Michelle terdiam dengan apa yang baru saja dia lakukan. Wanita itu tak menyangka, kalau dia sudah mengikuti segala emosinya dan mendorong Mikaela jatuh ke danau itu. Tubuhnya tiba –tiba melemah dan dia terduduk. Napas wanita itu tersenggal –senggal sembari dia memundurkan dirinya. Michelle tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan! Dia membunuh Mikaela!
“Tidak! Bagaimana ini? A-aku akan jadi kriminal?” gumamnya tak percaya lalu bersandar di mobil Mikaela. Ia melihat kedua telapak tangannya dan bayangan kalau telapak tangannya berdarah membuatnya terkejut.
“HAHH!!!” Michelle panik dan ketakutan seketika. Tapi kemudian, dia memerhatikan sekitar dan tidak ada orang.
‘Kalau samapi Mbak Kaela masih hidup, bagaimana nasibku? Ah, biar saja sekalian aku menutupi segala kemungkinannya!’ batin Michelle lalu membuka pintu mobil Mikaela. Ia menghidupkan mobil itu, kemudian mengambil batu besar supaya gasnya tertancap. DIa menarik rem terlebih dahulu lalu meletakkan batu itu.
‘Maaf, Mbak! Istirahatlah dengan tenang bersama dengan ayahmu,’ batinnya kejam lalu menarik remnya lalu membiarkan mobil itu berjalan sendiri menabrak palang dan jatuh ke dalam danau.
‘DUARR!!!’
Suara ledakan mobil yang cukup besar mengalihkan perhatian banyak warga sekitar. Tapi sebelum ketahuan, Michelle sebisa mungkin melarikan sebelum ketahuan. Untungnya, dia berhasil menghentikan taksi dari radius yang tak mencurigakan sehingga dia bisa kembali ke mansion Buana dengan aman. Ia sebisa mungkin bertindak seakan tak terjadi apa-apa.
‘Aku harus pura –pura tak tahu! Kemungkinan Mbak Mikaela selamat sangat tipis, aku harap dia benar –benar mati!’ pikirnya dengan penuh ketegaan.
Sepanjang jalan, Michelle selalu mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Mikaela. Karena Mikaela, dia kehilangan kehidupan yang sesungguhnya! Kalau saja Mikaela tidak memberi kesempatan kepada Marcel, pasti pria itu tak akan berpaling sama sekali. Kalau saja Mikaela tidak mempertahankan pernikahan sepihak demi Selena, keluarga Buana tak akan mendesak Marcel. Masalah sesungguhnya memang ada pada Mikaela yang menurutnya sangat egois.
Tanpa sadar, Michelle menangis mengingat itu semua. Tiga tahun penuh keindahan dan cinta, kini hancur lebur. Bahkan kini, hubungan Michelle dan Marcel sangat buruk. Sama sekali tidak ada harapan! Sungguh pemikiran yang sangat egois.
***
Kantor Polisi
“Menurut hasil pemeriksaan TKP, Tuan Adinata terjatuh dari tangga dan ditemukan di lantai teratas Perusahaan Buana, tepatnya di ruang direktur utama. Dia mengalami serangan jantung sekaligus luka yang cukup parah di bagian kepala karena jatuh dari tangga.” Salah satu petugas investigasi menjelaskan kejadian yang mereka dapatkan dari olah TKP.
“Dari lantai teratas? Tempat direktur? Apa mungkin Marcel terlibat dalam hal ini?” Heinry merasa geram teringat kalau selama acara pemakaman kemarin adik ipar sialannya itu bertindak seakan dia merasa kehilangan. Dan sekarang, fakta terbuka karena Heinry sama sekali tidak tinggal diam.
Kematian Adinata yang terjadi di Perusahaan Buana bukan sesuatu yang tiba –tiba. Satu fakta, kalau kemungkinan dia bertemu dengan Marcel dan lagi Heinry yakin pasti ada sesuatu yang membuat ayahnya marah hingga terjatuh. Atau mungkin saja, Marcel adalah pelakunya!
