Kebencian Ini Abadi

1809 Words
Kau tahu, luka hati tak mungkin bisa kau sembuhkan hanya dengan kata maaf. Terkadang kata maaf saja tak 'kan cukup untuk mengubah apa yang ada di dalam hatimu. Luka itu akan meninggalkan bekas yang tak mungkin bisa kau sembuhkan dengan cara apa pun. Lukamu akan terus menganga, mengingatkanmu bila ada hari di mana, orang-orang tega merusak mimpimu dan merenggut semua yang kau miliki. Kau akan menggunakan luka itu sebagai kekuatanmu untuk membalas semua orang yang menyakitimu. Pada akhirnya, kebencian adalah kekuatan yang tak bisa dikalahkan oleh siapapun. Satu-satunya hal yang bisa membuatmu tetap hidup. Kiran tak tahu apa yang membuatnya memutuskan untuk tinggal. Entah di dalam hati kecilnya, ia masih merasa bertanggungjawab sebagai seorang anak atau memang dirinya telalu lelah untuk meraung dan butuh istirahat. Kiran yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur menatap ke sekelilingnya dengan tatapan meneliti. Kamarnya masih sama seperti saat ia tinggalkan dulu, namun sayang di rumah itu tak ada lagi yang sama untuknya. Semua hal sudah sangat berubah. Tak ada lagi kehangatan keluarga yang menyambut kedatangannya. Tak ada tawa bahagia. Semua yang tersisa hanyalah luka dan air mata. Tak ada yang peduli dengan perasaannya. Semua orang mengkhianatinya dengan begitu tega. Mereka menjadikannya seperti robot yang tak 'kan merasakan apa pun. Padahal, dirinya adalah seorang manusia biasa. Bagaimana bisa mereka semua bersekongkol menipunya selama satu tahun lamanya? Konyol, mengapa separah ini kejutan yang diterimanya? Kiran tak mau lagi berpikir. Yang ia butuhkan adalah tidur dan berharap semua ini adalah mimpi buruk yang akan berakhir begitu ia membuka mata. Ia harap, saat membuka matanya lagi, keluarganya yang penuh cinta bisa kembali ditemukannya. Mungkin saja, tak ada lagi air mata yang harus ditumpahkannya begitu ia membuka mata di esok hari. Bagai diiris sembilu, teramat sakit hatinya kini dan ia tak tahu seberapa lama ia bisa menahan rasa sakit itu seorang diri. Mentari pagi mengintip melalui celah gorden, mengusik mata Kiran yang masih hendak dipejamkan. Lalu Kiran teringat sesuatu. Ia harus segera bangun dari tidur dan mengakhiri mimpi buruknya. Wanita itu memaksa matanya terbuka dengan cepat. Ia langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Napasnya terengah-engah karena memaksakan diri segera terbangun. Kiran memandang ke sekeliling kamar, semua masih seperti kemarin. Koper yang diletakkan dekat lemari, pakaian yang ia kenakan, dan semua tak ada yang berubah. Menandakan jika apa yang dialaminya bukan sekadar mimpi belaka. Kiran memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Wanita itu harus segera membersihkan dirinya sendiri dan kembali menghadapi kerasnya kenyataan di depan mata. Ia harus kembali bangkit agar tak ada seorangpun yang mampu menindasnya lagi. Ia akan membuat wanita yang dulu dianggapnya kakak menyesali perbuatannya. Wanita itu harus tahu, bila menghancurkan mimpinya bukanlah hal yang bisa dimaafkan. Wanita itu harus menyesal. Kiran mematut dirinya di depan cermin. Ia tak butuh berlama-lama tinggal di rumah itu, namun sebelum pergi, ia harus membuat rasa bersalah mengkonsumsi kakaknya. Kaila harus tahu bila semua yang ada di antara mereka tak lagi bisa kembali seperti semula. Kebenciannya tak 'kan pernah padam dan wanita itu tak 'kan bisa hidup bahagia setelah menghancurkannya. Kiran segera keluar dari kamarnya yang berada di lantai dua. Rumah itu tak seramai kemarin, di meja makan terdapat Ardo dan Kaila yang tengah menyantap sarapan bersama. Melihat pemandangan itu membuat hati Kiran kembali teriris perih, hatinya begitu sakit. Ia menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya ia menghancurkan keduanya dan pergi dari sana. Namun, jika dirinya pergi begitu saja, maka ia akan terlihat kalah dan tak berdaya. Kiran memasang wajah dingin dan melanjutkan langkahnya, Ardo dan Kaila yang sadar akan kedatangan Kiran mendadak salah tingkah. Kaila bahkan segera berdiri agar tak lagi duduk di samping Ardo. Wanita itu menyambut Kiran dengan senyum, namun diabaikan oleh Kiran. Kiran tak peduli apa yang wanita itu lakukan. Ia mengambil tempat duduk di drpan Ardo. Pria yang selama ini membuatnya begitu tergila-gila. Pria yang menjanjikan dunia padanya. Siapa sangka, pria yang sama pula yang menyakiti hatinya dan menghancurkan semua mimpinya. Pria yang dulu pernah menjanjikan kata selamanya, kini tampak tak lagi peduli padanya. Betapa menyedihkannya bagaimana bisa janji hanya menjadi sebuah omong kosong yang tak memiliki makna apa pun. Betapa menggelikan karena dulu Kiran bisa termakan perkataan manis penuh kebohongan yang pria itu ucapkan padanya. Lihatlah kini, pria itu bahkan tak berani menatapnya dan menganggapnya begitu asing. Ingin rasanya ia merobek jantung pria itu dan mencari tahu apa yang ada di dalam sana. "Makanlah, De," Kaila meletakkan piring di hadapan Kiran, lalu mengisinya dengan nasi goreng. Kiran hanya terdiam dan bersedekap dadaa. Pandangannya menatap lurus pada Ardo yang tengah menyantap makanannya. Setelah mengisi piring Kiran, Kaila duduk di samping wanita itu. Kiran kemudian menoleh ke samping dan menatap kakaknya dengan tatapan merendahkan. Ia membuang piring berisikan nasi goreng tadi ke meja. Suara pecahan piring yang terbuat dari kaca itu mengejutkan Kaila, begitupun dengan Ardo. "Aku nggak sudi makan, makanan yang disiapkan dengan perempuan murahaan sepertimu!" Ucap Kiran dengan dingin, membuat mata Kaila berkaca-kaca, air matanya seakan ingin segera pecah begitu saja, namun Kiran tak peduli. Wanita itu meraih piring kosong, lalu mengisi nasi goreng dan memakannya dengan santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Ardo mengadahkan wajah dan menatap kedua wanita di hadapannya secara bergantian. Ia menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Lebih baik kita pergi Kaila, daripada ada yang nggak nyaman dengan kehadiran kita dan terus mencari masalah." Kiran tersenyum miring mendengarkan perkataan Ardo. Ia tak merasa tersinggung sama sekali, malah semakin terpancing untuk membuat Kaila menangis. "Baguslah para penhkhianat zaman sekarang sudah lebih tahu diri, jadi aku nggak perlu repot-repot lagi menahan mual saat mau makan," Kiran tersenyum manis pada Ardo yang menghela napas gusar. "Nggak pa-pa, Mas. Habiskan makananmu saja. Aku baik-baik saja," Perkataan Kaila membuat Kira bergidik ngeri. Entah mengapa, semua yang dilakukan wanita itu selalu mampu membuatnya merasa begitu jijik? Mungkin karena kini Kiran mampu melihat wajah Kaila yang sebenanrnya, hingga semua sandiwara wanita itu tak lagi bisa mempengaruhinya. Semakin wanita itu bersandiwara, semakin besar pula kebencian Kiran untuknya. "Ternyata selain muraha4an. Kau bodoh juga," Kiran mengarahkan pandangan ke samping dan menatap Kaila dengan tatapan merendahkan, "Sudah kubilang kalau kehadiran kalian membuatku mual, jadi lebih baik kalian pergi dan membiarkanku makan dengan damai," Lanjut Kiran seraya menatap tajam kakaknya. Kaila mengigit bibir bagian bawahnya. Hatinya perih bukan main melihat kebencian di sepasang netra adiknya yang begitu ia cintai. Tak ada lagi tatapan penuh kekaguman atau kasih sayang seperti yang dulu adiknya kerap berikan untuknya. Kini, mata itu hanya menatapnya penuh benci dan juga jijik. Andai saja, Kaila bisa menutar waktu, maka ia tak menginginkan semua hal ini terjadi. "Toh, aku akan segera pergi dari sini, jadi sebentar lagi, aku bisa makan dengan tenang. Hidup sendirian jauh lebih indah daripada hidup di antara pengkhianat menjijikkan seperti kalian semua," Ujar Kiran berapi-api, "Rasanya, begitu sesak napas berada di ruangan yang sama dengan orang-orang menjijikkan seperti kalian berdua," Lanjutnya penuh amarah. Ardo tak sanggup lagi melihat sikap konyol Kiran. Ia memukul meja makan cukup keras, membuat Kiran terkejut, namun dengan cepat ia mengubahbekspresi terkejutnya menjadi wajah datar tanpa ekspresi. Ia tak ingin pria itu melihat ada perasaan lain yang tersisa di hatinya, selain kebencian. Tak ada satupun yang boleh tahu, bila Kiran sangat terluka hingga saat ini. Ia bahkan ingin mati karena semua kehilangan yang dirasakannya. Namun dengan sisa tenaga, ia memaksakan untuk terlihat baik-baik saja. "Mama masih dalam keadaan kritis dan di sini kamu nasih saja bersikap menyebalkan. Kamu terlalu lebay, Kiran!" Pria itu berkata penuh amarah, "Segala sesuatu nggak harus tentangmu saja, Kiran. Semua orang memiliki masalah mereka masing-masing. Kau menolak untuk mendengarkan dan membenci kami, lalu kau bersikap layaknya korban," Lanjut pria itu seraya tertawa renyah. Kiran tercengang sesaat, namun sedetik kemudian tawanya pecah. "Aku lebay?" Kiran menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya, "Aku bersikap layaknya korban?" Wanita itu tertawa mengerikan. "Menurutmu apa aku harus tersenyum, mengucapkan selamat, dan mendoakan kebahagiaan kalian berdua?" Kiran menatap keduanya secara bergantian, "Kau pasti yang gila saat berpikir aku bisa terlihat begitu bahagia setelah semua yang kalian lakukan di belakangku!" Teriak Kiran dengan penuh emosi. Nafasnya terengah-engah karena amarah yang menguasai sanubarinya. Bagaimana bisa dirinya yang disakiti, tapi dirinya pula yang harus mengerti dan menerima keadaan? Bagaimana mungkin, ia bisa terlihat baik-baik saja saat mendapatkan kejutan yang merampas kewarasannya. Sungguh, Kiran tak mengerti lagi siapakah yang gilaa dalam kisah ini. Dirinya yang menjadi korban, namun tak boleh bersikap layaknya korban. Atau mereka semua yang telah menjadi tersangka, namun mau dianggap sebagi korban? Tak ada lagi yang masuk akal dindunia fana yang mengerikan itu. "Satu tahun lamanya kalian semua mengkhianatiku. Kau sendiri bahkan nggak memutuskan hubungan kita hingga saat ini, lalu kau memintaku mengerti keadaan aneh ini?" Kuran menggertakkan giginya, "Rasanya, aku ingin membunuh kalian semua agar kalian tahu sesakit apa hatiku saat menerima semua pengkhianatan ini," Lanjut Kiran seraya menatap keduanya dengan penuh amarah. "Haruskah ku belah d**a kalian, agar aku tahu apa kalian masih memiliki hati atau tidak?" Tatapan mata Kiran tampak begitu dingin dan mengerikan, membuat Kaila bergetar ketakutan. Ia tak pernah melihat Kiran sekasar dan semengerikan ini, tidak selama ini mengenal adiknya itu. Kiran adalah wanita ceria, periang, supel, dan banyak disukai orang karena keramahannya. Siapa sangka, Kiran yang manis bisa berubah begiru mengerikan. "Kamu menghina keluargamu sendiri karena kemarahanmu. Hal yang seharusnya nggak kamu lakukan," Ardo tak menyerah. Ia tahu betapa keras kepalanya Kiran dan ia hanya ingin Kiran sadar jika caranya memperlakukan kedua orang tua dan juga kakaknya adalah salah. Tak seharusnya, amarah membuang semua etika yang wanita itu miliki. Bukan seperti ini Kiran yang dicintainya. "Peduli setan dengan semua pengkhianat!" Teriak Kiran lagi. Melihat Kiran yang semakin marah, Kaila segera memberi kode pada Ardo untuk menghentikan perdebatan itu. Ardo yang melihat wajah memohon Kaila merasa tak tega. Ia tak suka bagaimana hubungan keduanya menjadi buruk dan dirinya adalah penyebab semua itu. Ia pun tak ingin melihat Kaila terus merendahkan diri demi membujuk Kiran yang semakin beringas bila tak dihentikan. Kiran meletakkan kembali sendok garpu ke piring. Ia sudah kehilangan selera makannya berkat pria itu. Ia menatap Ardo tajam, lalu menatap Kaila denga tatapan yang sama. Keduanya membuatnya sangat jijik, hingga bulu kuduknya merinding melihat kedua anak manusia itu. Ah tidak, Kiran tak bisa lebih lama lagi berada di sana. Ia bisa benar-benar kehilangan kewarasannya bila memaksa menjalani hari di neraka yang tak lagi menyambutnya. "Kalian terlalu menjijikkan, hingga aku kehilangan selera makanku. Selama karena membuatku nggak bisa menelan nasi goreng," Ujar Kiran seraya bangkit berdiri, namun drngan cepat Kaila meraih pergelangan tangan Kiran dan menghentikan wanita itu untuk pergi. "Biar kami yang pergi. Kamu tetaplah di sini dan lanjutkan makannya." Kiran tersenyum miring dan menepis kasar tangan wanita itu. "Silahkan nikmati neraka ini untuk kalian berdua. Aku sudah muak," Kiran melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Kaila yang memanggil namanya sembari mengatakan kata maaf. Pintu hati Kiran sudah tertutup sepenuhnya dan tak ada maaf yang bisa ia berikan. Hanya ada kebencian di dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD