Murder

1998 Words
Michelle benar – benar sangat malu saat ini! Dia sudah dengan susah payah melakukan pekerjaannya dengan baik dan malah Mikaela datang untuk mempermalukannya. Wanita itu masih berada di wilayah kampus karena sedang sangat kesal dengan apa yang dilakukan Mikaela kepadanya. “Mbak Kaela dan ayahnya sama saja! Memperlakukan orang lain dengan sebelah mata dan menganggapku rendahan. Lihat saja! Aku akan buat perhitungan yang tidak akan pernah kau lupakan!” gumamnya kesal sambil menggigit ujung jarinya. Michelle terlalu marah sampai kepalanya pening. Seketika, segala kenangan buruk tentang dia dan Mikaela seakan terekam kembali. Ia jadi membenci Mikaela, walau wanita yang masih berstatus kakak iparnya itu tak pernah sekali pun membuat sesuatu yang merugikan dirinya. Sama sekali tidak pernah! Mikaela selalu memberi segalanya kepada Michelle karena sudah menganggapnya sebagai adik. Tapi karena apa yang dilihatnya beberapa hari silam, Mikaela merasa tak bisa membiarkan Michelle melakukan apa yang dia mau lagi. Di sisi lain, Mikaela sedang melakukan kembali segala pekerjaannya sebagai direktur Yayasan di kampus ini. Ia memeriksa semua pekerjaan dan harus dia akui kalau Michelle melakukan tugasnya dengan sangat bertanggung jawab. Mikaela terdiam sejenak lalu teringat betapa kejamnya dia berkata – kata kepada Michelle tadi. “ Apa aku berlebihan ya? Dia pasti sangat sakit hati. Waktu dia berciuman dengan Marcel, mungkin saja itu karena keinginan sepihak dari Marcel. Michelle… pasti tak seburuk itu kan?” Mikaela bertanya –tanya karena perasaan bersalahnya. Dia sudah berusaha menguatkan perasaannya siapa tak lagi mudah percaya kepada orang lain atau terlalu mudah kasihan. Tapi di sisi lain, Mikaela mengingat berbagai ketidakadilan yang didapat Michelle sepanjang hidupnya yang mungkin saja membuat wanita malang itu jadi bersikap begini. Mikaela pun teringat kepada Ares yang juga memiliki sedikit banyak persamaan dengan Michelle. Tak lama, dia sedikit tersenyum tipis. “Aku harus minta maaf dan mungkin saja kami bisa bekerja sama. Dan lagi soal Helios! Aku harus menghubunginya untuk bertemu besok! Aku harus menyelesaikan urusanku satu per satu. Mungkin, aku bisa bertemu dengan si kembar lalu memeluk mereka sebelum Helios membawanya ke Boston. Huft! Membayangkan ke Boston hanya untuk menjenguk si kembar rasanya sulit sekali. Kenapa ya aku bertindak bodoh begini?” monolog Mikaela dengan penuh penyesalan akan semua yang sudah dia lakukan. Memberi hak asuh kepada Ares berarti dia sudah lepas tangan. Sekarang, Ares sudah tak ada dan hanya ada Helios. Mikaela sendiri tak yakin kalau Helios bisa menjaga si kembar dengan baik. Tapi pada kenyataannya, dia tak bisa merebut kembali si kembar dengan mudah. Walau bukan berarti tak bisa, tapi hanya butuh proses yang agak panjang saja. ‘Aku harus memperjuangkan kedua anakku. Maaf aku merebutnya kembali darimu, Ares! Tapi, kau bahkan tidak menyelesaikan tanggung jawabmu. Kau malah meninggalkan mereka di saat seperti ini,’ batin Mikaela mulai merancang apa yang mesti dia lakukan dalam waktu dekat. Untuk saat ini, biarkan dulu si kembar pergi ke luar negeri. Tapi setelah itu, Mikaela akan membawa kembali keduanya ke dalam pelukannya. Setelah selesai memikirkan segala masalahnya, Mikaela kembali melanjutkan semua pekerjaannya. Tak terasa, sudah jam istirahat. Ia keluar dari ruang kerjanya untuk ke café sekitar dan makan siang. Saat berjalan, dia terdiam saat melihat ruangan yang sengaja dia kosongkan untuk mengenang seseorang. Masih jelas tertera nama yang tertulis di situ, Profesor William Simon. Mikaela mengepalkan tangannya lalu membuka pintu yang selalu dia simpan kuncinya di dalam tas. “Sudah lama sejak terakhir kali aku ke sini. Willy, aku bahkan sudah tak ke makammu lagi. Ah, pasti sekarang kamu bertemu dengan Papa. Terlalu banyak yang terjadi, Papa pasti cerita semuanya ke kamu. Hikss! Kamu dan Papa sudah tenang ya? Dan Papa juga pasti senang karena ketemu sama Mama,” gumam Mikaela karena perasaannya yang kembali sedih. Kehilangan adalah perasaan yang sangat menyedihkan dan berulang kali terjadi kepadanya. “Pertama, aku kehilangan kamu, cinta pertama yang terindah dalam hidupku. Kedua, aku kehilangan Papa, cinta yang tak pernah terganti sepanjang hidupku. Kemudian Ares, dia harusnya melindungi anak kami dan keponakanmu, Wil. Hanya tinggal Kak Heinry hikss!!” lanjutnya lagi. Orang –orang yang ada di pihaknya hanya tinggal Heinry dan Anye. Bukan berarti itu kurang bagi Mikaela. Hanya saja, berusaha tanpa mereka yang menyayanginya dengan tulus sangat membuat Mikaela merasa sedih. “Oleh karena itu, Wil! Aku harus kuat! Aku mesti jadi perempuan yang kuat!” Mikaela mencoba menyemangati dirinya sendiri. Dia tak boleh putus asa semudah ini, karena Selena dan si kembar membutuhkan dirinya. Di tengah waktunya yang sedang ingin sendiri, suara ponsel yang berdering mengalihkan perhatiannya. Mikaela mengambil ponselnya lalu mengangkat. “Apa maumu, Marcel?” tanya Mikaela kepada pria yang sebentar lagi bercerai dengannya. “Besok adalah mediasi tapi aku tak akan datang. Aku akan suruh pengacara. Dan lagi, soal Selena! Jangan pikir aku akan menyerahkannya kepadamu!” kata Marcel membuat mata Mikaela terbelalak. Bisa – biasanya pria itu berkata demikian kepada Mikaela hingga sang wanita menggertakkan gigi saking geramnya. “Aku tak peduli soal mediasi! Tapi kalau kau ingin merebut Selena, jangan mimpi! Sejak awal, dia adalah putriku dan tak akan pernah kuserahkan dia kepadamu!” tegas Mikaela lalu mematikan sepihak panggilan mereka. Baru saja menenangkan diri, kini Marcel memicu emosi di pihak Mikaela. Sungguh! Mikaela agak menyesal berurusan dengan Marcel! *** Michelle kini berada di sebuah café di dekat kampus. Entah kenapa, dia sedang tak ingin pulang. Padahal, harusnya dia bertemu dengan putrinya tapi pikirannya terlalu kacau. Ia memerhatikan langit yang mulai menggelap lalu menghela napasnya. “Tak ada gunanya terus melamun di sini. Aku harus kembali!” gumamnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Michelle berjalan di zebracross dan entah kenapa tak terpikir untuk mengambil taxy. Dia hanya ingin terus berjalan dan berjalan sambil memikirkan semua yang terjadi hari ini. Tapi tak lama, sebuah suara klakson mobil mengalihkan perhatiannya. Ia melihat sebuah Lexus LC 500 berwarna biru laut terhenti. Dia bisa menebak ini mobil siapa dan yang benar saja ketika kacanya terbuka, dia melihat sosok sang pemilik. “Mbak Kaela? Mau apa? Menertawakan saya?” tanya Michelle dengan nada sarkas. “Masuklah! Mbak ingin bicara penting sama kamu. Kita cari suasana tenang ya?” ajak Mikaela membuat Michelle memutar bola matanya