Akhinya pesawat mendarat, mereka masuk ke dalam mobil yang telah disediakan oleh keluarga York. Totalnya ada 4 mobil sedan mewah. Kiel dan Ladeina berada dalam satu mobil. Kiel meluangkan waktunya sebentar untuk menyelesaikan sedikit pekerjaannya. Terdapat jarak yang lebar di antara mereka, seolah mereka adalah orang asing.
"Umur kamu berapa?" Tanya Kiel mematikan iPadnya. Ladeina menoleh, "22 tahun" jawab gadis itu dengan polos. Kiel yang terkejut pun tersedak dengan ludahnya sendiri, "Ha?". "22 tahun" ucap Ladeina sekali lagi "Kalau kamu?" Tanya balik Ladeina. "28 tahun" jawab Kiel dengan nada ragu. Sedangkan Ladeina hanya mengangguk dan bibirnya membentuk huruf 'O'.
Kiel menelan ludahnya, 22 tahun sangatlah muda baginya yang berumur 28 tahun dan tidak sampai 10 bulan lagi umurnya sudah 29 tahun. "Berikan kartu identitas kamu!" Perintah Kiel, tangannya terulur ke depan. "Untuk apa?" Tanya Ladeina merasa was-was, takut data dirinya disebar luas dan disalah gunakan.
"Cuman memastikan saja." Dengan ragu Ladeina mengeluarkan kartu identitasnya dari dompet yang ada di tasnya dan memberikannya pada Kiel.
Kiel dengan teliti melihat tanggal lahir Ladeina. Matanya sedikit terbelalak, kepalanya langsung mengadah ke Ladeina. 'Dia baru ulang tahun...' batin Kiel.
Mobil sampai di pekarangan rumah utama keluarga York. Kiel mengembalikan kartu identitas Ladeina. Rumah utama keluarga York berarsitektur Mediterania yang megah, dengan dinding berwarna krem terang yang mendominasi. Atapnya dihiasi genteng-genteng terakota berwarna oranye kecoklatan yang berundak, memberikan kesan hangat dan klasik.
Sementara itu, bagian depan rumah utama begitu luas, dengan banyak jendela berbingkai gelap yang bervariasi dalam bentuk persegi panjang dan lingkaran kecil. Pintu masuk utama terletak di bagian tengah, menonjolkan desain yang lebih tinggi dan diapit oleh pilar-pilar kokoh serta beberapa jendela vertikal yang tinggi.
Dengan jalan masuk berbahan paving yang lebar melingkari area depan rumah, menciptakan area putar yang sangat luas. Di tengah putaran tersebut, terdapat taman melingkar yang terawat sempurna dengan rumput hijau pekat dan dikelilingi oleh pagar tanaman yang dipangkas rapi. Dan sebuah air mancur dengan patung-patung kecil menjadi titik fokus.
Terlihat area garasi dengan pintu kayu gelap, di sebelah sisi kiri rumah utama. Pohon-pohon zaitun dan palem phoenix ditanam di sekitar area taman depan, menambah nuansa elegan pada area rumah.
Mereka keluar dari mobil. Elita melihat kediaman keluarga York dengan kagum. Ia melirik ke Ladeina yang berjalan masuk bersama Kiel dengan tatapan iri. Bagi Elita, ini semua tidak adil, Ladeina sudah hidup nyaman dan menjadi putri keluarga kaya dan sekarang mendapatkan suami yang Elita impikan dari dulu. Seseorang seperti Kiel bukan Rune.
Para pelayan keluarga York mengarahkan para tamu ke kamar tamu masing-masing. Khusus untuk Kiel, kamar tidurnya disediakan disebelah Ledeina. "Ini kamar kakak, bersebelahan dengan kamarku." ucap Ledeina bersender di dinding kamar.
Kiel menoleh, sedikit asing dengan panggilan kakak yang baru saja keluar dari bibir kecil calon istrinya. "Ya... kamarku bersebelahan denganmu? Bisa aku lihat kamar kamu?" Tanya Kiel, rasa penasaran mulai mengerubungi dirinya. Namun, dengan lihai, ia dapat menyembunyikannya.
Ladeina merasa tidak nyaman atas permintaan Kiel. "Gak boleh." tolak Ladeina. "Kenapa gak boleh?" Tanya Kiel lagi. "Untuk apa kakak lihat kamarku?" balas Ladeina menyilangkan tangannya. "Salahkah melihat kamar istri sendiri?" Kiel mengangkat alisnya ketika Ladeina menyilangkan tangannga, nadanya penuh dengan rasa kesal.
