Terkadang, kau tak bisa menghindari apa yang tengah menantimu. Seperti sebuah kemalangan yang terjadi karena memang takdir yang menuliskan demikian. Tak peduli apa yang kau lakukan, kau tak mungkin bisa mencegah dirimu berpapasan dengannya. Tak ada yang bisa kau lakukan selain menerima semuanya dengan lapang d**a dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Tak ada gunanya juga terus meratapi apa yang terjadi. Semua itu hanya akan membuatmu semakin terpuruk.
Kiran segera membereskan barang-barangnya ke dalam koper, memeriksa ulang kamar dan membawa barang yang mungkin akan dibutuhkannya. Ia tak lagi diinginkan di rumah itu dan bertahan adalah hal yang terasa begitu sulit baginya. Ia tak bisa terus-terusan terlihat baik-baik saja saat hatinya diliputi rasa sakit yang membuat dadanya sesak bukan main. Ia tak perlu menunggu ibunya sadar. Toh, bukan dirinya yang akan dicari nanti bila wanita paruh baya itu sadar.
Dunia selalu tidak adil. Membuatmu kerap bertanya-tanya, apakah tujuanmu dilahirkan ke dunia bila kau hanya terus menerima ketidakadilan dalam hidup. Dulu, Kiran mencoba mengerti dan selalu berusaha menjadi seorang anak yang penurut. Namun sayang, sikap berbaktinya malah disalah artikan oleh semua orang yang ada di rumah itu, hingga mengira mereka bebas melakukan apa pun padanya. Konyol sekali bagaimana mereka memperlakukan Kaila seperti seorang manusia, sedangkan tidak dengan dirinya.
Suara ketukan membuat Kiran menghentikan gerakan tangannya yang tengah memasukkan semua surat berharganya ke dalam koper. Kiran tak berkata apa pun, hanya menunggu seorang di balik pintu mengatakan maksud kedatangannya.
"Non Kiran. Ini Mbok ... Boleh Si Mbok masuk?" Pertanyaan itu dibarengi dengan ketukkan di daun pintu kamarnya.
Kiran menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Wanita tua itu tak bersalah dan tak seharusnya Kiran mengabaikannya. Apa lagi selama ini Mbok Dewi lah yang selalu menyayanginya. Diam-diam memberikannya makanan yang ia sukai, meski orang tuanya melarang. Menghiburnya saat Kiran bermain bersama Kaila dan menyebabkan Kaila terjatuh, Kiran dimarahi dan wanita itu adalah tempatnya mengadu. Saat seluruh dunia menjauh, maka Mbok Dewi yang setia berdiri di sampingnya dan mendukungnya sepenuh hati.
"Masuk aja, Mbok. Pintunya nggak dikunci," Jawab Kiran yang melanjutkan kegiatannya membereskan semua barang-barangnya.
Tidak lama, wanita tua itu masuk ke dalam kamar. Terdiam di tempat bdan memperhatikan apa yang tengah dilakukan Kiran. Wanita itu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, lalu melanjutkan langkah dan duduk di tepi tempat tidur milik Kiran.
"Makan dulu yuk, Non. Mbok bawain mie goreng kesukaan, Non Kiran. Pakai cabe potong dan juga telor ceplok," Wanita itu menunjukkan nampang yang dibawanya pada Kiran, "Aromanya pasti bikin cacing Non Kiran pada demo, kan?" Lanjut wanita itu lagi dengan nada menggoda.
Kiran tersenyum dan mengangguk. "Boleh minta disuapi, Mbok?" Kiran bertanya dengan penuh permohonan.
"Tentu saja boleh. Mbok akan menyuapi Non Kiran sampai benar-benar kenyang," Mbok Dewi tersenyum dan mengangguk, lalu mulai menyendokkan mie goreng yang dibawanya dan mengulurkannya pada Kiran. Kiran langsung menyantapnya sembari mengemaskan barang-barangnya. Wanita itu mengunci kopernya begitu sudah selesai memasukkan semua barang-barangnya.
"Apa Non Kiran akan segera pergi?"
Kiran mengangguk. "Aku mendapatkan tawaran kerja di Australia begitu tamat, Mbok. Aku sudah menerima dan mengurus semuanya diam-diam karena Kak Ardo juga bilang kalau aku bebas memutuskan apa pun yang mau kulakukan. Dia terlihat bukan tipe yang ingin menikah muda, namun siapa sangka. Ternyata pemikiranku salah," Kiran tersenyum lirih.
"Tadinya, aku baru mulai bekerja satu bulan lagi dan mau menghabiskan waktu di sini. Aku ingin memberikan kejutan dan menghabiskan waktu yang berharga sebelum mulai bekerja. Siapa sangka, aku nggak diinginkan di sini," Kiran tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Hatinya begitu hancur.
Begitu banyak rencananya yang hancur karena kejutan yang diterimanya dari keluarga dan orang yang dicintainya. Semua hal yang dulu diketahuinya tentang Ardo maupun keluarganya, mulai terasa seperti khayalannya saja. Ia tak lagi mengetahui tentang semua orang di sekitarnya, ia tak lagi mengenal mereka yang dulu begitu dikenalnya. Ia tak lagi memiliki bayang-bayang masa depan karena semua rasa sakit yang menderanya. Hingga kini, ia masih tak mengerti apa dosa yang ia lakukan? Mengapa orang-orang begitu tega padanya dan tak mau mengerti akan hatinya?
"Semuanya akan baik-baik aja, Non. Mungkin, memang ini yang sudah takdir siapkan untuk, Non. Mungkin, takdir sudah menyiapkan hal besar lainnya untuk Non Kiran."
Kiran sudah mencoba menjadi optimis, namun hal itu terasa begitu sulit. Ia mencoba mengerti rencana takdir, namun otaknya tak mau diajak bekerjasama. Hatinya tak bisa menerima, rasa sakit tak mau pergi, dan Kiran sudah sangat putus asa untuk melanjutkan kegilaannya.
"Semua ini konyol sekali, Mbok. Setahun lalu saat aku mau tamat, aku mengatakan pada Kak Ardo bagaimana bila kami bertunangan dulu atau langsung menikah saja?" Kiran menatap ke depannya dengan tatapan menerawang, "Tapi Kak Ardo menolak dan mengatakan, jika aku nggak seharusnya memusnahkan mimpiku hanya untuk menikah muda. Dia mau aku melihat dunia agar tak menyesal bila sudah menikah nanti. Dia mendukungku untuk menjadi diriku sendiri dan menikmati dunia. Namun siapa sangka ...."
Bibir bagian bawah Kiran bergetar. Air matanya memberontak untuk segera dijatuhkan. Dadanya begitu sesak. Dulu, ia berpikir bila Ardo adalah pria baik yang begitu memikirkan hati dan juga masa depannya. Sikap dewasa pria itu adalah salah satu hal yang membuat Kiran begitu menyukai Ardo. Namun siapa sangka, semua kata-kata manis dan penuh dukungan yang pria itu berikan adalah cara menutupi kebusukan pria itu. Pria pengecut yang bahkan tak berani memutuskan hubungan di antara mereka sebelum kepulangannya. Pria yang hanya bisa menjual kata-kata.
Mbok Dewi menghapus air mata Kiran. "Kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari. Jangan pernah menyerah, Non. Percaya sama Mbok kalau semua akan baik-baik saja. Non Kiran akan mendapatkan jauh lebih baik dari yang sudah hilang," Wanita itu tersenyum menenangkan, "Dihabisin dulu ya makanannya," Lanjut Mbok Dewi sembari menyuapi Kiran.
Kiran mengangguk dan membuka mulutnya. Ia merasa beruntung karena Mbok Dewi masih sama seperti dulu. Wanita itu masih mau mendukungnya dan tak mau meninggalkannya saat dirinya begitu dikucilkan. Ia merasa sedikit lega karena masih menerima kasih sayang dan juga kehangatan rumah dari wanita itu.
"Makasih banyak, Mbok," Ujar Kiran dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya, "Aku nggak tahu bagaimana jadinya diriku kalau nggak ada Mbok di rumah ini."
Wanita tua itu tersenyum lembut dan mengusap rambut panjang Kiran. "Apa benar Non Kiran nggak mau menunggu sampai Ibu kembali ke rumah? Mbok yakin, kalau mama Non pasti sangat terpukul dan berharap masih bisa bertemu dengan Non setelah dia sadar. Kata orang, penyesalan selalu datang terakhir Non dan Mbok nggak mau ada yang menyesal."
Kiran menggeleng. "Mama nggak menginginkan kepulanganku. Nggak ada seorang pun yang menantikanku," Kiran mengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, berusaha mencegah air matanya untuk kembali jatuh, "Aku juga nggak yakin bisa berapa lama bertahan di sini dan menghancurkan hatiku lebih dari ini," Lanjut Kiran yang mengarahkan pandangannya kembali pada Mbok Dewi. Wanita itu berusaha tersenyum, meski hatinya masih begitu sakit. Kiran harus pergi membawa semua keangkuhan dan kehancurannya, ia tak boleh membiarkan orang melihat lukanya.
"Mbok nggak akan memaksa jika memang itu yang Non inginkan dan hal itu bisa membuat Non kembali bangkit dari keterpurukan. Terkadang, diri kita sendirilah yang tahu bagaimana cara menyembuhkan luka di dalam hati kita. Mbok akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Non Kiran, jadi jangan pernah menyerah Non."
Kiran tersenyum dan mengangguk, lalu wanita itu memeluk Mbok Dewi erat. "Makasih banyak, Mbok," Ujar Kiran seraya melepaskan pelukan mereka. Keduanya saling bertukar senyum.
"Non aka pergi ke mana?"
"Australia," jawab Kiran singkat, "Aku akan tinggal di mess tempat kerjaku dan mempelajari banyak hal baru. Mengingat semua itu membuatku bersemangat. Aku harap, di kota baru nanti aku bisa melupakan semua yang terjadi di sini. Aku hanya ingin hidup bahagia."
Mbok Dewi mengangguk-angguk. "Non pasti bisa kembali bahagia."
Keduanya saling bertukar senyum. Mbok Dewi kembali menyuapi Kiran dan wanita itu menyantapnya dengan lahap. Di dalam kamar itu, Kiran merasa aman. Bersama dengan Mbok Dewi pula dirinya bisa sejenak melupakan semua rasa sakit. Setidaknya, ada bagian di rumah itu yang bisa menjadi tempat berlindungnya dan terhindar dari rasa sakit yang menyesakkan d**a.
Beberapa menit berlalu, setelah menyuapi Kiran, Mbok Dewi kembali ke lantai bawah rumah, sedang Kiran kembali memeriksa barangnya untuk yang terakhir kalinya. Ia juga sudah berganti pakaian. Setelah memastikan tak ada satupun yang tertinggal, wanita itu menarik kopernya ke lantai bawah. Kiran segera ke dapur untuk mencari Mbok Dewi dan menyampaikan salam perpisahan pada wanita itu. Kiran memeluk erat tubuh wanita tua itu dan mengucapkan terima kasih.
"Hati-hati di perjalanan, Non. Mbok harap, saat bertemu lagi nanti, Non Kiran sudah kembali menjadi wanita periang seperti dulu lagi," Ujar Mbok Dewi seraya melepaskan pelukan mereka.
Kiran mengangguk dan tersenyum. Meski ia tak tahu apakah waktu bisa seajaib itu. Namun, ia akan menyerahkan semuanya pada sangkala. Ia akan membiarkan waktu memainkan perannya dan menghapus segala rasa yang menyesakkan sanubarinya. Ia harap, keajaiban waktu akan menyembuhkan lukanya. Ia ingin semua kembali seperti semula. Setidaknya, untuk dirinya sendiri. Ia ingin bisa kembali merasa dan hidup dengan bahagia. Entah kapan ia akan kembali lagi ke rumah ini. Yang pasti adalah ia tak 'kan bisa memberikan maaf untuk semua orang yang berkhianat.
Kiran berjalan melewati Kaila dan Ardo yang duduk di ruang tamu. Kiran menganggap keduanya bagai angin lalu dan terus menarik koper hingga ke teras rumah, sedang Kaila yang melihat kepergian adiknya itu tampak sangat panik. Ia menatap Ardo khawatir, sedang Ardo tersenyum menenangkan. Tak ingin membuat istrinya yang tengah hamil tua semakin panik, Ardo mengatakan jika ia akan berbicara dengan Kiran di teras depan.
Ardo segera berdiri dan menyusul Kiran. Kiran yang mendengar pintu rumah yang dibuka tak mau bersusah payah untuk mengarahka pandangan ke sumber suara. Wanita itu masih sibuk duduk di kursi teras depan dan memastikan pesanan tiketnya sudah benar. Ia langsung memesan taksi online yang akan membawanya pergi dari rumah bak neraka itu.
"Kamu mau ke mana, Ran?" Pertanyaan itu dilayangkan Ardo pada Kiran begitu pria itu sudah duduk di sampingnya. Kiran tak menjawab, masih sibuk memainkan ponsel di tangannya. Ia tak ingin kembali berdebat dan menyebabkan hatinya kembali pedih bukan main.
"Maaf jika apa yang kukatakan sudah keterlaluan. Aku hanya nggak suka hubunganmu dengan keluargamu menjadi buruk."
Kiran tersenyum miring mendengarkan perkataan pria itu. Harusnya, pria itu tak memulai semua kegilaan yang terjadi bila memang tak mau melihat hubungannya dengan keluarganya menjadi buruk. Kini, pria itu sok perhatian dan peduli pada dirinya. Hal yang membuat Kiran semakin jijik dengan pria yang pengecut itu.
Kiran menoleh ke sampingnya dan menantang mata pria itu dengan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. "Mulai hari ini, aku memutuskan semua hubungan ku denganmu. Aku akan melupakan semua cerita yang ada di antara kita dan persaaan apa pun telah kubunuh mati. Jadi kita hanya sepasang orang asing. Bila suatu saat kita nggak sengaja bertemu. Jangan berusaha memanggil namaku atau menyapaku dan lakukan tugasmu dengan baik. Jadilah orang asing sebagaimana kamu bagiku," Ujar Kiran dengan nada datar. Walau hatinya bergejolak pedih, wanita itu tak menunjukkannya. Ia ingin pria itu melihat, bila Kiran bukanlah wanita bodoh yang tak bisa pergi membawa semua perasaannya setelah semua tasa sakit yang diterimanya.
Perkataan Kiran membuat Ardo tercengang sesaat. Pria itu seolah tak menemukan kekuatan ataupun kata yang tepat untuk membalas perkataan Kiran barusan. Rasa pedih menjalar perlahan ke penjuru hatinya. Perasaan menyiksa yang menyebabkan jantungnya terasa sakit seakan diremas kuat-kuat. Ia seolah kehilangan seluruh oksigen yang diperlukan paru-parunya untuk terus bernapas.
Beberapa detik kemudian, taksi online yang Kiran pesan sudah datang. Kiran segera bangkit berdiri, memasukkan barangnya ke bagasi mobil, dan segera masuk ke dalam mobil. Sementara Ardo hanya bisa menatap wanita itu dalam diam dan matanya terus mengikuti sosok Kiran. Ia tak mampu melakukan apa pun. Tak bisa mencegah dan tak memiliki keberanian. Tampaknya dirinya memang seorang pengecut yang menyedihkan.
"Andai kamu tahu, Kiran."