Beberapa hari kemudian…
Seorang wanita sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di kedua lututnya yang sedang dia tekuk. Dia menatap nanar kepada sekitar dan tidak mau makan ataupun keluar dari kamarnya selama beberapa hari ini. Hanya kakaknya, Heinry yang selalu melihat dan memerhatikannya hari demi hari. Ayahnya sudah terlalu kesal dengan sikap wanita itu –Mikaela dan Anye juga merasakan hal yang sama. Walau di sini juga ada Selena, dia merasa sangat kosong setelah menambah daftar dosa dalam hidupnya. Menyingkirkan anaknya sendiri demi kebahagiaannya.
“Kaela? Kamu harus makan! Kakak sudah lelah memerhatikanmu beberapa hari ini!” Heinry datang dengan semangkuk bubur dan segelas s**u untuk adiknya.
“Kak, aku mau bertemu dengan Marcel!” pinta Mikaela membuat Heinry mendesah lelah.
“Baiklah, kakak akan mengantarkanmu ke Perusahaan Buana, tapi kamu harus makan ya?” tawar Heinry lalu diangguki singkat oleh Mikaela. Heinry tersenyum lalu duduk di sebelah adiknya dan menyuapi Mikaela.
Di mata Heinry, Mikaela tetaplah adik kecil yang sangat dia sayangi. Dari dulu, dia selalu bertindak sebagai pelindung Mikaela. Dan rasanya sangat sakit melihat adiknya yang selalu dia lindungi dan sayangi tersiksa karena prahara pernikahan yang kacau balau. Entah siapa yang harus disalahkan di sini. Walau yang lain kesal kepada Mikaela, Heinry tetap tak peduli! Dia ingin terus memastikan adiknya itu bisa bahagia lagi suatu hari nanti. Pada akhirnya, Mikaela mau membuka mulutnya dan memakan bubur yang dibawa kakaknya.
‘Adikku, kamu harus kuat! Kakak tidak akan sanggup melihat kamu terpuruk begini,’ batin Heinry sambil terus memasang senyumannya supaya Mikaela tidak sedih. Padahal, perasaannya sangat kacau.
***
Marcel baru saja selesai dengan beberapa pekerjaannya. Pria itu sama sekali tak bisa berfokus dengan pekerjaannya. Dia sudah menunda perceraian untuk sementara waktu karena mendengar keadaan Mikaela yang sama sekali tak memungkinkan. Pria itu kemudian menyandarkan diri di sofa sambil memijit pelipisnya karena tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Pernikahannya lagi –lagi mengalami hal seperti ini. Seperti berada di ujung tanduk dan tak ada harapan.
‘Sampai detik ini pun, entah kenapa aku masih belum mengenalmu sepenuhnya, Kaela! Kau itu sangat sulit untuk kupahami! Kenapa kau sampai berbohong padaku soal anak –anak itu?’ batin Marcel masih tak habis pikir. Keluarganya juga sudah terang –terangan menyatakan tak suka kepada Mikaela karena dituduh berselingkuh dengan Ares. Marcel tahu kebenarannya, tapi dia sama sekali tak buka mulut pada keluarganya.
“Kak, tadi Michael menghubungiku kalau Kakak lupa mengirimkan e-mail yang penting untuk bisnisnya. Untung saja, aku sedang di sini dan bisa memberi tahumu.” Itu suara Michelle dan pria itu langsung berbalik.
“Dia tak menghubungiku,” balas Marcel.
“Coba cek ponsel Kakak,” saran Michelle dan langsung saja pria itu mengambil ponsel di meja kerjanya. Dia agak terkejut dengan panggilan tak terjawab dari adiknya. Bahkan sampai sepuluh panggilan. Dia terlalu lama tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dan dengan cepat, Marcel membuka laptop –nya dan mengirim apa yang dibutuhkan adiknya di luar kota.
“Hah! Terima kasih, Michelle. Setelah ini, kamu mau ke mana?” ujar Marcel diakhiri dengan tanya.
“Urusanku di sini sudah selesai dan aku akan lanjut megurus kampus. Keadaan Mbak Kaela masih sangat buruk dan dia tak bisa mengatasi semuanya,” jawab Michelle langsung diangguki oleh Marcel.
“Kau memang hebat ya, Michelle! Kamu masih bisa mengurus pekerjaanmu di sini dan memegang kendali kampus. Dari dulu, kamu memang tipe yang luar biasa!” puji Marcel sambil berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Michelle.
Pria itu terus memerhatkan Michelle. Wanita itu terdiam karena masih tak mengerti apa maksud tatapan dari Marcel itu. Tapi Michelle akhirnya sadar, kalau itu adalah tatapan rindu! Ya, Marcel teringat bagaimana tiga tahun dia lewati dengan Michelle. Tiga tahun yang dia sia –siakan begitu saja dan kini dia sudah mendapat karmanya. Pernikahan keduanya hancur lebur tak tersisa.
‘Kalau dulu aku tak bertindak bodoh dan mempertahankan Michelle, bagaimana ya?’ pikirnya mulai mengawang –awang ke masa lalu. Terbesit di dalam bayangannya kalau dia akan bahagia dengan wanita itu dan punya keluarga yang sangat ideal.
“Mas, kamu kenapa?” Michelle bertanya dan tiba –tiba Marcel menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Terkejut? Jelas saja! Michelle tak tahu kenapa Marcel sampai bertindak begini. Bahkan, saat dia berusaha melepas pelukan pria itu, Marcel langsung mendekatkan wajahnya dan mencium Michelle.
‘Mas? Kamu sudah menyadari kesalahanmu dalam mengambil keputusan ya?’ batin Michelle dan wanita itu pun mengikuti alur yang dibuat oleh Marcel. Dia membalas ciuman pria itu.
Mereka pikir, tidak ada yang melihat apa yang sedang dilakukan di dalam ruang kerja itu. Tapi seorang wanita menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya kali ini. Hati wanita itu hancur berkeping –keping melihat hal yang begini lagi. Wanita yang ingin bertemu dengan suaminya untuk meluruskan segalanya, kini harus merasakan kehancuran lagi dan lagi. Mikaela tak bisa bicara ataupun marah. Tenaganya menguap dan dia memilih pergi dari sini. Tapi karena terlalu lemah, dia tanpa sadar mendorong salah satu vas bunga yang menjadi hiasan kantor itu.
‘PRANGG!!’
Mikaela terkejut karena suara itu sudah menginterupsi kegiatan Marcel dan Michelle. Tapi Mikaela tak mau tertangkap basah. Dia terus melanjutkan larinya sampai dia berhasil masuk ke dalam lift. Dan Marcel yang mendengar itu menghentikan kegiatannya karena tahu kalau mereka ketahuan. Dia melihat sebuah vas pecah dan mencari tahu siapa yang menginterupsi mereka. Tapi saat dia keluar, dia tak melihat siapapun.
“Siapa yang masuk ke sini? Sial, aku lupa menutup pintunya!” rutuk Marcel.
“Mungkin saja vasnya terlalu ke pinggir dan jatih begitu saja. Mas, aku tahu kamu sudah menyesali semuanya. Tapi tak mungkin kau menyakiti adikmu kan? Aku memutuskan untuk tak mengingat yang terjadi hari ini. Aku kembali!” pamit Michelle meninggalkan Marcel sendiri. Tapi, saat dia memerhatikan vas yang pecah itu, dia teringat kepada Mikaela yang memecahkan sebuah guci saat mereka bertengkar dulu. Saat wanita itu merasa sangat hancur dan kecewa.
‘Kau kah itu, Kaela?’ batinnya menebak dan memang benar. Mikaela sudah menyaksikan awal dari penghianatan Marcel.
Di sisi lain, Mikaela benar –benar hancur. Dia berjalan lungai tanpa kembali menemui kakaknya yang sudah menunggu di parkiran. Dia ingin sendiri dulu untuk saat ini. Dan terus saja dia menangisi semua kesialan yang dia dapatkan ini. Mikaela benar –benar tak tahu ke mana harus melangkah. Tapi sepertinya, dia mengambil kesimpulan.
“Aku akan bercerai saja!” gumamnya sebagai keputusan. Dia sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan rasanya semua ini terlalu menyakitkan buatnya.
***
“Papa! Aku sudah menyetujui perceraikanku dengan Marcel. Untuk mediasi dan lain sebagainya, suruh saja pengacara yang mewakili semuanya. Aku merasa kalau berpisah adalah jalan yang terbaik karena tak ada lagi jalan untuk menyatukan cinta yang tak berbalas!” ujar Mikaela yang kini berada di kantor milik Papanya.
“Kamu mau bercerai sementara kau sudah memberi anak –anakmu pada Ares? Kau benar –benar menghancurkan dirimu sendiri Mikaela!” kesal Adinata tak habis pikir dengan apa yang di pikirkan putrinya ini. Tak lama, Adinata mendapat telepon dari Heinry yang menanyakan mengenai Mikaela. Dan dengan cepat Adinata memberi tahu kalau Mikaela sedang berada di kantornya. Setelah selesai bicara dengan Heinry, sang ayah kembali menatap putrinya.
“Kau tak mengabari kakakmu?” tanya Adinata dibalas anggukan pelan oleh Mikaela. Adinata hanya mendesah kesal dengan tindakan putrinya itu.
“Soal si kembar, Haniel dan Raphael. Mungkin aku akan sering mengunjunginya. Ares sama sekali tak mempermasalahkan soal ini. Dan lagi, aku sedang tak ingin memikirkan cinta atau apalah itu! Hatiku sudah hancur berkali –kali dan sendiri mungkin jauh lebih baik,” ujar Mikaela kemudian. DIa sudah terlalu putus asa dengan semua ini. Rasanya sangat lelah!
“Baiklah kalau itu maumu!” Adinata menyetujui pilihan Mikaela. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk saat ini kan. Memperjuangkan supaya Mikaela diterima oleh keluarga Buana adalah sesuatu yang sangat sia –sia. Sekali mereka menganggap rendah seseorang, selamanya akan begitu! Miris sekali!
Pembicaraan mengenai keputusan yang dibuat oleh Mikaela untuk meresmikan perceraiannya pun sudah selesai. Heinry datang ke kantor Papanya dan menjemput Mikaela. Mereka kembali ke mansion dan bagi Mikaela semua ini sudah selesai. Padahal, ini baru awal mula dari mimpi buruk yang jauh lebih menyakitkan.
***
Adinata berjalan menuju ke ruangan pribadi Marcel. Dia ingin membicarakan beberapa hal mengenai keputusan Mikaela. Langit sudah gelap dan ini memang sudah waktunya pulang bekerja. Pria tua itu pun berpapasan dengan Marcel saat keluar dari lift. Marcel agak terkejut melihat mertuanya yang datang begitu tiba –tiba.
“Marcel, putriku sudah memutuskan untuk berpisah darimu!” katanya tanpa basa –basi langsung diangguki pelan oleh Marcel.
“Baiklah! Aku juga sudah memikirkan semuanya. Berpisah lebih baik daripada terus saling menyiksa,” balas Marcel dengan santai. Dia langsung berbalik dan memilih untuk jalan melewati tangga dan tak mau satu lift dengan mertuanya. Dia berpikir, kalau di tingkat bawah juga ada lift yang lain.
“Tapi bicaraku belum selesai! Aku ingin meminta kembali lima puluh persen saham perusahaanku yang sudah kupercayakan padamu!” ujar Adinata membuat Marcel terkejut dan berbalik dengan tatapan tak suka.
“Apa maksud anda, Tuan Adinata? Semua itu sudah kukerjakan dan kukembangkan, dengan seenak hati kau memintanya? Apa yang sudah diberi tak bisa diminta lagi!” balas Marcel dengan tegas. Adinata mengepalkan tangannya dan tak senang dengan karakter Marcel yang benar –benar menggambarkan ular dari keluarga Buana.
“Ternyata, kalian semua sama saja ya! Tidak mau melepaskan sesuatu yang sudah kalian miliki, padahal sudah tak berhak lagi! Aku hanya memberi semua itu karena kau adalah suami putriku! Dan saat kau bukan lagi suaminya, maka lepaskan semua itu!” Adinata berkata dengan tandas.
“Cih! Apa maksudmu? Mikaela yang salah tapi kau membuatku terlibat? Kalian semua sama saja! Keluarga Djuanda yang suka mempermainkan orang lain sesuka hatinya!” Marcel tak terima dengan perkataan Adinata yang dengan seenak hati membuat dia menyerahkan segala hartanya. Dia sudah bekerja keras, bahkan saat Adinata dan Heinry tak ada. Tidak ikhlas, tentu saja!
“Marcel! Ternyata kau keterlaluan!” marah Adinata ingin menghajar menantunya itu. Marcel menghindar dari Adinata dan tanpa sadar, pria tua itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke tangga. Tubuhnya terguling hingga tak berdaya. Marcel terdiam melihat semua itu! Dia masih sangat syok dan langsung berjalan menghampiri Adinata yang sudah tak berdaya. Adinata tergeletak di pertengahan tangga dan belum jatuh sampai ke lantai di bawah. Ingin rasanya Marcel langsung menolong, tapi dia takut.
“Lebih baik, aku menghubungi ambulan! Iya, benar! Ini kecelakaan!” ujarnya langsung menghubungi ambulan. Ia memerhatikan Adinata yang sudah sangat tak berdaya itu seakan meminta bantuan pada Marcel. Dia pun ingin mengulurkan tangannya kepada Adinata tapi-
‘RING! RING! RING!’
Suara dering ponsel entah siapa mengalihkan perhatian Marcel. Pria itu semakin ketakutan dan memilih pergi meninggalkan Adinata sendirian. Dia berpikir untuk pergi, lalu menghapus semua jejak perbuatannya.
“Tidak, Marcel! Ini bukan kesalahanmu! Ah, rekaman CCTV malam ini harus dihapus dan dimatikan!” gumamnya berusaha menutupi apa yang terjadi hari ini. Memang, dia bukan yang menyebabkan Adinata terjatuh, tapi membiarkan seseorang terkapar tak berdaya padahal punya kesanggupan untuk menolong adalah kesengajaan yang sangat kejam!