Cap. 17

1877 Words
. . . . Dirumah utama keluarga Pramuntara jam 17.00 wib. "Kenapa lemes?" tanya Rena pada Lola. Lola hanya mengangkat bahunya, malas. Dengan berjalan lunglai Lola merebahkan tubuhnya diatus kasur Tara. Ya, Lola cs sekarang sedang berada dirumah keluarga Pramuntara atau lebih tepatnya dikamar Tara. Beberapa hari ini, atau mungkin sudah terjadi dari beberapa minggu yang lalu, Lola terlihat lemas dan semakin hari malah semakin nol gairah. Jelas mereka bertanya tanya apa penyebabnya. Tapi, setiap diberi pertanyaan Lola enggan untuk menjawab. Dan sore ini keempat sahabat Lola bertekat menggali informasi yang sedang disembunyikan oleh Lola. "Jadi apa yang buat lo bertingkah kayak gini?" tanya Ana pada Lola. "Gue mulai pesimis sama rencana perjodohan gue." jawab Lola lemas. "Kenapa?? bahkan ini belum 1 bulan." tanya Sila. "Gue tahu PDKT ini gak mudah, tapi,semakin kesini terlihat semakin sulit. Dewa seperti gak memberi celah buat gue." jawab Lola. Para sahabatnya Lola hanya saling pandang dengan tatapan tidak mengerti. Memang orang yang tidak tahu, Dewa dan Lola seperti tidak terikat dengan sebuah hubungan, mereka berdua terlihat biasa, sangat sangat biasa untuk bisa dikatakan lagi PDKT. Tidak ada interaksi intim, entah basa basi bertanya kabar atau sekedar jalan berdua berdampingan. "Setiap gue ajak dinner, iya dia memang mau, tapi, selalu ngajak seorang cewek, akhirnya kita makan bertiga. Dan itu berulang, bahkan setiap kali janjian cewek yang diajak Dewa selalu berbeda tidak pernah sama. Begitu juga waktu gue ajak makan siang diluar atau sekedar nonton film. Kita berangkat berdua, tapi, selalu berakhir bertiga. Gue juga gak habis pikir, bagaimana bisa stok cewek yang diajak Dewa gak habis habis. Gue sampe bingung harus ngapain lagi. Malah akhir akhir ini Dewa selalu nolak ajakan gue. Dia seperti memberi warning jangan mendekat. Padahal waktu gue sisa 3 hari." Lola menjeda ucapannya. "Kalau kayak gini, gue udah bisa nebak hasil akhirnya." lanjut Lola dengan menghela nafas lelah. "Nih minum dulu." ucap Tara dengan menyodorkan jus jeruk untuk Lola. Sepertinya Lola butuh sesuatu yang sejuk untuk mendinginkan otaknya. "Lalu perasaan lo sendiri gimana?" tanya Tara pada Lola. "Gue bingung. Bohong kalau gue gak merasakan apa apa, beberapa kali bersinggungan dengan Dewa ternyata cukup untuk membuat hati gue goyah, sampai sampai hati kecil gue berharap perjodohan ini berhasil. Hingga lupa hati yang sedang gue perjuangin sudah menolak gue dari awal." jawab Lola pelan. "Lalu sekarang bagaimana?" tanya Sila pada Lola. Lola hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Otaknya sudah benar benar buntu, segala cara yang sudah Lola siapkan dan yang sudah Lola gunakan tidak menunjukkan sebuah keberhasilan. Mungkin memang ini tanda dari yang di atas untuk Lola agar mempersiapkan hatinya untuk hasil yang terburuk. "Masih ada waktu 3 hari, gunakan aja seperti biasa. Ngajak dinner, makan siang atau nonton. Meskipun nanti berakhir penolakan atau malah pergi bertiga, paling tidak sisa waktu 3 hari ini tidak dianggurin." saran Rena. "Jangan lupa nyiapin hati biar gak terlalu patah." Saran kedua dari Sila. Langsung saja Sila mendapat lemparan bantal dari Lola. "Apa yang salah??" tanya Sila. "Gak ada yang salah nona Sila, tapi, ucapan lo terdengar seperti doa." jawab Ana dengan cekikikan menahan tawa. "Kalo perjodohan beneran batal, gue bakal traktir sepuas lo di Pub nya kak Bryan." sebuah tawaran keluar dari mulut Tara. "Sial*n lo." sekarang giliran Tara yang kena timpuk bantal oleh Lola. Akhirnya mereka tertawa bersama. Mungkin untuk sekarang seperti ini sudah cukup buat Lola. Ada sahabat sahabatnya yang mendengarkan ceritanya dan memberikan saran, toh kedua orang tua Lola memberikan kuasa penuh untuk keputusannya. . . . . H-3 "Kak, bisa dinner bareng malam ini?" chat Lola untuk Dewa. Dia sudah mengirimnya dari pagi. Tapi sampai sore ini belum ada balasan. Bahkan masih centang satu. Lagi lagi Lola menghembuskan nafas berat. Nafas yang berbau keputus asaan. Entahlah Lola mulai lelah, disatu sisi memikirkan caranya PDKT disatu sisi tugasnya menumpuk. Lola berjalan menuju ranjang, menjatuhkan tubuhnya. Mungkin ajakan Lola untuk dinner bersama malam ini sudah dipastikan gagal. Dia memilih mengistirahatkan raganya. "Ternyata memikirkan hubungan bisa sangat melelahkan." ucap Lola pada dirinya sendiri. "Pengalaman pertama dan tidak cukup mulus. Apa benar kata orang orang, cinta pertama akan selalu gagal?" lanjutnya. Lola mulai memejamkan matanya hingga tertidur. . . . . H-2 "Lo kenapa??" tanya Sila pada Lola. Mereka berlima saat ini sedang menikmati makan siang dikantin kampus. "Gak ada perkembangan, gue mulai nyerah. Tinggal satu hari besok, dan gue bener bener gak pengen menaruh harapan lebih." jawab Lola. "Nih...!" ucap Rena dengan menyodorkan hp nya. Mereka berempat melihat hpnya Rena dengan tampang tidak mengerti. Karena saat ini hpnya Rena hanya menampilkan kontak no.hp. "Ini apa maksudnya??" tanya Tara. "Ini no.hp beg*, masak kurang jelas." jawab Rena santai. "Maksudnya ngapain elo nunjukin kontak lo ke Lola??? yang beg* elo atau kita sih?!" jawab Ana dengan menyonyor kening Rena. "Hehehehe, sorry sorry. Ini kontak cowok yang ada dikelas gue. Meskipun gak ada yang spek kayak Dewa, paling tidak mereka bisa jadi pertimbangan setelah perjodohan lo gagal." jelas Rena. "Oowwhhh maksudnya Rena begitu. Kalau gitu, nih gue juga ada lumayan banyak, rata rata model. Karena gue kenalannya pas waktu dapet job jadi model." ucap Sila dengan menyodorkan hp nya. "Tuh, biasanya anak model cakep cakep. Kalau beruntung lo bisa dapet yang lebih dari Dewa." timpal Tara. "Gak mau yang cakep. Biasanya yang cakep bikin makan ati." jawab Lola. "Ya, udah nih. Spek biasa banget. Temen temen gue kerja dikafe. Meskipun gak sekaya dan gak secakep Dewa, tapi, kelihatannya setia." sekarang giliran Ana yang menyodorkan hp nya. "Kalau gue gak banyak kenalan cowok, tahu sendiri Kenda kayak apa. Pacaran sama Rendra direstui aja sudah syukur." ucap Rena. Karena memang nyatanya Kenda tidak akan membiarkan Tara bergaul dengan laki laki. Syukur Tara kuliah dijurusan fashion design yang mayoritas kelasnya diisi cewek. Kalau sebagian cowok, Tara gak bisa bayangin gimana Kenda bakal memantau Tara. "Ditampung aja dulu, siapa tahu butuh. Kadang kita butuh kehadiran orang baru untuk menggantikan orang lama. Tidak harus berakhir jadi pasangan, tapi, mungkin cocok dalam hal lain." lanjut Tara. "Kalau gue butuh, gue bakal bilang kalian. Gue fokus ke Dewa dulu. Biar gak terlalu numpuk difikiran." jawab Lola. Dan diangguki keempat temannya. "Jadi untuk hari ini jadwal PDKT lo ngapain??" tanya Rena. "Gak ada, nihil, kosong. Chat gue gak ada yang direspon. Tuh lihat dari kemarin, kemarinnya lagi, lagi kemarinnya lagi centang satu. Gak mungkin hp nya mati." jawab Lola dengan menunjukkan chatnya dengan Dewa. "Jalan lo bener bener sudah buntu La." ucap Sila pada Lola. "Kayaknya sih iya, dia menutup jalan komunikasi Lola satu satunya." timpal Ana. "Coba gue chat bang Kenda, biasanya mereka bareng." ucap Tara dan diangguki mereka berempat. Setelah beberapa menit Tara sibuk dengan hpnya, akhirnya Tara mendapatkan lokasi dan jadwal Dewa dari Kenda. "Jadi, sekarang Dewa lagi dibengkelnya kak Bryan sama yang lain. Dan besok, sabtu malam mereka mau nongkrong ke Pub nya kak Bryan." suara Tara memecah keheningan mereka berlima. "Oke, sudah diputuskan besok kita juga otw kesana." ucap Rena. "Besok gue bareng bang Kenda, kalau sudah otw gue chat." timpal Tara. Akhirnya hari ini berakhir dengan Lola yang tidak diberi (lagi) kesempatan PDKT oleh Dewa. Benar benar tidak ada kemajuan. Entah apa yang akan terjadi esok hari, dihari terakhir PDKTnya. Lola harus mengeraskan hati agar tidak terlalu menyakiti diri sendiri. . . . . H- Pub Fly jam 22.00 wib "Lo janjian sama Lola, Wa??" tanya Denis saat melihat Lola duduk disalah satu sofa bersama sahabat sahabatnya. "Enggak." jawab Dewa singkat. "Hari ini hari terakhir kan?? gak ada yang mau lo omongin ke Lola?" tanya Reza. "Gak ada." jawab Dewa lagi lagi dengan singkat. "Keputusan lo masih sama??" tanya kenda. Dewa hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. "Seberapa yakin lo dengan keputusan lo??" tanya Bryan. Dewa diam. Tidak bisa menjawab. Dan Bryan hanya bisa menampilkan senyum mengejek saat melihat Dewa tidak bisa bicara. Mereka hanya diam, tidak ingin menanggapi. Perihal hati memang rumit, tapi, tidak menyangka akan serumit ini. Kalau Dewa memang mulai ada rasa untuk Lola kenapa tidak mengorbankan kebebasannya, tapi, malah lebih memilih menyakiti hatinya sendiri. Entah Dewa yang terlalu mengagung agungkan kebebasannya atau mungkin karena Dewa yang terlalu meremehkan rasa yang mulai tumbuh dihatinya. "Kamar biasanya masih kosong Bry??" tanya Dewa pada Bryan. "Masih, butuh berapa??" tanya Bryan. "Satu aja, sekalian suruh bawa minum." jawab Dewa langsung beranjak dari duduknya. Setelah kepergian Dewa, suasana menjadi hening. Entah apa yang ada difikiran mereka. Mereka hanya merokok dan minum. Sampai ada seorang gadis yang tiba tiba berdiri disamping meja mereka. Sontak membuat mereka mendongakkan kepala, mereka hanya saling tatap saat tahu siapa gadis yang saat ini sedang menghampiri mereka. Entah mengapa dikepala mereka langsung menyiapkan jawaban atau minimal sebuah alasan, padahal tidak ada pertanyaan untuk mereka, atau lebih tepatnya si gadis yang menghampiri mereka belum bertanya. "Dewa mana kak??" tanya Lola pada mereka berempat. Mereka masih saling pandang, bingung dalam memberi jawaban. Bohong banget kalau bilang "Dewa tidak ikut kesini", jelas jelas tadi Lola melihat Dewa duduk bersama mereka. "em.. itu... dia... dia lagi ngerokok diluar" "dia lagi ketoilet." Jawab Reza dan Denis bersamaan tapi, beda jawaban. Lola hanya memandang mereka berdua bergantian. "Gak usah bohong, Lola cuma mau ngomong sesuatu ke Dewa." jawab Lola. "Kamar lantai 3 paling kanan." jawab Bryan santai. Lola langsung pergi, dan Bryan langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga sahabatnya. Tidak mengerti kemana arah fikiran Bryan. "Biar mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Lagipula Lola juga harus mengerti keadaan untuk membantunya mengambil keputusan." jelas Bryan dengan meneguk minumannya. Bryan benar, Dewa tidak seharusnya terus terusan menghindari Lola. Meskipun Dewa sudah memiliki keputusan sendiri sejak awal, tapi, tidak seharusnya Dewa menutup jalan Lola untuk berusaha. Dan mungkin apa yang akan Lola lihat akan sedikit menyakitkan, setidaknya itu bisa membantu Lola untuk mengambil keputusan tentang perjodohan mereka. Mereka akan sulit bertahan bila tujuan akhirnya berbeda, dengan begitu bukankah lebih baik tidak bersama sedari awal. . . . . "Lantainya beneran ini? apa ini khusus VIP? kayaknya dilantai ini sedikit berbeda, kamar yang ini lebih besar dan terlihat mahal, gue yakin fasilitas didalam juga lebih lengkap." ucap Lola pada dirinya sendiri. Setelah Lola celingak celinguk mengedarkan pandangan, akhirnya menemukan kamar yang dimaksud Bryan. Saat tangannya ingin membuka pintu, mendadak Lola ingat kata kata Bryan "kalo gak siap sakit hati jangan coba coba masuk." Lola mulai ragu, bimbang dan bingung. Apa hatinya benar benar sudah siap saat melihat sesuatu yang tidak diinginkan?? Apa Lola sebaiknya pergi saja?? Setelah berdiri didepan pintu cukup lama untuk berfikir, akhirnya Lola memberanikan diri untuk masuk tanpa mengetuk pintu. Dia ingin memastikan perasaannya untuk Dewa, kalau perasaan ini hanya sekedar mampir karena beberapa kali bersinggungan dengan Dewa, pasti Lola tidak akan merasa sakit bila melihat Dewa melakukan hal yang bajin**n. Tapi, bila ternyata respon tubuhnya tidak biasa saja, Lola mungkin akan menerima beberapa kandidat calon baru dari sahabat sahabatnya. Lola mencoba pelan pelan saat membuka pintu agar tidak menimbulkan suara. Tapi, saat kaki Lola baru masuk satu langkah, matanya sudah dihadapkan pemandangan yang cukup membuat tubuhnya kaku. Tes... tes... tes... Tangan Lola membersihkan air yang mengalir dikedua pipi putihnya. "Gue nangis." ucap Lola dengan melihat kedua tangan yang ada bekas air matanya. Cuma butuh 10 detik bagi Lola untuk berada didalam dengan pemandangan yang cukup membuat matanya berair. Tanpa mengatakan apapun Lola berbalik keluar. Dia mulai menyesali kenapa tidak mendengarkan perkataan Bryan, tapi, meskipun begitu Lola jadi tahu jawaban apa yang akan dia persiapkan tentang perjodohan ini. . . . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD