Marcel berusaha kabur, tapi sekilas dia mendengar suara nada dering ponsel seseorang. Dia terkejut ada orang lain di sini. Maka, dia langsung lari daripada tertangkap basah dan tertuduh menghabisi ayah dari Mikaela. Pria itu berpikir, lebih baik dia pergi daripada dipersalahkan atas kejadian yang dia sendiri tidak duga.
***
Seorang wanita keluar dari taxy –nya dan sampai di sebuah hotel. Dia dipanggil oleh seseorang yang tidak dia kenal dan dipaksa ke sini. Wanita itu turun dan langsung memberi tahu apa yang harus dia katakan. Dengan cepat, para resepsionis hotel langsung mengarahkan dia ke sebuah ruangan VVIP di lantai atas. Wanita itu naik dan kemudian dipersilakan masuk sendirian. Saat melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu, wanita itu terkejut melihat siapa yang meminta dia datang ke sini.
“ Ares Pratama!” Wanita itu menyebutkan nama pria yang tengah duduk manis di sofa kebesarannya. Pria itu menyunggingkan senyumannya menyandarkan dagunya di tangannya.
“ Selamat datang, Michelle Prasasti!” Pria itu menyambutnya dengan senyuman yang aneh. Wanita itu yang tak lain adalah Michelle langsung mengepalkan tangannya sambil memerhatikan sekitar. Kini dia merasa terkepung dan tidak ada jalan lain untuk pergi dari sini.
“ Apa maumu?” tanya Michelle kepada Ares.
***
Heinry langsung sigap berlari di sepanjang lorong rumah sakit. Dia mendapat kabar kalau ayahnya terjatuh di tangga Perusahaan Buana Jaya. Guratan khawatir terlihat jelas di wajah Heinry karena takut apa yang dia pikirkan terjadi. Pria itu jelas tidak datang sendirian ke sini. Ada istri dan juga adiknya, Mikaela. Saat tiba di ruang gawat darurat, mereka langsung masuk tapi para dokter terlihat sudah melepas semua alat yang menopang ayah mereka.
“ Dokter? Kenapa dengan Papa saya? Ka – kalian kenapa terlihat lepas tangan?” tanya Heinry sambil menarik kerah baju sang dokter.
“ Ma- maaf Tuan Djuanda, tapi saat tiba di sini, detak jantung Tuan Adinata sudah tak ada lagi. Kami berusaha memberi pertolongan pertama, tapi luka di kepalanya juga sangat parah. Semuanya sudah terlalu terlambat,” jelas sang dokter membuat semua yang mendengarkan langsung syok. Heinry mendorong kasar dokter itu sambil melihat sang ayah yang terbujur kaku di atas brangkar pasien. Seorang perawat sedang membersihkan darahnya, tapi Heinry mendorong perempuan itu supaya menjauh dari Adinata yang sudah tak berdaya.
“ Dokter … ini tidak mungkin kan?” tanya seorang wanita lagi kepada sang dokter. Itu adalah Mikaela, tapi sang dokter hanya menundukkan kepala dan tak mampu memberikan jawaban lagi.
Wajah Mikaela sangat pucat karena melihat ekspresi dokter yang sudah sangat putus asa. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan berharap kalau semua ini hanya sekedar mimpi. Anye menutup mulutnya sendiri kala keduanya berjalan untuk melihat langsung siapa yang terbaring di sana. Heinry sudah menangis tersedu –sedu dan Mikaela masih tak percaya dengan apa yang sudah dia lihat dengan jelas.
“Papa? Ba –baru tadi siang kita bicara kan? Kenapa Papa sekarang malah tertidur di sini? Papa harus bangun dong,” ujar Mikaela saat berada di sebelah jasad ayahnya.
Wajah itu sudah pucat walau masih ada sisa darah yang mengalir dari kepalanya. Mikaela memegang tangan sang ayah yang masih hangat tapi kaku itu sambil menggelengkan kepalanya. Sakit! Rasanya jauh lebih sakit daripada dia mendengar kematian palsu sang ayah hampir setahun yang lalu. Melihat sang ayah sudah tak bernyawa dengan begitu jelas di depan matanya, membuat Mikaela ingin mati saja.
“Papa? Bangun Pa! Jangan begitu lah! Papa main –main kan! PAPA!!” Mikaela berteriak saking tidak terimanya. Dia bahkan menggerakkan tubuh kaku Adinata tapi hasilnya sama saja. Pria tua itu sudah meninggal dunia. Heinry dan Anye tidak dapat menahan tangis mereka saat melihat MIkaela yang sangat hancur dengan semua ini. Heinry juga sedih, tapi dia tak bisa berkata apa pun lagi.
“Pa? Hikss… kalau gak ada Papa, nanti siapa yang jaga Kaela? Hikss… cuma Papa yang dari dulu paling sayang sama Kaela. Kak Heinry sudah punya kak Anye, hikss!! Semua sudah pergi, Pa! Papa!” Mikaela mengisak saking tidak terima dengan semua ini.
Heinry tidak tahan dan langsung menarik sang adik ke dalam pelukannya. Baru saja adiknya hancur berkeping –keping karena perceraian yang digugatkan oleh Marcel kepadanya. MIkaela juga sudah menyerahkan dua darah dagingnya untuk pergi jauh darinya. Hancur sudah kehidupan adiknya yang malang itu. Di dalam pelukan sang kakak, terus saja Mikaela menangis sejadi –jadinya. Wanita malang itu terus meraung sampai akhirnya, dia kehilangan kesadarannya.
***
Langit mendung menghiasi suasana di sekitar sini. Di sebuah pemakaman, terlihat banyak orang dengan pakaian serba hitam. Satu per satu orang yang melayat berpamitan setelah menyatakan bela sungkawanya kepada keluarga yang ditinggalkan. Kali ini, kematian Adinata Djuanda adalah kenyataan. Mikaela terlihat sangat sedih walau Heinry sudah berulang kali menghiburnya. Mereka sama –sama kehilangan seorang ayah, tapi kenyataan kalau Mikaela jauh lebih dekat dengan ayahnya membuat dirinya sangat tidak terima dengan semua ini.
Marcel yang masih memiliki hubungan dengan keluarga Djuanda harus hadir. Dia terus memasang wajah datar tanpa ekspresi. Kejadian semalam begitu nyata baginya, tapi sampai detik ini dia sama sekali tidak mau mengakui apa yang sebenarnya terjadi. Pria itu diam –diam memanipulasi keadaan dan mengatakan kalau Adinata terkena serangan jantung lalu terjatuh di tangga tanpa ada siapa pun yang tahu. Pria itu sengaja menyuruh seorang cleaning service membersihkan area ruangannya sehingga yang melihat Adinata langsung menghubungi ambulan.
Dari kejauhan, sepasang suami istri memerhatikan Mikaela yang terus saja bersedih. Michael yang adalah adik ipar Mikaela merasa amat prihatin dengan apa yang terjadi kepada kakak iparnya itu. Marcel belum resmi bercerai dengan Mikaela dan dia masih menghormati Mikaela sebagai istri kakaknya. Tapi sungguh berbeda dengan Michelle. Wanita itu terlihat sinis seakan dia menginginkan semua ini.
“ Kasihan Kak Kaela. Sepertinya, musibah tidak berhenti terus mendatanginya,” ujar Michael prihatin.
“ Aku pernah merasakannya, Mike. Itu sangat menyedihkan kehilangan orang yang kita sayangi,” balasnya tanpa menunjukkan rasa iba sedikit pun.
Michael tak terlalu memerhatikan ekspresi istrinya karena sangat kasihan kepada Mikaela. Sampai seseorang yang tak diduga datang ke area pemakaman itu. Di sini sudah sepi dan hanya tinggal keluarga yang masih menangisi kematian dari Adinata. Pria itu ingin menyatakan bela sungkawanya kepada Mikaela, tapi sebelum itu dia memerhatikan Michelle. Saat tatapan mereka bertemu, Michelle sangat terkejut sementara pria itu memberi senyum yang sulit diartikan.
“ Kau… apa yang kau lakukan di sini?” Michael bertanya dengan penuh emosi.
“ Hanya untuk menyatakan bela sungkawa.” Pria itu menjawab ke arah Michael. Tak lama, dia kembali memerhatikan Michelle sambil menarik seringaiannya, “ Oh, Michelle! Apa kau… benar – benar sedih melihat Mikaela saat ni?” tanyanya dengan nada mengejek dan membuat Michelle kesal.
“ Saya tidak mengerti maksud anda, Tuan Pratama!” balas Michelle dengan tegas kepada pria yang jelas adalah Ares Pratama. Ares langsung berjalan ke arah Michelle lalu menepuk bahu wanita itu sambil mendekatkan kepalanya ke telinga Michelle.
“ Jangan lupakan pertemuan kita semalam! Kuharap, kau harus bisa segera membuat keputusan sebelum semuanya akan menghancurkan dirimu sendiri.”
Michelle tertegun mendengar bisikan dari pria itu. Setelah mengatakan sebuah kalimat yang entah ancaman atau apa, Ares langsung pergi untuk menemui Mikaela. Sementara Michael hanya menatap kesal pada Ares yang berani menyentuh bahu istrinya, bahkan sampai berbisik sedekat itu.
“Sial! Berani sekali dia menyentuhmu! Tak akan kubiarkan dia melakukan hal – hal aneh kepadamu!” ujar Michael dengan nada kesal. Tapi Michelle masih memikirkan bisikan dari Ares.
“Michie, apa yang dia katakan?” tanya Michael karena mendapati ekspresi istrinya yang seakan merasa terancam. Tapi Michelle langsung menggeleng,” Bukan apa –apa! Aku hanya kelelahan! Ayo pulang! Anak kita pasti sudah merindukan kita.”
Michelle langsung berbalik dan ingin pergi dari sini. Suasananya semakin buruk ketika Ares datang ke sini. Pria itu sangat berbahaya bagi Michelle, apalagi saat ini dia harus berurusan dengan Ares. Pertemuan dan pembicaraan di antara mereka tadi malam benar –benar mengubah kehidupan seorang Michelle Prasasti.
Sementara itu, Ares berjalan ke dekat pemakaman dan memerhatikan Mikaela yang hancur karena kematian ayahnya. Sekilas, pria itu teringat betapa hancurnya dia ketika kedua orang tuanya meninggal. Tapi Marcel yang melihat kedatangan Ares langsung terbawa emosi sambil mengepalkan tangannya karena sangat kesal.
“Harusnya kau di penjara, bajiingan! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya dengan nada tinggi dan penuh dengan emosi yang meluap –luap. Mikaela yang sedang berduka teralihkan perhatiannya. Heinry ingin menjelaskan, tapi wanita itu menahan tangan kakaknya. Mikaela menarik napasnya dalam –dalam sambil mencoba berdiri walau dia sedang sangat lemah.
“Aku!” Dia angkat suara sambil berjalan menghampiri keduanya.
“Aku yang mencabut tuntutanku terhadap Ares!” tegasnya sekali lagi membuat keterkejutan di pihak Marcel. Di suasana sore hari yang mendung itu, angin bertiup cukup kencang dan mungkin menandakan akan segera turun hujan.
‘SYUUHHH!’
Ares kini berjalan mendekati Mikaela sambil memberi tatapan hangat kepada wanita malang yang tengah berduka itu. Mikaela mengangkat kepalanya menatap datar ke arah Ares. Wajahnya begitu sembab karena terlalu banyak menangis sejak tadi malam. Melihat itu, perasaan Ares begitu sakit. Dia tak tahan melihat Mikaela harus melalui semua ini sendirian. Sayangnya, pria itu sama sekali tak punya kesempatan untuk menghibur dan memeluk Mikaela. Dia masih bukan siapa –siapa untuk wanita itu.
“Aku turut berduka cita, Kaela.” Hanya sepatah kalimat itu yang dia bisa ucapkan kepada Mikaela. Wanita itu hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Sementara Marcel menatap keduanya dengan penuh kekesalan dan banyak pertanyaan di kepalanya.
‘Apa … yang sebenarnya sedang kau rencanakan, Mikaela?’ batinnya tak terima.
Dia yakin, pasti ada sesuatu yang membuat Mikaela sampai harus membebaskan bajiingan seperti Ares. Dan yang benar saja, setelah itu Mikaela beralih kepadanya. Wanita itu memberi tatapan sinis penuh kemarahan kepada Marcel.
“Marcel, ayo bercerai!” Mikaela menegaskan keputusannya dan hal itu membuat Marcel sangat terkejut. Walau dia sudah tahu, dia berpikir kalau Mikaela sudah menyusun banyak rencana yang mungkin saja membalaskan dendamnya kepada Marcel.
“Ternyata, kau adalah wanita seperti itu ya, Kaela? Sebelum bercerai, kau menyiapkan seorang cadangan untuk tempat pelarianmu, sama seperti yang kau lakukan kepada William dulu!” ujar Marcel dengan seenak hatinya membuat Ares sangat kesal.
“Jangan sebut nama adikku sesuka hatimu!” ujarnya menatap ke arah Marcel.
“Kenapa? Kalian berdua sama –sama tempat pelampiasan kesedihan Mikaela. Sangat malang ya? Kau sudah menunjukkan dengan jelas padaku siapa dirimu yang sebenarnya Mikaela. Dan semua itu sudah cukup buatku!” sarkasnya hanya dibalas kebungkaman oleh Mikaela. Ingin dia membalas perkataan Marcel, tapi dia sama sekali tak merasa ada gunanya melakukan itu.
“Jangan sakiti perasaan adikku! Kalau kalian ingin berdebat atau bahkan berkelahi, pergi saja dari sini!” usir Heinry kepada Marcel dan Ares lalu menarik Kaela dari antara mereka. Dan Mikaela memilih untuk ikut dengan kakaknya tanpa mau berurusan dengan kedua pria yang sudah mengacak –acak hidupnya sampai seperti ini.
Ares masih berdiri di tempatnya sementara Marcel terus menatap sinis kepada pria itu dengan penuh dendam. Ingin sekali dia memberi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan oleh Ares seumur hidupnya, karena yang dulu pernah dilakukan Ares padanya. Dikurung dan diperlakukan seperti binatang yang hina. Marcel yang memiliki harga diri tinggi tak terima melihat penjahat yang melakukan semua itu padanya bebas menghirup udara segar.
“Aku akan membuat perhitungan yang fantastis untukmu Ares,” ujarnya lalu melangkah meninggalkan area pemakaman. Ares menyipitkan matanya dan menarik seringaiannya mendengar ucapan Marcel yang seakan mengancam dirinya. Pria itu mengambil ponsel di dalam sakunya lalu menghubungi seseorang.
“Helios! Cepatlah ke sini! Aku akan menunggumu!” perintahnya kepada Helios.
Marcel pergi dengan rencana, sementara Ares sudah punya rencana. Mereka akan sama –sama menyusun sebuah konspirasi yang mengejutkan untuk satu sama lain. Setelah semuanya pergi dari area pemakaman ini, Ares masih terdiam hingga matahari terbenam. Hujan tidak jadi turun walau tadinya langit sudah mendung dan angin bertiup kencang. Dia memandang ke arah makam Adinata dan kemudian melanjutkan langkahnya ke makam kedua orang tuanya.
“Ayah! Ibu! Kalian tetaplah tenang di sana! Aku akan terus hidup dan menjaga cucu kalian! Anak –anakku akan menjadi penerus bagi keluarga kita. Hanya Raphael dan Haniel yang menjadi alasanku hidup saat ini,” gumamnya ke arah dua batu nisan itu. Kemudian, dia mengalihkan perhatiannya ke makam Willy yang tak jauh dari situ.
“Adikku! Orang yang kau percaya untuk menjaga Mikaela tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Maka, biarkan aku yang menggantikannya ya? Biar Mikaela menganggap, kalau aku adalah pengganti dirimu!” ujarnya sambil melihat makam kembarannya, William Simon.
***************
PARA READERS YANG BAIK~~
MAKASIH LOH UDAH SABAR BANGET NUNGGUIN YANG INI....
AUTHOR PUNYA BANYAK DAILY BULAN INI DI BERBAGAI PF YG MEMBUAT GA BISA FOKUS KE SATU INI AJA....
YUK JANGAN BOSEN NUNGGU KISAH INI YA....????