"Salah." cukup satu kata sudah membuat Kiel jengkel sepenuhnya. "Lagipula aku belum jadi istri kakak." Kali ini, Kiel sama sekali tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya. "Kita akan menikah dalam waktu dekat, tidak sampai setengah tahun dan paling lama 4 bulan untuk persiapan pernikahan kita."
Ladeina tersentak. 4 bulan bukan waktu yang lama. Pernikahannya dilakukan dengan terburu-buru. "Bagaimana dengan pesta pertunangan? persiapan gaun pengantin? temanya? tamunya? dan segalanya? bukankah semuanya harus direncanakan matang-matang?!" seru gadis bertubuh mungil ini.
"Dengar, itu semua bukanlah hakmu yang menentukan"
Ladeina benar-benar terdiam, dia sungguh dipaksa dan dibungkam di perjodohan ini. Tangannya tidak lagi saling menyilang. "Aku... aku... aku ingin... memakai gaun pengantin impianku..." lirih Ladeina, kepalanya menunduk, ekspresinya sedih "Ini pernikahan pertamaku".
Kiel melangkah mendekat, tangannya menjulur mengelus puncah kepala Ladeina dengan lembut. "Kamu ingin tema apa? gaun pengantin yang seperti apa?" nada Kiel kini sedikit melunak. Ladeina pun mulai mengangkat kepalanya "Aku tidak ingin menyewa gaun pengantin...".
Kiel tersenyum getir, ia berfirasat jika calon istrinya ini ingin menghambur-hamburkan uang untuk yang tidak perlu. "Gaun pengantin itu penting!! Aku tidak mungkin memakai baju rumahanku!!" seru Ladeina.
Kiel mengangguk sambil tersenyum paksa "Besok kita pergi ke butik, oke?". Ladeina langsung mengangguk, ekspresi berubah bahagia dan senang.
Waktu makan malam telah tiba. Bahkan kedua kakak lelaki Ladeina telah tiba bersama dengan istri mereka. Suasana begitu hangat, para pria dengan antusias membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan bisnis, politik, dan ekonomi.
Sementara itu, para wanita berbicara tentang fashion dan investasi untuk keluarga. Para wanita sibuk memamerkan kekayaan keluarga mereka namun nada sopan dan lembut. Elita, tidak merasa cocok dengan perbincangan ini. Ia pun izin untuk pergi ke kamar mandi.
"Nanti ibu yang akan membawamu dan memperkenalkanmu pada nyonya-nyonya, tenang saja mereka tidak mengigit kok~" ucap Ibu Kiel, ia begitu bersemangat seolah tidak sabar untuk melakukannya.
Ladeina mengangguk, "Baik ibu, aku akan menunggunya. Aku harap aku akan mendapatkan teman baik disana" balasan Ladeina begitu sopan dan namun juga memberikan respons yang setara dengan ibu Kiel.
"Kamu tidak perlu takut, ibu yang akan terus membantumu. Kalau kamu ada kesulitan, beritahu pada ibu, jangan diam-diam."
Ladeina dengan senyum malu-malu, mengangguk. Ia merasa lega jika calon ibu mertuanya benar-benar berada di pihaknya. "Rune, kekasih kamu kenapa tidak balik-balik ya? padahal makan malamnya belum selesai." tanya Ibu Ladeina dengan nada khawatir. "Dia tidak tersesat bukan?" tebak seorang wanita berparas cantik dengan rambut hitamnya, Alona. "Apa maksud kakak? kan ada pelayan yang memberitahu arahnya." timpal Mia, kakak ipar kedua.
"Akan aku susul dia." Ladeina berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Kiel langsung mengikutinya. "Eh?" Ladeina terkejut. "Aku gak yakin sama satu wanita itu." tutur Kiel dengan tatapan dingin. "Kakak enggak suka ya?" Tanya Ladeina yang langsung dibalas oleh Kiel, "Gak."
"Sepertinya kakak benci banget sama dia... siapa namanya?" Ladeina menatap Kiel dengan penasaran. "Namanya Elita. Gak usah terlalu akrab dengan dia." balas Kiel dengan memberikan peringatan kecil.
"Kenapa?"
Kiel membalas tatapan Ladeina, sepertinya si calon istri suka sekali membuat pertanyaan-pertanyaan yang menurut Kiel tidak penting sama sekali. "Jawab kak!" seru Ladeina.