“Rekaman CCTV di Perusahaan Buana sudah terhapus sehingga tak ada bukti yang bisa kami lihat dari situ,” ujar sang petugas membuat Heinry kesal. Keyakinannya semakin kuat kalau Marcel adalah tersangka sebenarnya. Ia mengepalkan tangannya dan tak lama-
‘BRAKKK!!’
Pria itu memukul meja dengan sekeras mungkin hingga sedikit merusak kayunya. Ia teramat geram dengan Marcel yang sudah mengacaukan habis keluarganya. Berawal dari Mikaela, lalu dengan brengseknya mencoba membunuh ayahnya. Itu anggapan Heinry! Maka sekarang, pria yang adalah putra sulung dan penerus keluarga Djuanda itu akan memberi pelajaran dan membalaskan semuanya kepada Marcel. Ia akan membuat perhitungan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Marcel.
“Kau harus mati, tikus sialan! Keluarga Buana setan!!” makinya penuh dengan kebencian.
Setelah merasa cukup dengan bukti yang dia temukan hari ini, Heinry kembali ke mansionnya. Hari sudah malam dan nyaris jam sepuluh. Saat masuk ke mansion, dia melihat sang istri sedang duduk di ruang tamu, menungguinya seperti biasa. Ia melihat Anye yang menyambutnya dan langsung tenang sedikit perasaan kesalnya.
“Sayang, kamu kenapa malam begini pulangnya?” tanya Anye sambil meraih tas kerja dan juga jas suaminya.
“Kasus Papa harus aku selesaikan. Aku tahu, kalau pelaku sebenarnya adalah Marcel!” yakinnya membuat Anye terbelalak.
“Kenapa begitu?” tanya Anye masih belum paham ke mana arahnya.
“Karena kejadiannya di Perusahaan Buana, tepatnya di lantai ruangan milik Marcel. Pasti dia sengaja membunuh Papa karena mungkin dia tak suka kalau Papa marah padanya! Dia harus mendapat balasannya! Harus!” tegas Heinry membuat Anye sangat sedih. Suaminya sangat stres dengan semua kejadian ini dan langsung saja dia memeluk Heinry.
“Sayang, aku tidak bisa tidur karena memikirkan ini. Bisa buatkan aku segelas kopi sambil aku menonton berita?” pintanya langsung diangguki oleh Anye.
Wanita itu ke dapur untuk membuatkan kopi untuk sang suami, sementara Heinry duduk di sofa sambil menghidupkan TV Plasma –nya. Ia akan mengalihkan perhatiannya sejenak dengan menonton bola atau sesuatu yang penting. Sedikit hiburan bisa menenangkan pikirannya yang sangat kacau. Dia akan membalas Marcel, tai untuk saat ini dia harus dalam keadaan stabil dulu. Saat sedang seru menonton pertandingan bola, tak lama harus dijeda dengan iklan. Ia pun menyadarkan kepalanya di sofa karena kesal dengan iklan.
‘Breaking news! Ditemukan mobil Lexus LC 500 berwarna ocean di danau Santer terjatuh dan menabrak palang pembatas. Dengan plat nomer B XXX dan seorang pengemudi diyakini tenggelam tapi belum ditemukan tanda –tanda keberadaannya. Warga sekitar mengaku mendengar suara teriakan yang cukup keras sesaat sebelum suara ledakan menyusul. Sampai saat ini, belum diketahui identitas sang pengemudi.’
“Lexus LC 500? Itu… plat nomernya juga? Kaela?” gumam Heinry terkejut dengan berita itu. Ia memerhatikan mobil itu dan jelas –jelas memang itu milik Mikaela. Ia ingat, kalau mobil itu adalah hadiah yang dia berikan kepada Mikaela dua tahun yang lalu.
“Ah, tidak mungkin! Anye!” Heinry panik dan ketakutan lalu memanggil istrinya.
“Iya, ini kopinya!” Anye membawakan segelas kopi panas. Tapi Heinry terlalu panik sampai tanpa sadar-
‘PRANG!!’
“Awhh! Panas! Kamu kenapa?” heran Anye karena suaminya terlihat sangat panik sampai memecahkan gelas kopinya.
“Kaela, di mana dia?” tanya Heinry sambil memegang kedua sisi bahu sang istri dengan agak kuat membuat empunya kesakitan.
“Sakit! Lepas dulu!” Anye mendorong pria itu lalu teringat soal adik iparnya.
“Kaela… tadi aku bertemu dengannya di kampus, tapi setelah pulang aku sama sekali tak melihatnya,” jawab Anye membuat Heinry terbelalak.
“Lihat! Itu tidak mungkin Kaela kan?” Heinry mengarahkan Anye ke layar kaca dan wanita itu pun terkejut melihat tulisan dan video diangkatnya sebuah mobil yang juga dia kenal. Anye menutup mulutnya karena sedemikian terkejut, bahkan tak mau percaya dengan apa yang terjadi.
“Ki –kita harus ke sana!” Heinry langsung lari sambil menarik tangan istrinya. Dia tak mau tahu, dia berharap kalau itu bukan adiknya.
Dengan cepat, pasangan suami istri itu datang ke TKP. Heinry membawa mobilnya dengan kecepatan gila –gilaan karena emosinya yang sudah di ubun –ubun. Demi Tuhan! Dia sama sekali tak mau percaya kalau tabrakan yang membuat mobil tenggelam di danau Santer adalah milik Kaela. Dia tak mau hal itu terjadi! Cukup sudah Heinry kehilangan ayahnya tapi tidak dengan adik yang sangat dia sayangi. Tak terasa, mereka tiba dan langsung turun tatkala melihat keramaian.
“Ini ada tasnya! Mungkin ada dompet dan tanda pengenal!” ujar salah satu petugas yang mendapati tas pemilik mobil itu. Heinry yang mendengar itu ingin tahu sekali dan menerobos keramaian.
“Mikaela Cassandra Djuanda, ini identitasnya!” katanya lagi.
‘DEG!’
Seketika jantung Heinry terhenti, begitu pula dengan langkahnya. Wajah tegas pria itu langsung pucat tatkala mendengar bahwa adiknya adalah korban dari kecelakaan maut ini. Dia tak percaya dan sama sekali tak mau percaya. Semua orang langsung heboh dan berpikir untuk menghubungi keluarganya.
“Saya adalah kakaknya!” ujar Heinry lemah dengan langkah linglung. Ia melihat tas milik adiknya dan tanda pengenal yang ada di dalam dompetnya. Air matanya berderai saking tak percaya kalau adiknya harus mengalami semua ini. Ia berjalan ke pinggiran dekat tebing dan melihat ke danau. Tatapannya kosong karena teringat sesuatu.
Flashback
“Tolong!!” teriak Kaela yang berusia lima tahun sama sekali tidak bisa berenang. Heinry tadi sengaja mendorong adiknya dengan iseng supaya tidak jadi penakut.
“Kaela!!” teriak Adinata langsung menolong putrinya dan untungnya dia belum terlambat.
‘Hikss! Kak Heinry jahat hikss!!” tangis gadis kecil itu membuat Heinry seketika pucat. Adinata memicing kepada putranya itu dan berkata, “ Lihat perbuatanmu, Heinry! Jangan coba –coba lakukan lagi dan jauhkan Mikaela dari air yang dalam! Dia bisa tenggelam!” Peringatan itu adalah perintah bagi Heinry dan memang dia sangat menyesal sudah membuat adiknya nyaris tewas karena tenggelam.
End Of Flashback
“Kaela tidak bisa berenang! Dia tidak bisa berenang! Siapa pun, tolong cari dia! KAELAAA!!” teriak Heinry sangat panik karena tahu adiknya pasti tidak akan selamat kalau tidak ada yang segera menolongnya. Bahkan Heinry nyaris nekad menceburkan dirinya kalau tidak dihalangi oleh orang –orang sekitar.
“Sabar, Mas! Sudah beberapa anggota penyelamat sedang mencari ke dalam sana,” kata mereka.
“Berapa lama baru kalian mencari dia, hah?!” tanya Heinry lagi.
“Saat warga mendengar suara ledakan mobil, mereka dengan cepat mengubungi tim evakuasi. Ya, sekitar setengah jam tim datang dan sampai sekarang sedang mencari,” jelas pria itu membuat Heinry semakin tidak bisa tenang.
“Sudah berapa lama… mereka mencari?” tanya Heinry lagi dirundung keputusasaan.
“Hampir dua jam,” jawab mereka membuat Heinry semakin melemas.
Tubuh tinggi dan tegapnya sampai terduduk di tanah karena merasa sudah tidak mungkin lagi kalau adiknya bisa selamat. Air matanya terus mengalir karena tak sanggup dengan kenyataan kalau dia harus kehilangan adiknya. Korban tenggelam tidak bisa bertahan lama, apalagi jika dia berada di dalam mobil. Anye yang melihat suaminya begitu sedih dan putus asa, langsung memeluk pria itu dengan erat. Keduanya sama –sama menangis walau belum percaya Mikaela pergi sebelum jasad wanita itu ditemukan.
“Adikku tidak mati kan? Dia tidak boleh mati, Anye! Tidak boleh!!” tangis Heinry sangat memilukan sehingga Anye tak bisa berkata apa –apa lagi. Dia juga sedih karena sudah menganggap Mikaela seperti adiknya sendiri.
“Aku tidak mau kehilangan dia!” pilu Heinry lagi. Sungguh kejam pelaku dari semua ini!
Semua orang berpikir, kalau kejadian ini murni kecelakaan karena pengemudia yang lalai atau mobil yang mengalami kerusakan teknis. Faktanya, ini adalah kasus pembunuhan yang disengaja dan terlihat seperti kecelakaan. Heinry baru saja mengusut mengenai kasus kematian Adinata. Dan kini, dia harus menghadapi kepahitan dengan kehilangan Mikaela. Dalam hati, dia berharap Mikaela selamat walau hal itu nyaris tak mungkin!
Mansion Buana
Michelle sudah mengganti bajunya dengan piyama tidur. Ia memerhatikan wajah kecil putrinya yang tidur dengan tenang. Suaminya, Michael belum pulang dari bisnisnya di luar kota dan mertuanya juga sudah istirahat saat dia pulang tadi. Tidak ada yang curiga kepada Michelle dan itu membuatnya lega. Wanita itu dengan santainya mengelus wajah pulas Rose untuk menenangkan perasaannya. Bayang –bayang kejadian tadi memang masih menghinggap di kepalanya, tapi berulang kali Michelle menarik napasnya dalam –dalam untuk menenangkan diri.
Tiba –tiba, dia merasa kalau tenggorokannya kering. Maka, Michelle keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman ke dapur. Baru saja dia keluar dari kamarnya, ia dikejutkan dengan keberadaan seorang pria.
“Astaga!” teriaknya tapi pria itu dengan segera menahan suaranya.
“Jangan berisik! Sedang apa kau keluar malam?” tanyanya membuat Michelle memutar bola matanya malas.
“Mas sendiri sedang apa? Aku haus dan mau minum!” balasnya lalu melangkah ke belakang. Pria yang dia panggil dengan sebutan ‘Mas’, yakni Marcel langsung memicing ke arahnya karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Michelle.
‘Apa yang baru saja dia lakukan tadi ya? Dia tidak ikut makan malam dan pulang terlambat,’ batin Marcel curiga. Tak lama, wanita itu kembali dan Marcel masih bersandar di dinding dekat kamar Michelle.
“Kenapa Mas tidak istirahat? Besok kan… masih hari kerja,” tanyanya membuat Marcel memberi tatapan penuh selidik. Michelle sedikit takut, tapi dia sebisa mungkin memasang wajah berani di hadapan Marcel.
“Apa yang kau lakukan di luar sana, Michelle? Kau pulang terlambat kan?” tanya Marcel membuat wanita itu terkejut bukan main. Marcel curiga kepadanya!
_______________________________________
PEMBACA UDAH TAU PLATFORM CARA GRATIS GA??
YUK MAMPIR KE FIZZO....
BANYAK NOVEL KEREN DI SANA
CEK NAMA PENA AKU DAN TEMUKAN BANYAK KARYA YANG GILA2AN DI SANA???