia mendorong Panca. Namun, tenaga gadis itu jelas tak sebanding dengan tenaga Panca. Dorongannya sama sekali tak berarti apa-apa buat Panca. Bahkan lelaki itu semakin brutal dengan ciumannya. Panca terus mencoba mencari bibir Sekar dengan bibirnya, menyecap rasa manis dan lembut yang selama ini selalu menghantui pikirannya siang dan malam.
Sekar panik—sangat panik—karena sanggar telah sepi. Ia memikirkan tak akan ada yang melihat kelakuan urakan Panca padanya. Dan ketika gadis itu merasa ada sedikit kans agar lepas dari Panca, dia menginjak keras kaki lelaki itu.
Panca terkejut dan kesakitan dalam waktu bersamaan. Lelaki itu terpaksa melepas ciuman paksanya dan meringis kesakitan. Tak menunggu lama, dengan napas memburu yang diliputi rasa takut, Sekar berlari meninggalkan Panca, tak peduli jika lelaki itu memanggilnya berulang kali.
Gema suara Panca masih terdengar ketika Sekar mencapai pintu pagar halaman sanggar. Gadis itu membukanya dengan tergesa-gesa kemudian berlari. Tanpa terasa, air matanya menetes saat mengingat bagaimana terhinanya dirinya dengan perlakuan Panca senja ini. Sebuah taksi yang kebetulan lewat, segera dihentikan Sekar. Gadis itu masuk ke dalam setelah menyebutkan alamatnya dan taksi pun melaju meninggalkan jalan sekitar sanggar. Dari kaca spion, Sekar masih bisa melihat Panca yang mengejarnya. Namun, Sekar tak akan sudi melihat laki-laki itu lagi. Cukup sudah perlakuan Panca yang mengkhianati persahabatan mereka.
* * *
Senja semakin temaram ketika Sekar sampai di rumah. Gadis itu mencoba menampilkan wajah sumringahnya ketika berpapasan dengan ibunya yang sudah berpakaian rapi.
“Ibu mau pergi?” tanya Sekar setelah mencium tangan ibunya.
“Ya.” Bu Rahmi mengangguk dengan wajah mendung.
“Ibu kelihatan sedih. Ada apa, Bu?” tanya Sekar lagi, penuh selidik.
Rahmi menggeleng, tetapi kemudian menatap Sekar. “Mandi, Nduk. Nanti habis magrib, kita harus ke rumah sakit,” katanya keruh.
“Rumah sakit? Siapa yang sakit, Bu?”
“Pak Puh Suryo kembali harus masuk rumah sakit.” Bu Rahmi menjawab dengan suara bergetar. Bagaimanapun, sebuah ketakutan besar kini melanda hatinya. Entah mengapa, perasaan tak lumrah itu masih saja bertakhta di hatinya.
“Baik, Bu. Tunggu sebentar, biar Sekar siap-siap sekarang” Sekar segera melupakan kelakuan menjijikkan yang dilakukan Panca padanya tadi. Ia segera ke belakang untuk berkemas.
Rahmi tak menjawab kalimat Sekar. Apa yang ada di kepala dan hatinya hanyalah perasaan cemas dan gelisah yang semakin menjadi-jadi. Kelebat bayangan Suryo yang terbaring sakit, seperti beberapa waktu lalu, segera membayang di matanya—juga ingatan-ingatan yang sangat jelas tentang Suryo muda yang demikian gagah dan tampan.
Tiba-tiba ingatannya berkelana pada masa yang telah lampau….
Rahmi memikirkan pemuda berdarah biru yang setiap hari ditemuinya karena mereka tinggal dalam rumah yang sama. Sebagai seorang saudara tiri, Suryo merupakan lelaki terbaik yang pernah ia kenal. Sikap sabar dan ngemong lelaki itu membuat Rahmi merasa sangat aman dan nyaman jika bermain bersama. Hingga tanpa disadari, perasaan tak wajar itu muncul begitu saja di hati Rahmi. Perempuan berparas anggun itu tak tahu kapan perasaan itu mulai muncul di hatinya. Yang ia tahu adalah dia merasa berdebar setiap kali mereka berdekatan saat belajar bersama. Juga perasaan tak nyaman ketika lelaki itu tak berada di rumah dalam waktu yang agak lama. Lalu, puncaknya ketika Rahmi merasa tak suka saat Suryo pulang ke rumah bersama seorang perempuan muda, bernama Ratri—yang kini menjadi istri Suryo—yang jelas demikian ayu di zamannya. Dan Suryo memperkenalkan perempuan ayu itu sebagai pacarnya, yang diterima dengan senang hati oleh keluarga mereka karena perempuan itu juga seorang gadis keturunan darah biru. Rahmi muda merasa hatinya tercubit nyeri.
Semenjak saat itu, Rahmi menjaga jarak dengan Suryo. Dia merasa perasaan yang dipendamnya itu memang salah dan tidak sepantasnya ada. Rahmi akan menjadi perempuan yang tak tahu diri jika mengikuti perasaannya. Suryo muda yang kala itu mulai merasa aneh dengan sikap Rahmi, sengaja menemui gadis itu. Ketika itu, Suryo pulang dari Sekolah Menengah Atas. Rumah sepi karena bapak dan ibu tirinya—yang merupakan ibu kandung Rahmi—sedang menghadiri pawiwahan yang digelar salah seorang tumenggung keraton.
“Rahmi?” Suryo menyapa Rahmi yang sedang memasak di dapur, membuat gadis itu terkejut.
Rahmi menoleh dan hatinya kembali melonjak ketika didapatinya Suryo sedang berada di belakangnya. “Astaga, sampean mengejutkan saya, Mas.” Rahmi memegang dadanya yang berdebar.
Suryo tersenyum. “Masak apa?”
“Sedang pengen masak bakmi. Njenengan purun?”
“Boleh.”
Kemudian Suryo duduk di kursi makan sambil membuka kembali buku sekolahnya, sementara Rahmi melanjutkan kegiatannya memasak sambil sibuk menenangkan hatinya yang gelisah. Setelah masakannya selesai, bakmi buatan Rahmi mereka santap dalam diam.
Suryo tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya ketika kemudian dia mengeluarkan suara. “Aku merasa beberapa hari ini kamu menghindariku, Rahmi. Apa ada sesuatu yang membuatmu tak ingin bertemu denganku?”
Rahmi terkesiap. Rona merah yang menjalari wajahnya segera disembunyikan dengan menunduk dalam. Dia tak ingin Suryo mengetahui perubahan wajahnya.
“Nggak ada, Mas. Kebetulan saya sedang banyak PR dari sekolahan.” Rahmi menjawab pelan.
Suryo menatap perempuan di depannya dengan sorot mata meneliti, mencoba mencari kejujuran dari wajah ayu Rahmi. Lalu, seketika Suryo membuang pandangannya karena Rahmi mendadak mendongak. Suryo juga tak ingin kepergok sedang menatap perempuan itu.
“Maaf, Mas. Saya ada PR….” Rahmi kemudian bangkit dari duduknya.
Suryo berdiri dan mencegah Rahmi meninggalkannya. Tangan kokoh laki-laki itu mencekal lengan Rahmi, memaksa berhenti. “Ada apa sebenarnya, Rahmi? Kamu bilang tidak menghindar, tapi kali ini kamu bahkan kembali menghindar. Apa aku berbuat kesalahan?”
Lagi-lagi Rahmi menggeleng dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Suryo.
“Apa kamu cemburu dengan Ratri?”
Pertanyaan Suryo membuat Rahmi terkejut dan menatap Suryo dengan pandangan horor. Rahmi kembali menggeleng. Kali ini gelengan kepalanya terlihat ragu.
“Ti-tidak. Saya tidak cemburu sama Ratri.” Rahmi menjawab dengan suara bergetar, menahan tangis yang tiba-tiba ingin keluar.
“Tapi kamu tidak bisa membohongiku, Rahmi. Aku melihat rasa cemburu dalam sikap dan tatapan matamu,” Suryo berkata lirih tanpa melepas cengkeraman tangannya pada lengan Rahmi.
“Mas salah menilai,” Rahmi menjawab dengan suara bergetar.
Suryo menggeleng. “Tidak, Rahmi. Aku tidak mungkin salah menilai,” ujar Suryo lirih. Tangannya beralih memegang sisi wajah Rahmi. Ia mendongakkan wajah Rahmi, sementara gadis itu tak berani menatapnya. “Lihat mataku, Rahmi.”
Dengan ragu, Rahmi mengalihkan pandangan matanya untuk menatap Suryo.
“Tatap mataku, Rahmi. Apa kamu tak merasakan apa yang sebenarnya kurasakan?”
Pertanyaan Suryo jelas membuat Rahmi menggeleng tak mengerti. “Apa maksud njenengan, Mas?” Rahmi memaksakan bibirnya untuk bertanya.
“Aku tidak tahu kapan rasa ini mulai ada di hatiku, Rahmi. Tapi yang pasti, aku selalu bahagia kalau di rumah ini ada kamu. Aku senang melihatmu sibuk berada di dapur, dan merasa kehilangan saat kamu menghindariku.”
Jantung Rahmi bergejolak dengan ungkapan jujur Suryo.
“Aku mencintaimu, Rahmi.”
Dan seketika Rahmi merasakan bahwa dunia ini mengecil, hingga menyisakan dirinya dan Suryo seorang.
Namun, satu kalimat dari mulut Suryo tiba-tiba menyadarkan perempuan itu dari tingginya lambungan. “Dan aku tahu, kamu juga menyimpan perasaan yang sama denganku. Tapi kita sama-sama tahu, Rahmi, kalau kita tak boleh menuruti perasaan, bukan?”
Lirih kalimat Suryo yang realistis dan sangat benar itu telah berhasil melempar Rahmi pada bebatuan cadas bernama kecewa. “Ya. Mas benar,” sahut Rahmi dengan nada kecewa, mencoba menyembunyikan air matanya yang nyaris runtuh. Kalimat Suryo menelanjangi hatinya. Perempuan itu kemudian melepas cengkeraman tangan Suryo. Dia bergegas meninggalkan laki-laki itu, memasuki kamar dengan luka yang menggores hatinya.
Suryo diam, membiarkan Rahmi pergi meninggalkannya. Suryo tahu Rahmi sakit hati. Namun, itu lebih baik. Jauh lebih baik daripada mereka terus-menerus memupuk perasaan yang hanya berujung pada sebuah kekecewaan yang nantinya semakin besar. Jelas-jelas hubungan mereka tidak akan mendapat restu dari siapa pun.
Dan sejak itu, Rahmi selalu berusaha menghindari semua yang bersinggungan dengan Suryo. Hingga ketika mereka lulus dari Sekolah Menengah Atas, yang kala itu hanya beberapa kalangan yang bisa menikmatinya, Rahmi berpamitan guna meneruskan sekolahnya di akademi tari dan memilih untuk tinggal di kost agar dapat menghindari Suryo. Tidak. Rahmi tidak ingin semakin kecewa ketika melihat Suryo tak bisa dimilikinya. Biarlah Rahmi yang menghindar, selagi dia bisa menghindar.
“Bu?” Panggilan Sekar yang sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit berhasil menyeret lamunan Rahmi untuk kembali ke realitas.
Rahmi tergagap.“Ya, Sekar?”
“Ibu melamun?”
Rahmi menggeleng. “Kita berangkat sekarang?”
Sekar mengangguk. Keduanya lantas bergegas meninggalkan rumah. Selama dalam perjalanan, hati dan pikiran Rahmi selalu penuh pertentangan. Di satu sisi dia tak mungkin menghindar dari menjenguk Suryo, tetapi di sisi lain, dia tak ingin rasa kecewa yang dulu menerpanya, kini harus kembali terulang. Rahmi tak punya pilihan. Ini etika berkeluarga.
* * *