malas. “Gak perlu!” tolaknya sambil buang muka. “Mbak mau minta maaf sama kamu! Tolong, biarkan Mbak bicara ke kamu,” pinta Mikaela sekali lagi membuat Michelle mendengus. Dia pun membuka pintu mobil MIkaela lalu ikut ke mana sang kakak ipar membawanya. Mikaela membawa mobil itu ke daerah wisata, Danau Sunter. Tapi tempat ini sudah ditutup, walau begitu Mikaela tetap mencari tempat bicara di mana suasananya tenang sambil melihat air danau yang sedemikian tenang di depan mereka. “Kenapa Mbak bawa saya ke sini?” tanya Michelle sambil keluar bersama dengan Mikaela. Tempat ini cukup tinggi dan mereka bisa melihat air tenang itu dari sini. “Ayo, kita saling menenangkan diri. Semua yang terjadi harusnya gak begini kan?” ujar Mikaela mengalihkan perhatian Michelle. “Apa yang mau kita sesali sekarang Mbak? Pertemuan Mbak dengan Mas Marcel atau Ares? Kalau aku hanya satu, kenyataan kalau Mas Marcel lebih memilih Mbak daripada saya. Itu sangat sakit!” balas Michelle masih menatap ke arah danau itu. Danau yang banyak misteri tapi dikunjungi oleh banyak warga di kota ini. Ya, walau sekarang tak ada satu pun orang di sini. “Kamu benar, harusnya waktu itu Mbak gak usah menerima Marcel. Sepertinya, dia masih mencintai kamu,” kata Mikaela lagi menyesali memberi seluruh cintanya kepada Marcel. Dia baru sadar sekarang, kalau kenyataan Marcel tak mungkin melupakan Michelle sepenuhnya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat dan sudah jelas kalau semua yang dilakukan Marcel padanya hanya karena rasa kasihan, bukan cinta. Dan saat sebuah badai menerjang pernikahan mereka, Marcel tidak bisa menerima segalanya dan memilih membuangnya seperti seorang yang sama sekali tak layak mendapat kesempatan. Diperlakukan seperti sampah yang menjijikkan. “Benar! Harusnya Mbak gak perlu mencintai Mas Marcel!” Michelle tiba –tiba berteriak dan mengejutkan Mikaela. Mendengar itu, Mikaela langsung meraih Michelle dan memeluknya dengan erat untuk menenangkan perasaan wanita itu. Tapi Michelle terus berontak lalu pelukan dari Mikaela terlepas. Wajah wanita itu terlihat sangat marah dan kecewa akan semua yang terjadi. Michelle menangis karena semua kepedihan itu terasa lagi di dalam hatinya. “Maafkan aku! Kumohon maafkan aku!” Mikaela menyatakan permintaan maafnya dengan setulus hati. “Maaf? Setelah membuatku seperti barang yang di oper sana sini?! Setelah aku kehilangan pria yang kucintai? Setelah aku kehilangan segala impianku yang tersisa setelah kematian orang yang membesarkanku? Hanya maaf? Itu gak adil!” Michelle semakin tak bisa mengendalikan segala kemarahannya. Dia mendorong Mikaela dengan kasar hingga semakin dekat ke pembatas jalan dengan danau. Cukup tinggi jika diperhatikan dari sini, kalau diperhatikan ke bawah seperti tebing. Mikaela mulai sedikit khawatir dan berpikir untuk memanggil seseorang ke sini. Ia meraih ponsel yang ada di saku blazernya. Tapi, Michelle malah berjalan dengan tatapan yang sangat menakutkan. Mikaela berusaha sebisa mungkin menekan apa saja yang bisa menolongnya. Tapi entah tertekan apa, malah perekam yang hidup. Mikaela tak tahu soal ini, tapi dia memundurkan langkahnya. “Kenapa Mbak? Kenapa hidup sangat tak adil? Kau terlahir dari keluarga kaya raya dan bahagia! Sangat berbeda denganku! Kau dapat apapun yang kau mau semudah membalikkan telapak tangan! Tidak sepertiku yang harus berusaha keras demi bertahan hidup! Kau dengan mudah dicintai banyak pria karena parasmu yang seperti dewi! Aku benci! Aku benci segalanya tentangmu!” Michelle menyatakan segala ketidaksukaannya, bahkan menggenggam dengan erat kedua sisi lengan Mikaela. “Ukh! Lepas Michelle! Aku tak mau kasar kepadamu!” Mikaela memperingatkan, tapi Michelle menyeringai. “Mbak tahu? Aku akan memaafkan Mbak Kaela, jika Mbak mati!” katanya sinis membuat jantung Mikaela seakan berhenti berdebar. Tubuhnya terkaku dan tiba –tiba Michelle mengumpulkan segala tenaganya untuk mendorong Mikaela ke danau. Ya, dari tebing yang cukup tinggi ini. “Kyaaa!!!” teriak Mikaela saat merasakan dorongan Michelle dan sialnya dia sama sekali tak bertenaga membalas dorongan wanita itu. Ia berpasrah dan kini merasakan tubuhnya terjatuh sambil melihat Michelle yang menatapnya begitu kejam. “Kau yang menghancurkan hidupku dan harusnya kau tak hadir di antara kami!” Itu perkataan yang dikatakan Michelle sebelum mendorong Mikaela. “Kuharap kau pergi dan tidak pernah kembali untuk selamanya! Jika kau tidak ada, maka hidupku akan sempurna!” teriak Michelle lagi dan setelah itu MIkaela benar –benar terlempar ke dalam danau yang dalam dan juga menakutkan baginya. Jelas saja, dia tak bisa berenang! Mikaela merasakan dinginnya air danau menusuk tulangnya. Air matanya terus mengalir tapi bercampur dengan air danau ini. Rasanya sesak, karena ia bahkan tak bisa menarik napasnya. Mikaela tak habis pikir, kenapa Michelle tega melakukan semua ini kepadanya. Berusaha sebagaimana pun, Mikaela tak mungkin bisa kembali ke permukaan. Dari kecil, dia takut air dan sangat trauma kalau masuk ke air yang dalam. ‘Apa aku akan berakhir sampai di sini saja? Hidupku sesingkat ini saja? Apa aku akan bertemu kalian semua? Papa, Mama, dan Willy? Apa kalian akan memelukku dengan erat?’ batin Mikaela seraya menunggu napasnya habis di dalam sini. Dia bisa merasakan kalau tubuhnya tenggelam semakin dalam dan jauh dari permukaan. Perlahan, Mikaela menutup matanya untuk mencoba menerima semua ini. Kematian yang sudah menjemputnya. Tapi tak lama, dia teringat kepada Selena, Raphael dan Haniel. ‘Tidak! Mereka membutuhkanku!’ Mikaela berteriak dalam hati sambil menggerakkan tangan dan kakinya. Sebisa mungkin dia bergerak, tapi tidak bisa. Saking sedihnya, dia sampai menangis di dalam air karena putus asa. Ingin menyelamatkan diri namun tak bisa. Rongga d**a wanita itu terasa begitu sesak seperti ditusuk –tusuk karena dia kesulitan bernapas. Mikaela bergerak sebisa mungkin, tapi semuanya percuma. Tidak ada yang berarti yang bisa mengembalikan Mikaela ke permukaan karena di sini cukup dalam. Segala memorinya bersama orang yang dia sayangi langsung terlintas begitu saja. Orang –orang yang sudah meninggalkan dirinya. Mungkin setelah ini, Mikaela akan bertemu dengan mereka yang sudah tiada. ‘Anak –anakku!’ teriak Mikaela dalam hatinya kala teringat Selena dan bayi kecilnya. Tapi dia tak berdaya! Perlahan, kesadarannya mulai menipis karena waktu dia untuk menahan napas semakin singkat. Saat akan menutup matanya, dia melihat bayangan seseorang. Mikaela tersenyum tipis karena merasa melihat malaikat. ‘Willy? Kau menjemputku?’ _______________________________________ Sengaja dobel up... Biar naik tensi~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD