"Akan aku susul dia." Ladeina berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Kiel langsung mengikutinya. "Eh?" Ladeina terkejut. "Aku gak yakin sama satu wanita itu." tutur Kiel dengan tatapan dingin. "Kakak enggak suka ya?" Tanya Ladeina yang langsung dibalas oleh Kiel, "Gak."
"Sepertinya kakak benci banget sama dia... siapa namanya?" Ladeina menatap Kiel dengan penasaran. "Namanya Elita. Gak usah terlalu akrab dengan dia." balas Kiel dengan memberikan peringatan kecil.
"Kenapa?"
Kiel membalas tatapan Ladeina, sepertinya si calon istri suka sekali membuat pertanyaan-pertanyaan yang menurut Kiel tidak penting sama sekali. "Jawab kak!" seru Ladeina. Kiel hanya memutar bola matanya, sudah tergambar dengan jelas bagaimana nanti kehidupan pernikahannya dengan gadis kekanak-kanakan disampingnya ini.
Tiba-tiba Kiel pun menghentikan langkahnya. Begitu juga Ladeina yang ikut berhenti dan mengalihkan pandangannya ke depan. Elita tengah duduk di lantai yang dingin di depan sebuah jendela besar. Cahaya bulan meneranginya.
"Elita?" panggil Ladeina. "Ah..." Elita menunduk setelah itu bangkit dari duduknya. Sementara itu, Kiel memutar bola matanya, kekesalan mulai menyelimutinya. "Kenapa kamu duduk disini?" Tanya Ladeina. Kiel terkejut dengan pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu dan langsung menatap Ladeina dengan tatapan aneh dan bingung. "Tidak apa-apa. Hanya ingin duduk sebentar saja kok..." suara Elita begitu lembut dan kecil.
Kiel kembali memutar bola matanya. Jengah dan jengkel benar-benar memenuhi hati dan kepalanya. Sedangkan Ladeina terus menatap Elita dengan sendu seolah memahami perasaan, posisi dan kesulitan Elita. Bibir Kiel pun mencebik muak. Bagi Kiel, Elita hanya bertingkah sebagai sosok gadis yang rapuh dan lugu. Dan itu membuat Kiel geli dan muak.
"Elita..." lirih Ladeina. Habis sudah batas kesabaran dan kesanggupan Kiel melihat drama yang menurutnya menggelikan ini. Pria itu langsung menarik lengan Ladeina dan menyeretnya kembali ke ruang makan.
"Akh! Kak! Lepas, sakit!" Ladeina terus meronta-ronta untuk dilepaskan sedangkan Kiel tetap menyeretkan kembali ke ruang makan. "Ngapain disitu! Buang-buang waktu tau gak!" Seru Kiel, wajahnya penuh dengan kekesalan.
Mengetahui jika ia mulai menjauh dari Elita, Ladeina pun berteriak, "Elita kembalilah segera, waktu makan malam belum selesai!!". Namun, tidak ada sahutan dari Elita. Tatapan dan ekspresi Elita sedikit menggelap, wanita ini begitu iri pada Ladeina.
Kiel memaksa Ladeina duduk di kursinya. Seluruh anggota kedua keluarga terkejut melihat perilaku Kiel yang sedikit kasar mendudukan Ladeina. "Udah makan cepat! Ngapain disana buang-buang waktu saja!" Seluruh anggota keluarga tersentak, mereka terus melihat Ladeina dan Kiel.
"Mana Elita?" Tanya Rune. Dan baru saja Ladeina membuka mulut untuk menjawab sudah dipotong oleh Kiel, "Biasa!". Semua terdiam, bingung dengan balasan Kiel. "Apa yang maksudnya biasa?" Tanya kakak pertama Ladeina, Dion.
Bukannya menjawab pertanyaa Dion, Kiel malah mengomel. "Lihat tuh makan malamnya masih banyak, gak tersentuh sama sekali!" Omel Kiel. Seluruh anggota kedua keluarga hanya bisa diam mendengarkan omelan Kiel. "Iya! Gak tersentuh, kan ngomong aja! Gosip yang penting, makan? Belakangan. Lihat tuh, ada kesentuh? Mana ada!!" Lanjut Kiel.
Padahal omelan ini hanya ditujukan untuk Ladeina, tetapi rasanya seluruh anggota kedua keluarga terkena sasaran juga. Ruang makan begitu hening karena omelan Kiel. Seluruh anggota kedua keluarga menunduk melihat makanan dipiring mereka yang masih belum tersentuh.
"Nanti tengah malam bangun, lapar! kenapa? kan gak makan malam, sibuk gosip aja, makannya gak tahu kapan dimulai kapan selesainya". Kata per kata yang keluar dari mulut Kiel begitu menusuk ke hati dan kepala. Bahkan ayah Kiel yang dingin dan tidak peduli pun hanya bisa diam menerima omelan. Semua omelan Kiel terlalu tepat sasaran untuk dibantah.
Kiel pun duduk di kursinya sendiri, mengambil piring menu makan malam dan meletakkan secukupnya ke piring Ladeina. Ia melakukannya lagi ke semua menu makan malam. "Cepat makan! Kenapa dilihatin saja!".
Tidak hanya Ladeina tetapi seluruh anggota kedua keluarga langsung mengambil peralatan makan mereka. Baru saja, Kiel memakan satu suap, omelan kembali lagi. "Jangan pilih-pilih!!". Lagi dan lagi seluruh anggota kedua keluarga tersentak. Padahal Kiel mengomel lagi karena melihat tindakan Ladeina yang menggeser-geserkan makanan di piringnya.
Ladeina hanya bisa menunduk. Suapan pertamanya terasa seperti keras dan pahit untuk dikunyah. Bukan karena masakannya yang tidak lezat, tapi karena suasana yang berubah menjadi begitu tegang karena omelan Kiel. Rasa malu, bersalah, dan bingung bercampur jadi satu.
Kiel meletakkan sendoknya dengan bunyi "tak" yang membuat semua kembali menegang. Padahal Kiel tidak segaja menjatuhkan sendoknya saat selesai makan. Ia menyenderkan tubuh ke sandaran kursi, lalu menyilangkan tangan di d**a, tatapannya terus tertuju pada Ladeina.
"Makan yang ini juga" ucapnya pelan tapi terdengar begitu dingin. "Jangan terlalu pilih-pilih dalam makanan, apalagi sayur"
Dion menatap Kiel, seolah ingin protes, namun ia urung saat melihat sorot mata Kiel yang tak bisa ditembus. Rune hanya menarik napas perlahan. Kepala keluarga York hanya bisa menunduk lebih dalam. Bahkan suara sendok dan garpu tidak lagi terdengar.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari arah lorong. Semua kepala menoleh. Elita muncul, berjalan dengan pelan. Ia duduk di samping Rune dan melanjutkan makannya. Kiel memandangnya sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangan ke piringnya. Seolah keberadaan Elita tak lebih dari debu di udara.
Waktu makan malam mulai habis. Kiel yang sudah menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu, duduk diam menunggu Ladeina menyiapkan makan malam. Akhirnya semua menyelesaikan makan malamnya.
Kiel mendesah, lalu bangkit berdiri, mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. "Ayo" ajak Kiel pada Ladeina. Dengan patuh, Ladeina bangkit dan berjalan mengikuti Kiel, menjauh dari meja makan tanpa berkata sepatah kata pun. Semua terdiam lagi. Namun hening kali ini berbeda. Ada kelegaan yang muncul karena sosok paling menekan sudah meninggalkan ruangan.
Langkah kaki Kiel dan Ladeina terdengar menjauh, menyisakan ruangan makan yang mulai dipenuhi helaan napas berat. Dion menyandarkan tubuh ke kursi, menatap sisa makanannya yang sudah dingin. Rune melirik ke arah Elita, yang tetap melanjutkan makan malamnya, menyembunyikan ekspresi yang sulit ditebak.
“Elita...” panggil Rune pelan.
Elita tidak menjawab. Ia hanya memegang sendok di tangan, Tatapannya kosong, tapi rahangnya tampak sedikit mengeras. Lagi dan Lagi rasa iri menyelimuti Elita setelah kepergian Kiel dan Ladeina.
"Elita" panggil Rune sekali lagi dan kali ini Elita menoleh, tatapannya kembali ke semula, menjadi sosok gadis yang rapuh dan lugu, "Ya, Rune?".
"Kamu kemana tadi?" Tanya Rune menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Kamar mandi" jawab Elita seadanya. Rune hanya mengangguk-angguk, ada sedikit perasaan malas di dalam dirinya saat ingin berkomunikasi dengan Elita, sang kekasih.