Hari Esok Adalah Misteri

1831 Words
Kau tak pernah tahu apa yang terjadi esok. Jangankan besok hari, terkadang apa yang terjadi lima menit ke depan tak bisa kau prediksi. Oleh karena itu, orang sering mengatakan untuk menghargai apa yang kau miliki hari ini karena kau tak tahu apakah esok kau masih memiliki apa yang menjadi milikimu hari ini. Kiran ingin melakukan hal yang sama dalam hidupnya. Menikmati apa yang ia miliki dan mensyukuri kehidupannya, meski ia telah kehilangan segalanya. Kiran dan Clara sudah tampak rapi dengan pakaian yang cocok untuk menghabiskan waktu di bar. Kehidupan Kiran di Australia tak sebebas Clara. Meski dirinya tak lagi memiliki siapa pun di hidupnya, ia tak mau menghancurkan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, Kiran membatasi dirinya untuk tak melakukan hal-hal gila lainnya. Cukup hancur sudah hidupnya kini dan ia tak ingin lebih terpuruk lagi. Setelah tinggal di kota baru. Kiran langsung mengganti semua kontaknya. Ia memblokir semua media sosial keluarganya dan menghilang begitu saja. Kiran tak lagi peduli dengan semua yang ditinggalkannya di masa lalu. Walau sebenarnya, ia merasa cemas dengan keadaan ibunya, namun Kiran tak mau mencari tahu bagaimana keadaaan wanita itu. Kiran takut jika dirinya tak kuat dan hendak kembali ke rumah yang tak menyambutnya bila saja dirinya tahu bagaimana keadaan ibunya. "Yuk, Ran!" Clara menarik tangan Kiran. Keduanya tinggal bersama di mess yang disiapkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Kiran merasa beruntung karena teman serumahnya adalah Clara yang tak suka bertanya banyak tentang kehidupan pribadinya. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama dan membuat Kiran mampu melupakan sedikit masalah hidupnya. Kiran memperhatikan tempat tidurnya dan memastikan semua barang yang diperlukannya sudah dibawa, lalu wanita itu memeluk lengan Clara dan keduanya segera berjalan menuju bar yang menjadi tujuan mereka. Dengan adanya Clara, Kiran tak merasa begitu kesepian karena wanita itu paling mengerti bagaimana cara menikmati hidup. Clara dan jiwa bebasnya yang kerap membawa warna bagi hidup Kiran. Menit demi menit telah berlalu. Keduanya memutuskan untuk mengambil tempat di balkon bar dan menghabiskan waktu di sana. Keduanya bercerita santai, memperhatikan orang-orang yang ada di tempat itu, dan sesekali canda tawa menemani kebersamaan keduanya. Anehnya, Kiran merasa begitu kesunyian meski ia berada di tengah keramaian. Kebisingan di sekitar tak mampu dirasakan Kiran dan hal itu membuat Kiran semakin merasa tak berdaya. Rasanya, apa pun yang ia lakukan, dirinya tak bisa menghilangkan kehampaan yang memenuhi hidupnya. "Kalian sudah lama di sini?" Seorang pria duduk bergabung bersama keduanya. Pria itu duduk di samping Kiran dan memberikan Kiran senyum terbaiknya, sedang Kiran hanya memutar mata malas. "Jadi ini rencanamu, Cla? Mengundang orang menyebalkan ini untuk bergabung bersama kita?" Kiran menatap Clara dengan tatapan meneliti, sedang yang ditatap malah tergelak pelan. "Ayolah, Kiran. Nggak baik terlalu membenciku. Nggak ada wanita yang bisa berlama-lama membenci Nino. Mereka semua berakhir dengan jatuh cinta padaku," Pria bernama Nino itu tersenyum lebar, terlihat begitu percaya diri, sementara Kiran memutar kedua bola matanya dengan jengah. Nino adalah teman masa kuliah Kiran di Malaysia. Pria berambut ikal sebahu itu memiliki wajah yang rupawan. Tak heran bila pria itu menjadi idola banyak wanita, hingga membuat Nino menjadi pria yang besar kepala. Pria yang berpikir jika ketampanannya bisa mendapatkan semua yang ia inginkan. Kiran pikir, dirinya bisa terbebas dari Nino begitu mereka tamat kuliah. Namun siapa sangka, diam-diam Nino ikut melamar ke perusahaan tempat Kiran melamar dan sialnya, pria itu juga mendapatkan tawaran pekerjaan yang sama, hingga Kiran tak bisa menghindar dari Nino yang menyebalkan. "Aku heran, kapan kamu akan hidup dewasa, No?" Kiran menatap pria itu dengan tatapan meneliti, sedang yang ditatap tergelak pelan. Tak merasa tersinggung sama sekali, malah menyukai sikap sarkastis Kiran. "Aku sedang menjalani kedewasaan dalam hidupku, Ran," Pria itu mengedipkan sebelah matanya pada Kiran, "Lagipula, aku tahu kalau kamu senang karena kita nggak terpisahkan sejak zaman kuliah. Kenapa sebulan ini, sikapmu jauh lebih kasar dan mengerikan dari sebelumnya? Kupikir, kembali ke Indonesia sebelum bekerja akan membuatmu jauh lebih lembut. Siapa sangka, kamu malah lebih parah dari sebelumnya. Sudah nggak suka tertawa ataupun tersenyum lagi," Lanjut pria itu seraya menatap Kiran dengan tatapan meneliti. "Aku nggak suka melihat sikap mau tahumu itu," Ucap Kiran dengan sarkastis. "Ayolah kalian berdua ..." Clara menggerak-gerakkan tangannya di udara, "Apa kalian berdua nggak bisa berhenti bertengkar untuk sehari dan menikmati hidup?" Clara menatap keduanya secara bergantian. "Aku nggak berniat untuk buat Kiran marah. Aku hanya mau dia lebih rileks aja. Menikmati hidup. Aku melihat dia jauh berbeda dari dulu. Kiran lebih banyak tersenyum dan tampak ceria, tapi nggak setelah dia bekerja di sini," Pria itu menatap Kiran dengan tatapan meneliti, "Aku hanya nggak suka melihat perubahannya. Sejak awal aku bertanya apa yang terjadi, tapi dia nggak mengatakan apa pun. Padahal, kami sudah mengenal begitu lama, tapi dia masih saja mengabaikanku." Clara menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Kamu nggak perlu terus bertanya karena manusia berubah saat mereka dewasa. Tandanya, memang kamu belum dewasa hingga menganggap perubahan Kiran adalah hal yang nggak biasa." Kiran tersenyum mendengarkan perkataan Clara, Kiran mengangguk setuju. Terkadang, menjadi dewasa memang menyebalkan, membuatmu mulai melihat hal dari sudut panjang berbeda dan mengubah semua pandanganmu tentang dunia. Akan tetapi, yang terjadi pada Kiran bukan sekadar kedewasaan semata, namun pengkhianatan yang membuat Kiran kehilangan semua hal yang dimilikinya. Yang Kiran bisa lakukan adalah berpura-pura tegar dan menunjukkan pada dunia bila hidup sendiri bukanlah masalah besar untuknya. "Kamu baru mengenal Kiran sebulanan, Cla. Aku jauh mengenalnya sebelum dia bertemu denganmu dan apa yang ditunjukkannya bukan sebuah proses kedewasaan," Nino menatap ke dalam manik mata Kiran, sedang wanita itu tercengang sesaat mendengarkan perkataan Nino. Benar apa yang pria itu ucapkan. Nino begitu mengenalnya, hingga Kiran tak mampu menyembunyikan apa pun dari pria itu. Pria itu selalu mengerti dirinya melebihi Kiran mengerti dirinya sendiri. Padahal, selama ini Nino tak pernah terlihat serius dalam semua hal yang dilakukannya. Pria itu selalu bermain-main, hingga Kiran tak menyangka bila Nino begitu mengenalnya. Sikap Nino yang easy going dan ramah pada siapapun, terkadang selalu membuat orang salah paham padanya. Hal yang wajar bila melihat Nino. "Aku pikir, Nino menyukaimu, Ran," Clara memejamkan sebelah matanya pada Kiran, sedang perkataan Clara membuat Nino menyemburkan minuman yang baru saja ia minum. Clara berdesis kesal karena pria itu hampir saja menyembur ke arahnya. "Jangan pernah bicara sembarangan mengenai perasaan," Nino mengusap bibirnya. "Aku hanya menebak. Kenapa malah ngamuk?" Napas Clara terengah-engah karena emosi yang menguasai dirinya, sedang Nino tampak tak peduli. Sikap keduanya membuat Kiran tergelak pelan dan menatap keduanya secara bergantian. "Sekarang, gantian kalian yang bertengkar," Kiran menggeleng-geleng melihat keributan yang sesaat membuatnya merasa kembali hidup. "Clara yang memulainya. Aku hanya khawatir padamu, Ran. Kamu nggak seperti dulu lagi," Pria itu tak berusaha menyembunyikan kekhawatirannya dari Kiran, sedang Kiran tersenyum tipis mendengarkan kekhawatiran pria tersebut. Tak ada yang tahu apa yang takdir siapkan untuk setiap umatnya, hingga kau tak bisa berharap bila manusia tak berubah. Kehidupan dan masalah yang dihadapi seseorang kerap mengubah mereka. Namun sayang, tak semua alasan perubahan bisa disampaikan begitu saja pada orang lain. Lagipula, jika memang bisa tak berubah, Kiran ingin menjadi tetap sama seperti dulu. Menjadi dirinya yang selalu optimis dan ceria, namun kejamnya hidup telah merenggut semua yang ia miliki. Mengubah semua hal yang dulu dirinya ketahui. Ia pun tak ingin seperti ini, akan tetapi tak berdaya. "Aku baik-baik aja, No," Ujar Kiran pada akhirnya, "Mungkin benar apa yang Clara katakan, ini adalah prosesku mendewasakan diri. Semua orang berubah dan ini adalah perubahanku." Nino masih belum puas dengan jawaban Kiran. Ia tahu, jika perubahan wanita itu bukan tanpa alasan. Mungkin saja, telah terjadi sesuatu pada Kiran begitu ia pamit pulang ke rumahnya. Nino mengingat jelas betapa bahagianya Kiran hari itu, wanita itu bahkan mengubah jadwal pesawatnya yang semula sama dengan Nino menjadi lebih cepat. Saat ditanyakan alasannya, Kiran mengatakan bila ia tak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengan semua keluarganya. Akan tetapi, kini Kiran tak lagi suka membicarakan tentang keluarga. Bila Nino bertanya, maka Kiran mengatakan jika ia sebatang kara sekarang. Hal ini membuat Nino sangat khawatir. "Udah udah ... lebih baik kita nggak lagi saling bertengkar dan menikmati bir di sini dengan nikmat," Clara mengangkat gelasnya, diikuti oleh Nino dan juga Kiran, lalu gelas ketiganya saling bertabrakan pelan dan kata 'cheers' mereka ucapkan secara bersamaan. Ketiganya tertawa bersama dan mulai bercerita santai tentang pekerjaan. Ketiganya sering menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita, dan juga tawa. Menghabiskan waktu yang menyenangkan setelah lelah karena seharian bekerja. Di saat berkumpul dengan teman-temannya itulah Kiran bisa melupakan sejenak rasa sakit yang ia pikir akan menghilang begitu dirinya memilih pergi dan menjauh dari semuanya. Siapa sangka, rasa sakit itu terus mengikutinya seolah tak mau memberikan jeda bagi hatinya. Beberapa menit kemudian, Clara permisi untuk pergi ke kamar mandi. Sepeninggalan Clara, Nino merampas gelas yang hendak diminum oleh Kiran dan menegak habis isi gelas Kiran, membuat wanita menatap Nino dengan kesal. "Apa yang kamu lakukan?" Tanya Kiran tak suka dengan apa yang diperbuat oleh Nino. Pria itu tergelak, bukannya takut saat ditatap garang oleh Kiran. "Kamu udah terlalu banyak minum, jadi hentikan, Ran," Pria itu menatap Kiran lembut, tatapan yang tak pernah diperhatikan oleh Kiran sebelumnya. Ia tak tahu mengapa Nino bisa menatapnya sedemikian rupa. Harusnya, pria itu menatapnya seperti biasa, dengan tatapan nakal ataupun sok ramahnya. "Aku baik-baik aja. Aku kuat minum," Kiran mulai merasa jika dirinya akan segera meracau tak jelas karena rasa pusing yang mendera kepalanya. Kiran memijat pelipisnya. Ingin melupakan banyak hal membuat Kiran mulai melakukan banyak hal yang ia pikir bisa menbuatnya lupa. Namun sayang, semua hal yang dilakukannya hanya mampu membuatnya lupa sejenak, dan tak benar-benar bisa menghilangkan rasa sakit yang mendera hatinya. Aneh, mengapa hatinya bisa begitu kacau? Apa yang sebenarnya hatinya itu inginkan? Bukankah pergi dari semuanya, bisa menyembuhkan lukanya? Lalu, apa yang terjadi padanya? Ia tak bisa menyembuhkan dirinya. "Sebenarnya siapa yang coba kamu bodohi, Kiran?" Pria itu tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Semakin hari, keadaan Kiran semakin parah. Wanita itu selalu berusaha terlihat tegar dan hal itulah yang semakin membuat Kiran tampak menyedihkan di matanya. Kiran yang dikenalnya, tak seperti ini. "Bersedihlah sepuasmu, Ran. Jika kamu terus berlagak tegar, maka rada sedihmu nggak akan pernah bisa berakhir. Kamu akan terus terjatuh dalam lubang kesedihan dengan kepura-puraan itu," Pria itu menatap ke dalam manik mata Kiran, sedang Kiran terkesiap. Apa yang pria itu lakukan? Mengapa Nino seakan mampu melihat ke dalam hatinya? Kiran menempatkan kepalanya pada pundak Nino yang membuat tubuh pria itu membeku sesaat. Setelah itu, tangan Nino terulur dan mengusap puncak kepala Kiran dengan lembut. Kiran sendiri tak mampu menahan air mata yang memberontak untuk segera dikeluarkan. "Apa setelah menangis, aku akan baik-baik saja?" Tanya Kiran terisak. Nino tersenyum dan mengangguk, lalu ia memeluk wanita itu. "Ya semuanya akan baik-baik aja. Percayalah padaku, Kiran," bisik Nino tepat di telinga Kiran. Wanita itu tersenyum tipis dan mengangguk. Untuk sebentar saja, Kiran ingin percaya jika hari esok akan jauh lebih baik. Ia ingin mempercayai perkataan Nino bila semuanya akan baik-baik saja. Setelah ia puas menangis, mungkin saja air matanya akan mengering dan dirinya bisa kembali tersenyum. Ya, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok, namun yang pasti adalah semua akan indah pada waktunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD