Perlahan Semuanya Akan Membaik

1535 Words
Setiap orang tak bisa berlari dari rasa kesunyian yang menghantui mereka. Langit bisa menggelap dan orang di sekitar bisa pergi, kita tak bisa menghindar dari rasa kesepian yang kerap terasa menakutkan. Terkadang, sepi membuatmu takut menutup mata, kau berpikir jika kau akan mati sendirian karena kesunyian itu. Tak ada yang bisa kau lakukan. Sepi memang pembunuh yang tak kau sadari. Setelah menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Nino. Ketiganya kembali ke rumah mereka. Nino yang sudah terlalu mabuk pun memutuskan untuk menginap di sana. Mereka membentang karpet di ruang tamu, lalu tidur bertiga di depan televisi. Hal yang selalu mereka lakukan bersama ketika mereka merasa begitu kesepian. Semakin kau dewasa, maka semakin kesepian kau merasa hidupmu. Semua orang memiliki jalan dan tujuan yang berbeda, hingga membuat orang-orang merasa jauh. Akan tetapi, ketiganya selalu berusaha untuk saling mengisi kekosongan agar tak ada seorang pun yang merasa ketakutan karena sepi. "Kamu sudah tidur?" Nino yang tidur di bagian tengah, mulai menggeliatkan tubuh dan mengarahkannya pada Kiran. Bagaimana Kiran bisa tertidur, bila pikirannya dipenuhi dengan cerita tentang masa lalu? Salahkan saja Nino yang memancingnya, hingga dirinya kembali terkenang akan hal yang tak harus ia ingat lagi. Entah mengapa begitu sulit bagi dirinya untuk melepaskan semua beban yang menguasai sanubari. Padahal, jika saja ia tak membawa semua beban itu, maka Kiran akan dengan mudahnya kembali bahagia. Hal yang sebenarnya tak bisa membuat kita bahagia adalah masa lalu yang tak mau kita lepaskan. "Aku tahu kalau kamu belum tidur, Ran," Ucap Nino lagi. Pria itu seakan tak pernah lelah untuk menganggunya dan Kiran berharap ia bisa mendapatkan sedikit keheningan di dalam hidupnya. Yang tentu saja tak bisa didapatkan bila ada Nino di sisinya. Tanpa aba-aba, Nino memeluk tubuh Kiran erat-erat, berusaha memberikan ketenangan bagi Kiran yang Nino tahu belum merasa tenang sama sekali. Pria itu sudah sangat mengenal Kiran, hingga bisa menebak perasaan wanita itu. Setelah puas menangis, Kiran tak bisa melupakan apa yang menganggu pikirannya. Wanita itu tak 'kan mungkin bisa tertidur dengan semua pikiran yang menganggu benaknya. "Sesuatu terjadi saat kamu pulang ke Indonesia. Kamu pikir, menangis nggak bisa menyembuhkan luka. Kamu pikir, semua ini adalah akhir dari hidupmu, tapi kita berdua tahu seberapa kuat dirimu, Kiran," bisik Nino tepat di telinga Kiran. Punggung wanita itu bergetar, terlihat hendak meledak oleh air mata lagi, membuat Nino semakin mengeratkan pelukannya. Hendak memberitahukan Kiran jika semuanya akan baik-baik saja dan Nino akan ada di sisi wanita itu. "Aku kehilangan segalanya," Ucap Kiran setengah berbisik. Ia telah kehilangan semua hal yang dimilikinya. Keluarga, cinta, dan juga rumah. Ia datang ke kota baru tanpa membawa apa pun dan berharap dirinya bisa mendapatkan semua hal yang telah hilang dari hidupnya. Ia harap, dapat menemukan kembali kehidupannya yang telah hancur. Namun entah mengapa, semua itu mulai terasa tak mungkin. Dirinya merasa semakin terpuruk dan kehidupannya pun hancur lebur. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Pria itu mengecup puncak kepala Kiran, "Jangan mengatakan kalau kamu telah kehilangan segalanya karena kamu masih memilikiku, Ran. Ada Clara juga yang nggak akan pernah bisa membiarkanmu sendirian," Lanjut Nino seraya tergelak pelan. Tawa pria itu menular pada Kiran. Kiran tak sepenuhnya malang karena di balik semua kehilangannya, Kiran menemukan orang-orang yang selalu mendukung dan berusaha membuatnya bangkit di atas kakinya sendiri. Orang-orang yang selalu menguatkannya. "Terkadang, kalian berdua terlalu bising, hingga aku semakin stress dengan keadaan sekitar," Kiran tertawa kecil. "Kamu masih ingat di saat pertemuan pertama kita sewaktu kuliah dulu," Nino tersenyum dan menatap ke depan dengan tatapan menerawang, "Saat itu, kamu bilang kalau kamu paling membenci tipe pria sepertiku. Bermulut manis dan nggak pernah terlihat serius sama sekali," Lanjut Nino mengenang awal pertemuan mereka. Gaya Nino yang urak-urakan dan juga kegemarannya merayu wanita membuat Kiran begitu marah saat mereka berada di dalam kelompok kerja yang sama. Kiran pikir, dirinya akan bekerja jauh lebih keras dari sebelumnya karena Nino bukanlah tipe orang yang bisa diandalkan dan hanya bisa menyusahkan orang lain saja. Saat itu, Kiran mengatakan dengan jelas pada Nino jika pria itu tak membantu sama sekali, maka Kiran tak 'kan segan-segan melaporkan pria itu pada dosen mereka. Mata Kiran tak menunjukkan rasa takut sama sekali, tak juga terpengaruh saat Nino menggodanya. Pada akhirnya, mereka menjadi sepasang sahabat. Terjadi begitu saja, hingga Nino pun tak percaya bila dirinya berakhir dengan mengikuti Kiran kemana pun wanita itu pergi. "Kamu adalah tipe pria yang selalu menyebabkan masalah. Aku takut jika nilaiku akan buruk karenamu," Kiran berkata sembari menatap ke depannya dengan tatapan menerawang, "Siapa sangka, dugaanku benar. Kamu sangat merepotkan dan membuatku kesal bukan main." "Tapi sekarang lihatlah hubungan kita. Di mana ada Kiran, maka Nino juga ada di sana," Pria itu berkata dengan nada penuh percaya diri, "Kita memang nggak akan pernah tahu apa yang terjadi esok, jadi jangan mengkawatirkan hari esok, Kiran. Hal yang mustahil sekali pun bisa terjadi. Kita bukti nyatanya." Kiran tersenyum dan mengangguk. Ia mengerti apa yang pria itu berusaha katakan. Tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini. Hari ini, ia bisa saja terus menangis dan merasa kehilangan. Namun bukan berarti, selamanya perasaannya akan tetap sekacau ini. Waktu mampu mengubah segalanya dan bukan mustahil bila suatu saat nanti ia tertawa saat mengenang apa yang terjadi hari ini. Akan ada waktu, semuanya akan terasa seperti lelucon yang membuatmu tak berhenti tertawa saat mengenangnya. Sebuah adegan komedi yang selalu menghiburmu. Ya, seiring berjalannya waktu, semua akan membaik. "Aku berusaha mengerti jika semua ini akan berakhir dan waktu akan memainkan perannya untuk menyembuhkan hati yang patah. Namun sudah sebulan lamanya aku berharap dan hatiku nggak sembuh juga." Kiran tahu, ini adalah saat yang tepat untuk mengutarakan semua rasa sakit yang bergelayut di dalam hatinya. Terkadang, apa yang membebani hati, harus dikeluarkan agar hatimu bisa merasakan sedikit kedamaian. Apa yang mengganjal harus diutarakan agar hatimu bisa merasa sedikit tenang. Walau sulit, semua itu harus dilakukan untuk menyembuhkan hati dan hal itulah yang kini Kiran mengerti. "Ran ... nggak secepat itu untuk menyembuhkan hati. Makan obat saja butuh waktu agar obat itu bereaksi dan menyembuhkanmu. Bagaimana kamu bisa berpikir, jika luka di hati bisa sembuh hanya dalam waktu satu bulan?" Nino menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak menyangka bila Kiran bisa bersikap begitu pesimis dan berharap mampu menyelesaikan hal rumit dan waktu singkat. "Nggak ada yang instant di dunia ini, Kiran," Pria itu membalikkan tubuh Kiran ke arahnya dan kini mereka berdua saling bertatapan. Nino dapat melihat kesedihan yang begitu dalam di kedua netra Kiran. Pria itu menyeka sisa air mata yang masih terlihat jelas di pipi wanita itu. "Percayalah kalau semuanya akan baik-baik saja. Jangan berusaha terlihat kuat saat di mana kau seharusnya bersedih. Kata orang, bersedihlah sepuasmu, lalu kamu akan mulai melupakan semuanya. Kamu baru bisa bangkit, bila kamu membiarkan dirimu terjatuh ke lubang paling dalam," Nino mengusap lembut wajah Kiran. Kiran tak menyangka jika di balik sikap menyebalkan dan tak bisa serius Nino, pria itu bisa terlihat begitu lembut dan juga dewasa di saat yang bersamaan. Pria yang Kiran pikir hanya tahu cara merayu wanita, ternyata memiliki banyak hal yang tak diduga. Sama seperti saat mereka berada di dalam kelompok yang sama. Nino membuktikan pada Kiran jika dugaannya salah dan pria itu tahu bagaimana caranya bekerja. Nino sendiri sampai tak tidur demi melakukan analisa bersamanya. Pria itu bahkan tak tersenyum nakal seperti biasa dan membuat Kiran melihat sisi lain dari Nino. Hal itu adalah awal dari Kiran yang mampu melihat jika Nino tak seburuk pemikirannya. "Aku takut kalau terjatuh begitu dalam pada kesedihan. Aku nggak lagi bisa merangkak ke permukaan dan tetap tenggelam di dalam sana," Kiran berkata dengan lirih. Nino tersenyum menenangkan dan menggeleng. "Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi, Ran," Pria itu mengusap lembut puncak kepala Kiran, "Karena inilah aku mengikutimu ke manapun kamu pergi. Aku akan selalu menjadi cahaya dan tangan yang menyelamatkanmu dari semua kesengsaraan." Kiran tersenyum mendengarkan perkataan pria itu. Ia segera memeluk Nino cukup erat. Keduanya saling tersenyum dan Kiran berharap jika dirinya bisa kembali bangkit dengan bantuan semua orang di sisinya. Ia akan mencoba bersedih hingga hatinya lelah merasakan kesedihan itu. Ia akan memuaskan diri dengan segala kepedihan yang menguasai hati, hingga suatu saat nanti hatinya tak mampu lagi bersedih. Nino membuat Kiran mampu melihat hal lain di dalam hidupnya. Kiran seakan mempercayai pria itu jika kesedihan bukanlah sesuatu yang harus kau tahan. Perasaan itu harus diungkapkan. "Makasih banyak, No. Aku nggak tahu bagaimana jadinya aku, bila nggak ada kamu. Kamu memang sahabat terbaikku," Kiran tersenyum di dalam dekapan pria itu, sedang Nino hanya tersenyum tipis. Entah mengapa, kata sahabat yang dulu terasa biasa saja mulai terasa begitu berbeda saat Kiran mengucapkannya padanya. Entah apa yang salah. Padahal, Nino tahu bila wanita itu memiliki seorang kekasih dan begitu tergila-gila dengan kekasihnya. Nino yang mengenal Kiran sejak kuliah sudah sering mendengarkan percakapan keduanya di telpon. Ia juga sesekali melihat keduanya melakukan percakapan video. Namun semua kenyataan di depan mata itu tak mampu membuat Nino mengubur rasa yang berkembang tanpa bisa dihentikan. Rasanya terlalu besar dan tak lagi bisa dicegah. Terjadi begitu saja, hingga tanpa sadar Nino tak bisa lagi berjauhan dari Kiran. "Nggak perlu berterima kasih. Yang harus kamu lakukan adalah kembali bahagia." Keduanya tersenyum dan saling berpelukan. Di dalam dekapan Nino, Kiran bisa merasa nyaman. Hingga perlahan rasa kantuk menjemputnya. Hatinya merasa jauh lebih damai dan ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Nino.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD