“Mas Arya udah sampai mana?” tanya Gayatri dalam sambungan telepon. “Bentar lagi sampai stasiun Bandung, gak usah jemput kalau kamu ada perlu.” Gayatri mengangguk, padahal sebenarnya Arya tidak akan bisa melihat anggukan Gayatri. Wanita itu merenggangkan tangan satunya seraya bersandar di sandaran kursi yang empuk. “Ya udah, langsung ke Kenanga aja, ada Dayu di sana. Aku ada janji sama pengacara, mau masukin gugatan cerai ke pengadilan.” “Loh, jadi cerai kah?” Arya terdengar kaget. “Ish, Mas ini gimana sih, ya jadi lah. Sudah nih, aku tutup teleponnya. Sampai ketemu di Kenanga. Bye, Mas.” Sudah tidak ada waktu lagi untuk gamang. Tidak ada waktu untuk merasa kasihan, meski kemarin Gayatri melihat Dirga tergeletak tak berdaya di pangkuannya. Hidung dan bibir bagian atas terdapat luka

