Waktu yang Katanya Ajaib

1139 Words
Katanya, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh waktu. Sangkala yang ajaib kerap menggoda orang untuk mempercayakan semuanya. Membuat orang berharap bila semuanya akan baik-baik saja. Namun sayang, terkadang waktu tak bisa membuat kita melupakan hal yang benar-benar ingin kita lupakan. Terkadang, waktu malah membiarkan kita melupakan hal yang tak ingin kita lupakan. Aneh bagaimana cara waktu bekerja dan kau tak mampu melakukan hal lain selain memasrahkan dirimu padanya. Kau tak bisa menghentikan waktu, tak juga bisa menghentikan langkah agar tak ketinggalan. Pada akhirnya, kau berlari dengan susah payah untuk mengimbangi waktu yang tak 'kan berhenti hanya untuk menunggumu. Kiran tak pernah menyangka bila akan ada waktu di mana dirinya hidup sendiri di kota asing. Ia mulai membangun semua kehidupannya dari awal. Ia tak lagi berhubungan dengan semua orang di masa lalunya. Ia pikir, memutus semua hal yang terjadi di masa lalu adalah hal yang bisa membuat hatinya kembali hidup, namun pemikirannya salah. Ia masih sama matinya seperti saat pertama kali ia menginjakkan kaki di kota itu. Tak ada yang berubah dan hatinya masih sama seperti dulu. Kiran menyibukkan diri dengan pekerjaan barunya. Melakukan semua hal yang bisa membiarkan pikirannya tak memikirkan hal yang hanya semakin membuat hatinya mati. Kiran bekerja lebih keras dari sebelumnya, bahkan pekerjaannya selalu mendapatkan pujian. Tak ada yang tahu bila apa yang wanita itu lakukan adalah sebagai salah satu cara untuk lari dari kenyataan yang terus mengikutinya. Hari berganti minggu, dan kini sudah satu bulan lamanya Kiran tinggal di Australia. Waktu ternyata tak seajaib yang ia kira. Pada saat menerima pekerjaan itu, Kiran pikir ia bisa mengetahui lebih banyak hal tentang Ardo dan semakin dekat denga pria itu. Walau bagaimanapun, Ardo pernah berkuliah di Australia. Semua keputusan yang diambilnya selalu tentang Ardo ini dan itu. Namun sayang, kini tak ada lagi tentang pria itu di dalam hidupnya. Waktu pun tak menunjukkan kebaikan pada dirinya. Mengapa Kiran tak bisa melupakan segala sesuatu tentang Ardo? Padahal, pria itu sudah tak memikirkannya. Mungkin kini pria itu sudah hidup bahagia atau mungkin bayi mereka sudah lahir? Entahlah, Kiran berusaha tak memikirkan hal itu, namun sulit karena pikirannya selalu dipenuhi tentang Ardo, pria itu terus saja meghantuinya. "Ran ... kenapa belum siap?" pertanyaan yang datang dengan tepukan di pundak itu membuat Kiran menoleh ke sumber suara. Seorang wanita dengan rambut pendek duduk di tepi tempat tidurnya. Kiran tengah berada di meja rias segera membalik tubuhnya ke arah Si wanita. "Aku mau tidur aja. Tiba-tiba capek banget," Kiran memasang wajah lelah. Ia hanya ingin memejamkan mata dan melupakan semua pikiran yang menguasai benaknya. Biasanya, tertidur adalah satu-satunya cara agar Kiran bisa melupakan sejenak semua rasa sakit yang mendera sanubarinya. Ia tak ingin membuka mata dan terus-terusan menemukan bayangan Ardo di semua tempat yang dilihatnya. Ilusi tentang pria itu sangat menyiksanya. "Ayolah, Kiran ..." Wanita itu membujuk, "Akan banyak pria tampan. Sebulan di sini terasa begitu sepi tanpa dekapan pria." Kiran tergelak dan menggeleng-geleng. "Clara ... aku ke sini untuk bekerja. Bukan untuk didekap oleh sembarang pria. Nggak menggoda sama sekali," Kiran memutar kedua bola matanya dengan malas. Setelah pengkhianatan yang dilakukan dengan pria yang dicintainya, Kiran tak lagi percaya tentang cinta dan juga pasangan. Ia menikmati kesendiriannya. Tak ingin memulai sesuatu yang akan membuat hatinya kembali terluka. Sudah cukup semua cinta yang dirasakannya dulu. Cinta hanyalah ilusi yang mematikan. Kau tak hanya kehilangan dirimu karena perasaan itu, melainkan hati dan juga duniamu. "Setidaknya, temani aku minum-minum di bar," Clara memainkan matanya dengan genit pada Kiran, "Ayolah ... berhenti bekerja terus, Ran. Kamu masih muda dan sudah seharusnya kamu menikmati hidup dengan bersenang-senang di sini. Slagi jauh dari orang tua dan rumah, kita bebas di sini," Lanjut Clara masih berusaha meyakinkan Kiran. Perkataan tentang keluarga dan rumah membuat Kiran tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Ia tak lagi memiliki kedua hal itu. Dulu ia selalu gembira bila berjauhan dari rumah demi mendapatkan sedikit kebebasan, namun saat dirinya bisa mendapatkan semua itu dengan mudah, Kiran tak lagi menikmati keadaannya. Ia tak ingin menjadi bebas dan menjadi sebatang kara. Ia tak ingin bebas hanya untuk merasakan kehidupan yang hampa. Namun sayang, kehidupannya memang semiris ini. Ia telah dibuang oleh keluarganya. Ia tak lagi memiliki rumah untuk kembali. Harusnya, orang seperti Clara tak merasa senang dengan kebebasan sesaat itu. "Aku nggak punya orang tua maupun rumah. Aku sebatang kara jadi aku bisa bebas untuk selamanya," Kiran tersenyum lebar, berusaha menutupi kekosongan hidupnya dan bersikap seolah dirinya baik-baik saja. Ia tak bisa mencegah apa yang sudah terjadi. Ia yang memutuskan untuk pergi dari semuanya dan ia seharusnya menikmati apa yang sudah ia dapatkan. Ia tak boleh merasa sedih karena orang-orang itulah yang membuangnya. "Beruntung kamu sebatang kara," Wanita itu mengerucutkan bibirnya, membuat Kiran tersenyum tipis. Sejujurnya, Kiran tak merasa beruntung sama sekali. Ia malah kerap merasa iri pada Clara yang selalu mendapatkan panggilan dari keluarganya di Indonesia. Kiran tak lagi memiliki hal kecil yang mampu menghangatkan hatinya. "Gimana nanti kalau aku mabok, terus diapa-apain sama bule?" Clara menatap Kiran dengan tatapan memohon. Kiran menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Ya nggak usah mabok. Selesai kan?" Kiran berkata dengan datar, membuat Clara memutar kedua bola matanya dan menatap Kiran jengah. "Kamu bener-bener nggak punya hati, Ran." Bukannya tersinggung. Kiran malah terbahak mendengarkan nada marah sahabatnya. "Makasih atas pujiannya." Clara menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Kiran masih mengingat, jika beberapa bulan lalu dirinya sama manjanya dengan Clara. Semua itu berkat Ardo yang kerap melimpahinya dengan begitu banyak cinta. Meski mereka melakukan hubungan jarak jauh, pria itu tak pernah membuatnya merasa sendirian dan kesepian. Ardo selalu ada di hari-harinya. Namun sayang, kini tak ada lagi pria itu di hidupnya. Kiran tak menyangka, jika melupakan seseorang bisa begitu melelahkan dan terasa begitu sulit. "Baiklah, tapi jangan terlalu malam pulangnya. Aku beneran udah ngantuk banget," Melihat Clara mengingatkannya pada dirinya sendiri dan Kiran tak ingin membuat wanita itu terus membuatnya merasa tengah bernostalgia. Kiran hanya ingin lupa dan tak mengingat semua hal tak penting yang terjadi di hidupnya. Clara segera berdiri dan memeluk Kiran erat-erat. "Gini baru namanya sahabatku," Wanita itu melepaskan pelukannya, "Ganti baju gih! Aku akan menunggumu, Kiran." Kiran tersenyum dan menggeleng-geleng. Wanita itu segera berdiri dan mengganti pakaiannya. Ia mungkin butuh berada di tengah keramaian agar tak lagi merasa hampa. Ia hanya ingin merasa kembali hidup. Mungkin dengan membiarkan dirinya tenggelam dalam suasana meriah, hatinya bisa kembali hidup. Entahlah, Kiran hanya ingin melakukan berbagai cara yang membuatnya bisa kembali merasa seperti dulu lagi. Ia tak ingin terus-terusan menjadi mayat hidup. Ia harap, waktu menghapus semua lukanya dan menunjukkan belas kasih pada dirinya yang menyimpan terlalu banyak luka di dalam hatinya. Ia harus kembali bangkit dan menjadi kuat agar semua orang yang mengkhinatinya tak lagi bisa memandang rendah dirinya. Ia akan buktikan ke mereka semua, jika sendirian pun Kiran bisa bahagia. Ia tak butuh orang-orang yang hanya tahu cara menyakiti hatinya, orang-orang yang mengkhianati perasaannya, dan Kiran tak membutuhkan mereka semua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD