Waktu menunjukkan pukul 12 malam, kediaman York begitu hening, semua fokus pada aktivitas mereka masing masing. Ladeina membuka matanya, ia terus berganti posisi tidurnya sampai pada akhirnya ia menyerah dan bangkit.
Ladekna berjalan menuju kamar Kiel yang bersebelahan dengan kamarnya. Dengan ragu, Ladeina mengetuk pintu kamar Kiel. "Kak..." panggil Ladeina pelan. "Kak!" Ladeina kembali memanggil Kiel namun kali ini dengan suara lebih keras.
Tidak ada sahutan dari Kiel. Ladeina dengan pelan-pelan membuka pintu kamar Kiel dan berjalan ke tempat tidur. Gadis itu duduk di tepi kasur. "Kak Kiel!". Masih tidak ada sahutan dari Kiel. Ladeina pun berinisiatif untuk menggoyangkan tubuh Kiel "Kak Kiel bangun", namun masih belum ada tanggapan.
"Gak mati kan?... Kiel! Bangun loh!" Akhinya tanda kehidupan Kiel muncul. Kiel mulai mengerang namun pria itu kembali tidur. Ladeina pun merengut melihat Kiel kembali tidur. Ia pun mendekat ke telinga sang pria, "Kiel!!" Teriak Ladeina.
Sontak Kiel terbangun dari teriakan Ladeina. Ia terduduk dengan napas terengah-engah. "Kak Kiel..." panggil Ladeina sekali lagi dan berhasil mengejutkan Kiel. "Ah! Eina!!". Wajah Ladeina cemberut. Kiel mengatur napasnya dan bertanya, "Kenapa malam-malam kesini?".
"Lapar..." balas Ladeina senduh.
"Tuh kan dah dibilang makan, jangan ngegosip. Ngomong aja, makannya gak dimulai-mulai" omel Kiel. "Iya... sekarang temani makan..." pinta Ladeina menarik lengan Kiel. "Argh... malasnya" Kiel mencoba menahan posisinya untuk tetap di tempat tidur.
"Kak ayo..." pinta Ladeina, nadanya kian memaksa. "Ini rumahmu. Kenapa harus ditemani segala sih?" Tanya Kiel, mencoba menarik kembali lengannya. "Takut..." jawab Ladeina berhenti menarik lengan Kiel.
Kiel terkejut, menatap Ladeina seolah tidak percaya. "Biasanya aku bawa makanan ke kamar kalau untuk tengah malam tapi tadi lupa" tutur Ladeina. "Nah lalu? Kenapa bisa lupa?" Tanya Kiel menyilangkan tangannya di depan d**a.
"Kan kakak yang ajak aku langsung pergi habis selesai makan!" Seru Ladeina. Kiel membuang napasnya lalu mengangguk. "Baiklah-baiklah, ayo ke dapur" Kiel bangkit dari tempat tidurnya dan menuntun Ladeina ke arah dapur.
Kiel terus memegang lengan Ladeina dan meremas pelan-pelan seolah memberikan pijatan pada jari-jemari gadis tersebut. Kedua sampai di dapur. Wajah Kiel langsung berubah menjadi datar seketika.
Seluruh anggota kedua keluarga berada di dapur dan menoleh serempak ke arah Ladeina dan Kiel. Masing-masing dari mereka memegang semangkuk mie instan.
Suasana yang awalnya memang hening dan sunyi berubah menjadi lebih hening dan sunyi. Tidak ada suara menyeruput mie ataupun dentuman garpu dan sendok yang sebelumnya terdengar beradu dengan mangkuk. Kini semuanya sudah terdiam.
"Kalian juga kelaparan?" Sapa Rune dengan cengiran di wajahnya
Ladeina membuka mulutnya, hendak bicara, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya mengangguk kikuk, matanya melirik ke arah tangan Kiel yang masih memegang lengannya erat.
"Eina kelaparan dan minta ditemani makan” jelas Kiel seadanya.
Kakak kedua Ladeina, Lerry mengangguk pelan, tapi matanya tak lepas dari mereka. Elita hanya menyeruput kuah mie-nya pelan-pelan, matanya masih tertuju pada wajah Ladeina, lalu pada Kiel. Ibu Kiel pun memandang hal yang sama seperti Elita dan langsung turun ke bawah dimana Kiel tetap menggenggam tangan Ladeina.
"Ah~ mesranya kalian, pegangan tangan segala padahal cuman ke dapur~" goda ibu Kiel. Ibu Ladeina hanya bisa tersenyum, semantara kedua kepala keluarga, York dan Winston. Hanya terkekeh dan menggeleng-geleng saja.
Kiel tidak menjawab. Ia langsung menuntun Ladeina ke kursi terdekat. "Dimana bungkus mie instannya Eina?" Tanya Kiel, matanya fokus pada manik Ladeina. "Di laci belakang kakak" jawab Ladeina. Kiel langsung segera memasak mie instan 2 porsi untuk ia dan Ladeina.
“Eina, kenapa bisa sama dengan Kiel? Padahal kalian kan pisah kamar” tanya Dion tepat sasaran. Semuanya langsung berhenti memakan mie mereka lagi dan beralih menatap Ladeina.
Ladeina tersentak sejenak, rona merah di pipinya terlukis "Itu...". Wajah Dion dan Lerry langsung menggelap. Lerry menggertakkan giginya. Ladeina kembali tersentak dan buru-buru memberikan klarifikasi, namun, baru saja hendak berbicara. Kiel yang sedang memasak mie instan pun memotongnya. "Aku bukan pria seperti itu". Kalimat itu setidaknya sedikit melegakan hati kedua kakak lelaki Ladeina.
"Oh, benarkah?" Dion menyilangkan kedua lengannya di depan d**a, masih ada rasa tidak percaya pada Kiel. Suasana kembali menegang. "Aku datang ke kamar kak Kiel, minta ditemani makan karena lupa bawa ke kamar tadi" jelas Ladeina, suaranya terkesan sedang buru-buru.
Semuanya mengangguk secara serempak. "Lagipula ada masalah jika aku terus bersama Ladeina? Kami juga akan menikah sebentar lagi" ucap Kiel melirik Dion dan Lerry. Keduanya hanya bisa diam.
"Kak Kiel" panggil Ladeina. Kiel menoleh sebentar, Lama-lama, suara Ladeina terdengar manis dan manja di telinga Kiel. "Aku pikir kakak mati loh tadi". Suara sedakan terdengar dari anggota kedua keluarga. "Eina, bicaranya!" tegur sang ayah.
Ladeina langsung diam dan merengut. "Aku gak bohong kok, soalnya tadi kak Kiel gak bangun-bangun padahal udah dipanggil berkali-kali, makanya aku kira udah mati...". Suara tawa terdengar dan berasal dari Rune "Hahaha, Kiel emang kalau tidur seperti orang mati".
Kiel menatap tajam Rune. Sementara para ibu hanya menggeleng saja. "Tadi sulit bangun karena kelelahan aja" ucap Kiel membantah omongan Rune. Ladeina menggangguk.
Mie yang sedang dimasak pun akhirnya matang dengan sempurna, Kiel menuangkannya ke mangkuk besar, ia membawanya ke tempat Ladeina. Tidak lupa, Kiel mengambil peralatan makan dan 2 mangkuk kecil lalu meletakkannya di atas meja. Ia juga menarik kursi dan duduk disebelah sang gadis. Keduanya mulai memakan mie instan mereka.
Ladeina mengambil mie dan menuangkannya ke dalam mangkuk kecil yang disediakan Kiel. Ia mencoba langsung memakan mie setelah 3 tiupan. Tidak sampai mengunyah mie, Ladeina langsung mengembalikan mienya ke dalam mangkuk kecil.
"Eh Eina, jorok tahu kalau gitu" omel Alona menyeruput mienya. Sementara itu, Kiel langsung mengambil minum untuk Ladeina "Ini minum cepat". Buru-buru Ladeina minum, "Ah... masih panas". Kiel pun meniup mulut Ladeina, "Buka mulut kamu" perintah Kiel, Ladeina langsung menuturi. Pria itu pjn meniup rongga mulut Ladeina. "Sudah?".
"Sudah kak"
Keduanya kembali makan. setelah satu suapan, Kiel langsung mengambil dalam jumlah besar ke mangkuk kecilnya dan meniupnya sampai tidak panas lagi. Setelah itu, Kiel meletakkan mie yang sudah tidak panas ke mangkuk kecil Ladeina. "Ini makan lah".
Baik orang tua Ladeina maupun orang tua Kiel hanya tersenyum kecil melihat kemesraan kecil pasangan yang akan segera menikah ini. Padahal keduanya belum pernah bertemu tapi sudah sedekat ini. Mungkin inilah yang dinamakan takdir dan jodoh.
Ladeina dengan bahagia memakan mie yang diberikan Kiel. Ia mengambil satur telur yang ada di dalam mangkuk besar ke mangkuk kecil Kiel dan satu telur lagi ke mangkuknya.