Kiel dan Ladeina duduk dalam diam untuk beberapa saat. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kiel melepas genggamannya pada bahu Ladeina dan akhirnya memecahkan keheningan dengan membuka topik baru.
"Sebenarnya ada satu hal yang sangat aku ingin bicarakan kepadamu..."
Ladeina langsung mendonga, menatap wajah Kiel, gadis ini memiliki firasat jika ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan oleh Kiel. "?, kakak ingin bicara apa?" Tanya Ladeina. Nadanya terselip rasa penasaran dan sedikit rasa was-was.
Kirl mengambil napasnya dalam-dalam, ekspresinya berubah menjadi lebih serius lagi. "Ini tentang masa depan kita, lebih tepat pernikahan kita" jawab Kiel, manik matanya penuh dengan kesan keseriusan. Ladeina berpikir jika itu tentang pernikahan mereka, bukankah Kiel bilang bahwa dia yang akan mengurus semuanya. Maka Ladeina pun menebak, "Maksud kakak kehidupan pernikahan kita?".
Kiel mengangguk, ekspresinya masih tetap serius seperti semula. "Ya, yang aku maksud kehidupan pernikahan kita. Ada sesuatu yang sangat ingin ku katakan dan diskusikan denganmu sekarang, Eina"
"Pasti berkaitan dengan perjodohan kita bukan?" Tebak Ladeina melipat tangannya di depan d**a. "Tentu saja, apalagi kalau bukan itu" balas Kiel mendengus kesal. Terdapat jeda sebentar sebelum Kiel melanjutkan perkataannya, seolah sedang merangkai kalimat yang lebih tepat dan tidak menyinggung Ladeina nantinya.
"Kamu tahukan alasan kedua keluarga memutuskan untuk menjodohkan kita?" Tanya Kiel memastikan pengetahuan Ladeina.
"Kalau dari nada ayah sampai perkataannya sih supaya ada yang ngelindungin aku aja. Tapi, pasti juga ada alasan lain, tujuan bisnis contohnya" jawab Ladeina melirik wajah Kiel, mengamati ekspresi pria itu.
Kiel menghela napasnya, setidaknya Ladeina tahu garis besar dari tujuan pernikahan mereka. BISNIS. "Ya, karena emang tujuannya untuk berbisnis" jawab Kiel
Kiel kembali menyandarkan punggungnya pada bangku taman, mengalihkan pandangannya ke arah lain sebelum kembali lagi pada Ladeina. "Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui. Keluarga kita memiliki ekspetasi yang lain pada pernikahan kita berdua. Yah, kalau dibilang fondasi pernikahan kita"
Kedua alis Ladeina berkerut. Ia paham dari fondasi pernikahannya tapi tidak mengerti apa yang diminta oleh kedua keluarga. "Aku... aku tidak sepenuhnya memahami perkataan kakak"
Kiel mengangguk sebentar lalu menjelaskannya dengan ringkas. "Anak"
"Anak?" Alis Ladeina tetap berkerut sebelum akhirnya menyadari kata tersebut. "ANAK?!!" teriaknya, wajah Ladeina penuh dengan keterkejutan.
Kiel mengangguk sambil mengeluarkan seringai nakalnya "Ya, anak".
"Tapi aku kan masih muda!" Seru Ladeina, kedua tangannya terkepal. "Aku tahu, Eina. Tapi, mereka juga memiliki alasan tersendiri" ujar Kiel dengan lemah lembut. "Kakak!" Seru Ladeina yang merasa jika Kiel membela keputusan kedua keluarga tersebut.
"Mereka percaya kalau dengan adanya anak, hubungan antar kedua keluarga akan semakin kuat dan erat dan hubungan kita berdua nantinya sebagai suami istri akan harmonis dan pernikahan kita akan berjalan dengan mulus" jelas Kiel dengan pelan.
"Tapi tetap saja! Mereka memangnya tidak memikirkan aku?" Ladeina membuang wajahnya, amarah dan kecewa terlukis di wajah eloknya. "Tugas kamu hanya melahirkan dan melayani sebagai seorang suami saja" perkataan Kiel tetap tidak mampu menenangkan kekesalan Ladeina.
Kiel merasa jika amarah Ladeina yang tidak menenang malah semakin membara. Ia menjadi takut jika seandainya sang gadis meminta pembatalan pernikahan ini. Dengan rasa cemas, Kiel pun memberikan tawaran spesial pada sang gadis. "Eina, jika kamu takut akan perubahan pada tubuhmu nantinya. Aku akan berikan dokter yang dapat mengembalikkan tubuhnya seperti sedia kala. Akan aku carikan yang paling terbaik dari yang terbaik"
Tetap, Ladeina masih merasa kesal. Kiel pun menghela napasnya, "Eina, aku tahu kamu masih muda tapi aku ingin menjadi seorang ayah sesegera mungkin" jawab Kiel, nadanya begitu rendah dan lembut. "Eina, maaf ya kalau aku terkesan egois dan mungkin ini pertama dan terakhir kalinya aku akan meminta maaf padamu" lanjut Kiel.
"Katakanlah kalau aku red flag tapi aku tetap ingin bersamamu. Aku merasa kalau memang kamu lah wanita yang ditakdirkan sebagai istriku sampai akhir hayat nanti" sambung Kiel yang tetap tidak mendapatkan balasan sedikitpun dari Ladeina.
Terdapat jeda sebentar sebelum Kiel melanjutkan kembali perkataannya. "Tapi kamu haru ingat, kalau kamu tidak mau segera hamil, maka itu hanya akan menjadi kewajiban kamu yang tidak akan pernah terselesaikan sampai kapan pun. Keluarga kita benar, bagaimanapun, kita harus melanjutkan garis keturunan kita berdua"
"Eina, perkataanku tadi bukan berasal dari kata cinta, tapi dari insting, pikiran, hati, semua dengan kompak mengatakan kalau kamu lah yang akan bersamaku nantinya. Kamu lah orang tepat dan pas untuk potongan diriku" Kiel menyentuh telapak tangan Ladeina yang terkepal.
"Aku tidak ingin mendengarkan hal itu!—..." Setelah mengatakan hal itu, Ladeina terdiam dan menundukkan kepalanya, ia merasa malu dan tidak enak hati setelah mengatakan hal tersebut. "Tidak apa-apa. Pasti sangat menyebalkan mendengarkan dari seorang pria asing yang dijodohkan denganmu. Aku memakluminya sekarang. Tapi, jika kita sudah menikah, aku tidak ingin mendengarnya darimu, Eina, paham?" Kiel meremas tangan Ladeina.
Pria berparas tampan ini berpikir jika dia harus memberikan sedikit ancaman kepada sang gadis, ia tahu kalau itu tidak benar dan baik. Tapi, Kiel benar-benar ingin menikah sekarang, dan seluruh insting, pikiran sampai hati mengatakan hal yang sama. Ladeina adalah wanitanya.
"Eina, tatap mataku" perintah Kiel. Nadanya penuh dengan ketegasan. Ladeina dengan perlahan menatap manik Kiel. "Pernikahan tidak bisa dibatalkan. Semuanya tinggal menunggu waktu hari pernikahan kita".
Perkataan Kiel ini sebenarnya sebuah ancaman. Namun, nada yang begitu tegas dan tubuh Kiel yang memancarkan aura positif membuat Ladeina pun tidak merasa takut. Namun, percaya kepada perkataan Kiel.
"Tapi bagaimana jika aku tidak mau?" Tanya Ladeina dengan raut enggan bercampur kesal. Kiel menatap lekat sang gadis berambut panjang dan indah ini. Ekspresinya begitu serius dan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu memiliki nada perintah. "Eina, dengar, pahami dan ingat kata kataku. Ini adalah tugas kamu. Semakin cepat kamu menyelesaikannya maka semakin tenang kehidupanmu" balas Kiel.
Melalui jawaban, nada sampai gerak-gerik Kiel, Ladeina tahu bahwa pria disampingnya tidak menerima penolakan. "Ingat, Eina, aku tidak akan membiarkan dirimu kenapa-napa. Kita adalah pasangan sampai akhir hayat kita dan tugasku melindungimu" ujar Kiel sambil menangkupkan wajah Ladeina. "Kamu. Akan. Baik. Baik. Saja" lanjut Kiel dengan penuh penekanan.
"Tapi aku takut kak..."
Wajah Kiel langsung melunak, ia tersenyum, "Jalani dan aku akan cari cara supaya ketakutan kamu hilang. Apapun akan kulakukan".
"Bagaimana jika ketakutanku tidak akan pernah hilang?" Tanya Ladeina kembali. Ekspresi si gadis muda ini mulai sedikit tenang. "Apa yang kamu takutkan Eina? Rasa sakit? Akhir yang tidak menentu?" balas Kiel tetap tersenyum.
"Rasa sakit memang harus aku tanggung bukan?..." perkataan Ladeina menyadarkan Kiel. Sejenak ia berpikir apa yang harus dilakukannya dengan rasa sakit itu. "Eina..." Panggil Kiel.
Ladeina menatap manik mata Kiel dengan polos, "Ya kak?" balasnya. "Maaf ya, aku masih tidak tahu bagaimana cara mengatasi rasa sakit itu. Tapi, jika akhir yang kamu takutkan, akhir kita akan selalu sama kok" ucap Kiel, tatapannya begitu lembut pada Ladeina.
"Kamu juga harus merasa beruntung. Jarang-jarang aku mau meminta maaf pada orang lain. Paling banyak sehari satu kali" sambung Kiel mengeluarkan seringainya.
"Wah buruk banget sifat kakak" balas Ladeina menggelengkan kepalanya.