Cap. 19

1455 Words
. . . . Setelah selesai makan siang, Lola memutuskan untuk pamit pulang. Dengan sedikit pertimbangan dan desakan dari mommy dan daddy barunya, akhirnya Lola menerima tawaran dari Daren untuk mengantarkannya pulang, dan mobil Lola nanti akan diantar kerumah Lola oleh sopir dari keluarga Bintara. "Jadi, apa rencana lo selanjutnya?" tanya Daren tiba tiba memecah keheningan didalam mobil. "Belum tahu kak, gak punya pengalaman PDKT jadi cukup sulit buat memulai kenalan." jawab Lola santai. "Tapi, kemarin temen temen gue udah nyiapin calon calon baru. Mulai dari yang satu kampus, ada juga yang kerja dikafe dan yang paling oke calon dari kenalan temen gue yang profesinya model." jawab Lola dengan cekikikan. "Temen lo ada yang kerja??" tanya Daren. "Ada kak, ada Sila, dia model tapi, hanya sesekali kalau ada tawaran. Yang kerja every day itu ana. Dia keluar dari rumahnya karena ayah dan kakak tirinya yang cenderung ingim manfaatkan Ana." ucap Lola. "Memanfaatkan bagaimana??" tanya Daren. "Iya, ayah kandung Ana sudah meninggal waktu Ana masih SD, waktu masuk SMP ibunya menikah lagi dengan duda anak satu, anaknya cowok. Baru satu tahun menikah, ibunya Ana kecelakaan dan sekarang koma dirumah sakit, sejak saat itu Ana sering disuruh ini itu, kalau tidak menurut nanti ayah tirinya tidak akan mau membiayai perawatan sang ibu yang sedang koma. Puncaknya itu saat kakak tirinya menyatakan cinta ke Ana dan Ana menolaknya, dia hampir diperk**a. Untung Ana sempat chat digrup pribadi kami. Kami langsung datang kerumahnya dan menemukan Ana dengan baju dan celana yang jauh dari kata rapi. Bahkan waktu kita bawa kerumah sakit ternyata banyak memar dibeberapa bagian tubuhnya. Kami tidak sempat melaporkan kakak tirinya karena dia berhasil kabur, sampai sekarang kami tidak tahu dia ada dimana. Mulai saat itu Ana keluar dari rumah itu memutus segala komunikasi dengan ayah tirinya. Dia sekarang kos didekat kampus, dan kerja disalah satu kafe untuk kuliah dan untuk biaya perawatan sang ibu bila nanti sewaktu waktu ayahnya tidak ingin membiayai lagi." jelas Lola. "Ternyata temen lo ada macam macam genre ya?!" tanya Daren dengan senyumnya. "Eh.. masak sih?! bentar gue ingat ingat dulu. Kalau Ana bermasalah dengan keluarga tirinya, Rena bermasalah dengan kakak tirinya, kalau Sila bermasalah dengan dosen yang kelihatan tertarik dengannya. Dan Tara dengan keoverprotektifan saudara tirinya." "Eh.. iya... kok gue baru sadar. Mana hampir semua karena saudara tiri." jawab Lola. "Habis ini mau ngapain??" tanya Daren. "Gak ngapa ngapain sih, paling cuma rebahan, garap tugas dan hal hal malas lainnya. Karena ortu jarang dirumah jadi kegiatannya monoton gitu gitu aja." jelas Lola. "Kalau gitu, sebagai kakak baru yang baik, gue akan ngajak lo jalan jalan sebentar." tawar Daren dan tanpa persetujuan Lola langsung membelokkan mobilnya kesalah satu mall. . . . . Mereka berdua turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Mulai memasuki area mall, cukup bingung karena kesini tidak ada tujuan. "Kita mau ngapain kak?" tanya Lola. "Enaknya ngapain ya??" Daren juga bingung. "Kita mulai dari mana??" tanya Lola lagi. "Enaknya kemana dulu ya??" tanya Daren balik. "Ternyata punya kakak cowok gak selalu enak." gerutu Lola dengan mengerucutkan bibirnya. Daren hanya menjawab dengan tawa renyah yang meluncur bebas dari mulutnya. Ternyata punya adek cewek cukup asyik, Daren jadi punya hiburan. Apalagi Lola lumayan cerewet kalau sudah akrab. Daren suka saat Lola benar benar sudah menganggapnya sebagai kakak, tidak ada kecanggungan meskipun baru pertama kali bertemu. "Terserah lo mau kemana dulu dan mau apa, nanti gue yang bayar." ucap Daren dengan mata menatap Lola. "Serius kak??" tanya Lola dengan mata berbinar. "Serius, katanya pengen ngerasain punya kakak yang kaya, kalau kakaknya gue dapat bonus kakak kaya, tampan dan baik hati." jawab Daren dengan menyombongkan diri. "Mau komentar tapi, yang lo katakan emang bener. Ya, udah sebagai peresmian hari jadi kakak-adik kita, gue akan dengan senang hati membantu kakak menghabiskan uang kakak." ucap Lola. "Karena kita sudah makan siang, kita main game dulu." lanjut Lola dengan menarik tangan Daren menuju zona game. . . . . "Breng**k, sejak kapan mereka sedekat itu. Perasaan mereka belum pernah bertemu." umpat Dewa saat matanya tidak sengaja melihat Lola menarik tangan Daren. "Hai, sayang lagi lihat apa sih, capek tahu dari tadi aku panggil panggil tapi, kamu cuekin." tanya si wanita dengan tangan yang bergelayut manja dilengan Dewa. "Lo pulang sendiri, gue ada urusan." ucap Dewa dengan meninggalkan si wanita yang memasang wajah bingung, kesel, marah dan dongkol. Bahkan si wanita protes dan mengomel dengan suara kencang, tapi, Dewa tidak peduli. Dewa mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tujuannya tidak lain adalah rumah utama keluarga Bintara. Dewa butuh jawaban tentang apa yang baru saja dilihatnya di mall. Apa selama ini Dewa ketinggalan kabar mereka saat tinggal diapartemen??. . . "Mom... Dad..." teriak Dewa saat kakinya memasuki rumah utama Bintara. Tidak ada jawaban, hingga kakinya sampai didapur dan melihat salah seorang pembantu yang sedang membersihkan dapur. "Mommy dan daddy kemana bi??" tanya Dewan pada pembantu itu. "Ditaman belakang tuan." jawabnya. "Tadi apa ada tamu datang kesini bi??" tanya Dewa lagi. "Ada tuan, cewek cantik banget. Tadi, juga makan siang disini. Baru saja pulang diantar tuan Daren, terus mobilnya juga baru diantar sopir." jelas si pembantu. "Terima kasih bi." jawab Dewa langsung pergi menuju taman belakang. Setelah menemukan mommy dan daddy ditaman belakang, Dewa langsung duduk dikursi kosong didepan mereka. "Apa yang membuat anak mommy pulang siang ini??" tanya nyonya Bintara saat tiba tiba Dewa pulang setelah hampir satu bulan tidak kelihatan batang hidungnya. "Ayolah mom, mommy kan tahu Dewa sedang banyak tugas, jadi jarang pulang." jawab Dewa malas. "Kebetulan kamu pulang, daddy ingin mengatakan sesuatu yang penting pada kamu." ucap tuan Bintara. "Apa dad?" tanya Dewa penasaran. "Sekarang kamu bebas, perjodohanmu dengan Lola sudah resmi dibatalkan." jawab tuan Bintara tenang. "Maksud daddy apa? siapa yang membuat keputusan itu?" tanya Dewa dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Tadi Lola kesini, mengatakan semua. Keputusannya tentang perjodohan kalian dan alasan penolakannya." jawab tuan Bintara. "Lalu setelah perjodohan dengan Dewa batal, sekarang Lola kalian jodohkan dengan kak Daren??" tanya Dewa to the point. Tuan dan nyonya Bintara saling berpandangan bingung, tidak mengerti. Pasalnya tadi Lola hanya menganggap Daren sebagai kakak bukan pengganti Dewa. Alih alih meluruskan semuanya, tuan Bintara malah mengatakan sesuatu yang membuat hati Dewa mendadak panas. "Kalau mereka cocok ya biarkan saja son. Daren juga belum punya pendamping, lagipula mommymu sangat menyayangi Lola, mommy tidak ingin melewatkan calon mantu yang potensial dalam segala bidang." jelas tuan Bintara dan diangguki kepala oleh nyonya Bintara tanda setuju dengan ucapan suaminya. "Benar yang dikatakan daddymu nak. Lihat, dia kesini membawa kue buatannya, cukup enak. Apa kamu tidak ingin mencicipinya???" tawaran nyonya Bintara untuk Dewa dengan menyodorkan kue buatan Lola. "Kalau Lola jadi menantu mommy, mommy pasti akan punya teman untuk shopping, memasak atau melakukan hal hal yang berbau wanita bersama. Kamu kan tahu sendiri, mommy hidup dengan tiga laki laki." jelas nyonya Bintara. Dewa tidak menjawab atau menanggapi perkataan mommy dan daddynya. Setelah Dewa merasa sudah menemukan jawaban tentang pertanyaannya masalah Daren dan Lola yang terlihat akrab, Dewa langsung berdiri meninggalkan orang tuanya tanpa pamit. Hatinya mendadak ingin marah sekarang, tapi, tidak tahu karena apa dan kepada siapa. "Dewa!" panggil tuan Bintara yang membuat langkah kaki Dewa berhenti. "Jangan ganggu mereka, waktumu sudah berakhir. Lola bukan lagi untukmu." lanjut tuan Bintara. Dewa melanjutkan langkah kakinya, keluar dari kediaman keluarga Bintara menggunakan mobilnya. Dia ingin kesuatu tempat, tapi, tidak tahu kemana. Ingin mendatangi tempat teman temannya, tapi, Dewa urungkan, Dewa tidak ingin terlihat sedang tidak baik baik saja meskipun teman temannya pasti akan menyadari hal itu tanpa diberitahu. . . . . Ruman Bintara. "Apa tidak apa apa kita berbicara seperti itu pada Dewa??" tanya nyonya Bintara pada suaminya. "Sekali kali kita harus tegas pada anak itu. Aku bisa melihat dari mata dan ekspresinya kalau Dewa tidak terima bila Lola dekat dengan Daren. Tapi, yang tidak aku mengerti, kenapa Dewa menolak perjodohan ini kalau dia mulai tertarik dengan Lola?" jelas tuan Bintara. "Apapun itu yang terjadi, yang penting aku sudah punya anak perempuan. Ah... sepertinya aku harus mengabari nyonya Agrisa. Setelah itu aku harus menulis rencana apa saja yang akan aku lakukan bersama dengan Lola. Aku sudah tidak sabar." ucap nyonya Agrisa dengan bersemangat. "Sayang, kamu tidak lupa kan kalau suamimu ini setiap hari dirumah untuk menemanimu?? Tapi, kenapa seolah olah perkataanmu seperti aku meninggalkanmu bekerja dan membiarkanmu sendiri dirumah sebesar ini?" tanya tuan Agrisa pada istrinya. "Iya, sepertinya itu ide yang bagus sayang. Kamu bisa kembali bekerja besok. Dan aku akan meminta anak perempuanku datang untuk menemaniku. Sepertinya Daren sedikit repot menghandle perusahaan sampai lupa mencari pasangan. Jadi, bantulah dia. Oke!" ucap nyonya Bintara dengan mencium pipi suaminya lalu pergi meninggalkannya sendiri ditaman belakang. Sepertinya tuan Bintara mulai menyesal kenapa menuruti keinginan istrinya yang ingin menjadikan Lola menjadi anak perempuannya. "Huft..." tuan Bintara hanya bisa mendesah pasrah. . . . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD