.
.
.
.
"Sial*n..." umpat Dewa saat melihat Lola masuk kedalam kamar yang dia pesan.
"Lo bisa pergi, udah gue transfer." ucap Dewa pada wanita bayarannya.
Si wanita tidak banyak bicara, yang terpenting dia sudah mendapatkan upah meskipun tidak sampai selesai.
"Kalau tuan belum yakin jangan dikejar, meskipun muka tuan sudah terlihat adanya sebuah penyesalan." Ucap si wanita pada Dewa dengan merapikan bajunya.
"Gue setiap hari ketemu dengan berbagai macam laki laki, dari yang bajin**n, pemaksa, egois dan ada juga yang baik baik, pendiam dan setia." lanjut si wanita.
"Kalau cowok setia gak mungkin nyewa lo." akhirnya Dewa membuka suara.
"Tidak juga, kadang cowok cowok yang seperti itu hanya mencari pengalaman kalau tidak ingin mencari tahu tentang hatinya." jelas si wanita.
Dewa hanya mengangkat salah satu alisnya tanda tidak mengerti.
"Orang yang menyewa jasa kami tidak semua menginginkan hubungan intim, kadang ada yang cuma bertanya step by step cara berhubungan. Ada juga laki laki yang sangat bajin**n menyewa jasa kami hanya untuk mengetahui isi hatinya."
"Perasaan yang sekarang mampir saat ini apakah benar benar sebuah perasaan cinta atau hanya sebuah kebetulan belaka karena kadar bertemunya yang sering ."
"Kadang laki laki bajin**n harus dipancing dulu baru mengetahui perasaannya. Karena laki laki seperti itu egonya terlalu tinggi." jelas si wanita lalu pergi meninggalkan Dewa sendiri didalam kamar. Sepertinya Dewa benar benar butuh waktu untuk mengalah dengan egonya dan semoga saja saat Dewa sadar semuanya belum terlambat.
.
.
.
.
Lola bangun dari tidurnya dengan mata yang cukup sulit terbuka. Karena kemarin menangis, meskipun tidak semalaman tapi, cukup membuat matanya menjadi sembab.
Sepertinya Lola butuh beberapa treatment untuk matanya sebelum memulai aktifitasnya hari ini. Hari ini hari yang penting untuk Lola, karena hari ini Lola sudah bertekad akan mendatangi rumah besar keluarga Bintara untuk memberikan jawaban tentang perjodohannya.
.
.
.
.
Dengan menggunakan dress model vestido polo warna hitam putih dan sneakers warna putih, Lola mulai menjalankan mobilnya menuju rumah besar keluarga Bintara. Tidak lupa membawa beberapa kue sebagai buah tangan yang sudah Lola buat mendadak tadi pagi. Karena hari ini hari minggu dan bukan acara resmi, Lola rasa penampilannya cukup sopan bila digunakan untuk berkunjung tidak lupa kaca mata hitam sebagai penunjang penampilannya.
Setelah hampir 45 menit Lola membelah jalanan yang ternyata cukup macet, akhirnya dia sampai didepan gerbang rumah Bintara.
Lola keluar dari mobilnya, dengan melihat alamat yang dikirimkan maminya lewat chat, Lola mulai mencocokkan dengan tulisan yang ada didepan gerbang.
Tin... tinnn....
Sebuah klakson mobil tiba tiba mengagetkan Lola yang masih berkonsentrasi dengan kegiatannya. Seorang laki laki dengan perawakan good looking dengan menggunakan kaos warna hitam dan celana pendek warna senada keluar dari dalam mobil, menghampiri Lola yang masih setia berdiri didepan pintu gerbang.
"Cari siapa cantik??" tanya laki laki itu.
"Emm... itu... cari Nyonya Bintara. Ada??" tanya Lola.
"oww... ada sih kelihatnnya. Masuk bareng gue aja, mobil biar dimasukin sama pak satpam." jawab si laki laki.
Lola berfikir sejenak sebelum mengiyakan ajakan si laki laki itu.
"Sebentar, gue ambil sesuatu dulu didalam mobil."
Selagi Lola mengambil buah tangan didalam mobilnya, si laki laki itu menyuruh seorang satpam untuk membuka pintu gerbangnya dan membawa masuk mobil Lola.
Halaman yang luas dengan berbagai macam tumbuhan yang didominasi warna hijau menjadi pemandangan pertama Lola saat masuk kedalam pelataran rumah keluarga Bantara. Semakin dekat dengan pintu masuk terlihat garasi yang diisi beberapa kendaraan yamg cukup terbilang mewah dengan harga yang diyakini Lola tidak murah.
Mobil berhenti tepat didepan pintu utama. Lola dan laki laki itu keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Lo bisa tunggu disini, duduklah!" perintah si laki laki. Baru beberapa langkah pergi meninggalkan Lola, si laki laki itu berbalik menghampiri Lola lagi.
"Sorry, ada yang lupa. Ini lo siapa kok nyari nyonya Bintara, sudah buat janji?" tanya laki laki itu.
"Ohhh.... maaf, gue lupa memperkenalkan diri. Gue Lola Antari Agrisa. Memang belum buat janji, tapi, semoga nyonya Agrisa tidak sibuk" jawab Lola dengan mengulurkan tangannya.
"Agrisa.... Agrisa??" batin si laki laki mencoba mengingat ingat nama yang cukup familiar.
.
.
"Ah.... yang dijodohkan dengan Dewa. Tapi, sekarang Dewa tidak ada dirumah." ucap si laki laki.
"Gue kesini cuma mau nyari Nyonya Bintara kalau bisa sih dengan Tuan Bintara sekalian, tanpa Dewa." jawab Lola.
"Oke, gue panggilin sebentar. Sebelum itu kenalin gue Daren Bintara." ucap si laki laki itu dengan menyambut uluran tangan Lola.
"Daren Bintara??? bukan Daren Wicaksana??" tanya Lola memperjelas nama belakang Daren.
"Bukan, gue Bintara. Kakak tiri Dewa." jelas Daren.
Lola hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Oke, tunggu sebentar ya?!" ucap Daren lalu pergi meninggalkan Lola.
.
.
.
.
"Mommy, daddy...." teriak Daren setelah menemukan kedua orang tuanya sedang duduk berdua ditaman belakang.
"Ada apa son?? berhenti teriak, telinga kami masih bisa mendengar dengar jelas." ucap tuan Bintara dengan menyonyor pelan kepala Daren, yang cukup membuat Daren meringis.
"Mommy sama Daddy dicari cewek cantik tuh!!" ucap Daren.
"Siapa??" tanya Nyonya Bintara.
"Nona muda Agrisa." jawab Daren.
Tuan dan Nyonya Bintara hanya saling berpandangan. Ada tanda tanya dikepalanya, ada apa Lola datang bertamu, tanpa kabar sebelumnya. Bahkan tuan dan nyonya Agrisa juga tidak memberi kabar kalau Lola akan datang berkunjung.
.
.
.
.
"Selamat datang dirumah Bintara nak Lola, apa kami membuatmu menunggu lama?" tanya tuan Bintara.
"Tidak tuan, Lola juga baru sampai. Maaf karena datang tanpa mengabari kalian terlebih dahulu." jawab Lola dengan mencium tangan tuan dan nyonya Bintara secara bergantian.
"Baiklah tidak apa apa, silahkan duduk nak Lola." ucap Nyonya Bintara.
"Ini ada sedikit kue untuk Tuan dan Nyonya Bintara, mungkin cocok sebagai teman teh dan kopi yang anda nikmati." ucap Lola dengan menyodorkan paperbag berisi kue buatan Lola.
"Kenapa repot repot nak, kamu hanya berkunjung kesini tanpa membawa apapun, kami sudah senang. Tapi, apapun itu terima kasih ya sayang." ucap nyonya Bintara penuh senyuman.
"Jadi, ada apa nak Lola berkunjung kesini?? pasti tidak mungkin nak Lola hanya mampir dan hanya memberi bingkisan untuk kami." tanya Tuan Bintara to the point.
"Ternyata tuan Bintara cukup peka, tidak heran kalau jadi salah satu pengusaha yang sukses." jawab Lola basa basi.
