SISI-SISI YANG TERLUKA

2673 Words
Senin pagi, Faisal baru saja selesai mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Jakarta, saat Raden Suryo ke kamarnya. “Lho, kok sudah berkemas, Sal?” tanya Raden Suryo ketika dilihatnya koper dan tas punggung sudah dijejer rapi di samping tempat tidur. “Saya harus kembali ke Jakarta, Pak. Besok sudah mulai kerja. Cuti yang saya ajukan juga sudah habis.” Raden Suryo menatap Faisal yang wajahnya tidak terlalu ceria pagi ini. “Bapak minta maaf jika lamaran semalam terkesan memaksamu, Sal. Bapak melakukannya karena ingin memenuhi amanah eyangmu,” Raden Suryo berkata dengan nada penuh penyesalan. Beliau kemudian berbalik, meninggalkan kamar anaknya. Faisal menatap kepergian Raden Suryo. Lelaki itu lantas menyusul jejak bapaknya yang sudah duduk di teras kecil belakang rumah yang berstruktur kuno. “Bapak gak bersalah. Kakek juga jelas gak bersalah karena beliau cuman ingin yang terbaik untuk anak-cucunya. Mungkin saya yang kurang pandai menyikapi keadaan saat ini. Mungkin saya butuh waktu, Pak,” kata Faisal. Raden Suryo hanya mengangguk. “Saya minta maaf kalau masih belum bisa menerima semua ini. Ini terlalu cepat dan mendadak buat saya. Saya butuh waktu untuk menyesuaikan diri, Pak. Saya tidak menolak, makanya saya harus belajar menerimanya.” Faisal kembali berkata lirih. Raden Suryo kembali mengangguk tipis. Sementara Bu Suryo yang mendengar dan menyaksikan obrolan kedua lelaki yang ia sayangi itu menjadi terenyuh. Ia tahu, beban amanah yang dipikul suaminya tidaklah ringan, dan kini Faisal yang harus memikulnya. “Apa kamu tidak mau pamit dulu sama Bulik Rahmi dan Sekar, Sal? Meski belum menikah, tapi semalam sudah ada kesepakatan di antara kalian. Akan lebih baik, kalau kamu pamit, Nak.” Bu Suryo membuka suaranya. “Apa saya harus ke sana, Bu?” tanya Faisal penuh keragu-raguan. Bu Suryo tersenyum, kemudian duduk di bangku depan suami dan anaknya. “Tidak harus, Sal. Tapi sebaiknya.” Faisal mengangguk. “Baiklah... saya akan mampir sebentar sebelum ke bandara.” Faisal lantas mengambil tas dan koper yang berisi pakaian yang ia kemasi tadi di kamarnya, kemudian memeluk dan mencium tangan bapak dan ibunya yang ikut mengantarkan kepergiannya di teras depan.   * * * Faisal kembali menyusuri jalanan dengan mobil bapaknya yang dibawa Pak Atmo, untuk mengantarkannya ke rumah Bulik Rahmi, sebelum ke bandara. Masih seperti dulu, tak banyak yang berubah di kota ini, demikian pikirnya. Dia begitu larut dalam nostalgia, sampai tak sadar jika sang sopir telah menghentikan mobilnya di depan rumah Bulik Rahmi. “Lho, Faisal? Sini, Nak… sini, masuk dulu.” Bulik Rahmi menyambut kedatangan Faisal saat dilihatnya laki-laki itu berada di depan teras rumahnya. Faisal langsung menjabat dan mencium tangan buliknya, sebelum duduk di kursi yang berada di teras. “Mau ke mana ini, Sal? Kok sudah rapi? Lah… itu Pak Atmo kenapa ndak disuruh turun sekalian?” Bulik Rahmi melongok pada Pak Atmo yang masih berada di dalam kemudinya, dengan mobil yang terparkir di depan teras. “Saya mau balik ke Jakarta, Bulik. Saya ke sini buat pamit sama bulik dan Sekar.” Bulik Rahmi tersenyum. “Oh, kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Bulik panggil Sekar dulu.” Ia segera masuk ke dalam rumah, mencari Sekar yang pagi tadi terlihat bermalas-malasan di kamar sambil menatap layar ponsel terus-menerus. “Sekar, ada Mas Faisal di depan.” Suara Bu Rahmi meskipun pelan dan lembut, tetapi mampu membuat Sekar terkejut. “Mas Faisal?” Sekar mengerutkan keningnya. “Iya, Nduk. Dia katanya mau balik ke Jakarta, jadi mau pamit dulu sama ibu dan kamu. Sana… temui Mas-mu.” Sekar bangkit. Hatinya berdebar, antara rasa segan dan malu yang tiba-tiba menghampiri ketika mengingat Faisal, kakak sepupunya itu, semalam melamarnya. Sesampainya di depan teras, Sekar melihat Faisal tengah duduk santai dalam balutan t’shirt berkerah putih. Bentuk tubuh laki-laki itu tercetak jelas, terlihat besar dan kokoh. Tiba-tiba hati Sekar berdesir. Untuk menghalau kecanggungan, Sekar menghampiri Faisal untuk menjabat dan mencium tangan laki-laki itu dengan takzim. Sesungguhnya Sekar merasa malu, tangannya sangat dingin dan berkeringat. “Sugeng rawuh, Mas. Dari mana tadi?” Sekar bertanya sebagai sambutan. Dia kemudian duduk di kursi sebelah Faisal. “Aku dari rumah. Rencananya mau balik ke Jakarta.” Sekar hanya mengangguk sambil menundukkan wajahnya. “Bisa mengantarku ke bandara?” tanya Faisal tiba-tiba. Sekar terkejut. “Ke bandara?” ulangnya. “Iya, diantar sama Pak Atmo.” Faisal menunjuk mobil bapaknya. “Nanti kamu pulang bareng sama Pak Atmo,” lanjutnya. Sekar terlihat ragu. “Biar aku yang izin sama bulik kalau kamu takut.” “Oh, tidak usah, Mas! Jangan. Biar Sekar saja yang izin sama ibu.” Sekar lalu buru-buru bangkit. Faisal hanya menatap Sekar yang berjalan terburu-buru ke belakang dengan senyum tertahan. Gadis itu masih seperti beberapa tahun lalu, yang duduk di bangku SMP dengan penuh keceriaan dan kesantunan. Tapi untuk membina rumah tangga dengan gadis yang baru lulus SMA dan baru masuk kuliah? Faisal mengeluh dalam hati ketika di kepalanya berkelebat bagaimana jika nanti Sekar manja dan tak bisa mengurus rumah tangga. “Benar kamu mau ajak Sekar ke bandara, Sal?” Bulik Rahmi kembali muncul di teras. “Iya, Bulik. Kalau bulik tidak keberatan,” jawab Faisal. Bulik Rahmi menggeleng. “Separuh hidup Sekar kini hampir menjadi tanggung jawabmu, Nak. Bulik percaya kamu akan menjaga Sekar. Dia harta warisan bapaknya yang paling berharga buat bulikmu ini, Sal.” “Ya. Saya akan menjaga Sekar,” jawab Faisal mantap, meski dalam hatinya gamang. “Terima kasih, Sal.” Tak lama Sekar muncul dengan pakaian yang sudah rapi. “Sudah siap, Sekar?” tanya Faisal sembari bangkit dari duduknya. “Iya, Mas.” Sekar menjawab pelan. “Kami berangkat dulu, Bulik.” Faisal kembali menjabat tangan Bulik Rahmi, begitupun dengan Sekar. Ada kelegaan luar biasa di hati Bulik Rahmi melihat Sekar mau memenuhi ajakan Faisal ke bandara. “Amanah njenengan sudah hampir selesai, Pak. Saya akan tenang menitipkan Sekar pada Faisal, kapan pun waktunya.” Bu Rahmi bergumam lirih, sembari memegang dadanya yang nyeri. Sementara di luar, Sekar berjalan bersisian dengan Faisal ke arah mobil yang terparkir di depan teras, di mana Pak Atmo sedang menunggu mereka. Sekar nyaris menggapai pintu mobil. Namun, ia mengurungkannya saat dilihatnya sepeda motor berhenti di dekat mobil Faisal. Sekar mengenal jelas, siapa pemilik sepeda motor itu. “Sebentar, Mas. Ada teman saya,” kata Sekar pada Faisal yang sudah lebih dulu duduk di jok tengah. Lalu gadis itu menghampiri Panca, si pemilik sepeda motor. Faisal hanya mengangguk dan membiarkan Sekar menemui temannya. “Hei, Ca. Mau ke rumahku?” Sekar menyapa ramah. “Ya. Tapi sepertinya kamu mau pergi?” Panca melongok ke arah mobil. Sekar menoleh ke arah yang ditatap Panca dan mengangguk. “Iya. Aku mau nganterin Mas Faisal ke bandara.” Panca mengerutkan kening. “Mas Faisal? Putra Pak Puh kamu yang kemarin, ‘kan?” Sekar mengangguk. “Iya. Mas Faisal udah harus balik ke Jakarta hari ini. Kita memangnya ada latihan, ya?” Faisal menggeleng. “Nggak. Rencananya aku mau ngajak kamu lihat pameran buku.” “Wah. Sebenarnya aku mau… tapi maaf ya, aku ndak bisa ikut. Aku udah ada janji buat nganterin Mas Faisal. Lain kali aku pasti ikut kalau kamu ajak lagi.” Panca tersenyum serasa mengangguk. “Tidak apa-apa. Kalau begitu, lain kali aku akan membuat janji denganmu lebih awal.” “Aku pergi dulu, ya? Sampai jumpa lagi, Ca.” Sekar kemudian meninggalkan Panca dan  memasuki mobil Faisal. Panca memandangi mobil itu sampai hilang di tikungan jalan besar. Firasat tak baik tiba-tiba mengisi hatinya yang mendadak kosong.   * * *  Sepeninggal Faisal, hampir satu jam sesudahnya, rumah Raden Suryo kedatangan sosok perempuan yang tak dikenal. Mbok Pariyem menghampiri tamu yang cantik dan berwajah bening itu. “Maaf, benar ini rumah Raden Suryo, Mbok?” Perempuan itu bertanya ketika Mbok Pariyem membukakan pintu pagar untuknya. Mbok Pariyem sejenak mengamati perempuan di depannya. Menebak-nebak keperluan apa yang mendasari kedatangan si perempuan. “Injih, Bu. Maaf, mau mencari siapa nggih?” tanya si mbok dengan kesantunan khas dirinya. Perempuan ayu dengan tubuh tinggi semampai itu tersenyum. “Saya mau bertemu dengan Faisal, Mbok. Faisal ada di rumah?” “Ooo… Ndoro Faisal? Tapi­­­—“ “Siapa yang datang, Mbok?” Suara Bu Suryo mengintrupsi dari belakang. Ia kemudian menghampiri tamu yang masih berdiri di depan pagar yang terbuka itu. “Ini, Ndoro Putri… ada yang ingin bertemu Ndoro Faisal,” jawab Mbok Pariyem santun, sambil beringsut untuk membiarkan Nyonya Rumah menyapa si tamu. Bu Suryo mengamati perempuan yang kini ada di depannya, seperti yang tadi dilakukan si mbok. Namun, setelah itu ia mempersilakan tamu itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu. “Silakan duduk dulu, Nak,” ajak Bu Suryo yang menunjuk salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Perempuan cantik itu mengangguk dan mengikuti ajakan Bu Suryo. Keduanya duduk berhadapan, sementara Mbok Pariyem melaksanakan tugasnya untuk menyediakan jamuan untuk menghormati tamu yang berkunjung. “Kalau boleh tahu, siapa dan ada keperluan apa mencari Faisal, Nak?” Bu Suryo bertanya dengan lembut, tanpa memberi kesan menyelidik. “Nama saya Dita, Bu. Saya teman dekat Mas Faisal.” Perempuan itu memperkenalkan dirinya. Bu Suryo kaget dan tidak percaya jika perempuan di depannya adalah orang yang sama dengan yang ingin diperkenalkan Faisal padanya. Tapi, kata Faisal, perempuan itu menolak untuk datang? Lalu, untuk apa ia ke sini sekarang, di saat Faisal sudah melamar Sekar? “Mas Faisal ada, kan, Bu?” Dita mengulang pertanyaannya. Bu Suryo tersenyum menenangkan, sembari menyusun kalimat yang paling tepat yang harus diungkapkannya pada Dita nanti. “Maaf, kalau ibu boleh bertanya, ada keperluan apa, Nak? Sepertinya, kok, penting sekali.” Dita tersenyum. “Kemarin malam, Mas Faisal mengajak saya bertemu ibu sama bapak di sini. Tapi kebetulan saya lagi ada kerjaan yang tidak bisa dibatalkan, jadi saya menolak waktu itu.” Dita memberi alasan yang tidak akan menyudutkannya. Dia tidak mungkin memberitahu ibunya Faisal bahwa alasan sesungguhnya karena ia sama sekali belum siap menikah. “Nah, jadi sekarang, mumpung ada waktu senggang, saya sempatkan untuk menemui orang tua Faisal.” Bu Suryo menghela napas berat, hal yang tak luput dari pengamatan Dita. “Ada apa, Bu?” tanya Dita. “Sebelumnya ibu minta maaf, Nak Dita. Tapi, Faisal sudah berangkat balik ke Jakarta. Mungkin sekarang sudah check in.” Hati Dita mencelus mendengar jawaban Bu Suryo. “Jadi… Mas Faisal benar-benar sudah pergi, Bu?” “Benar, Nak Dita. Dia bilang cutinya berakhir hari ini, jadi besok sudah harus kembali bekerja. Mungkin Nak Dita bisa menghubunginya lewat telepon?” Dita kebingungan. Hatinya menjadi gamang. Faisal tidak pernah lupa mengabarinya jika pulang dari luar kota, meskipun mereka sedang bertengkar. Dia mengangguk dan buru-buru menghubungi nomor Faisal, tetapi lagi-lagi nomor itu tidak aktif. “Sejak kemarin malam, saya tidak bias menghubungi Mas Faisal, Bu,’ aku Dita dengan suara lirih. “Barangkali sedang menunggu pesawat, Nak.” Bu Suryo mencoba untuk menghibur perempuan di depannya. Bagaimanapun, ia tidak tahu cara menyampaikan berita lamaran Faisal pada Sekar. Biarlah itu menjadi urusan Dita dengan Faisal. Dita menatap Bu Suryo dengan ratapan hendak menangis. “Mungkin... mungkin Mas Faisal marah sama saya karena sudah menolak permintaannya kemarin, Bu.” Bu Suryo menggeleng. “Sudah, Nak. Jangan berpikir yang lain-lain. Kalian bisa menyelesaikannya nanti setelah bertemu.” Dita mengangguk. “Terima kasih, Bu. Saya bakal bicara sama Faisal, kalau nanti pulang ke Jakarta. Saya permisi dulu, Bu.” Dita kemudian bangkit dan berpamitan setelah menjabat tangan Bu Suryo. “Hati-hati di jalan, Nak Dita.” Dita mengangguk dan tersenyum, setelah itu ia bergegas meninggalkan rumah Bu Suryo. Hatinya risau. Tiba-tiba saja ia berniat menyusule bandara, maka dia mengajak Wawan yang sedari tadi menunggu di dalam mobilnya.   * * *  Sementara di bandara, Faisal dan Sekar sedang duduk menunggu jam terbang. “Kamu nggak keberatan dengan apa yang akan kita jalani, Sekar?” Faisal membuka percakapan setelah dari tadi mereka diam. “Entahlah, Mas. Ini di luar perkiraan saya.” Sekar menjawab lirih. “Seharusnya kamu bisa menolaknya kalau kamu tidak ingin menjalani semua ini,” kata Faisal dengan suara rendah. “Saya pasti akan menolaknya kalau saya tak ingat kesehatan dan perasaan ibu.” Faisal terdiam mendengar penuturan Sekar. Kalau Sekar akhirnya menerima perjodohan ini demi ibunya, pasti tak ringan beban yang ditanggung hatinya. Jika Sekar saja, mau mengabdi dan berkorban demi ibunya, mengapa aku tidak mau melakukannya? batin Faisal. “Mas sendiri kenapa ndak menolak? Mas bisa menolak kalau memang njenengan sudah punya calon.” Sekar membalikkan pertanyaan. Faisal menatap Sekar sekilas, kemudian menghela napas berat. “Aku tak mau dibilang anak durhaka, Sekar.” Sekar diam, tak menimpali sama sekali. Satu menit kemudian, ia menatap lelaki tampan dan berkulit bersih yang ada di sampingnya. Hatinya kembali berdesir. “Tapi kebebasan njenengan dalam menentukan pilihan akan terpenjara,” lirihnya. Faisal lagi-lagi menghela napas berat. Kedua tangannya lantas bersedekap. “Hanya ini kesempatanku membalas kasih sayang bapak dan ibuku. Makanya aku ingin mengajakmu bekerja sama, Sekar.” Sekar menolehkan kembali wajahnya, menatap Faisal dengan penuh tanya. “Maksud njenengan?” Faisal menatap Sekar, membuat gadis itu memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Faisal. “Aku mau kita jalani dulu pernikahan ini. Akan seperti apa ke depannya, kita tidak pernah tahu. Apa kamu mau membantu mas-mu, Sekar? Menjalani pernikahan ini sesuai dengan apa yang orang tua kita inginkan. Setuju?” Sekar terpaku menatap Faisal. Tidak menyangka akan mendapat tawaran tak masuk akal itu. Karena yang ada di otak Sekar sebelumnya adalah Faisal yang akan menentang rencana pernikahan mereka. “Setuju, Sekar?” Faisal kembali mengulang pertanyaan, sembari mengulurkan jari kelingkingnya. Sekar menatap ragu jemari Faisal yang terulur di depannya. Namun, entah apa yang ada di dalam pikirannya, yang pasti Sekar kemudian mengulurkan kelingkingnya dan mengaitkannya dengan kelingking Faisal. Faisal tersenyum. “Deal?” “Sepakat, Mas.” Sekar menjawab dengan senyuman kecil. “Kita bisa memulainya dengan sebuah pertemanan. Aku akan menganggapmu seperti teman, bukan sebagai calon istri, agar kita tidak terlalu aneh dan canggung. Oke?” Sekar mengangguk, mencoba mendamaikan hatinya yang tiba-tiba berdebum nyaring. Wajahnya bersemu merah ketika menyadari debarannya terjadi setiap kali dia dan Faisal berserobok pandang. Apalagi ketika tadi mereka sepakat dengan saling mengaitkan jari kelingking. Sekar mendadak panas dingin karenanya. “Oke, Sekar… aku harus berangkat ke Jakarta.” Faisal bangkit setelah mendengar pengumuman pesawatnya tengah menunggu penumpang. Sekar mengangguk. “Iya, Mas.” “Terima kasih untuk kesepakatannya, Sekar. Sering-seringlah main ke rumah ibu, agar beliau tidak kesepian,” Faisal berpesan. Sekar mengangguk kembali, tak bisa mengeluarkan kalimat apa pun. Hatinya tiba-tiba merasa risau dan kosong. “Aku berangkat, Sekar.” Sekar menjabat tangan Faisal dan menciumnya dengan takzim, membuat Faisal tersenyum kecil. “Sugeng tindak, Mas.” Faisal kemudian berangkat, meninggalkan Sekar yang berdiri sendiri di ruang tunggu. Akan tetapi, mereka tak menyadari, bahwa interaksi dan perpisahan mereka diawasi oleh dua pasang mata yang memandang dengan hati berdarah penuh luka.   * * *  Hati Dita terasa pilu ketika dia bergegas meninggalkan bandara dan menemui Wawan yang sejak tadi menunggunya. Matanya tak mampu menyembunyikan air mata yang hendak menyeruak dan mengalir. “Ketemu, Dit?” tanya Wawan ketika Dita  memasuki mobil dengan wajah sembap tak sedap dipandang. “Ketemu. Tapi nggak sempat lagi. Dia udah harus naik pesawat,” jawab Dita, berbohong. “Tenang, Dit. Kamu, kan, bisa langsung nyusul ke Jakarta.” Wawan menjawab santai sembari menghidupkan mesin mobil dan mengemudi keluar dari area bandara. “Iya, Wan. Aku mau siap-siap ngambil barangku dulu di hotel, sekalian cek penerbangan tercepat ke Jakarta,” jawab Dita dengan suara serak. “Perlu saya tunggu dan antar kembali ke bandara?” “Tidak usah, Wan. Terima kasih. Aku bisa pesan taksi, biar kamu gak bolak-balik.” Wawan mengangguk. Sementara dalam kepala Dita berkecamuk bermacam pikiran yang membuatnya ingin marah dan berteriak histeris. Sungguh, dia merasa sangat sakit hati ketika tadi melihat Faisal bersama seorang gadis muda yang tak dikenalnya. Dan interaksi kedekatan Faisal bersama gadis itu membuat Dita dibakar cemburu. Dita menyadari bahwa secara fisik, dia jelas lebih cantik, tetapi entah mengapa, sikap Faisal yang tak mengaktifkan teleponnya sejak malam itu membuat Dita merasa Faisal sengaja melakukannya. Dita akan menuntut jawaban Faisal, nanti setelah tiba di Jakarta.   * * *    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD