“Saya tidak cocok dengan peran seperti itu.” Jiyya berkata pelan, sambil secara perlahan mulai menapakan kakinya keluar dari mobil sang dosen muda. Dia baru ingat hal yang harusnya sejak tadi dia lakukan. “Kenapa tidak?” “Karena saya tidak cantik seperti seorang permaisuri yang ada dibuku dongeng maupun di realita hidup kita.” Jiyya sebenarnya hanya berkata asal, namun tentu saja alasan itu cukup masuk akal dan bisa diterima oleh akalnya. Permaisuri itu sosok yang selalu identik dengan kecantikan, mulus, anggun, memiliki rambut panjang, pakaian yang bagus, berkharisma, memiliki kebijaksanaan, dan terakhir bisa membuat oranglain berdebar-debar hanya karena dapat berjumpa dengannya. Anggapan itulah yang Jiyya yakini soal eksistensi permaisuri dan dari semua itu Jiyya merasa tidak memen