Sontak jawaban Lola membuat orang yang duduk disana dan orang yang sedang bersembunyi untuk mencuri dengar dibelakang tembok tertawa renyah.
"Baiklah, sebelumnya saya ingin meminta maaf kalau seandainya kata kata saya kurang sopan atau membuat kalian kacewa." Lola menjeda ucapannya sebentar saat ada pelayan yang datang mengantarkan minuman untuk mereka bertiga.
"Saya sudah membuat keputusan tentang perjodohan yang sudah kalian rencanakan." Lola menarik nafasnya sebentar, mencoba menenangkan diri agar kata katanya yang keluar tidak terlalu kasar untuk didengar.
"Sebelumnya saya sudah meminta waktu kepada Dewa satu bulan untuk PDKT saling mengenal, beruntung bisa menjadi lebih dekat, meskipun saya tahu Dewa sudah menolak perjodohan ini dari awal kedua keluarga mengadakan pertemuan, tapi, saya masih ngenyel mencoba untuk mengubah keputusannya."
"Saya sudah diberitahu oleh orang tua saya tentang perjodohan ini sejak saya masuk SMP kelas 1. Selama itu juga, saya tidak pernah mencoba menjalin hubungan dengan lawan jenis, meskipun saya sering main motor, ikut balap liar dan banyak teman teman cowok, saya membatasi diri agar tidak jatuh cinta dengan mereka. Seiring saya dewasa, saya juga mulai belajar didapur, kadang ikut pembantu saya kepasar dan memasak. Kadang saya juga belajar merias diri meskipun hal itu bukan hal wajib yang selalu saya gunakan. Orang tua saya tidak pernah menuntut saya untuk menguasai segala hal, tapi, saya ingin orang yang kelak dijodohkan dengan saya tidak ada keluhan terhadap saya apalagi kepada keluarga saya dengan mempertanyakan cara mereka mendidik saya."
"Dan kemarin tepat waktu satu bulan yang saya minta berakhir. Saya sudah menggunakan segala cara untuk menarik perhatian Dewa. Mengantarkan makanan keapartemennya, mengajaknya makan malam, makan siang dan juga nonton bersama. Tidak jarang saya mengajaknya quality time berdua. Tapi, sepertinya usaha saya gagal. Dewa masih bertahan dengan penolakannya."
"Maka dari itu, saya datang kesini ingin memberitahukan kalau saya juga akan menolak perjodohan ini. Saya sudah berjanji pada Dewa kalau dalam satu bulan masa PDKT yang saya minta berakhir dan Dewa tetap menolak, maka saya sendiri yang akan mengatakannya kepada orang tua saya dan kalian."
"Saya termasuk anak yang beruntung meskipun perjodohan ini tidak berhasil, tapi, secara tidak langsung orang tua saya sudah memperkenalkan orang orang baik kepada saya lewat kalian." Jelas Lola.
Tuan dan nyonya Bintara hanya mendengarkan Lola dengan seksama. Saat Lola selesai bicara pun mereka masih diam mengamati Lola yang duduk didepan mereka dengan menundukkan kepala. Mereka tahu saat ini Lola sedang mati matian menahan air matanya agar tidak jatuh, berbicara didepan orang yang lebih tua tidak mudah dan saat ini Lola mencoba memberanikan diri untuk berbicara dihadapan mereka. Mereka menyadari itu, dengan suara Lola yang sedikit bergetar dan ada bagian bagian yang suaranya sedikit serak dan tidak terdengar jelas.
Entah itu sebuah luapan kekecewaan atau sakit hati yang dirasakan oleh Lola atau karena Lola takut jawabannya menyakiti mereka yang berharap besar atas keberhasilan perjodohan ini.
Nyonya Bintara langsung menghampiri Lola dan memeluknya erat, sesekali mengelus elus punggung Lola untuk menenangkannya.
"Tidak apa apa nak, kenapa kamu merasa sedih seperti ini??" ucap nyonya Bintara pada Lola yang masih beradi dipelukannya.
"Apa jawab saya sudah membuat anda kecewa nyonya??" tanya Lola dengan menatap wajah nyonya Bintara.
"Sedari awal saya tidak berharap banyak, melihat sifat dan kelakuan Dewa yang seperti itu. Lagi pula kalian berada dizaman yang berbeda dengan kami. Dizaman kalian, perjodohan seperti ini seolah tidak ada lagi karena terkesan kuno dan sebuah pernikahan bukan lagi menjadi prioritas pertama. Maka dari itu, kamu tidak perlu merasa sedih atau takut kami kecewa. Karena kami akan memakluminya." jelas nyonya Bintara dengan sabar.
"Meskipun begitu, tetaplah berkunjung kesini. Kita bisa melakukan banyak hal berdua. Tapi, mulai sekarang kamu harus memulai memanggil kami ibu dan ayah. Bagaimana tuan Bintara?" tanya nyonya Bintara pada suami, meminta persetujuan.
"Apapun yang kau minta, aku ikut sayang." jawab tuan Bintara setuju dengan permintaan istrinya.
"Apa sekarang mommy sudah memiliki anak perempuan??" tanya Daren yang tiba tiba keluar dari persembunyiannya.
"Apa sedari tadi kau menguping Daren??" tanya tuan Bintara.
"Ayolah dad, Daren juga penasaran." jawab Daren dengan cekikian.
"Apa nyonya Bintara membuka lowongan untuk posisi menjadi anak perempuan nyonya?? kalau ada peluang saya mau mencobanya." tanya Lola dengan senyum manisnya.
"Baiklah kamu diterima lewat jalur VIP." jawab nyonya Bintara.
"Apa sekarang kita bisa mengajaknya makan siang bersama??" tanya Daren. Tuan Bintara melihat jamnya sebentar.
"Baiklah, ayo kita makan siang. Sepertinya semua juga suda selesai disiapkan." ucap tuan Bintara.
.
.
.
.
Mereka berempat menikmati makan siang dengan diwarnai candaan dan pertanyaan pertanyaan ringan. Meskipun sedikit canggung namun Lola mencoba membiasakannya. Diposisinya saat ini, Lola tiba tiba merindukan kehadiran kedua orang tuanya. Jarang ditemani membuat Lola harus terbiasa sendiri dan mandiri.
"Kenapa melamun sayang? apa makanannya kurang cocok??" tanya nyonya Bintara.
"Tidak nyonya, makanannya sangat lezat Lola menyukainya." jawab Lola.
"Ibu, mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan ibu. Mommy juga boleh seperti Daren dan Dewa." perintah nyonya Bintara.
"Senyamanmu saja Lola, asal jangan tuan atau nyonya." timpal tuan Bintara.
"Baiklah, daddy." jawab Lola dengan malu malu.
"Ahhhh aku jadi merasa benar benar memiliki anak perempuan." ucap tuan Bintara.
"Apa kau tidak ingin mencoba perjodohan dengan anak keluarga Bintara, Lola??" sebuah pertanyaan berisi tawaran keluar dari mulut Daren Bintara.
"Wah... ada apa ini?? kenapa tiba tiba." tanya nyonya Bintara.
"Ya.. mumpung ada mommy. Dari pada dianggurin." jawab Daren dengan cekikikan sambil menaik turunkan alisnya.
"Bagaimana Lola??" tanya nyonya Bintara pada Lola.
"Em... sama sama ganteng sih, tapi, Lola lagi pengen punya kakak ganteng yang kaya. Bagaimana mommy??" jawab Lola dibumbui pertanyaan.
"Wah... sepertinya kau baru ditolak son." timpal tuan Bintara.
"Sepertinya begitu dad." jawab Daren pasrah.
"Baiklah, aku akan mencoba jadi kakak yang baik untukmu, adik baru." lanjut Daren.
"Tolong kerjasamanya kakak." jawab Lola.
Mereka melanjutkan makan siangnya dengan kekeluargaan tidak lupa diselingi canda tawa. Tidak ada lagi kecanggungan yang Lola rasakan. Semua berkat sifat ramah dari semua keluarga Bintara. Lola bersyukur kedua orang tuanya memperkenalkan Lola pada mereka, mereka seperti mengisi kekosongan yang selama ini Lola rasakan. Memberikan kehangatan sebagai keluarga disaat orang tuanya sibuk bekerja.
.
.
.
.
TBC