Chapter 9

1019 Words
Kiel memandang Ladeina dengan shock setelah mendengar perkataan gadis tersebut, mulutnya hampir terbuka. Sementara yang dipandang hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali, ekspresinya penuh kebingungan. "Kenapa kak?" Satu pertanyaan itu lolos dari mulut Ladeina yang membuat Kiel berpikir jika wanita yang lebih muda darinya ini tidak berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Kiel membuang napasnya, sudut bibirnya tertekuk ke bawah, matanya memandang Ladeina seolah mengatakan 'ya sudahlah' lalu mengalihkan arah pandangannya ke depan. Ia merasa jika membalas Ladeina maka akan ada perdebatan yang tidak akan ada habisnya. Toh, lagi pula, Rune memang kelihatan seperti orang yang gak punya kerjaan alias pengacara, pengangguran banyak acara. "Gak papa. Kamu benar kok" 'Iya in saja' adalah cara yang akan pasti selalu digunakan oleh Kiel mulai saat ini. Sekarang ia paham kenapa ayahnya selalu mengiyakan ibunya meskipun tahu sang istri salah dalam memersepsikannya. Apalagi ketika sang ibu dan ayahnya berdebat, dan sang ibu langsung asal bicara seolah ayahnya tidak pernah melakukan apa-apa seperti cuman bernapas saja dalam hidupnya. Untuk kesekian kalinya, Kiel membuang napasnya. Akan tetapi, kali ini lebih kasar dari sebelumnya dan terlihat lebih pasrah. Entah kenapa Kiel merasa ungkapan 'jodoh adalah cerminan diri' tidak cocok untuk dirinya saja. Terbukti sifat dan tingkah Ladeina yang sebelas dua belas dengan sang ibu tersayang. Bagi Kiel ungkapan yang lebih terdengar cocok untuknya adalah 'jodohmu adalah cerminan ibumu'. Ladeina mengerucutkan bibirnya, menunjukkan kalau dia tidak puas dengan respons yang diberikan oleh Kiel. Pria berparas tegas dan tampan ini memutar bola matanya. Takjub mengetahui ia mendapatkan jodohnya plek ketiplek dengan sang ibu dalam segi sifatnya. Sementara itu, Ladeina yang melihat Kiel memutar bola matanya pun langsung mencebikkan bibirnya. "Kenapa sih kak! Padahal kakak cuman bernapas saja. Cuman nyetirin mobil, makan, sama duduk denganku doang loh! Tapi kayak udah nyelamatin dunia" sembur Ladeina, ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan ekspresinya benar-benar menunjukkan kekesalan dan kejengkelan. Mendengar semburan dari Ladeina, Kiel hanya bisa menerima dan pasrah, takutnya malah semakin meluas rembesan Ladeina. Di pikiran Kiel saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan cara jitu lain yang dimiliki ayahnya untuk meladeni sang ibu yang sedang kesal. "Iya, iya aku tahu. Tadi cuman kelilipan aja mataku, maaf kalau kamu salah paham" Sikap Ladeina langsung berubah setelah mendengar penjelasan Kiel meskipun gadis itu tidak tahu itu hanya kebohongan belaka. Tapi, ia begitu mempercayainya. "Dua-dua yang kelilipan? Ya ampun, pasti gak nyaman banget ya? Kok bisa ya padahal gak ada angin kencang juga. Dan anehnya aku gak kelilipan loh" Yap berhasil, itu yang di benak Kiel. Dan saatnya untuk mengalihkan topik pembicaraan yang merepotkan ini. "Ladeina" panggil Kiel. Ladeina langsung mendongak, matanya terbuka lebar dan mengarah ke Kiel, "Iya kak?". Ekspresi lugu Ladeina membuat Kiel tiba-tiba merasa ketimpa durian runtuh karena dirinya lah yang dipaksakan ke perjodohan ini dan bukan Rune. Kiel juga merasa menjadi dirinya adalah pria paling beruntung karena hanya keluarga Winston lah yang melakukan perjodohan bisnis ini dengan keluarga York. Kiel tertawa kecil, senyum manis terparkir di wajahnya. Untuk pertama kalinya, Ladeina melihat senyum Kiel yang seperti itu. Kiel tampak sangat tampan dengan senyumnya yang mengembang. Gadis berusia 22 tahun ini langsung menundukkan kepalanya sambil mengerucutkan kembali bibirnya. Semburat merah mulai muncul di kedua pipi gembulnya. Tawa Kiel mulai mereda dan diakhiri dengan gelengan kepala. Jari telunjuk Kiel mengangkat wajah Ladeina yang masih memerah, ia mencepit dagu sang gadis dengan jari telunjuk dan jempolnya. "Aku gak akan ngehalangi hobi Eina. Kamu bilang saja kamu ingin apa, akan aku berikan kecuali kerja" ucap Kiel dengan seringai nakalnya. Tidak ayahnya, tidak Kiel sama saja. "Tapi aku ingin merasakan cari uang itu gimana. Rasanya seperti sia-sia sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya hanya di rumah saja" ujar Ladeina sambil menarik jepitan Kiel dari dagunya. Gadis itu sesekali memainkan jari jemari Kiel yang berukuran lebih besar dibandingkan jari-jari miliknya. Kiel terdiam, menyandarkan punggungnya ke bangku taman, tatapannya mengarah pada danau taman yang tenang. Pria itu merenungkan semua perkataan Ladeina. Benar jika sekolah tinggi-tinggi tapi tidak bekerja ujungnya hanya membuang duit. Tapi sang gadis juga salah menurut Kiel, ada sesuatu yang di dalam benak dan hati Kiel yang terus mengatakan kalau perkataan Ladeina itu salah. Namun, ia sangat sulit menjabarkannya, lebih sulit dari saat ia harus menganalisis dan menjabarkan laporan yang dibuat oleh para bawahannya. "Eina, kamu benar..." Kiel membalasnya memecahkan keheningan di dalam dirinya. "Tapi, ada satu hal yang tidak kamu sadari" lanjut Kiel sambil tetap memandang danau. Terdapat jeda di antara kalimatnya, Kiel berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kerumitan yang ada di dalam dirinya. Dengan helaan napas, Kiel pun kembali melanjutkan kalimatnya. Pandangan Kiel beralih pada Ladeina. "Eina, kerja itu bukannya menghasilkan uang. Tapi, juga mendapatkan sebuah pengalaman dari bekerja untuk sebuah perusahaan atau instansi, pertanggungjawaban, serta kontribusi kamu saat mengemban pekerjaan itu." Ladeina hanya diam, meresapi perkataan Kiel. "Tapi apakah kamu pernah memikirkan dampak yang akan di dapatkan ke keluarga kecil kita?" Ladeina langsung mendongak menatap Kiel. Ladeina tidak pernah memikirkan hal-hal tersebut. Ia hanya ingin terjun ke dunia kerja. Menyadari pemikiran Ladeina, Kiel kembali menghela napas dan kembali menjelaskan dengan penuh frustrasi. "Eina, ingat, ini bukan hanya menghabiskan uang saja atau tidak mendapatkan pengalaman. Ini juga berkaitan dengan keamanan. Di luar sana, dunia itu sangatlah berbahaya. Dan aku tidak mau kamu kenapa-napa." Tangan Kiel terulur ke puncak kepala Ladeina, ia mengelusnya dengan kasih sayang. "Aku paham kalau kakak khawatir padaku tapi aku juga ingin merasakan dunia luar. Aku penasaran dengan dunia kerja itu seperti apa, aku tidak mau hanya duduk seharian di rumah, itu membosankan" Kiel kembali menghela napas. Rasanya topik ini tidak akan pernah selesai, dan jika dilanjutkan maka Ladeina pasti akan tetap kukuh untuk berkerja. Bagaimanapun, Ladeina sangatlah keras kepala dan Kiel sudah mengetahui hal ini hanya beberapa kali berbicara dengan sang gadis. Tangan Kiel berpindah dari kepala ke bahu Ladeina, ia sedikit meremasnya dan memberikan pijatan sedikit lalu tersenyum sambil membalas Ladeina dengan tenang. "Nanti banyak kok kerjaannya kamu. Tenang saja. Sekarang kita ganti topik, oke?." "Ah... oke..." Ladeina mengangguk. Bibirnya mengerucut, dirinya merasa tidak puas dengan jawaban Kiel. Ia ingin tahu pekerjaan apa itu. Tapi, pasti Kiel tidak akan memberitahukan. Maka, untuk saat ini, dirinya akan mengikuti lalu akan beraksi jika waktunya sudah tepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD